
Calista menghela nafas berat menatap kepergian Mama dan Papa yang begitu kejam meninggalkannya bersama Ridwan. Jika saja mereka tahu orang yang telah membuatnya terluka dan patah hati adalah Ridwan, Calista tidak tahu reaksi apa yang akan mereka berikan kepada Ridwan dan Calista juga tidak tahu apakah kedua orang tuanya masih bisa bersikap hangat kepada Ridwan setelah semua yang terjadi.
"Nak, Mama tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh Ayahmu." Katanya sambil mengelus perutnya yang sudah memasuki usia 3 bulan kehamilan.
Berbicara tentang Ridwan, dia masih ingat awal mula dirinya terdampar di kota ini.
Flash Back On
"Calista?"
Seketika senyuman Calista membeku, dia menurunkan tangannya sambil memperbaiki ekspresi wajahnya.
"Oh.. Kak Ridwan, ada yang bisa Calista bantu?" Tanya Calista sok ramah.
"Aku ingin berbicara dengan mu, hanya berdua." Jawab Ridwan lurus tanpa melirik Sina sekalipun.
Ini tidak bagus, pikir Sina. Dia terjebak diantara cinta dan benci mereka berdua, yah dan rasanya ini sangat canggung.
Senyuman Calista agak menurun,"Jika Kakak ingin berbicara maka bicarakan saja semuanya di sini, bukankah ini akan menghemat waktu?"
Ridwan tahu jika Calista menolaknya secara halus tapi dia adalah laki-laki sejati dan tidak akan bisa menyerah dengan mudah, apalagi ini menyangkut perasaannya yang sudah dipermainkan sesuka hati oleh Calista.
"Tidak baik membicarakan urusan pribadi di depan orang lain."
Calista agak sakit kepala melihat keteguhan Ridwan jadi dia memutuskan secara langsung menolaknya.
"Kak Ridwan, aku pikir sebaiknya Kakak mulai menjaga jarak dariku agar Kak Kira tidak salah paham lagi dengan ki-Arghhh..." Calista berteriak keras saat merasakan tubuhnya melayang menjauh dari tanah tempatnya berpijak.
Ridwan mengangkat Calista ke bahunya dengan wajah lurus tidak tersentuh. Dia menganggukkan kepalanya kepada Sina dengan sopan dan berjalan pergi sambil mengabaikan kekesalan Calista di punggungnya. Wajahnya yang lurus sama sekali tidak berubah saat menerima tatapan keingintahuan banyak orang yang kebetulan sedang menikmati keindahan malam.
"Patuhlah, sekarang banyak orang yang mengarahkan matanya kepada kita." Ucap Ridwan lembut tidak pernah berharap jika Calista langsung menurutinya.
"...aku bilang turunkan aku jika kamu tidak mau menjadi topik pembicaraan mereka." Sahut Calista dengan suara kecilnya.
Ekspresi wajah Ridwan melembut, tangan kanannya yang bebas menepuk ringan betis ramping Calista untuk menenangkannya.
"Aku sama sekali tidak terganggu jadi kamu tidak perlu khawatir." Katanya santai membuat Calista tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Calista tidak ingin lagi mengomentari Ridwan karena percuma saja toh lawan bicaranya juga tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain jadi dia lebih baik menutup mulut. Saat ini jantungnya terus berdegup kencang, memompa darah untuk menyebarkan perasaan hangat ke seluruh tubuhnya. Wajahnya terasa panas dan Calista tahu warnanya pasti memerah.
Ini bukanlah hal yang aneh karena ini adalah reaksi alami setiap orang yang sedang dimabuk cinta.
Calista akui dia tidak ingin dekat dengan Ridwan namun hatinya tidak bisa dibohongi. Hatinya tidak akan bisa mengkhianati perasaan lembut yang ada di dalam, dia menyukai Ridwan dan ingin terus dekat dengannya.
