Dear Dion

Dear Dion
61. Rumah Sakit


__ADS_3

Dia dibangunkan oleh suara ketukan pintu dari Bik Mur. Pagi-pagi Bik Mur sudah menyiapkan beberapa makanan hangat dan lembut yang mudah dikonsumsi orang sakit. Makanan itu dibuat tidak terlalu berminyak dan tidak mempunyai bau yang pekat atau menonjol sehingga orang yang mengalami gangguan pencernaan tidak akan mendapatkan gangguan saat memakannya.


"Bik Mur masuk saja, pintunya gak Sina kunci kok." Teriak Sina lemah.


Dia tidak kuat berdiri apalagi sampai berjalan membukakan Bik Mur pintu kamarnya. Tubuhnya seolah kelelahan seperti mendaki gunung padahal dia sudah tidur untuk mengembalikan energi tubuhnya.


"Selamat pagi, non Sina." Sapa Bik Mur ramah seperti biasa.


"Pagi, Bik." Jawab Sina lemas.


"Bik Mur bawa apa ke kamar, Sina?" Sina bangun dari acara berbaringnya dan mendudukkan diri di atas ranjang.


Dia melihat Bik Mur membawa sebuah kereta yang Sina tebak mungkin kereta makanan. Kereta itu ditutupi oleh sebuah kain hitam jadi Sina tidak bisa melihat apa yang ada di dalamnya.


"Ini adalah sarapan untuk non Sina. Tuan muda bilang sebelum berangkat kerja tadi non Sina harus menghabiskan semua yang Bibi buat dan harus lebih banyak beristirahat di dalam kamar." Jawab Bik Mur menyampaikan pesan majikannya.


Dia diperintah untuk membuat masakan yang ringan dan mudah dicerna orang yang mengalami gangguan pencernaan. Tuan muda juga berpesan kepadanya agar Bik Mur yang mengantarkan langsung makanan itu ke kamar Sina. Mengawasi Sina menghabiskan semua sarapan tersebut.


"Silakan, non Sina." Bik Mur menghidangkan sarapan yang masih hangat untuk Sina.


Jadi Dion sudah pulang? Bahkan sampai mengintruksikan Bik Mur untuk membuatkan ku sarapan. Jika Dion pulang maka itu artinya wangi yang tertinggal di atas bantal ku-ah, tidak mungkin! Aku pasti berhalusinasi lagi.


"Kapan Dion pulang, Bik?" Tanya Sina ingin tahu.


Dia meniup beberapa kali bubur yang ada di depannya, baunya yang tajam memang masih tercium tapi untungnya tidak sekeras makanan yang sebelum-sebelumnya. Dengan kata lain dia bisa memakan bubur ini untuk mengisi kekosongan perutnya.


"Tuan muda dan yang lain pulang kemarin sore, non. Saat itu non Sina sedang beristirahat di dalam kamar sehingga Bibi tidak tega membangunkan non Sina."


"Mereka terlalu cepat pulang, seharusnya mereka akan di sana 2 atau 3 hari lagi. Apa Bibi tahu alasan mengapa mereka pulang kemarin?"


Itu tidak mungkin karena dirinya sendiri?


"Bibi gak tahu, non. Mereka gak ngomong apa-apa setelah sampai rumah, makan malam pun semalam tidak ada yang keluar karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh." Jawab Bik Mur tidak tahu.


Kepulangan mereka yang begitu dadakan dan jauh dari rencana tentu saja membuat orang-orang menjadi heran. Tapi mereka tidak bisa bertanya karena mereka hanyalah pekerja di sini jadi alasan kepulangan para majikan masih belum diketahui.


"Oh.. mereka ternyata gak ngomong apa-apa." Gumam Sina berbisik.


"Lalu.. bagaimana dengan Calista, kenapa aku tidak melihatnya di sini?"

__ADS_1


Normalnya tempat pelarian terbaik Calista adalah di kamar Sina. Tidur dan bersantai di sini sudah biasa untuk Calista, malah Sina heran tidak pernah melihat batang hidungnya sehari saja di sini.


