Dear Dion

Dear Dion
49. Aku Ingin Pulang


__ADS_3


Aku Ingin Pulang



Cintamu ternyata bertepuk sebelah tangan dan kamu baru menyadari sekarang. Kepercayaan diri yang kamu agung-agungkan sejak dulu tiba-tiba menjadi bahan tertawaan orang lain. Mereka bilang, hei, percaya diri itu boleh tapi terlalu percaya diri itu berbahaya. Kamu lupa tentang kekurangan mu, kamu lupa tentang kualitas mu, dan kamu lupa tentang nilai dirimu yang tidak seberapa. Semua sikap 'lupa' ini lalu diruntuhkan dengan sebuah fakta, fakta bahwa yah ternyata selama ini kamu hanya berhalusinasi tentang cinta. Kamu hanya berhalusinasi tentang perhatian manisnya, dan kamu hanya berhalusinasi tentang kebaikan hatinya. Lalu, akhir skenarionya akan seperti ini,


Boom


Sebuah ledakan rasa sakit di dalam hatimu kemudian membangunkan dirimu dari mimpi yang begitu panjang, yah kamu tersadar jika semuanya ternyata hanya harapan semu belaka.


Seketika, semua harapan mu runtuh tanpa tersisa dan semua kepercayaan mu jatuh dari tempat tertinggi yang tidak bisa dibayangkan. Jatuh, rasanya begitu sakit dan rasa sakit itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Intinya, hati kamu sakit dan terasa begitu menyesakkan. Seolah-olah ada benda tajam tidak kasat mata yang terus saja mengirisnya tanpa ampun.


Perih, terasa begitu perih.


...🌺🌺🌺...


Calista bangun dari tidurnya tepat saat waktu makan malam datang. Dia dengan semangat besar masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum bergegas turun ke ruang makan untuk makan. Meskipun di sana ada Ridwan nafsu makannya tidak terganggu sama sekali. Mungkin itu karena bayinya yang rakus dan tidak bisa diajak berkompromi.


"Ei, kamu bangun lebih cepat dariku." Calista berjalan mendekati Sina.


Saat ini Sina sedang duduk menghadap cermin, tangan kanannya sibuk mengoleskan bedak bayi dia atas kulit wajahnya. Menelusuri beberapa tempat sensitif untuk menyamarkan warnanya dari pandangan orang lain.


"Hemm..kamu kok tumben pakai beginian?" Tanya Calista tertegun.


Sejak malam dia malu mengunakan perona pipi terlalu tebal maka sejak malam itu pula Sina tidak pernah menyentuh barang-barang perempuan ini lagi. Tapi, melihatnya menggunakannya lagi membuat Calista merasa ada sesuatu yang aneh.


"Calista?" Panggil Sina masih sibuk mengusap wajahnya dengan bedak bayi.

__ADS_1


"Ya?"


"Dia bilang aku hanya tamu di rumah ini dan seorang tamu tidak bisa tinggal terlalu lama di rumah orang lain." Menghela nafas lembut.


"Aku sudah memikirkannya." Bisik Sina masih bisa didengar Calista.


Dia mengangkat kepalanya menatap cermin, lebih tepatnya menatap lurus pantulan wajah cantik Calista di dalam cermin. "Aku ingin pulang ke rumah dan memulai hidupku yang seperti biasanya di sana. Aku pikir apa yang kamu katakan memang benar, tidak seharusnya aku di sini dan mengganggu kehidupan damai keluarga kalian. Aku terlalu percaya diri sebelumnya sehingga aku lupa semua kekurangan ku. Bersikap arogan di tengah-tengah hubungan Dion dan Bela, menganggap Bela adalah orang ketiga di sini padahal faktanya justru akulah yang menjadi pihak ketiga di dalam hubungan mereka. Calista, sekarang aku sudah sadar dan mengerti apa ketakutan mu selama ini. Kamu benar, aku salah di sini dan seharusnya aku keluar dari rumah ini. Aku harus keluar-"


"Sina!" Potongnya sedih.


Dia membalik Sina agar berhadapan langsung dengan dirinya.


"Katakan, apa telah terjadi sesuatu sebelumnya?"


Sina tidak mungkin begitu putus asa seperti ini tanpa sebab. Dia tahu Sina adalah gadis yang keras kepala dan tidak mudah digoyahkan. Jika dia ingin keluar dari rumah ini maka itu pasti disebabkan oleh runtuhnya kepercayaan diri Sina.


