
Mengigau
Mereka tidak mengalami kesulitan saat mencari mobil Dion meskipun ini adalah momen pertama kali mereka datang ke sini. Berjalan beberapa menit dan mereka akhirnya bisa melihat mobil yang paling mencolok dari semua mobil yang terparkir di sisi jalan.
Di samping mobil Dion ada beberapa orang tua dan anak-anak kucel duduk dengan sigap menunggu kedatangan pemilik mobil. Sepertinya mereka adalah kumpulan orang yang membutuhkan jadi Sina berniat mengeluarkan dompetnya namun langsung dihentikan oleh Dion.
"Biar aku saja." Ujar Dion seraya mengeluarkan uang berwarna merah muda dari dalam dompet dan membagikannya dengan murah hati kepada mereka.
"Terima kasih, kamu sangat baik." Bisik Sina sebelum masuk ke dalam mobil.
Dia tidak berharap Dion akan mendengar apa yang dia katakan karena suaranya sangat kecil apalagi ditengah-tengah keramaian.
Saat masuk ke dalam mobil Dion tidak mengatakan apa-apa kepada Sina namun senyuman lebar yang tersemat manis di bibirnya membuktikan jika suasana hatinya kembali membaik.
"Kamu tidur aja kalau ngantuk, nanti kalau udah sampai rumah baru aku bangunin."
Sina terlihat lelah dan mengantuk jadi Dion tidak tega melihatnya terus terjaga.
"Aku enggak ngantuk kok.." Bantah Sina yakin.
Tapi beberapa menit kemudian suara nafas teraturnya membuat Dion tertawa kecil. Sina sekarang tidur di sampingnya dengan posisi yang canggung.
Dion lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan memperbaiki posisi tidur Sina senyaman mungkin. Dia meletakkan kepala Sina di atas pundaknya dengan hati-hati. Mengusap lembut rambut panjang Sina ke belakang, Dion pun mengecup kening Sina lembut. Menghirup lama aroma rambut Sina yang menyegarkan dan penuh candu, Dion enggan melanjutkan perjalanan.
"Sina, mimpi indah sayang." Bisik Dion lembut sekali lagi mengecup ringan kening Sina.
Dia melanjutkan lagi perjalanannya kembali ke rumah. 15 menit kemudian dia sampai rumah dan langsung disambut oleh tatapan cemberut Bela di depan pintu masuk.
Dion mendesah lelah melihat gangguan di depan pintu masuk rumahnya. Sebelum keluar dari mobil dia memperbaiki posisi Sina seperti semula agar mudah membawanya keluar nanti.
"Dion, kamu kok pulang gak-"
"Shutt..." Dion memberikan isyarat diam, memotong ucapan Bela tanpa pikir panjang.
Bela terkenal dan spontan menutup mulutnya. Dia mempercepat langkahnya mengikuti Dion membuka pintu mobil yang lain. Bela heran kenapa Dion merendahkan tubuhnya seperti akan mengambil beban berat.
Benar saja, Dion mengeluarkan Sina dari dalam mobil dan menggendongnya ala bridal style dengan hati-hati seolah takut membangunkan.
"Dion.." Panggil Bela cemburu bercampur rasa kecewa.
Hatinya sakit melihat Dion dan Sina sedekat ini di depan matanya. Dan akan semakin sakit apabila dia mengingat penyebab kepergian Dion di pesta tadi adalah karena Sina. Hatinya seolah dipatahkan.
"Kamu bahkan mengancam Dimas hanya karena Sina...kamu rela memutuskan hubungan keluarga kita hanya karena Sina. Dion.. apa yang sebenarnya kamu lihat dari gadis itu? Dari semua aspek, keunggulan ku jauh melampauinya tapi kenapa? Kenapa kamu hanya memikirkan Sina saja? Aku tidak rela!" Emosi Bela tidak terima.
Dia marah, cemburu, dan bahkan sangat kecewa malam ini. Semua rencananya digagalkan oleh Sina, rencananya digagalkan oleh gadis biasa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya yang hampir mendekati kata sempurna.
Dia tidak bisa menerima semua penghinaan ini!
"Jangan bilang Dion menyukai Sina?" Gumam Bela tidak yakin.
"Enggak mungkin! Dion gak mungkin menyukai Sina. Lagipula kelebihan apa yang Dion lihat dari gadis biasa itu."
