
Deg
Deg
Deg
Detak jantungnya berpacu kuat, mengalirkan rasa terkejut dan rasa senang pada saat yang bersamaan.
"Maka rasa itu masih ada sampai sekarang?" Tanya Sina terluka.
"Masih ada dan tidak akan pernah memudar meskipun kami berpisah 15 tahun lamanya." Dion sangat tulus ketika mengatakannya.
Sina tertegun, rasa sakit di dalam hati anehnya menghilang begitu saja. Malah ada sebuah ketukan di dalam hatinya yang tidak biasa. Lalu, ingatannya tentang 15 tahun yang lalu tiba-tiba datang membanjiri.
"15 tahun yang lalu.." Gumam Sina tidak pasti seraya mencoba mengingat wajah anak laki-laki itu.
Memang tidak terlalu jelas tapi sekilas Sina seolah melihat Dion versi kecil di dalam kepalanya.
"Aku mencintainya hampir pada titik kegilaan.. rasanya begitu hampa melewati waktu-waktu berat itu tanpa melihat wajahnya.." Ucap Dion lembut membimbing kebingungan Sina untuk mencoba mengingat kembali kenangan mereka.
Dia memang ikut kesakitan melihat wajah Sina yang mulai memucat merasakan sakit di kepala. Tapi Dion harus melakukannya agar Sina menyadari bahwa selama belasan tahun yang terlewati ini Dion selalu mencintainya.
Dia hanya ingin Sina mengingat hari penting itu saja.
"Dia adalah penyelamat hidupku.."
"Itu kamu, Dion. Orang yang aku selamatkan 15 tahun yang lalu adalah kamu!" Dion merosot jatuh ke lantai.
Memegang foto Dion kecil dan dirinya yang sedang tersenyum lebar. Tidak, foto ini tidak pernah terjadi karena saat Sina sentuh permukaannya terasa kasar. Foto Sina ditempel secara sengaja di samping foto Dion kecil menggunakan lem.
"Ternyata perasaan kami berdua saling berbalas, dan ternyata apa yang hatiku yakini selama ini memang benar bahwa Dion juga punya rasa kepadaku. Ya Tuhan, inikah takdir yang Kau tuliskan untukku? Skenario terbaik yang tidak pernah aku sangka- sangka sebelumnya bahwa kami berdua ternyata sudah terikat sejak 15 tahun yang lalu." Sina memeluk foto itu usang itu sekuat tenaga.
Mendekapnya erat sambil menangis haru merasakan betapa bahagianya dia saat ini.
"Sin, kamu liat shampoo aku enggak?" Suara langkah kaki Dion menuruni tangga.
Sina segera bangun dari duduknya, mengusap kedua matanya dan menyembunyikan foto dan dompet Dion ke dalam kantong plastik belanjaan.
"Sin, shampoo aku dimana-eh, kok kamu nangis?" Begitu Sina berbalik Dion melihat kedua matanya memerah dan masih ada jejak air mata di bulu mata hitam Sina.
"Kenapa? Kaki kamu sakit lagi atau badan kamu ada yang gak nyaman?" Tanya Dion cemas.
Sina menggelengkan kepalanya cepat, tersenyum manis dan memeluk Dion sayang.
"Nanti malam kamu sibuk, enggak?" Sina bertanya balik.
Dipeluk Sina, dia tidak menolak dan menarik Sina lebih dekat lagi dengannya. Merengkuhnya sayang dan juga candu.
"Engga, kok. Tapi nanti malam kita ada acara kumpul-kumpul di taman jadi kita harus pergi. Emang kenapa?"
Kumpul-kumpul?
Sina ingin ikut tapi mengingat wajah kecewa Nyonya Ranti dia malu.
"Aku..mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi kayaknya setelah acara kumpul-kumpul deh." Lagian rasanya lebih romantis berduaan di dalam kamar.
Saling mengungkapkan perasaan ditemani suasana malam yang romantis dan indah, Sina tidak bisa menahan pikirannya menjadi liar.
"Hem, aku juga. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu nanti malam. Jadi, kamu ikut kumpul yah?" Karena Dion tidak akan pergi jika Sina tidak mau ikut bersamanya.
Toh, kumpul-kumpul keluarga juga hanya dihadiri orang yang itu-itu saja. Apalagi ada Bela dan Risa sehingga keinginan Dion untuk hadir kian menipis saja.
"Kalau aku gak mau?" Tanya Sina ragu.
Dion mengecup puncak kepala Sina singkat,"Gak masalah, tapi aku juga gak akan pergi. Berduaan di sini sama kamu lebih baik daripada kumpul-kumpul sama mereka." Jawab Dion enteng.