"Aku hanya pengganggu di rumah ini, aku hanya orang ketiga yang akan menghancurkan hubungan mereka. Aku tidak mau melakukan ini..aku tidak mau Dion membenciku, Calista." Ucapnya menahan sakit dengan suara bergetar.


Pengganggu, ternyata perannya di sini hanya sebagai pihak antagonis saja. Sebuah peran yang dibenci oleh semua tokoh dan tidak diharapkan kehadirannya.


"Aku ingin pulang..hiks..aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi. Aku tidak ingin mengganggu hubungan mereka..aku ingin keluar dari rumah ini..hiks.." Isak Sina merasa sesak.


Dia ingin pulang ke rumah, hidup seperti biasa bersama Mbok Yem dan menghabiskan waktu dengan mengurung diri di dalam kamarnya. Itu jauh lebih baik daripada dia terus-terusan mempermalukan dirinya di sini, menahan luka dan menjadi bahan tertawaan orang lain. Sina tidak mau.


Calista menghela nafas lembut, mengusap perihatin pipi Sina yang kini basah dialiri cairan hangat.


Jujur, dia juga sakit hati melihat Sina seperti ini. Dia seolah-olah sedang melihat dirinya ketika patah hati setelah tahu jika cinta yang dia rasakan ternyata bertepuk sebelah tangan.


Sina, jalan hidup kita memang senasib. Batin Calista sedih.

__ADS_1


"Aku mengerti, aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Tidak apa-apa Sina, rasanya memang sakit jadi kamu tidak perlu terus menyembunyikannya." Bisiknya lembut.


Dia membawa Sina ke dalam pelukannya, menepuk ringan punggung Sina sebagai gerakan untuk menghibur.


"Yah.. inilah yang aku maksud waktu itu tapi aku gagal meyakinkan mu. Jika saja aku berhasil mengirim mu keluar dari rumah ini maka kamu tidak akan terluka.. Sina, ini salahku..aku minta maaf karena sudah membuat mu diposisi yang sulit."


Calista merasa bersalah karena sudah gagal meyakinkan Sina untuk pergi. Sekarang, situasinya sudah begini dan dia tidak tahu bagaimana cara menghibur Sina.


"Kamu tidak salah..aku justru berterimakasih karena kamu sudah mau memperingati ku. Tapi untuk saat ini Calista..aku ingin pulang ke rumah. Aku tidak mau di rumah ini dan membuat semua orang tidak nyaman. Aku tidak ingin menjadi penghalang untuk hubungan mereka berdua jadi...aku ingin pulang."


Jika saja, yah, jika saja Sina punya satu alasan untuk tetap mengejar Dion maka mungkin dia akan menutup mata untuk semua kebenaran ini. Tapi, sayangnya Sina tidak punya alasan apapun untuk terus berjuang. Dia tidak punya alasan apapun untuk terus bertahan mengejar Dion.


"Sina," Calista melepaskan pelukan mereka berdua.


Dia memegang kedua pundak Sina dan menatapnya dengan tatapan yang penuh akan sinar keengganan. Dia sebenarnya tidak ingin kehilangan Sina, orang yang sudah dia anggap sebagai keluarganya.


"Kamu adalah orang yang baik dan aku pikir keluar dari rumah ini adalah pilihan yang terbaik untukmu. Keluar dari sini aku harap kamu bisa melupakan tentang Kak Dion, aku yakin ada laki-laki yang lebih baik dari Kak Dion dan juga mampu mencintai mu dengan tulus."


"Aku... harap Tuhan mendengarkan harapan mu." Angguk Sina sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Calista tersenyum tipis, dia kemudian mengambil tissue dan mengusapnya di wajah Sina untuk mengeringkan kulitnya. Setelah itu dia lalu mulai membedaki Sina. Membantunya menyamarkan wajah sembab Sina yang baru selesai menangis.


"Setelah makan malam nanti aku akan membantumu berbicara dengan Paman dan Bibi. Aku akan menjelaskan kepada mereka jika kondisi mu sedang tidak baik sehingga harus kembali ke rumah mu untuk segera melakukan perawatan khusus." Calista yakin Sina pasti malu membicarakannya.


Pasalnya, Calista juga memperhatikan interaksi Nyonya Ranti yang sangat antusias setiap kali berbicara dengan Bela. Sudah pasti ini merupakan sebuah lampu hijau jika hubungan Dion dan Bela direstui.


Sina tersenyum lega dan bersyukur Calista masih mau membantunya, "Terimakasih Calista, kamu adalah gadis yang baik." Bisiknya tulus.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2