
"Kira apakah kamu mau membantu ku?" Bela menarik Kira ke dalam tenda mereka.
Hatinya resah setiap kali memikirkan percakapannya dengan Dion kemarin. Dia ingin segera menyingkirkan Sina dari keluarga Dion agar posisi menjadi satu-satunya kandidat terbaik tidak tergoyahkan. Dia ingin memiliki Dion dan dia ingin segera meng-klaim Dion menjadi miliknya secara sah.
Kira melihat ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya.
"Aku pasti mau membantu mu, katakan saja itu dan jangan sungkan!" Kata Kira serius.
Bela sangat puas dengan kesetiaan Kira. Dia menggenggam tangan Kira kuat menunjukkan betapa banyak keringat dingin telapak tangannya sekarang.
"Aku ingin mengusir Sina dari rumah ini, aku ingin menjauhkannya dari keluarga Dion." Ucap Bela agak malu.
Biasanya dia orang yang lemah lembut dan jarang menunjukkan emosi setajam ini, Kira cukup terkejut dengannya. Tapi Kira tidak membenci Bela karena menurutnya ini wajar saja Bela berambisi menyingkirkan Sina. Karena hei, tidak ada satupun wanita di dunia ini yang tahan melihat orang lain mendekati kekasihnya.
"Aku tahu karena akupun mengharapkan ini, tapi.. untuk mengusirnya dari rumah Dion bukanlah hal yang mudah. Tapi jika kamu punya rencana yang bagus maka mungkin kita bisa melakukannya." Kira masih belum memikirkan apa-apa untuk saat ini.
Sebenarnya dia tidak tahu bagaimana caranya menyingkirkan Sina dari keluarga Dion karena satu-satunya yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara untuk menyingkirkan Calista dari Ridwan.
"Rencana..aku masih belum memikirkannya.." Bela menggigit ibu jarinya panik.
Memikirkan rencana terbaik untuk menyingkirkan Sina.
"Jangan panik, tenangkan pikiran mu agar kamu bisa berpikir dengan baik." Kira mengambil air botol air putih yang masih tersegel dan memberikannya kepada Bela.
Sahabatnya terlihat begitu panik jadi Kira berusaha untuk menenangkannya sebaik mungkin.
"Terimakasih, aku akan berusaha menenangkan diriku." Bela membuka segel botol dan meminumnya sedikit.
Setelah itu dia mencoba berpikir lebih jernih lagi untuk membuat skema yang bagus untuk menyingkirkan Sina.
Kira tiba-tiba teringat dengan Risa. "Bagaimana jika kita meminta bantuan kepada Risa, kita semua tahukan jika dia sangat pandai membuat rencana seperti ini." Kira menunjukkan jalan keluar.
Bela memegang kepalanya berpikir keras dan merasa agak pusing karena belum pernah istirahat sejak sampai ke sini.
"Aku tidak mau melibatkan Risa dalam rencana ini karena biar bagaimanapun Dion adalah kakaknya. Aku ingin menjaga citraku tetap baik di depan keluarga Dion sehingga tidak mungkin melibatkan Risa." Tolak Bela.
__ADS_1
Risa adalah adik Dion dan Bela tidak mau melibatkannya. Citranya harus tetap bersih dihadapan keluarga Dion karena itulah dia tidak mau melibatkan Risa dalam rencana ini.
"Maka kita tidak akan melibatkannya." Angguk Kira setuju.
Lama berpikir, tidak ada yang berbicara di dalam tenda. Pikiran mereka berdua penuh akan rangkaian skema untuk menjatuhkan saingan cinta masing-masing.
"Aku bisa menggunakan koneksi keluarga ku." Tiba-tiba Bela mendapatkan ide yang bagus.
Kira bertanya antusias, "Bagaimana cara kerjanya?"
"Aku baru ingat jika Bibiku dan keluarganya sedang liburan di sini. Kebetulan perusahaan Paman ku sedang menyiapkan proyek besar bersama perusahaan Dion yang sangat penting. Jadi, karena proyek ini sangat penting maka Dion tentu saja tidak ingin hubungan perusahaan mereka berdua bermasalah. Apalagi keluarga ku dan keluarga Dion sudah sangat dekat sehingga Dion tidak mungkin membiarkan siapapun menghancurkan keharmonisan hubungan ini." Ucap Bela sambil memikirkan skenario rencananya.
Kira masih belum mengerti, "Ya, mereka punya hubungan yang harmonis. Jadi, apa hubungan keluarga mu dengan Sina?"
Bela tidak menjawab pertanyaan Kira, lebih tepatnya dia tidak mendengarnya. Setelah skenario sudah dibuat dia langsung berdiri dari duduknya seraya bertepuk tangan antusias. Sangat puas dengan rencananya dan dia dia juga punya harapan yang tinggi dari rencananya.
"Kira, ikut aku ke tenda Bibiku." Ajak Bela menarik Kira bersamanya.
Dia juga mengeluarkan handphonenya berusaha menghubungi Bibinya yang entah dimana posisi tendanya dia tidak tahu.
...🌺🌺🌺...
Dengan bunyi puk..puk.. Calista menepuk perut putihnya yang terlihat kembung dan membuncit. Dia tadi makan terlalu banyak karena sejak di dalam bus dia sangat kelaparan.
"Hati-hati..di dalamnya ada bayimu!" Sina meraih tangan Calista kesal.
Dia sedang hamil tapi masih bisa memukul perutnya sendiri?
