
Sina menyelesaikan acara cuci mukanya secepat mungkin dan mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih menarik untuk mendapatkan perhatian banyak orang. Pasalnya, malam ini semua anggota keluarga hadir jadi Sina harus bisa mendapatkan hati semua orang dan secara perlahan mulai meluluhkan hati Dion.
Yah, ini memang terlihat melelahkan tapi sebenarnya tidak melelahkan sama sekali. Orang yang dia kejar adalah pangeran yang diperebutkan oleh banyak gadis di luar sana jadi dia harus memanfaatkan semua kesempatan ini.
Sina menatap cermin dan melihat pantulan wajahnya yang terlihat sembab. Berpikir sebentar dia memperhatikan wajah sembabnya karena efek menangis terlalu keras dan memutuskan untuk menggunakan sedikit bedak bayi, memberikannya sentuhan pewarna pipi yang gadis-gadis di iklan tv lakukan.
"Apa warnanya terlalu terang atau cara pakainya memang seperti ini?" Tanyanya ragu.
Saat melihat cermin pipinya terlihat agak tidak benar karena warna pewarna pipi ini terlalu kuat. Ah, sepertinya di masa depan dia harus membeli warna yang lebih ringan lagi karena dia tidak cocok menggunakan warna yang terlalu terang seperti ini.
Setelah menyesuaikan semuanya, dia kemudian memutuskan untuk segera turun ke bawah. Begitu keluar dari kamarnya, Sina bisa mendengar suara banyak orang yang ada di bawah, seperti yang dia duga semua anggota keluarga rumah ini akan berkumpul saat acara makan malam.
Menapaki anak tangga satu demi satu, dia semakin jelas mendengar suara gelak tawa mereka di ruang makan. Semakin memacu semangatnya untuk segera turun dan ikut bergabung bersama mereka di bawah. Dia agak mempercepat langkahnya menuju ruang makan, masuk ke dalam ruang makan dia langsung dibuat terkejut dengan banyaknya orang yang berkumpul di sini.
Sina melihat ada beberapa wajah yang bukan dari anggota keluarga ini, misalnya seperti Kira dan Ridwan yang ikut makan bergabung bersama keluarga Dion.
"Oh, Sina akhirnya datang." Suara nyaring Risa menarik perhatian semua orang.
Pandangan semua orang langsung tertuju kepada Sina tanpa bisa dia alihkan. Tubuhnya sejenak tidak bisa bergerak dan kaku saat menerima mata tajam setiap orang yang memandanginya.
Beberapa detik terdiam, tiba-tiba tawa kecil Kira membantu Sina melarikan diri dari mata-mata mereka. Itu sangat mendebarkan mendapat perhatian langsung dari banyak orang, pikir Sina.
"Malam ini kamu sangat cantik, Sina. Perona pipimu bahkan mengalahkan merek branded yang Risa gunakan." Entah itu pujian atau justru ejekan, Sina tidak bisa menilainya karena saat ini dia sangat gugup.
Akan tetapi anehnya, setelah mereka mendengar perkataan Kira ruang makan langsung dipenuhi gelak tawa yang semarak. Tertawa lepas dengan mata berair seraya menatap Sina yang masih belum bergerak.
Apa reaksi ini... adalah bentuk ejekan mereka terhadap penampilannya atau apa?
"Sina, ikut dengan ku." Untungnya Calista segera bangun dari duduknya.
Dia menarik Sina ke ruang tamu yang lebih dekat dengan ruang makan. Setelah mereka duduk, dia kemudian mengambil tissue basah yang ada di atas meja dan mulai mengusap wajah Sina dengan hati-hati.
Sekarang Sina paham, mereka semua mungkin menertawakan penampilannya yang terlihat seperti badut tersesat. Sina malu, sangat malu saat memikirkan bagaimana reaksi Dion tadi saat melihat penampilan buruknya ini. Entahlah, rasanya dia ingin sekali menangis untuk melampiaskan betapa malu dirinya.
Niat hati ingin mencuri perhatian banyak orang ternyata berbuah mempermalukan diri sendiri. Dia benar-benar membenci kebodohannya ini.
__ADS_1
"Lain kali jika kamu ingin menggunakan makeup jangan sungkan untuk memanggilku. Juga, kamu tidak bisa memaksakan dirimu untuk menggunakan sesuatu yang tidak pernah kamu gunakan. Jadilah dirimu sendiri Sina dan jangan malu untuk menampilkan sisi dirimu yang apa adanya." Calista menyelesaikan pekerjaannya dan menatap Sina dengan ekspresi sedihnya.
"Terimakasih Calista, lain kali aku tidak akan memakainya." Sina tidak bisa memberi tahu Calista alasan mengapa dia menggunakan perona pipi.
Selain untuk menarik perhatian banyak orang Sina sebenarnya juga ingin menyembunyikan wajah sembabnya yang amat sangat menjengkelkan untuk dilihat siapapun.
"Tidak benar, ada apa dengan pergelangan tangan kiri mu?" Calista mengangkat tangan kiri Sina ke depan wajahnya.
Memperhatikan dengan pengamatan tajam memar merah yang tercetak rapi di pergelangan tangan kiri Sina. Karena panik, Sina segera menarik tangannya tapi Calista sama sekali tidak membiarkannya lolos atau pun melepaskannya.
