
"Eh, kamu masih belum menyelesaikan cerita mu?" Tanya Sina terkejut.
Calista sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi konyol Sina yang menggelitik. Namun, dia menutup mulutnya rapat setelah memikirkan topik apa yang akan dia bicarakan.
Dia meraih tangan kanan Sina dan menggenggamnya penuh emosional. Dia sudah menganggap Sina sebagai keluarga sekaligus temannya jadi dia tidak ingin membiarkan Sina melangkah di jalan yang sama dengannya. Tertangkap basah tidak siap menghadapi kenyataan jika orang yang dicintai sudah bersama wanita lain rasanya amat sangat menyakitkan. Calista tidak mau Sina merasakan apa yang dia rasakan, sungguh.
"Tidak, ini bukan tentang aku tapi ini tentang kamu, Sina."
Tentang aku?. Batin Sina terkejut.
"Lalu, katakanlah apa yang ingin kamu katakan." Ujar Sina memberikan Calista kesempatan.
Setelah Calista mengeluhkan semua beban hatinya tentang cinta mungkin selanjutnya Calista ingin mengeluhkan tentang ketidaknyamanannya selama berada di dekat Sina. Ini adalah pemikiran pertama Sina ketika melihat ekspresi serius Calista.
"Pergilah dari rumah ini dan jangan kembali." Ucap Calista serius.
Sina tentu saja terkejut disuruh keluar dari rumah ini dan sangat tidak menyangka jika kemarahan Calista sampai seserius ini kepada Sina.
"Kenapa aku harus keluar dari rumah ini? Apa aku pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan tidak bisa diterima oleh mu?" Tanya Sina tidak mengerti dan agak gugup.
Pasalnya yang memintanya pergi adalah Calista! Dan bukan Risa lagi.
"Kamu tidak membuat kesalahan apapun di sini, jangan salah paham Sina."
Sina tidak mengerti dan cukup lega, "Jika aku tidak melakukan kesalahan lalu mengapa kamu meminta ku keluar dari rumah ini? Bisakah kamu mengatakannya secara jelas?"
Calista semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Sina.
"Dengar, aku tidak bisa membocorkan apapun kepadamu karena dia juga mengecam ku. Tapi hal yang pasti ingin aku katakan adalah bahwa kamu tidak akan bahagia tinggal di rumah ini, sama sepertiku kamu akan berakhir terluka jika diam di sini. Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Kak Dion jadi mengalahlah Sina, keluar dari rumah ini sebelum kamu benar-benar terluka."
Sina masih tidak mengerti apa yang Calista bicarakan.
"Kenapa aku harus keluar dari rumah ini dan kenapa aku tidak bisa mendapatkan hati Dion? Jika itu karena Bela maka kamu tenang saja karena Dion sebenarnya tidak menyukai Bela." Hibur Sina menenangkan Calista.
Walaupun dia tidak tahu seperti apa sosok Bela tapi Sina yakin jika Dion tidak menyukainya sama sekali. Karena satu-satunya orang yang ada di dalam hati Dion sekarang adalah dirinya sendiri dan akan tetap selalu seperti itu.
"Tidak-tidak! Percaya kepada ku jika Kak Dion dari kecil sampai sekarang hanya menempatkan Bela saja di dalam hatinya. Aku..aku tidak bermaksud melemahkan mu tapi kenyataannya memang seperti itu Sina. Kak Dion selalu menempatkan Bela sebagai yang paling utama dan menyampingkan yang tidak berhubungan dengan Bela. Percayalah kepada ku, keluar dari rumah ini jika kamu tidak ingin berakhir seperti ku. Menahan sakit setiap waktu karena melihat orang yang kamu cintai malah mencintai wanita lain." Ucap Calista mencoba meyakinkan Sina.
Tidak ada cara lain selain pergi dari rumah ini jika dia tidak ingin terluka.
__ADS_1
Sina terdiam, menundukkan kepalanya dia rasanya malu menatap langsung wajah Calista. Kata-kata ini bukan hanya Calista saja yang mengatakannya tapi Nyonya Ranti dan Risa juga mengatakannya. Mereka bilang Bela adalah kekasih masa kecil Dion dan setiap kali ada Bela hari-hari Dion jauh lebih baik dari sebelumnya.
Meskipun gugup dan takut setiap kali memikirkannya tapi Sina mencoba menguatkan hatinya dengan sebuah pikiran bahwa Dion tidak mungkin menciumnya jika dia sudah mempunyai wanita lain, Dion tidak mungkin mengizinkannya masuk ke dalam kamarnya jika dia sudah mempunyai wanita lain, dan Dion tidak akan menghabiskan malam yang indah bersamanya jika dia sudah mempunyai wanita lain.
Ya, jika Dion memang mencintai Bela maka dia seharusnya tidak memperlakukan Sina selayaknya sepasang kekasih.
Memikirkan ini, kegelisahan Sina kembali ditekan.
Dia tersenyum lembut seraya menatap teguh ekspresi khawatir Calista. "Terimakasih."
"Terimakasih Calista untuk perhatian mu yang tulus tapi yakinlah Dion tidak menyukai Bela sedalam yang kamu pikirkan. Alasannya? Aku tidak bisa memberi tahu mu tapi yang pasti aku tidak akan keluar dari rumah ini kecuali Dion sendiri yang memintaku untuk keluar." Ucap Sina menolak saran Calista.
"Sina.."