"Non Calista tidak ikut pulang ke sini kemarin, mungkin dia pulang ke rumah kedua orang tuanya."


Yang pulang ke rumah ini hanya Tuan dan Nyonya besar, Tuan muda, Risa, Bela dan Kira. Tapi Kira tidak lama karena dia langsung pulang ke rumahnya setelah duduk sebentar di sini.


"Em.. Ridwan..apa dia tidak pulang ke sini?" Dia sudah punya jawaban tersendiri di dalam kepalanya!


"Dia juga tidak pulang ke sini, mungkin dia langsung pulang seperti non Calista."


Ya! Mereka memang sedang berkencan. Jangankan ikut pulang, Sina bahkan yakin jika mereka berdua masih di daerah T. Berduaan tanpa diganggu Kira dan semua orang adalah tujuan tersembunyi pasangan ini, hah.. akal-akalan dangkal ini Sina sudah menebaknya!


"Aku sudah kenyang, Bik. Terimakasih untuk sarapan enaknya." Sina tidak bisa melanjutkan acara sarapannya karena perutnya mulai bertingkah lagi.


Mual yang menguras tenaga, Sina khawatir tidak bisa menahan muntahnya di depan Bik Mur.


"Tuan muda bilang non Sina harus menghabiskan semuanya." Ucap Bik Mur mengingatkan.


"Aku..aku akan menghabiskannya. Tapi..bisakah Bik Mur meninggalkan ku sendiri dulu. Aku tidak bisa makan jika Bik Mur melihatku terus." Bohong Sina.


Bik Mur tidak keras kepala lagi.


"Bibi akan keluar, jika non Sina butuh sesuatu jangan sungkan untuk memanggil Bibi dibawah." Pesan Bik Mur.


Setelah mendapatkan kepastian dari Sina, Bik Mur tidak menahan diri lagi di dalam kamar Sina. Dia keluar dan melanjutkan kembali aktivitasnya di dapur bersama pembantu yang lain.


"Aku harus ke rumah sakit." Putus Sina tidak tahan.


"Aku ingin tahu penyakit apa yang merepotkan perutku selama beberapa hari ini. Aku tidak mau mati konyol hanya karena tidak bisa menerima asupan makanan apapun ke dalam tubuhku. Apalagi jika Mama dan Papa tahu tentang kondisi ku ini, aku yakin mereka akan menertawakan kesialan ku selama di rumah ini. Benar..aku sangat sial di sini karena bukannya berhasil menaklukkan hati Dion, hatiku malah dipatahkan di sini. Misi gagal ditambah penyakit menyebalkan di dalam perutku, hah..betapa tidak beruntungnya aku di sini." Keluh Sina setelah menyingkirkan kereta makanan tersebut dari jangkauannya.


Menutupnya kembali dengan kain hitam semula, dia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Walaupun lemah dia masih bisa bergerak meskipun agak lambat, yah, ini lebih baik dari muntah tadi malam yang menguras tenaganya.


30 menit kemudian dia sudah siap ke rumah sakit. Keluar dari rumah Dion dia menghentikan sebuah taksi biru yang kebetulan sedang lewat di depannya. Sina masuk ke dalam dan mengatakan arah tujuannya, yaitu sebuah rumah sakit swasta di pusat kota yang cukup dekat dari rumah Dion.


15 menit terlewati dengan lambat hingga akhirnya Sina bisa sampai di depan sebuah rumah sakit swasta yang dia tuju. Beruntung siang ini tidak ada kemacetan sehingga dia bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuan.


"Terimakasih, Pak." Ucap Sina sopan setelah keluar dari taksi.


"Tidak buruk, keluar rumah ternyata punya efek yang lumayan bagus untukku." Ucapnya agak terkejut.

__ADS_1


Dia pikir selama di perjalanan dia akan muntah-muntah tapi ternyata tidak. Malah perutnya terasa lebih nyaman daripada mengurung diri di dalam kamar tanpa melakukan apapun.


