Dear Dion

Dear Dion
67. Paviliun Dingin (2)


__ADS_3

Paviliun dingin, ini adalah tempat untuk anggota keluarga yang dihukum karena telah membuat kesalahan yang fatal. Tempat ini seperti namanya terletak agak jauh dari rumah utama dan sangat cocok untuk orang yang dikucilkan dari keluarganya.


Di dalamnya tempat ini dipenuhi dengan tembok bercat putih dan fasilitas rumah biasa yang tetap terawat dan dijaga. Tidak ada yang aneh dan menyeramkan sebenarnya. Tempat ini malah sangat nyaman untuk menulis ataupun bekerja karena suasananya sangat tenang dan damai.


"Non Sina, di sini hanya ada satu kamar tidur." Bik Mur membawa Sina ke lantai dua.


Di lantai dua memang hanya ada satu kamar dan cukup luas. Balkonnya langsung berhubungan dengan alam jadi Sina bisa memikirkan betapa segar udara di pagi hari ketika dia menghabiskan waktu di balkon.


"Oh..ini meja kerja?" Tanya Sina cukup terkejut ketika ada meja kerja kokoh di dalam kamarnya.


Untuk ukurannya, meja kerja ini lebih cocok digunakan oleh anak laki-laki dan bukan untuk perempuan


"Benar, non. Ini adalah meja kerja yang Tuan muda biasanya gunakan. 2 tahun yang lalu setelah Tuan muda pulang dari Belanda dia sangat senang ke tempat ini. Tuan muda lebih banyak menghabiskan waktu di sini ketika punya waktu luang dan anehnya, tidak ada yang tahu dengan kebiasaan Tuan muda yang suka berkunjung ke sini. Mereka pikir tempat ini adalah paviliun kosong yang tidak punya kegunaan lain selain memenjarakan orang. Padahal mereka tidak tahu jika tempat ini adalah tempat favorit untuk Tuan muda." Bik Mur menjelaskan alasan mengapa meja ini ada di sini.


Tuan mudanya sangat senang menghabiskan waktu di sini sampai-sampai meja kerja ini ditempatkan khusus di bagian paling penting paviliun ini.


"Dion..sering ke sini?" Bukankah Bik Mur pernah bilang jika Dion lebih suka di dalam kamar daripada keluar rumah.


Tapi kenapa sekarang Bik Mur bilang jika Dion sangat suka menghabiskan waktu di sini?


"Dulu iya, tapi sekarang Bibi perhatikan Tuan muda tidak pernah ke sini lagi. Anehnya, itu terjadi sejak non Sina datang ke rumah ini." Ujar Bik Mur menjawab keraguan Sina.


Jangan lagi berharap lebih, anggap saja ini sebuah kebetulan. Batin Sina mengingatkan diri sendiri.


Dia tidak ingin terlalu berharap seperti yang sebelum-sebelumnya. Takutnya, ketika dia terlalu berharap Tuhan akan menjatuhkannya lagi dengan kenyataan yang begitu pahit.


"Itu mungkin sebuah kebetulan Bik Mur, dan seharusnya bukanlah hal yang aneh." Gumam Sina tidak jelas.


"Apa non Sina mengatakan sesuatu tadi?"


Sina tersadar dari lamunannya, "Oh.. tidak ada, aku tidak pernah mengatakan apa-apa." Katanya mengelak.


"Masalah meja ini akan aku tangani. Sina berjanji akan sering membersihkannya agar tetap bersih dan tidak akan membiarkannya berdebu." Lanjut Sina mengalihkan pembicaraan.


Dia mengusap meja itu iseng seraya memperhatikan ada beberapa dokumen yang masih tertata rapi di atas meja itu. Mungkin ini adalah dokumen lama Dion yang sudah terlupakan jadi Sina memutuskan untuk tidak menyentuhnya ataupun membuangnya ke tempat sampah.

__ADS_1


Karena ini semua adalah milik Dion, Papa kandung dari anaknya.


"Nak, lihatlah. Ini adalah meja kerja yang biasa Papamu gunakan dulu saat bekerja. Ini..sangat cocok dengan kepribadian Papamu yang anggun dan pekerja keras." Gumam Sina lembut.


Tangan kirinya yang bebas mengusap sayang perutnya yang mulai agak membuncit dan tidak rata lagi seperti sebelumnya. Gerakan tangan ini sontak menarik perhatian Bik Mur yang sedari tadi diam memperhatikan Sina.


"Apa non Sina lapar?" Tanyanya menebak.


Sina terkejut dan langsung menurunkan tangannya, berpura-pura memegang sisi pinggangnya untuk mengalihkan perhatian Bik Mur.


"Aku tidak lapar, pinggang ku hanya sedikit pegal saja. Setelah bangun dari tidur pinggangku pasti akan baik-baik saja." Jawab Sina berbohong.


"Syukurlah, maka Bik Mur tidak akan mengganggu waktu non Sina lagi." Kata Bik Mur sadar diri.


Sebelum pergi dia teringat dengan pesan Tuan muda dan harus disampaikan kepada Sina.


"Astaga, Bik Mur lupa menyampaikan pesan Tuan muda kepada non Sina." Bik Mur bergegas mendekati Sina lagi.


"Pesan apa Bik?" Tanya Sina gugup.


"Tuan muda bilang non Sina bisa bergabung di meja makan saat sarapan atau makan siang. Tapi tidak dengan makan malam karena Tuan muda akan menugaskan seseorang mengirim makanan ke sini. Ah..Tuan muda juga berpesan jika non Sina lebih baik menghabiskan waktu lebih banyak di sini daripada di rumah utama karena seperti yang non Sina tahu masalah hari ini pasti akan berbuntut panjang jadi ada baiknya non Sina tidak usah masuk ke rumah utama jika tidak ada perlu." Jawab Bik Mur singkat menyampaikan pesan Tuan mudanya.