"Bukankah aku sudah mengingatkan mu jika emosi mu adalah emosi bayi mu juga. Kamu tidak bisa memikirkan masalah ku karena bayimu yang akan merasakan imbasnya. Jadi, pikirkanlah hal-hal yang positif untuk kebaikan kalian berdua dan perbanyaklah istirahat." Potong Sina tidak tahan.
Menyingkirkan cemilan dan piring-piring itu dari depan Calista, dia lalu dengan gemas membaringkan Calista di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal nan hangat miliknya.
"Sudah, tidurlah dan jangan memikirkan yang tidak-tidak." Ucap Sina seraya menepuk lengan Calista.
Setelah Sina keluar dari kamar untuk mengembalikan peralatan makan yang digunakan untuk makan, Calista lalu menghela nafas panjang. Menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah berpikir jika Sina juga bisa keras kepala.
...🌺🌺🌺...
"Calista menginap di dalam kamarmu?"
Sina terkejut dan sontak mengalihkan kepalanya dengan panik ke arah sumber suara. Di pintu dapur Risa memandangnya dengan senyuman yang tidak bisa sampai ke mata.
"Kamu..darimana tahu Calista tidur di dalam kamar ku?" Tanya Sina terkejut.
Pasalnya satu-satunya orang yang dia beritahu hanya Dion saja dan Sina yakin Dion tidak akan membocorkan keberadaan Calista.
"Aku melihatnya saat masuk ke dalam kamarmu." Jawab Risa acuh.
Dia masuk ke dalam dapur dan mengambil air minum putih yang dingin dari dalam kulkas, menumpasnya ke dalam gelas dan terakhir meminumnya dengan gerakan yang anggun.
"Oh..jadi, apa kamu memberitahu Om dan Tante tentang keberadaannya di sini?"
Risa menggelengkan kepalanya acuh, "Jadi, apa yang dia bicarakan denganmu di dalam sana?" Bukannya menjawab, Risa malah bertanya balik kepadanya.
__ADS_1
"Dia.. tidak mengatakan apa-apa dan hanya ingin menikmati waktu sendirian dulu." Jawab Sina gelagapan.
Oh well, ini menyangkut tentang masa depan Calista jadi dia tidak bisa membocorkan apapun kepada Risa sekalipun mereka adalah keluarga.
"Oh, dia ternyata bisa takut juga." Ucapnya seraya terkekeh kecil.
Risa merasa senang karena dia sudah berada di atas angin menginjak-injak tempramen keras kepala Calista. Setelah ini maka Calista tidak akan bisa lagi mengganggu rencananya di masa depan. Hem, kabar yang bagus.
"Aku akan pergi beristirahat jadi selamat malam Sina dan tolong kamu jaga sepupuku malam ini agar dia tidak melakukan hal yang tidak-tidak." Ucapnya sebelum pergi dari dapur.
Langkah kakinya yang ringan dan santai menunjukkan suasana hatinya yang bahagia. Saking bahagianya dia mengambil ponsel baru yang dibeli kemarin dan mulai mengotak-atik kontak seseorang yang beberapa bulan ini terus berhubungan dengan dirinya.
"Halo, Kak Kira." Suara manisnya menyapa Kira yang ada di seberang sana.
"Yah, dia benar-benar tidak berani lagi mendekati Kak Ridwan jadi kamu tidak perlu khawatir."
Dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan satu gerakan. Tidak mengizinkan siapapun untuk mendengar percakapannya dengan Kira.
"Ahahah..tentu saja, itu sangat mudah. Hem, sekarang dia tidak akan berani lagi mencari Kak Ridwan karena rahasia terbesarnya ada di tanganku."
Dia menggelengkan kepalanya ringan setelah mendengar pertanyaan Kira. "Bukan rahasia besar, ini hanya tentang masa kecilnya yang memalukan."
Risa kemudian menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Tangan kirinya yang kosong mengambil bingkai foto kecil yang memperlihatkan wajah tampan Dion yang sedang tersenyum bersama gadis lain menghadap ke kamera. Well, pemandangan ini memang punya suasana yang manis tapi entah mengapa di dalam mata Risa, pemandangan manis ini justru menyakiti matanya.
"Tidak.. tidak, Kak Kira tidak perlu melakukannya. Untuk membalas kebaikan ku, Kak Kira hanya bisa melakukan apa yang aku pinta beberapa waktu lalu. Ya..tepat seperti itu... Kak Kira hanya perlu membuat Bela membenci Sina. Katakan kepadanya jika Sina adalah gadis yang buruk dan berniat jahat merebut Kak Dion darinya." Dia menjelaskan dengan singkat.
"Benar, dia akan pulang besok jadi temukan waktu yang tepat untuk berbicara dengannya."
Bosan dengan foto itu, dia tanpa ragu langsung melemparkan bingkai foto kecil itu sudut ruangan dengan malas. Bunyi pecahan kacanya yang tajam entah mengapa terdengar begitu menghibur di dalam telinganya.
"Yah..yah, tentu saja aku juga tidak setuju melihat Sina dengan Kak Dion. Itulah sebabnya aku meminta mu untuk memberi tahu Bela tentang kebusukan hati Sina. Selain tidak rela melihat mereka bersama aku juga tidak ingin Bela terluka karena Sina. Seharusnya Kak Kira bisa memahami maksud ku."
"Tepat seperti itu.."
"Hem..Hem.. baiklah, aku juga lelah jadi selamat malam."
Klik, dia mematikan sambungan telepon. Menaruhnya di samping fokusnya kemudian beralih menatap wajah cantik Bela yang masih saja tersenyum menatapnya.
"Inilah yang disebut sekali dayung dua atau tiga pulau terlewati." Bisiknya puas pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...