"Cukup ramai."


Begitu masuk ke dalam rumah sakit Sina melihat banyak orang yang sedang lalu lalang di beberapa koridor. Pemandangan yang sudah biasa dan seharusnya ada di setiap rumah sakit. Bau obat-obatan yang tajam langsung menyerang indera penciuman Sina yang lagi-lagi membuat perutnya menjadi mual. Dia sudah menebak perkembangan ini dan sudah menyiapkan masker pelindung 3 lapis untuk meringankan bau obat-obatan di sini. Hasilnya, itu sangat berguna untuknya sekarang karena dengan menggunakan masker setidaknya dia bisa masuk ke rumah sakit.


...🌺🌺🌺...


"Silahkan katakan masalah atau keluhan yang Mbak rasa tidak nyaman di dalam tubuh Mbak, saya sarankan mbak tidak usah menyembunyikannya meskipun itu berkaitan dengan tempat privasi karena ini adalah demi kebaikan Mbak sendiri." Ujar dokter wanita itu.


Duduk di depan Sina kini ada seorang dokter wanita muda yang sangat ramah. Sejak awal masuk ke ruangannya Sina sudah disambut sopan dan bersahabat oleh dokter ini. Membuat Sina yang awalnya canggung menjadi lebih santai ketika berbicara.


"Dokter, aku merasa ada yang salah denganku beberapa hari ini." Sina melepas maskernya dan menyimpannya di dalam tas selempang.


Hah, ruangan dokter ini sangat harum dan langsung bisa diterima oleh penciuman Sina.


"Coba jelaskan tentang itu."


"Begini dok, aku sudah beberapa hari ini tidak mempunyai nafsu makan dan tidak bisa menelan makanan meskipun aku memaksakan diri. Aku pasti akan mual jika memaksakan diri untuk makan dan kepalaku juga menjadi pusing. Kemudian, gejala ini diperparah dengan mulai hilangnya tenagaku. Aku menjadi lemas tanpa sebab walaupun aku sudah menebusnya dengan tidur, tapi itu sama sekali tidak bisa membuatku menjadi lebih baik. Dan pada puncaknya, semalam aku muntah-muntah di kamar mandi padahal di dalam perutku tidak ada apapun yang bisa dimuntahkan kecuali, maaf..hanya cairan putih saja. Dokter, apa menurutmu ini adalah gejala penyakit yang berat?" Tanya Sina gugup.


Dokter mengangkat alisnya terlihat berpikir rumit, lalu beberapa menit kemudian dia menganggukkan kepalanya mengerti seraya memperbaiki ekspresinya sesantai mungkin.


"Apa Mbak masih punya keluhan yang lain?" Tanyanya tidak bermaksud apa-apa.


Sina menganggapnya serius dan memutar bolak-balik kepalanya mencari keluhan yang lain. Lalu, dia tiba-tiba teringat dengan situasi anehnya saat pertama kali tidak bisa memakan makanan.


"Ada, dok! Beberapa hari ini aku juga tidak bisa mencium makanan yang terlalu berminyak. Jika aku menciumnya perutku pasti terasa tidak nyaman dan terkadang aku juga akan mual."


"Oh..sudah diputuskan, ini bukan penyakit." Kata dokter itu sambil tersenyum sumringah.


Sina terkejut sekaligus senang, "Beneran, dok?"


"Tentu saja, ikut aku ke ruang lab." Dokter itu bangun dari duduknya dan membawa Sina ke sebuah ruangan yang dipenuhi berbagai macam alat yang entahlah Sina tidak tahu apa namanya.


"Suster, tolong ambil darah pasien kita ini untuk tes kehamilan." Perintah dokter pada salah satu suster yang ada di sini.


Sina, "....." Dia sama sekali tidak hamil!


"Dokter, aku tidak hamil jadi kita tidak perlu melakukan ini'kan?"

__ADS_1


Dokter itu tersenyum, "Kita akan tahu setelah kamu melakukan tes darah."


Bersambung...


__ADS_2