Tapi untuk kasus Sina ini..Bik Mur tidak bisa menebak jalan pikiran Tuan mudanya.


"Oh..lalu aku akan mematuhinya." Ujar Sina sama bingungnya dengan Bik Mur.


Hukuman..apa ini yang disebut sebagai hukuman?


Jika dia masih bisa masuk ke dalam rumah utama dan ikut bergabung di meja makan yang sama dengan yang lain, lalu apakah ini masih disebut sebagai hukuman pengucilan dari semua orang?


Kenapa Sina merasa ada sesuatu yang salah dengan hukuman yang dia dapatkan?


"Baiklah, kalau begitu selamat beristirahat non Sina. Hubungi Bik Mur jika non Sina membutuhkan sesuatu." Pesan Bik Mur sebelum pergi dari kamar ini.


Ah.. sekarang kamar ini sudah menjadi kamarnya. Paviliun dingin ini sekarang menjadi sangkarnya.

__ADS_1


"Eh, foto siapa ini?" Sina tiba-tiba melihat sebuah bingkai foto yang jatuh tertelungkup di bawah meja.


Sepertinya foto ini jatuh ketika seseorang sedang membersihkan meja kerja ini. Penasaran, Sina lalu mengambilnya dan membersihkan bingkai foto kecil itu dengan tangannya untuk membersihkan debu.


"Eh..kenapa ada fotoku di sini?" Gerakan tangannya langsung membeku ketika melihat orang yang ada dibingkai foto itu adalah dirinya sendiri.


Tapi dirinya yang ada di dalam foto itu adalah dirinya yang masih berusia sangat kecil. Kira-kira usianya saat itu masih 5 atau 6 tahun masih begitu muda.


"Mungkinkah.."


...🌺🌺🌺...


"Kesalahan dia sangat fatal tapi kenapa kamu malah mengirimnya ke paviliun dingin tanpa persetujuan kami berdua? Dion, apa kamu bisa menjelaskan ini kepada Mama dan Papa?" Nyonya Ranti protes tidak terima dengan keputusan putranya.


Nyonya Ranti tidak berharap Dion akan mengirim Sina ke paviliun dingin karena biar bagaimanapun juga Sina hanya tamu di rumah ini dan bukannya anggota keluarga jadi dia tidak pantas mendapatkan hukuman itu.


"Ma, ini adalah hukuman terbaik yang Dion bisa berikan kepada Sina. Mama juga tahu sendiri'kan kondisi Sina sedang tidak sehat sehingga memulangkan Sina sekarang akan berdampak buruk untuk hubungan keluarga kita dengan keluarga Sina. Setidaknya.. biarkan Sina beristirahat dulu dan memulihkan kondisinya di paviliun dingin." Setelah itu aku akan mencari cara untuk meyakinkan Mama bahwa Sina adalah gadis yang baik!


Tapi kata-kata itu hanya bisa dia pendam di dalam hatinya saja, untuk saat-saat ini. Dion tidak tahu mengapa Mamanya tiba-tiba kurang puas dengan Sina. Padahal, sebelumnya Nyonya Ranti tidak pernah mengeluhkan tentang Sina apalagi sampai menggebu-gebu ingin Sina keluar dari rumah ini.


"Baik..baik..kamu ingin Sina memulihkan kondisinya di paviliun dingin. Okay, Mama akan setuju jika itu niat kamu. Tapi, Mama masih gak setuju dengan keputusan yang kamu buat selanjutnya. Masa iya'sih kamu tetap mengizinkannya bergabung di meja makan yang sama dengan kita. Apa kamu tidak berpikir betapa terlukanya hati Bela nanti ketika melihat Sina berada di meja makan? Dion, Mama harap kamu memikirkan perasaan Bela sekarang!"


Jika paviliun dingin bisa membuat Nyonya Ranti tidak akan bisa bertemu lagi dengan Sina, okay, dia akan setuju walaupun masih enggan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu karena Dion masih mengizinkan Sina masuk ke dalam rumah ini padahal Sina saat ini adalah tahanan paviliun dingin!


Nyonya Ranti tidak bisa mengerti jalan pikiran putranya.


"Ma, dia bukan anggota keluarga kita jadi dia berhak makan di meja yang sama dengan semua orang. Lagipula, tujuan utama Dion memindahkan Sina ke paviliun dingin bukan karena Dion ingin menghukumnya tapi karena aku memikirkan perasaan kalian semua, terutama Bela. Aku memisahkan Sina dari rumah ini agar Bela bisa lebih tenang lagi dan memulihkan dirinya dari trauma. Nah, setelah semua yang Dion lakukan apa Mama masih menganggap Dion tidak punya rasa simpati?" Ucap Dion dengan ekspresi sok mendramatis.


Tuhan lebih tahu alasan kenapa dia mengirim Sina ke paviliun dingin!


"Mama gak maksud gitu, Nak. Mama cuman gak bisa terima gadis itu masih-"


"Ma, bicaranya kita tunda dulu yah? Kasian, Dion pasti capek habis pulang dari kantor belum sempat istirahat." Tuan Edward memotong ucapan istrinya.


Dengan suara lembut dia memohon kepada Nyonya Ranti untuk menunda dulu pembicaraan ini. Takutnya Dion kehilangan kesabaran seperti kemarin dan itu pasti akan melukai Nyonya Ranti.

__ADS_1


"Hah..okay, masalah ini akan kita bahas nanti malam setelah semua orang lebih santai." Putus Nyonya Ranti mengalah.


Bersambung...


__ADS_2