"Apa ini ada kaitannya dengan kelopak mata mu yang bengkak?" Tanya Calista serius.
"Mata mu bengkak karena terlalu lama menangis. Aku pikir itu karena kamu merindukan rumah mu tapi saat melihat memar di pergelangan tangan kiri mu, aku akhirnya sadar jika kamu menangis pasti karena ini. Ceritakan kepada ku siapa yang melakukan ini kepada mu?" Lanjut Calista mengintrogasi Sina.
Sina menundukkan kepalanya tidak mau, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakannya.
"Aku akan memberitahu mu tapi setelah kita menyelesaikan makan malam. Kita nanti dianggap tidak sopan karena membuat mereka menunggu terlalu lama." Katanya memberikan pengertian kepada Calista.
Calista tidak mau, "Katakan saja sekarang, jika mereka menganggap kita tidak sopan maka biarkanlah seperti itu karena hal yang paling penting sekarang adalah kamu, Sina. Jika kamu masih enggan memberi tahuku maka aku akan menghubungi kedua orang tuamu dan menceritakan semua-"
Oh well, kenapa Dion dan Calista begitu senang mengancamnya dengan membawa-bawa kedua orang tuanya? Padahal mereka seharusnya tahu topik ini sangat kritis untuk Sina. Jika kedua orang tuanya tahu maka habislah sudah, kedua orang tuanya tidak akan mau mendengar penjelasan apapun dan dengan paksa menarik Sina pulang ke rumah.
Sina lebih dari apapun tidak menginginkan itu terjadi.
"Pilihan yang cerdas." Ujar Calista senang.
"Ini... adalah kesalahan ku sendiri. Tadi siang setelah bangun tidur aku langsung masuk ke dalam kamar Dion untuk membersihkan kamarnya seperti biasa. Aku-"
"Sampai kapan kalian membuat semua orang menunggu?" Potong suara datar Dion dari arah pintu.
Sina dan Calista sontak terkejut dan langsung beranjak dari sofa yang mereka duduki. Di sisi pintu, sosok dingin Dion menatap datar Sina dan Calista yang terlihat gugup.
"Jangan menakuti mereka! Lihat, wajah mereka langsung ketakutan ketika melihat mu." Suara lembut penuh canda seorang gadis mengalihkan perhatian Sina dari wajah Dion.
Di sana, tepatnya di samping Dion ada seorang gadis cantik yang berdiri anggun di samping Dion. Wajahnya terlihat sangat cantik-ah, lebih tepatnya gadis ini adalah gadis tercantik yang pernah Sina lihat di dunia ini. Tampilannya yang anggun namun tidak arogan seperti Risa membuat setiap orang yang melihatnya langsung bisa menebak jika gadis ini punya sisi lembut yang hangat dan menenangkan.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak menakuti mereka." Bantah Dion acuh tak acuh, tapi meskipun acuh ada sinar kelembutan di dalam matanya.
Membuat Sina merasakan sensasi kesemutan yang ada di dalam hatinya. Jantungnya saat ini berdebar kencang tapi anehnya meninggalkan perasaan sakit yang samar dan membingungkan.
"Kamu urus mereka berdua, aku akan kembali dulu ke meja makan. Ingat, kamu tidak diizinkan lama-lama karena yang lain pasti sudah sangat kesal sekarang." Ucap Dion masih dengan sikap yang sama.
Kali ini, dia mengusap puncak kepala gadis itu dengan singkat sebelum pergi meninggalkan gadis itu untuk mengurus Sina dan Calista.
"Hem, kami akan segera menyusul." Ucap gadis itu dengan volume suara agak tinggi dari sebelumnya.
Setelah Dion menghilang dari pandangan mereka, gadis cantik itu lalu berjalan mendekati Sina dan Calista yang masih berdiri kaku memandangnya. Oh, lebih tepatnya itu Sina yang masih belum mengerti situasi yang terjadi antara gadis cantik ini dengan Dion. Dia tidak mengerti tapi di saat yang bersamaan dia bisa menebak sesuatu. Sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak dan menjengkelkan.
Sina tidak mau menerima pikiran gilanya ini.
"Calista...ini..."
Calista dengan cepat menjawab, "Ini Sina, Kak."
Gadis cantik itu tersenyum hangat, terlihat begitu tulus. "Oh, jadi namanya Sina."
Berdiri di depan Sina, mata persiknya menatap wajah Sina dengan hati-hati. "Apakah kamu sudah baik-baik saja sekarang?"
Sina ragu untuk menjawab, "Aku.. baik-baik saja."
Dia menelan ludah gugup dan memberanikan diri untuk bertanya, "Lalu, kamu ini siapa?" Tanyanya sambil tersenyum.
Gadis cantik itu tersenyum hangat, mengulurkan tangan rampingnya di depan Sina untuk melakukan perkenalan yang sopan.
"Namaku Bela, senang bertemu dengan mu, Sina." Bela memperkenalkan dirinya dengan sopan dan suara yang lembut juga bersahabat.
Deg
Seketika, senyum Sina langsung membeku ketika merasakan hawa dingin yang perlahan mengaliri punggungnya. Membekukan semua saraf-sarafnya sampai batas dimana dia kesulitan untuk mengeluarkan suara.
Bersambung...
__ADS_1