Apalagi sekarang ada bayi di dalam perutnya. Anak dari darah daging Ridwan yang Calista hadirkan secara paksa dan sengaja.
"Jangan lari lagi dan patuhlah. Kita harus membicarakan semuanya malam ini di sini." Sebelum menurunkan Calista, Ridwan memperingatkannya agar tidak melarikan diri lagi.
Calista melirik lingkungan disekitarnya, cukup sepi jadi dia akan kesulitan melarikan diri dari Ridwan di sini.
"Jika kamu tidak menjawab aku tidak akan menurunkan kamu. Kita akan seperti ini sampai kamu mau mematuhi ku." Ancam Ridwan karena masih belum mendapatkan respon dari Calista.
"Hem." Jawab Calista pada akhirnya.
Ridwan tersenyum puas dan menurunkan Calista dari pundaknya.
"Duduklah." Perintah Ridwan.
Ada kursi taman di sini jadi mereka bisa duduk menikmati keindahan danau di malam hari sambil membicarakan masalah mereka berdua.
__ADS_1
"Kak Ridwan ngapain sih bawa aku jauh-jauh ke sini. Kan kita bisa ngomong di tempat tadi aja biar Sina juga punya temen di sini." Keluh Calista sedikit tidak senang.
Sedikit dan hanya sedikit tidak senang, selebihnya dia senang berduaan dengan Ridwan.
"Aku tahu kamu mengkhawatirkan Sina tapi jika aku tidak melakukan ini kita tidak akan pernah punya kesempatan untuk berbicara. Kamu akan terus melarikan dariku dan bersembunyi setiap kali aku ingin berbicara dengan kamu. Calista, katakan sampai kapan kamu harus seperti ini?" Ridwan melepaskan kacamatanya dan mengusap wajahnya dengan gusar.
Dia tidak mengerti alasan kenapa Calista terus saja bersembunyi darinya. Padahal hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja.
Berbicara serius seperti ini, Calista merapatkan bibirnya tidak tahu harus mengatakan apa. Dia menyukai Ridwan tapi orang yang dia sukai sudah bersama orang lain di dalam hatinya. Sebagai pelarian dari rasa sakit dia harus berusaha bersembunyi dari Ridwan setiap kali mereka akan bertemu.
"Jangan diam saja Calista, katakan alasan apa yang membuat kamu terus-terusan menghindari ku. Apa aku punya kesalahan yang tidak bisa dimaafkan atau ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman bersamaku, beritahu aku Calista!" Mohon Ridwan serius.
Namun Calista tetap merapatkan bibirnya. Dia lebih memilih bungkam daripada mengatakannya karena dia sangat takut merasakan kecewa lagi.
Sama seperti malam itu ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Ridwan dan Kira berciuman panas di sebuah club malam. Calista tidak bodoh untuk tidak tahu tentang hubungan mereka berdua. Mereka adalah pasangan kekasih dan kehadirannya adalah sebuah kesalahan diantara mereka berdua.
Calista sangat sakit saat mengingat malam itu.
Ingatannya kembali mengingat malam penuh kesakitan itu, memicu emosinya menjadi tidak stabil dan terganggu.
"Aku tidak punya alasan apapun karena ini adalah keinginan pribadi ku sendiri." Calista akhirnya membuka suaranya.
"Apa?" Ridwan tidak mengerti apa yang dimaksud Calista.
Calista mengangkat kepalanya ke atas, menatap langsung wajah tampan Ridwan yang jauh lebih tampan tanpa kacamata.
"Aku bilang aku tidak punya alasan apapun untuk menjauhi Kak Ridwan. Aku hanya ingin melakukannya karena aku sudah tidak tertarik lagi dengan Kakak. Memang benar, pada awalnya akulah yang mengejar-ngejar Kak Ridwan tapi aku melakukannya tidak serius. Aku hanya ingin bermain-main dengan Kak Ridwan karena setelah aku perhatikan Kakak adalah orang yang pendiam dan serius. Untuk menguji Kakak, aku terpaksa melakukannya-"
"Calista!" Panggil Ridwan tidak tahan.
