
Di rumah sakit.
"Dokter! Dimana dokter rumah sakit ini!" Dia sangat cemas, berlari membopong Sina yang berlumuran darah masuk ke dalam rumah sakit seraya berteriak panik.
"Berikan aku dokter terbaik yang ada di sini bila kalian tidak ingin rumah sakit ini aku hancurkan!" Tidak sayang, jangan lakukan itu lagi karena Sina tidak akan menyukainya
Lihat saja cahaya kehidupan yang tersisa di dalam mata sayu itu, dia tidak suka kekasihnya menyakiti orang lain hanya karena masalah pribadi apalagi jika itu menyangkut tentang dirinya.
"Dion....sabar..." Dengan susah payah dia mencoba menenangkan kecemasan kekasihnya.
"Sabar..aku tidak bisa sabar melihat kamu seperti ini sayang.." Katanya lemah, mengusap wajahnya ke pipi pucat Sina yang semakin kehilangan warna kehidupan.
"Pak Dion apa yang terjadi.." Dari jauh sekumpulan orang berjas putih berlarian mendekati Dion dan Sina setelah mendengar keributan yang dibuat.
Membuat para pasien atau keluarga pasien yang kebetulan ada di sana mendapatkan sebuah tontonan menarik. Mereka tidak menyangka bila di dunia nyata atau di zaman ini masih ada Tuan muda kaya yang mampu memerintah orang lain dengan sesuka hati.
Selayaknya di dalam drama mereka mulai bertanya-tanya siapa Tuan muda kaya raya ini karena mampu membuat pasukan berjas putih turun langsung ke keluar karena biasanya mereka adalah orang-orang pemalas yang menunggu layanan untuk melayani pasien.
"Apa mata kalian buta! Kekasihku sedang pendarahan dan terluka karena pisau ini tapi kalian masih bertanya apa yang terjadi?!" Amuk Dion marah.
"Pak Dion tolong tenangkan diri Anda dulu.." Dokter yang paling tua mencoba menenangkan amarah tamu penting mereka.
"Bila kamu di posisi aku apa kamu bisa tenang melihat istri kamu berada di ambang kematian, hah?!" Tanya Dion emosi.
Dokter itu meneguk ludahnya kasar,"Saya pikir tidak, Pak."
"Lalu, apa kamu pikir aku masih bisa tenang melihat anak dan kekasihku di ambang kematian?!" Bentak Dion lebih marah lagi.
Dokter itu sontak menggelengkan kepalanya.
"Jadi bagaimana mungkin kamu memintaku untuk tetap tenang?!"
Orang yang dicintai sedang sekarat di dalam pelukannya jadi bagaimana bisa dia tenang melihat kekasihnya seperti ini?
"Pak Dion tolong baringkan kekasih Anda di sini." Melihat Dion tidak bisa berbicara dengan baik, salah satu dokter perempuan yang sedari tadi diam akhirnya mengambil langkah.
Seperti dugaannya Dion tidak marah lagi, dia patuh membaringkan Sina yang sudah kehilangan sadar di atas ranjang rumah sakit.
"Ya Tuhan, detak jantungnya melemah! Bawa dia ke ruang operasi!" Teriak dokter wanita itu panik ketika merasakan denyut nadi Sina melemah.
"Melemah?" Gumam Dion tidak percaya.
Atensinya kemudian beralih menatap wajah seputih kertas yang kini terbaring tak bergerak di atas ranjang rumah sakit yang sedang di bawa terburu-buru ke ruang operasi.
Di tangan kirinya sudah dipasangi jarum infus dengan cairan berwarna kuning, apa fungsinya Dion tidak tahu pasti tapi yang penting Sina bisa tertolong. Karena detak jantung Sina mulai melemah dokter itu memasangkan sebuah alat pernapasan di hidung Sina untuk membantu pasokan oksigen bersih.
Setiap kali Sina menghirup oksigen dari alat pernapasan itu dadanya akan tersentak kaget seolah kesulitan bernafas.
__ADS_1
"Kenapa dia seperti ini?" Dion resah melihat kondisi Sina.
Kedua matanya tidak lepas dari wajah putih Sina yang terlihat tidur damai, namun meninggalkan jejak ketakutan yang amat besar untuk Dion. Bila saja dada Sina tidak bergerak maka Dion pikir Sina saat ini tidur untuk selamanya dan tidak akan pernah bangun lagi.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ini normal untuk pasien ketika pertama kali menerima pasokan oksigen bersih dan melimpah." Dokter wanita itu menjelaskan.
Mereka akhirnya masuk ke dalam ruang operasi. Karena alasan tertentu mereka tidak berani meminta Dion keluar dan membiarkannya begitu saja masuk ke dalam.
"Setelah steril, keluarkan pisau itu dari lengannya dan jahit untuk menghentikan pendarahan." Dokter wanita itu memimpin jalannya operasi.
Semua dokter yang berpartisipasi secara buru-buru menggunakan pakaian steril untuk syarat dilakukannya operasi. Bahkan saking banyaknya dokter di sini tidak ada satupun perawat yang diizinkan masuk. Dokter yang bukan bidangnya malah berubah menjadi perawat dadakan, bertugas diperintah sana sini untuk menggantikan tugas perawat.
"Pak Dion.." Dokter wanita itu terlihat tidak baik setelah memeriksa kandungan Sina.
"Apa yang terjadi?" Dion bertanya tidak sabar.
"Dia sebelumnya mengalami pendarahan hebat dan kekurangan banyak darah. Di tambah lagi kondisinya kian memburuk setelah mendapatkan luka tusuk dari pundak ke lengannya. Kami takut tidak bisa menyelamatkan nyawa kekasih Anda dan anak di dalamnya kecuali Anda harus memilih salah satu dari mereka untuk diselamatkan." Dengan berat hati dokter wanita itu menjelaskan.
