Dear Dion

Dear Dion
29. Tanpa Kabar


__ADS_3

"Non Sina..non Sina?" Panggil Bik Mur khawatir.


"Oh..ada apa Bik?" Jawab Sina gelagapan setelah tersadar dari lamunannya.


"Airnya sudah mendidih, non Sina harus segera memasukkan sayurnya ke dalam panci." Jawab Bik Mur mengingatkan.


Diingatkan Bik Mur, Sina segera menatap panci panas yang ada di depannya dengan air mendidih yang bergejolak. Mengangguk malu, ia segera mengambil sayuran bersih yang dia potong-potong tadi dan telah dicuci bersih.


"Aku..maaf, aku tidak terlalu fokus." Ucap Sina merasa tidak nyaman.


Bik Mur tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap Sina khawatir karena sudah beberapa hari ini Sina kerap dia dapati sedang melamun. Selain melamun dia juga jarang keluar untuk makan sehingga membuat banyak orang menatap khawatir ke arahnya. Karena khawatir Sina terus-terusan seperti ini maka Bik Mur memutuskan untuk mengajak Sina masak di dapur.


Bik Mur ingin Sina lebih sibuk dan lambat laun melepaskan beban pikirannya. Akan tetapi bukan hanya Sina tidak bisa melepaskan beban pikirannya tapi dia juga tidak menghasilkan perubahan apa-apa. Aktivitas melamunnya masih saja ada meskipun dia sedang disibukkan oleh pekerjaan.


"Jika non Sina tidak enak badan maka lebih baik istirahat saja di kamar. Biarkan Bibi yang melanjutkan semua pekerjaan ini jadi non Sina tidak perlu khawatir." Saran Bik Mur merasa kasihan.


Gerakan tangan Sina terhenti, mengangkat wajahnya dan menatap malu Bik Mur yang sudah beberapa hari ini mengisi hari-harinya.


"Sina baik-baik aja kok Bik, Sina juga masih bisa menyelesaikan masakan ini jadi Bik Mur tidak perlu khawatir." Katanya seraya memasukkan sayuran terakhir ke dalam panci.


"Dia masih belum mengabari kamu?" Tanya Risa tiba-tiba sudah ada di samping Sina.


Sina dan Bik Mur sama sekali tidak menyadari kedatangan Risa di sini. Mereka cukup terkejut mengetahui Risa yang sudah ada di samping Sina.


Sina tersenyum tipis, "Dia masih belum mengabari ku dan pesanku juga masih belum dibalasnya." Jawab Sina terdengar sedih.


"Hanya pesan? Apa kamu tidak menghubunginya juga?" Tanya Risa penasaran.


Begitu menikmati penderitaan Sina yang sudah 3 minggu ini diabaikan oleh Dion. Ya, sejak 3 minggu yang lalu Dion tidak pernah pulang ke rumah dan menghubungi orang rumah. Bahkan, setiap kali Risa mencoba menghubungi orang yang mengangkat nomor Dion pasti sekretaris Dion. Dia hanya bilang jika Dion sedang ada proyek besar sehingga tidak dapat diganggu.


Risa tentu saja tidak percaya apa yang dikatakan sekretaris itu karena sebesar apapun proyek yang dikerjakan Dion tidak pernah sampai menghilang berminggu-minggu. Malah, Risa tebak jika Dion tidak pulang karena ingin menghindari Sina yang terus menempelinya.


Lihatkan, apa yang dia katakan memang benar jika Sina sama sekali tidak bisa masuk ke dalam matanya.


Hem, sepertinya rencanaku akan berhasil. Batin Risa senang.


Meskipun senang, Risa mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak tampak mencurigakan meskipun semua orang tahu bahwa dirinya membenci Sina.

__ADS_1


"Aku sudah mencobanya tapi Dion tidak pernah mau mengangkat telepon dariku." Jawab Sina lebih sedih lagi.


Dia meneleponnya berkali-kali tapi Dion tidak pernah menjawabnya bahkan meresponnya saja tidak.


"Benarkah?" Risa berpura-pura terkejut, tangannya yang mengangkat gelas tiba-tiba berhenti di tengah-tengah gerakan.


"Tapi saat aku meneleponnya kemarin Dion menjawabnya kok." Kata Risa berbohong.


Sina terkejut, "Benarkah?"


Risa menganggukkan kepalanya dengan yakin, "Tentu saja benar, memangnya apa untungnya berbohong kepada mu?" Tanya Risa pura-pura terluka.


"Aku..aku tidak bermaksud seperti itu." Bantah Sina gugup.


Jika itu 3 minggu yang lalu mungkin Sina tidak akan mempercayainya karena jelas-jelas Risa membencinya. Namun, sejak Dion tidak pernah pulang Risa tiba-tiba berubah dan lebih ramah lagi kepadanya sehingga Sina tidak punya alasan untuk tidak percaya dengan apa yang Risa katakan sekarang.