Mendengar jawaban Calista dia menjadi sangat marah. Dia tidak percaya Calista selama ini mendekatinya karena hanya ingin bermain-main dengannya. Dia tidak bisa mempercayainya.
Namun jika apa yang Calista katakan benar maka Ridwan mungkin akan sangat gila.
Perutnya juga mulai terasa tidak nyaman setelah dibentak Ridwan. Mungkin bayi di dalam perutnya merasakan kegelisahan yang dia rasakan juga karena Sina pernah mengatakan kepadanya bahwa apa pun yang dia pikirkan dan rasakan, bayi di dalam perutnya juga akan merasakannya.
"Aku hanya ingin bermain-main. Sekarang aku sudah tahu jika Kak Ridwan memang orang yang kaku dan tidak bisa bersikap romantis, jadi aku memutuskan untuk berhenti bermain-main dengan Kakak. Itulah sebabnya aku selalu melarikan diri dan bersembunyi dari Kak Ridwan, selain karena bosan aku juga malu bertatap muka dengan Kak Ridwan." Lanjut Calista merendahkan pandangannya tidak berani lagi menatap langsung mata Ridwan.
Ridwan terdiam, berdiri tegap memperhatikan gadis yang dia sukai sedang bermain peran dengannya.
Jika Ridwan tidak ingat tentang malam penuh gairah itu mungkin dia akan langsung percaya dengan apa yang Calista katakan. Namun sayangnya saat itu kesadarannya masih ada. Dia masih mengingat ketika Calista diam-diam membawanya masuk ke dalam sebuah kamar dan melakukan hal itu. Dan Ridwan tidak akan pernah melupakan malam itu...
Ketika Calista diam-diam menangis di sampingnya dan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia pergi, melarikan diri ke tempat yang sulit Ridwan datangi. Dia terus bersembunyi sampai akhirnya hampir 2 bulan mencari mereka bertemu di rumah Dion.
Setelah pertemuan itu Calista selalu dalam jangkauannya namun anehnya Calista juga sulit dijangkau.
Ridwan seolah merasakan bahwa Calista sebenarnya..
Ingin menjauhiku. Batin Ridwan menebak.
"Baiklah, kamu ingin bermain-main dengan ku. Karena kamu bilang begitu aku akan mencoba mempercayainya. Lalu, bagaimana cara kamu menjelaskan ini. Malam itu saat kita mabuk bersama aku tahu kamu sengaja memberikan ku minuman dengan kandungan alkohol yang tinggi. Padahal toleransi alkohol ku sangat rendah namun kamu memberikan ku minuman dengan kandungan alkohol yang tinggi. Calista kamu pasti sengaja melakukan itu kepadaku. Kamu sengaja membuat ku mabuk malam itu, iya'kan?" Kata-kata Ridwan langsung memukul ketakutan Calista.
Hal yang paling Calista takutkan adalah tentang malam itu. Calista takut Ridwan mengetahui rencananya malam itu, membuat Ridwan membencinya karena rencana gila yang Calista lakukan.
"Aku..aku tidak tahu apa yang kamu maksud.." Calista berpura-pura tidak mengerti.
Dia bangun dari duduknya ingin melarikan diri, namun sebelum dia bisa melakukan itu lengan kuat Ridwan lebih dulu menahannya. Dia meraih Calista dalam satu jangkauan dan mendekapnya kuat.
Detak jantung yang berdegup cepat dan panik, mereka berdua merasakan degup jantung masing-masing.
__ADS_1
"Kak Ridwan, apa yang kamu lakukan?" Kedua mata Calista mulai basah akan menangis.
Dia takut Ridwan membencinya.