Jelas-jelas Dion lebih memilih membela Bela daripada membela Sina. Dion mengirim Sina ke paviliun dingin yang menunjukkan bahwa posisi Sina di dalam hati Dion tidak terlalu penting.
Memikirkan ini semua kegelisahan hatinya dapat ditekan tapi tidak bisa dihilangkan karena dia masih marah dengan kepergian Dion di acara pesta tadi. Bila diingat-ingat Bela tadi sangat malu dihadapan para tamu undangan.
"Sina memang bukan orang yang baik. Demi menarik semua perhatian Dion dia rela menggunakan cara yang licik, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja!" Sambil melirik arah kepergian Dion, dia tiba-tiba punya rencana.
"Aku harus mengejar mereka!" Bela lalu berlari kecil mengikuti punggung Dion yang masih lurus meskipun sedang membawa beban berat.
"Kamu akan membawanya ke paviliun dingin?" Tanya Bela mencari topik pembicaraan.
"En." Jawab Dion singkat.
"Lalu aku akan menemanimu." Bela ingin mengikuti mereka menuju Paviliun dingin. Niatnya sih ingin mengawasi mereka karena dia sangat yakin Sina hanya berpura-pura tidur saja saat ini.
__ADS_1
Namun Dion tiba-tiba menghentikan langkahnya. Obsidian dingin itu melirik Bela dengan pandangan tidak senang.
"Kamu tidak bisa ikut." Kata Dion mencegah.
Bela heran,"Kenapa?"
Lalu dia melirik luka bakar yang ada dikakinya.
"Apa karena luka ku? Soal ini kamu tidak perlu khawatir-"
"Benar, luka mu masih belum sembuh dan aku tidak ingin membuatnya semakin parah. Jadi diamlah di sini dan jangan kemana-mana." Potong Dion tidak sabar.
Bela tertegun, merasakan perasaan senang diam-diam merayap ke dalam hatinya. Dion mengkhawatirkan kesehatannya. Uh, Bela tidak bisa menyembunyikan senyuman manisnya.
"Tapi aku sungguh tidak apa-apa." Ujar Bela meyakinkan dengan senyuman lembut masih tercetak manis di bibirnya yang merah terang karena lipstik.
"Bela, patuhlah." Pinta Dion dengan suara rendah.
"Oke, tapi kamu harus segera kembali." Bela mengalah namun tetap memberikan isyarat.
Dion tidak memberikan janji atau meresponnya, dia langsung melanjutkan langkahnya menyusuri jalan taman yang gelap gulita tapi masih bisa melihat bangunan kecil paviliun dingin.
"Ugh.." Wajah Sina bergerak mengusap dada bidang Dion dan wajah tidurnya cukup nyaman.
"Dasar Putri tidur." Ucap Dion seraya terkekeh kecil.
Setiap kali Dion bertemu dengan Sina, dia selalu mendapatinya sedang tertidur. Entah itu di taman maupun di kamar, Sina sangat senang tidur.
Dion tidak tahu harus memberikan julukan apa kepada Sina selain putri tidur karena dia sangat menyukai tidur.
Dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Sina untuk mengusir hawa dingin malam yang siap merambat. Karena jalan menuju paviliun dingin tidak disediakan pencahayaan dan gelap gulita, maka orang-orang tidak akan bisa melihat apa yang sedang Dion lakukan kepada Sina. Di sepanjang jalan menuju Paviliun dingin Dion sengaja mengecup ringan kening dan rambut Sina, lalu menghirupnya nyaman untuk memuaskan keinginan hatinya. Dia sering berandai-andai di dalam pikirannya akan ada masa dimana dia bisa menghirup bebas wangi Sina sesuka hatinya.
Masuk ke dalam paviliun dingin Dion tidak memperlambat langkahnya naik ke lantai dua. Membaringkan Sina ke atas ranjang dan menyelimutinya dengan selimut hangat yang sangat nyaman.
"Dion.." Panggil Sina dengan suara kecilnya.
Dion dengan sigap menundukkan kepalanya.
Namun tidak ada tanggapan apapun dari Sina lagi. Sina hanya merespon Dion dengan suara nafas hangat yang bergerak teratur dan wajah cantik yang sedang tertidur lelap.