Toh, Risa adalah adik Dion jadi wajar saja Dion menghubunginya.


"Lalu apa yang Dion katakan kepadamu kemarin?" Tanya Sina agak bersemangat.


"Dia bilang tidak bisa pulang untuk sementara waktu karena ada proyek besar yang sedang dia tangani. Setelah proyek itu selesai maka dia akan langsung pulang ke rumah jadi kita tidak perlu mengkhawatirkannya." Jawab Risa melebihkan sedikit apa yang dikatakan sekretaris Dion.


Risa juga berbohong jika Dion mengangkat teleponnya karena orang yang mengangkatnya adalah asisten Dion yang sangat menyebalkan.


Mendengar ini Sina merasa agak lega, "Apa Dion tidak mengatakan apa-apa lagi?" Tanya Sina berharap.


Seharusnya Dion menanyakan kabar tentangnya'kan?


Risa menggelengkan kepalanya ragu, terlihat agak bersimpati untuk kemalangan Sina.


"Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, memangnya kamu berharap dia mengatakan apa?" Tanya Risa pura-pura tidak mengerti, secara halus mengempiskan harapan Sina.


Sina tertegun, "Apa dia tidak bertanya tentang aku?" Tanya Sina tidak yakin.


"Pembicaraan kami sangat singkat dan dia juga terdengar buru-buru jadi tidak sempat mengatakan apapun sebelum teleponnya Dion matikan." Bohong Risa terdengar masuk akal.


Jika sampai 3 minggu saja tidak sempat pulang maka sudah bisa dipastikan jika Dion sangat sibuk.

__ADS_1


"Dion sepertinya sangat sibuk." Kata Sina menyimpulkan. "Beberapa hari yang lalu aku sudah mencoba masuk ke kantornya tapi petugas keamanan di sana tidak mengizinkan ku masuk. Mereka bilang aku tidak punya izin untuk bertemu dengan Presdir."


Beberapa hari yang lalu dia datang ke perusahaan Dion berniat membawakannya makan siang sambil lalu ingin melihat keadaan Dion. Berhari-hari tidak bertemu membuat Sina sangat merindukan Dion.


Apakah dia bodoh? Jelas-jelas Dion tidak ingin bertemu dengannya tapi dia masih saja percaya diri seolah Dion benar-benar tidak bisa diganggu. Batin Risa mencemooh.


"Yah, dia sangat sibuk." Katanya sambil tersenyum simpul.


"Apa makanannya sudah siap? Aku sangat lapar saat ini jadi tidak sabar ingin segera makan siang." Tanya Risa mengalihkan pembicaraan.


Dia berpura-pura menggosok perut rampingnya seraya mengedarkan pandangannya menatap makanan yang masih belum dipindahkan ke piring saji. Memang terlihat sangat menggiurkan sehingga membuat Risa benar-benar meneteskan air liurnya ingin segera makan.


Oh, ini jarang terjadi tapi anggap saja suasana hatinya sedang baik sehingga dia ingin makan banyak siang ini.


Bik Mur dengan sigap menjawab, "Sebentar lagi siap non Risa, Bibi hanya perlu memindahkannya ke piring saji saja."


Bik Mur segera mengambil piring saji di atas meja dan mulai memindahkan makanan yang sudah matang ke atas piring untuk segera disajikan.


Risa mengangguk puas dan tidak terlalu mempermasalahkan betapa lambat para pembantu ini memasak. Hatinya sedang dalam suasana hati yang baik jadi bersabar sedikit saja tidak akan mengganggunya.


"Baiklah, aku akan menunggu di meja makan." Katanya santai.


"Ayo Sina, kita ke meja makan sekarang untuk bersiap makan siang." Ajak Risa.


Sina sebenarnya tidak lapar tapi karena Risa mengajaknya secara langsung maka tidak sopan rasanya jika dia menolak.


"Hem, ayo kita ke meja makan-" Belum selesai Sina berbicara, ucapannya tiba-tiba diinterupsi oleh kedatangan Bik Minah yang terlihat panik menghampiri mereka berdua. Lebih tepatnya, Bik Minah hanya menghampiri Risa saja sementara Sina diabaikan.


"Non Risa, Tuan dan Nyonya sudah pulang. Saat ini mereka baru saja turun dari mobil di depan!" Lapor Bik Minah bersemangat.


Risa terkejut dan langsung pergi meninggalkan dapur untuk segera bertemu dengan orang tuanya.


"Mereka pulang tanpa memberitahu ku dulu," Keluhnya agak kesal.


"Tapi tidak apa-apa, setidaknya permainan ini akan lebih menarik lagi jika mereka pulang." Lanjutnya dengan senyuman simpul yang mencurigakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2