"Ih, mereka keluarga kamu. Gak boleh, nanti malam kamu harus ikut sama mereka." Sina menolak dengan tegas.
"Sama kamu?" Dion lebih keras kepala.
Sina mengalah,"Aku juga bakal ikut kok jadi kamu gak boleh gak ikut."
Dion sangat puas sehingga dia mengecup puncak kepala Sina beberapa kali.
"Terus kamu tadi kenapa nangis, Hem?" Sina masih belum menjawab pertanyaan Dion tadi.
__ADS_1
Sina menggelengkan kepalanya,"Aku cuma bahagia aja, bahagia banget sampai rasanya mau teriak nangis." Ucap Sina jujur.
"Eh, kamu bahagia karena apa? Mau cerita?"
Sina menggelengkan kepalanya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dion untuk bertingkah manja.
"Nanti malam aja, okay?"
Dion penasaran tapi tidak memaksa, jadi dia langsung menyetujui.
"Okay."
Lama berpelukan Sina tiba-tiba teringat dengan susu kaleng yang Dion beli. Dia tahu bahwa susu itu tidak mungkin diminum oleh Dion karena tingginya sudah bisa dikatakan mirip seperti model profesional dengan bentuk tubuh yang proporsional.
"Oh ya," Sina melepaskan pelukan mereka.
Mengambil kaleng susu dan menunjukkannya dihadapan Dion.
"Siapa yang minum?"
"Kamu." Jawab Dion langsung.
"Aku?" Sina sama sekali tidak menyangka.
"Ya, kamu yang minum."
"Tapi..tapi aku gak butuh minum susu penambah tinggi badan karena menurutku tinggi aku saat ini tidak masalah." Meskipun tidak tinggi tapi Sina juga tidak pendek.
Jadi, tinggi Sina sebenarnya normal.
"Menurutku yang jadi pengamat, tinggi kamu saat ini bermasalah. Yah, jika kamu minum susu ini pasti masalahnya akan hilang." Dion mengambil kaleng susu itu.
Mengambil gelas dan memasukkan beberapa sendok susu bubuk dari kaleng. Setelah itu dia menyeduhnya dengan air panas.
"Minum, kalau enggak nanti malam kita-"
"Minum! Aku minum, kok!" Sina tidak melawan meskipun cemberut.
"Bagus, setelah aku selesai mandi gelas ini harus kosong. Jangan coba-coba untuk membuangnya karena aku pasti tahu jika kamu melakukan kecurangan." Peringat Dion sebelum pergi ke kamar mandi.
...🌼🌼🌼...
Pukul 8 malam Sina dan Dion pergi ke taman rumah utama tempat semua orang berkumpul bersama. Di sana mereka berkumpul mengelilingi api unggun sambil menikmati suguhan khas berbaqiu yang lezat dan ada lagi yang berpusah-pisah membuat sebuah kelompok.
"Kamu mau makan apa?"
Mereka berpegangan tangan selayaknya sepasang kekasih, membuat beberapa orang merasakan asam dan api cemburu yang membakar.
"Aku udah kenyang, kamu makan aja gak apa-apa. Aku temenin kok."
Sina tidak tertarik melihat hidangan lezat yang sudah berjejer rapi di atas meja prasmanan. Wangi yang menggoda dan berminyak malah membuat Sina mulai tidak nyaman.
"Aku juga udah kenyang. Mau lihat api unggun?" Tawar Dion sambil menunjuk ke arah api unggun.
Memang ramai namun terlihat menyenangkan untuk Sina. Membayangkan dirinya dan Dion duduk bersama di depan api unggun membuat Sina tidak bisa tidak tersenyum.
"Mau."
Sambil berpegangan tangan mereka berdua berjalan menuju api unggun. Membalas tatapan penuh keheranan orang-orang yang memperhatikan dengan sebuah senyuman yang cerah.
"Nah sekarang kita-"
"Dion, Paman Edward ingin berbicara dengan mu." Salah satu sepupu Dion datang menghampiri.
Dion bertanya,"Kenapa Papa memanggil ku?"
"Paman bilang ini masalah pertemuan tadi siang."
"Sin, kamu gak apa-apa kan aku tinggal dulu di sini?" Dion enggan tapi tidak bisa menolak karena ini juga berhubungan dengan perusahaannya.
"Gak apa-apa, udah kamu pergi aja. Temui Om Edward sebelum dia bosan." Sina mendorong Dion pergi.
"Okay, tetap di sini dan jangan kemana-mana sebelum aku kembali."
Sina berulangkali mengangguk kan kepalanya meyakinkan. Setelah itu dia duduk di depan api unggun sambil sesekali menoleh ke arah jalan terakhir yang Dion lalui. Sudah setengah jam dia duduk di sini namun Dion masih belum kembali juga. Sina di dalam hatinya mulai bosan berada di sini karena tidak punya teman bicara.