"Kamu mengigau..dasar." Dion menyentuh ujung hidung Sina dan menggosoknya lembut.
Setelah melihat Sina yang kini sedang tertidur nyenyak, Dion kemudian bangun dari duduknya berniat ingin ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun gerakannya tiba-tiba berhenti saat sebuah tangan tipis menarik telapak tangan kirinya.
Kekuatannya memang tidak besar tapi itu sudah cukup untuk menghentikan langkah Dion. Dia menoleh ke bawah dan melihat wajah polos yang masih tertidur lelap.
"Dion.." Panggilnya lagi.
Dion sontak mendudukkan dirinya kembali dan memutuskan untuk melayani ngigau Sina.
"Aku di sini." Jawab Dion selembut mungkin.
Sekali lagi Sina diam tidak mengatakan apa-apa lagi. Dion juga tidak bergerak dan memutuskan untuk menunggu Sina melepaskan tangannya. Waktu berlalu banyak dan hampir setengah jam terlewati namun Sina tidak mengeluarkan kata-kata ngigau lagi.
Dion memutuskan untuk berdiri karena dia pikir Sina tidak akan mengigau lagi, namun ternyata Dion salah karena saat dia akan berdiri Sina tiba-tiba mengatakan sesuatu.
"Di sini..di sini...dia merindukanmu." Tangannya mengarahkan telapak tangan Dion menyentuh perut bawahnya.
Dion membeku dan menatap tidak percaya pada tangan yang kini sedang menyentuh perut Sina.
Posisi ini..rahim?. Batin Dion membeku.
"Apa..ini.." Dion bingung tapi di dalam hatinya ada sebuah tebakan berani yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Dia..siapa 'dia' yang Sina maksud?. Batin Dion bingung.
"Sedih..jangan buang dia..aku sangat sedih kamu tidak menginginkannya...anak ini butuh kamu.."
Dug
__ADS_1
Dug
Dug
"Anak ini.." Gumam Dion terkejut.
Suara detak jantung Dion mulai berpacu di dalam tubuhnya. Memompa darah dengan panik dan menyebarkan arus listrik yang aneh tapi membawa rasa kebahagiaan yang indah.
"Sina hamil?" Tanya Dion berbisik.
Tubuhnya bergetar senang dan jatuh merosot ke lantai tanpa sadar. Tangan kirinya yang bergetar mulai mengelus lembut perut Sina yang agak membuncit. Perut Sina mulai membesar karena ada mahluk hidup yang amat sangat rapuh di dalamnya.
"Sina hamil anakku?" Bisiknya tidak percaya.
Hatinya kalut dan bahagia, bercampur aduk dalam setiap nafasnya yang terhembus. Kemudian sebuah ingatan tiba-tiba membanjiri kepalanya.
Itu terjadi beberapa hari yang lalu.
BRAK
Dia melempar kotak hadiah itu ke arah bak sampah yang ada di kamar Sina. Bahkan..bahkan tanpa melihat isinya sama sekali. Dion hanya menatapnya marah dengan sorot mata tajam yang tidak pernah Sina lihat sebelumnya. Ini sangat menakutkan, Sina tidak senang melihat Dion marah seperti ini.
"Bagiku yang hal paling penting sekarang adalah masalah ini. Katakan, kenapa kamu menyiram Bela dengan bubur panas itu?" Tanyanya lagi.
"Dion..di dalam kotak itu ada hadiah besar yang tidak pernah kamu duga. Di sana ada hadiah yang tidak pernah kamu duga...kamu harus melihatnya." Sina berjalan ke arah bak sampah dan mengambil kembali kotak yang Dion buang tadi.
Sekali lagi mengulurkannya kepada Dion agar dia membukanya dan melihat hadiah apa yang Sina siapkan di dalam. Sina yakin setelah Dion melihatnya dia akan berhenti marah dan menjadi tenang.
"Hadiah! Hadiah! Aku tidak butuh hadiah kamu!" Kali ini Dion tidak membuangnya ke bak sampah lagi seperti sebelumnya.
Tapi dia melemparnya ke lantai, menginjak-injaknya sekeras mungkin tanpa ampun di depan Sina. Terpana, Sina seperti melihat apa yang Dion injak-injak sekarang adalah hati kecilnya yang menyedihkan. Dibuang dan dihancurkan tanpa diberikan kesempatan untuk mengungkapkan rasa.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan saat itu. Aku menyakiti Sina dan anakku sendiri.. bagaimana bisa aku melukai mereka berdua?" Dion menundukkan kepalanya menatap wajah tidur Sina yang sangat damai.