Ridwan menundukkan kepalanya mencium wangi khas tubuh Calista lewat lekuk lehernya. Dia mengendusnya dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Calista, kamu salah. Kamu salah Calista." Ucap Ridwan berbisik.
"Malam itu aku memang mabuk tapi kesadaran ku tidak sepenuhnya hilang. Aku sadar dengan apa yang kita lakukan malam itu dan aku masih ingat saat kamu tiba-tiba menangis di samping ku. Katakan Calista, apa kamu melakukan itu denganku hanya karena ingin main-main saja atau karena kamu mempunyai perasaan kepadaku?" Tanya Ridwan lagi semakin membuat Calista ketakutan.
Calista tidak pernah menyangka Ridwan masih sadar malam itu padahal kandungan alkohol yang diberikan kepada Ridwan sangat tinggi. Orang yang berpengalaman minum alkohol saja akan mabuk jika meminumnya apalagi Ridwan yang punya tingkat toleransi rendah terhadap alkohol.
"Bagaimana bisa.." Bingung Calista tidak percaya.
Ridwan terkekeh kecil,"Jadi kamu mengakui yang terjadi malam itu."
"Selain mengakui, kamu pasti masih ingat malam penuh gairah yang kita lalui-"
"Lepaskan aku!" Calista meronta-ronta dalam pelukan Ridwan.
Dia panik dan ingin segera melarikan diri. Percuma saja pikirnya karena Ridwan sudah mengetahui semuanya. Lebih baik melarikan diri sekarang sebelum dia benar-benar patah hati.
Dia harus melarikan diri sekarang!
"Jangan melarikan diri lagi Calista! Ayo kita bicarakan masalah ini bersama-sama!" Ridwan semakin mengeratkan pelukannya dan tidak memberikan Calista jalan untuk melarikan diri.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan! Aku ingin kembali ke tenda!" Ujar Calista keras kepala sambil menahan isak tangis yang akan segera keluar.
Jangan menyakiti ku lagi, ku mohon.. Batin Calista sedih.
"Melarikan diri tidak akan menyelesaikan apapun, Calista!" Ridwan lebih keras kepala lagi.
Untuk menemukan Calista dia hampir menghabiskan waktu hampir 2 bulan jadi Ridwan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dia tidak akan membiarkan Calista bersembunyi lagi darinya.
Kekuatan Calista tidak ada apa-apanya untuk Ridwan jadi kesempatannya untuk melarikan diri hampir tidak ada peluang. Namun itu akan berbeda jika Calista menggunakan cara lain. Dia masih punya kesempatan untuk melarikan diri!
"Ini yang Kak Ridwan mau." Setelah mengatakan itu Calista membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit lengan kanan Ridwan.
"Ya Tuhan, Calista!" Ridwan sontak melepaskan tangannya dari Calista karena gigitan Calista sungguh tidak main-main sakitnya.
Ridwan telah melepaskannya jadi dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Calista langsung melarikan diri secepat yang dia bisa untuk kembali ke tenda dan meminta perlindungan kepada Dion.
Namun sekali lagi tenaganya tidak seberapa apalagi saat ini dia sedang hamil sehingga pelariannya sangat mudah dikejar Ridwan.
Calista hampir saja ditangkap Ridwan jika dia tidak melihat cahaya pertolongan dari seseorang yang tidak pernah dia duga.
"Om Bagas!" Teriak Calista sekuat tenaga.
Bersambung..
Kuis kemarin Gak ada yang bener yah. Mohon maaf aja author gak bisa Nerima jawaban yang paling mendekati sekalipun πππ
l
Lihat angka di atas, jawabannya adalah 1854 kataπ€
__ADS_1
Okay, kita ke kuis berikutnya. Kalo ada yang bisa nebak alur cerita part selanjutnya author bakal kabulin deh keinginan kalian mau up betapa pun. Tapi balik lagi sesuaikan dengan batasan author yah..
Okay, alur cerita part 76 author serahkan kepada kalian.