__ADS_1
"Sin, kamu liat Calista enggak?"
Sina tersadar dari lamunannya dan mendapati sudah ada Ridwan di depannya.
"Eh, aku gak pernah lihat sama sekali dari tadi."
"Hah, kali ini dia lari kemana sih?" Ridwan mengusap wajahnya kasar, terlihat frustasi.
Sina merenung, melihat betapa tulus perasaan Ridwan kepada Calista, dia berpikir jika sudah saatnya mereka berdua bersama tanpa perlu ada yang disembunyikan karena toh malam ini juga Sina akan memberi tahu Dion tentang kehamilannya.
"Aku pikir..sudah saatnya kamu tahu ini." Ucap Sina membuat Ridwan bingung.
"Tahu, apa?"
Calista, maaf aku mendahului mu. Tapi sungguh, aku tidak tahan melihat Ridwan terus tersiksa. Batin Sina bersalah.
"Calista hamil, sudah 3 bulan." Kata Sina membuat Ridwan langsung mematung.
"Apa.. Calista hamil?" Ridwan tidak percaya.
"Ya, itu adalah anak kalian." Jawab Sina bagaikan bom molotov yang memborbardir jantung Ridwan.
"Kamu.."
"Aku tidak berbohong, jika tidak percaya tanyakan ini kepada Calista."
"Aku.. mengerti." Wajah kebingungan Ridwan digantikan dengan ekspresi penuh kejutan.
Ridwan berbalik, berlari mencari Calista yang menyembunyikan diri di balik keramaian seraya menikmati berbagai macam makanan yang lezat. Berpikir lagi, Ridwan akhirnya mengerti alasan kenapa Calista mempunyai nafsu makan yang besar selama ini. Alasannya karena anak yang sedang dia kandung.
Calista hamil, anak mereka berdua.
"Sina." Suara dingin Bela menarik Sina dari lamunannya.
"Ada apa?"
Karena Bela tidak ramah maka Sina juga akan bersikap tidak ramah pula kepadanya. Hell, Sina tidak akan mau di perbodohi lagi oleh Bela karena dia tahu di dalam hati Dion hanya ada dirinya seorang. Bela, penyihir gila ini bukanlah siapa-siapa untuk Dion.
"Tante mau ketemu sama kamu."
Nyonya Ranti?
Firasat Sina mengatakan bahwa ini bukanlah ide yang bagus datang menemuinya, apalagi Dion saat ini sedang sibuk.
Tapi jika Sina menolak Nyonya Ranti pasti akan semakin membencinya dan membuat perjalanan hubungannya dengan Dion di masa depan menjadi sulit.
"Dimana?" Sina berdiri dari duduknya.
Samar, Bela tersenyum miring."Ikut aku."
Dia lalu membimbing Sina masuk ke dalam rumah utama. Melewati beberapa lorong mereka akhirnya sampai di depan sebuah kamar.
"Tante, ini aku."
"Masuk." Perintah Nyonya Ranti dari dalam kamar.
Sina dan Bela lalu masuk ke dalam kamar. Di sana sudah ada Kira yang berwajah masam, Risa yang tampak santai, dan wajah cantik Nyonya Ranti yang tampak tidak perduli.
Menyapa Sina saja dia tidak melakukannya apalagi sampai sudi menatap wajah, Nyonya Ranti sama sekali tidak mau melakukan itu. Dia hanya menyapa Bela dengan perasaan intim seorang Ibu kepada putrinya, mempersilakannya Bela duduk tapi tidak dengan Sina.
Sina malu diperlakukan asing tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya berdiri menunggu Nyonya Ranti berbicara dengannya.
"Besok pagi kamu harus segera pulang ke rumah kamu dan berhenti merayu Dion mulai dari sekarang." Ucap Nyonya Ranti dengan tatapan sinis.
Deg
Lutut Sina seolah lemas tidak kuat menahan beban tubuhnya. Dia ingin duduk di lantai tapi kemarahan di hatinya melarang.
"Tante, aku-"
"Jujur saja, Sina. Di lihat dari sisi manapun kamu tidak bisa bersanding dengan putraku. Dion adalah mahasiswa lulusan terbaik di Belanda dan menjadi pengusaha sukses di usianya yang masih muda. Sedangkan kamu?" Nyonya Ranti memandang rendah Sina dari kaki sampai atas kepala.
"Hanya lulusan SMA tanpa prestasi, tidak kuliah dan suka menganggur. Katakan, apa kamu layak dengan puteraku?"
Bersambung..
__ADS_1