"Aku tidak selemah itu, kamu tidak perlu khawatir. Juga, aku saranin kamu jangan terlalu banyak nonton drama karena efeknya gak baik buat kehidupan nyata kamu." Calista memutar bola matanya malas.
"Temani aku jalan-jalan sebentar agar pencernaan ku tidak terganggu." Kata sambil keluar dari dalam tenda.
Sina juga ingin jalan-jalan dan menikmati keindahan danau, tapi karena mereka baru sampai dia takut Calista kelelahan.
"Apakah di sini ada Dion?" Sina melihat sekelilingnya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku dengar dia ada pertemuan dengan perusahaan sebelah yang sedang menyiapkan proyek besar untuk tahun depan." Ucap Calista memberitahu.
Sina langsung menghela nafas lega dan agak kecewa juga sih sebenarnya. Walaupun dia sudah berjanji tidak akan mendekati Dion lagi tapi hatinya mengingkarinya dengan jelas. Dia menyukai Dion dan rasa sukanya tidur bisa hilang setelah merasakan patah hati.
"Dia sangat sibuk, bahkan saat pergi liburan pun dia tetap bekerja." Gumam Sina kagum.
Calista menganggukkan kepalanya dengan bangga.
"Tentu saja, Kakak ku sangat pekerja keras." Ucapnya bangga.
"Hem, itulah kenapa dia menjadi pengusaha sukses diusianya yang masih 24 tahun. Begitu muda tapi sudah menjadi orang hebat." Sina juga ikut bangga dengan prestasi Dion ini.
"Dia memang berhasil menjadi pengusaha sukses diusia yang muda." Calista tersenyum kecil, "15 tahun yang lalu dia tidak seperti ini. Kak Dion sama seperti anak laki-laki pada umumnya yang suka bermain dan jahil. Tapi semuanya berubah ketika dia pulang setelah menghilang berhari-hari. Kak Dion menjadi orang yang pendiam dan suka mengurung diri di dalam kamarnya, dia juga tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya tidak terkecuali Bibi dan Paman. Semua orang panik melihat Kak Dion yang berbeda oleh karena itu Paman memanggil seorang psikiater ke rumah. Kak Dion tidak menolak psikiater itu dan malah cukup antusias bertemu dengannya. Mereka berbicara di dalam kamar Kak Dion selama beberapa jam , entah apa yang mereka bicarakan tapi setelah psikiater itu keluar dia mengatakan jika Kak Dion sangat normal. Beberapa minggu kemudian Kak Dion sering keluar rumah pagi-pagi dan selalu pulang telat di sore hari. Hal ini terus berulang selama beberapa hari sampai suatu hari Kak Dion tiba-tiba mengejutkan Paman dan Bibi. Dia bilang ingin sekolah di Belanda untuk memupuk kemampuan bisnisnya. Kak Dion sangat teguh akan pendiriannya saat itu sehingga Paman dan Bibi tidak punya pilihan selain mengirim Kak Dion ke Belanda. Setelah itu..dia berubah menjadi Kak Dion yang cakap... orang yang kita kenal sekarang." Calista mengingat masa-masa itu.
Setiap kali dia mengingat perubahan Dion, Calista tidak tahu harus senang atau justru bersedih. Karena dia yakin pasti ada pemicu kuat yang membuat Dion berambisi menjadi orang yang pekerja keras. Sebuah pemicu kuat, Calista takut itu bukanlah ingatan yang baik.
"15 tahun..." Sina juga mendengar tentang ini dari Bik Mur.
15 tahun yang lalu, kebetulan dia mengalami kecelakaan dan lupa tentang hari itu. Dia hanya mengingat dengan samar melalui potongan-potongan mimpi yang sering kali menghantui tidurnya. Di dalam mimpi itu dia bertemu dengan seorang anak laki-laki..dia bertemu dengan seorang anak laki-laki berumur 9 tahun tapi dia tidak tahu siapa namanya. Sina tidak tahu siapa nama anak laki-laki itu meskipun mimpi itu sering menghantui tidurnya.
Juga... setelah kecelakaan dia dulu sering didatangi oleh seorang anak laki-laki. Anal laki-laki itu sering mengirimkannya berbagai macam hadiah..ya, bahkan hari terakhir dia datang pun dia memberikan Sina sebuah hadiah bunga tulip dan sebuah surat singkat.
Dia bilang,
"Akan datang menemui ku tapi sampai hari itu tiba aku tidak boleh melupakannya. Lalu... inisial pengirim surat itu adalah D.." Sina menahan nafas.
Merasakan perasaan panik juga gelisah yang tiba-tiba datang menghantam jantungnya.
"Mungkinkah anak laki-laki itu Dion... hentikan! Jangan ulangi kesalahan yang sama, dia tidak mungkin Dion! Yah, aku tidak boleh terlalu percaya dengan perasaan ku...ini mungkin hanya kebetulan sa-"
"Kamu berbicara apa? Aku tidak bisa mendengar mu dengan jelas." Calista dari tadi mendengar Sina berbicara tapi dia tidak bisa mendengarnya secara jelas.
"Oh..aku.." Sina gelagapan, "Aku bilang.. Dion pasti punya alasan kuat saat itu sehingga dia memutuskan untuk pergi ke Belanda." Jawab Sina susah payah.
Dia mencoba menenangkan detak jantungnya yang sedang berdebar kencang karena suatu alasan yang tidak masuk akal. Perasaan dan kepercayaan diri ini... Sina tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi!
__ADS_1
"Kamu benar, dia mungkin punya alasan yang kuat."
Bersambung..