Hatinya berdenyut nyeri membayangkan betapa terluka hati Sina hari itu.
"Maafkan aku... maafkan aku sayang..aku pasti sangat menyakiti hatimu hari itu. Waktu itu kamu terlihat ketakutan tapi aku sama sekali tidak perduli dan lebih memilih mementingkan egoku. Sayang, aku minta maaf." Dion mencium kening Sina dengan perasaan menyesal. Kedua matanya mulai basah seiring rasa sakit dari penyesalan yang terus berdenyut di dalam hatinya.
Dia sangat bodoh menolak hadiah yang sudah Sina siapkan sepenuh hati. Di dalamnya padahal ada sesuatu yang sangat penting tapi dia dengan bodohnya menolak untuk melihat hadiah itu.
"Maafkan aku.." Katanya sangat menyesal.
Lalu tangannya sekali lagi mengelus lembut perut bawah Sina, memberikan kasih sayang pada darah daging yang sudah dengan bodohnya dia abaikan.
"Sekarang aku mengerti.. penolakan kamu terhadap makanan beberapa hari ini pasti karena anak kita. Dia menyulitkan kamu dan membuat kamu tidak bahagia selama beberapa waktu ini...sayang, maafkan kami karena tidak peka dengan perasaan mu. Maafkan aku yang sudah mengecewakan kamu dan maafkan juga anak kita yang sering membuat ulah padamu. Maafkan kami, Sina." Ujarnya tulus, mencium lembut kening Sina dengan perasaan bahagia yang terus saja membuncah di dalam dadanya.
"Namun sekarang aku mengerti..aku mengerti kenapa kamu menyembunyikan berita baik ini dariku. Itu pasti karena kamu masih kecewa dengan sikapku saat hari itu. Kamu memutuskan untuk memendamnya sendiri meskipun aku ada di samping mu. Sina...kamu pasti sangat kecewa kepadaku. Tapi aku tidak mau melepaskan kamu begitu saja. Untuk mendapatkan kembali kepercayaan mu akan kulakukan berbagai cara..aku akan menyakini kamu kembali bahwa aku pantas berada di samping mu. Aku akan membuat kamu mempercayai ku lagi Sina..kamu akan mempercayai ku lagi sepenuh hati dan mau memberitahuku tentang kehamilan ini. Sina.. bukalah hatimu untukku kembali."
Dion membawa wajahnya lebih dekat dengan Sina, mencium lembut bibir merah Sina seringan sentuhan capung. Mengecup kembali selama beberapa kali dan mulai menghisapnya penuh candu.
Tidur Sina menjadi tidak nyaman dan mulai mengerang terganggu. Meskipun begitu Dion tidak melepaskannya tapi malah memasukkan daging licin tanpa tulang itu ke dalam mulut Sina. Menggoda lidah Sina untuk melayani permainannya sampai beberapa detik kemudian..
"Ugh.." Sina kehabisan nafas dan menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun.
Dion segera melepaskan ciumannya dan mundur menjauh untuk mengantisipasi Sina bangun dari tidurnya. Untungnya Sina tidak bangun seperti yang dia takutkan. Sina hanya membawa tangannya ke perut dan mengelusnya dengan ringan.
Dion sontak menghela nafas lega. Dia beringsut mendekati Sina dengan senyuman lembut terbentuk di bibirnya. Mengecup sekali lagi bibir bengkak Sina untuk membersihkan benang Saliva yang terputus dan naik ke atas ranjang untuk berbaring bersamanya. Dengan hati-hati dia membawa Sina ke dalam pelukannya, memberikan rasa aman dan nyaman yang langsung direspon balik oleh putri tidurnya.
"Selamat malam Sina..dan juga anak kita." Bisik Dion sembari memejamkan matanya.
Niatnya untuk pergi membersihkan diri dia lupakan begitu saja karena satu-satunya yang terpenting sekarang adalah menemani orang yang dia cintai dan buah hatinya terbang ke alam mimpi.
Bersambung...
**Kurang?
Mau lagi?
Atau cukup?
__ADS_1
Author lagi baik hati nih😂**