"Apa?" Kedua lutut Dion rasanya lemas.
"Anda harus cepat mengambil keputusan jika tidak ingin kehilangan mereka berdua." Desak dokter itu mengingatkan.
"Bagaimana bisa! Lakukan sesuatu agar dia dan anakku selamat! Aku ingin mereka berdua selamat!" Teriak Dion kalut lagi-lagi membuat sulit dokter-dokter itu.
"Ketahuilah Pak Dion..kami juga tidak ingin mengorbankan siapa-siapa di sini. Tapi ini adalah pilihan yang ditawarkan kondisi tubuh kekasih Anda sendiri."
Pasien sudah terluka terlalu parah ditambah lagi pendarahan hebat yang ada di dalam rahim semakin membuat peluang pasien dan anaknya menipis, mereka hanya bisa mengorbankan salah satu untuk satu kehidupan kecuali Tuhan mau mengulurkan tangan-Nya saat ini maka pasien dan anaknya bisa diselamatkan.
"Apa.. yang harus aku lakukan.." Isaknya menahan sakit.
Bila dia memilih menyelamatkan anak itu maka dunianya akan ikut pergi bersama Sina ke tempat yang tidak bisa dia jangkau. Namun..bila dia memilih egois menyelamatkan cintanya maka Dion yakin Sina tidak akan pernah bisa menerima itu..
Sina akan membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menyelamatkan anak itu. Tapi Dion tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak ingin kehilangan tujuan hidupnya..
Dia tidak mau kehilangan Sina, jadi..
"Pak Dion, Anda harus cepat karena kondisi pasien semakin menurun.." Desak dokter itu.
Jadi Tuhan, untuk sekali ini saja dia ingin egois..
"Selamatkan kekasihku."
Lagipula, jika Tuhan tidak mempersulit Dion tidak akan mengorbankan buah hatinya.
"Baiklah, sebelumnya Anda harus tanda tangan dulu dan silahkan menunggu diluar."
Dion menandatangani persyaratan rumah sakit dan segera keluar setelah memastikan Sina masih bertahan di atas bangsal bedah.
__ADS_1
Mengusap wajahnya kasar, dia duduk lemah di depan pintu ruang operasi bersama rasa sakit hatinya yang terus saja berdenyut.
"Maafkan Papa sayang.. maafkan Papa karena egois. Tapi Papa sungguh akan gila bila harus kehilangan Mama kamu.. Papa tidak bisa melangkah lagi jika Mama kamu pergi.." Gumamnya terisak sakit.
Ada seorang pria muda tampan duduk tidak berdaya di depan ruang operasi sambil menangis. Penampilannya rapi tapi terlihat memilukan karena pakaiannya banyak dinodai darah merah, membuat setiap mata yang melihat langsung memahami kecemasan pria muda itu.
Maafkan aku Sina karena mengecewakan mu..aku sungguh minta maaf.
...🥀🥀🥀...
Pintu ruang operasi ditutup rapat dan setiap dokter yang menangani pendarahan di perut Sina mulai bekerja. Mereka mulai menelanjangi Sina, membersihkan permukaan perut Sina dengan cairan berwarna putih berbau khas obat-obatan.
Setelah itu mereka juga mengelap pisau bedah yang akan digunakan untuk membedah perut Sina dengan cairan putih yang sama, memberikannya ke dokter bedah yang bersiap membedah perut bundar Sina.
Dokter itu memposisikan pisau bedah secara miring di atas perut, namun sebelum pisau bedah itu menyentuh permukaan perut Sina sebuah tangan lemah dan ternodai darah menghentikannya.
"Tolong.." Suaranya sangat lemah dari balik alat penyalur oksigen bersih.
"Tidak mungkin..dia sudah diberikan bius 3 lipat lebih banyak dari pasien normal tapi mengapa dia masih bisa bangun.." Dokter yang menangani anestesi tidak bisa tidak terkejut melihat Sina masih bisa membuka matanya.
"Tolong selamatkan anakku.." Mohon Sina bersusah payah.
Dokter bedah itu tertegun, dia meletakkan pisau ditangannya ke dokter lain. Kemudian menundukkan kepalanya untuk berbicara dengan Sina.
"Aku mohon.." Kata Sina memohon.
Dari sudut matanya keluar sebuah cairan bening.
"Pak Dion ingin kamu selamat dan kami tidak bisa bertindak apa-apa setelah persyaratan ditandatangani oleh wali mu."
"Jika..aku hidup dan anakku mati apa kamu pikir aku masih bisa hidup normal?"
Tidak bisa, jika iya maka itu akan melalui proses keikhlasan yang sungguh panjang. Namun faktanya itu sulit diterima, ya, sebagai seorang wanita dokter ini juga tahu.
Itu sangat menyakitkan.
"Bila aku.." Dia mulai hilang kesadaran.
"Masih bangun nanti.. sedangkan anakku mati..maka aku akan bunuh diri..aku lebih baik mati daripada kehilangannya.." Katanya sebelum benar-benar tertidur.
Semua orang terdiam di dalam ruang operasi. Mereka bimbang dengan permintaan Sina selaku seorang Ibu bayi yang akan mereka korbankan.
"Dokter, apa yang harus kita lakukan?"
Dokter itu mengambil nafas panjang, melihat Sina dengan tatapan sendu dan penuh arti.
"Selamatkan bayinya." Katanya final.
__ADS_1
Bersambung...
Yah, jujur saya juga akan merasa sakit bila di posisi Sina.