
"Hem, ada apa?" Tanya Dion malas.
Dia kini sedang duduk santai di sofa kamarnya, menikmati ekspresi ceria dari gadis kecil yang tersenyum lebar di dalam laptopnya. Gadis kecil ini ini persis sama dengan anak kecil yang dia temui 15 tahun lalu. Begitu ceria dan cerewet.
"Ini tentang Calista, apa kamu bisa membantu ku?" Orang di seberang sana terdengar frustasi dan putus asa.
Nada dinginnya bahkan agak naik beberapa derajat menunjukkan betapa buruk suasana hatinya sekarang.
"Apa yang bisa ku bantu tentang sepupu ku ini?" Dion menggeser kursornya lagi menampilkan wajah sendu dari seorang gadis cantik.
Bertahun-tahun sudah terlewati dan lambat laun gadisnya mulai berubah menjadi seseorang yang pendiam. Tidak terlalu senang berinteraksi dengan orang asing yang baru ditemuinya dan lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Berdiri di atas balkon seraya menikmati hamparan langit biru yang luas dan menyenangkan mata.
Melihat wajah sendu gadis ini, Dion seakan bisa merasakan kesedihan yang sedang melingkupi hati gadis ini. Dia mengangkat tangan kanannya, mengusap wajah sendu itu dengan sapuan yang lembut dan penuh kehati-hatian.
"Tolong bujuk Calista untuk bertemu denganku sebentar saja, aku tidak tahan dia terus-terusan menghindari ku tanpa alasan yang jelas." Pinta orang yang ada diseberang sana lebih frustasi lagi.
Dia tidak tahu apa masalahnya dan apa kesalahan yang diperbuat sehingga Calista pergi melarikan diri setiap kali dia mencarinya. Padahal hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja tapi mengapa tiba-tiba Calista menjauhinya?
Tersadar dari lamunannya, Dion segera menarik tangannya dari layar laptopnya. Menggeser kursor lagi ada wajah gadis yang sama namun kali ini dia sedang tertidur lelap di bangku taman, terlihat begitu polos dan damai.
"Urusan ini aku tidak bisa ikut campur karena ini adalah hak Calista untuk menemui mu atau tidak. Dia sudah besar dan mampu membedakan pilihan yang terbaik untuk hidupnya sendiri." Tolak Dion menjelaskan.
"Bagaimana kamu tidak bisa ikut campur padahal jelas-jelas orang yang mengenalkannya kepadaku adalah kamu. Sekarang dia pergi setelah membuatku seperti ini tanpa ada kejelasan apapun, katakan siapa lagi yang bisa aku mintai bantuan kecuali kamu?" Orang diseberang sana mengeluh tidak puas.
"Dengar Ridwan, aku tidak bisa memaksanya karena ini adalah jalan yang dia inginkan. Adapun alasan kenapa dia tiba-tiba menjauhi mu seharusnya kamu bisa lebih peka terhadap lingkungan mu sendiri. Lihat baik-baik apakah ada orang yang menghambat hubungan kalian berdua, aku pikir Calista orang yang cukup rasional dan cerdas jadi dia tidak mungkin menjauhi mu tanpa sebab." Dion memberikan implikasi tertentu di dalam penjelasannya.
Dia tahu kenapa sepupunya tidak ingin terlalu dekat lagi dengan Ridwan tapi dia tidak mau memberitahu Ridwan jawabannya karena dia pikir Ridwan harus bekerja keras menemukannya sendiri. Dion ingin jika sahabatnya ini lebih peka lagi terhadap lingkungan sekitarnya, Dion tidak ingin sepupunya terluka menanggung sifat 'buta lingkungan' Ridwan yang tidak bisa ditolong lagi.
"Ini..apa maksud mu semua ini karena Kira?" Tanya Ridwan tidak percaya.
Satu-satunya orang yang selalu dekat dan mengekorinya kemanapun dia pergi adalah Kira. Kira, sahabat kecilnya yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Aku tidak tahu, kamu cari tahulah sendiri." Jawab Dion tidak ingin ikut campur.
"Ya..ya..kamu memang selalu seperti ini, ketika sedang bahagia orang-orang disekitar mu menjadi tidak berguna" Ejek Ridwan tidak tahan.
Meskipun Dion beberapa hari ini memasang wajah beku tapi Ridwan tahu jika itu hanya topeng saja karena sebenarnya dia sedang dalam suasana hati yang baik.
__ADS_1
"Kamu memang sahabatku." Dion terkekeh ringan.
Ridwan di seberang sana memutar bola matanya malas.
"Jadi, emosimu jauh lebih baik dan terkendali sejak Sina di sini." Ujar Ridwan menebak.
"Jangan berbicara terlalu banyak, cukup simpan apa yang kamu yakini." Dion mengingatkan.
"Hati-hati, dinding juga bisa mendengar." Lanjut Dion mengingatkan.
Ridwan melirik sekelilingnya, "Keluarlah, aku dengar Bela dan Kira sedang memasak di dapur." Dia mengalihkan pembicaraan yang lebih santai lagi.
Dion tidak tertarik dengan pertunjukan mereka.
"Aku masih punya urusan yang lain jadi nikmati waktu santai mu di rumah ini." Setelah itu Dion menutup telepon.
Meletakkannya di samping laptop, dia kemudian menyandarkan dirinya di sandaran sofa seraya menyesap minuman yang diantarkan Bik Mur kepadanya. Rasanya memang sedikit aneh tapi Dion tidak terganggu sama sekali. Malah, dia menganggap minuman ini lebih lezat dari biasanya.
"15 tahun yang lalu, kamu menyelamatkan hidupku dengan hidupmu. Konsekuensinya, setelah itu kamu tidak bisa mengingat pertemuan kita. Tapi Sina, aku lebih percaya pada takdir. Sekuat apapun mereka mengatakan jika kamu tidak bisa mengingat kejadian hari itu tetap tidak akan bisa mengalahkan kekuatan takdir. 15 tahun yang lalu kita bertemu karena takdir, 15 tahun lamanya kita berpisah karena takdir, dan 15 tahun kemudian kita dipertemukan kembali karena takdir."
Tersenyum ringan, dia meneguk habis air minum itu sampai bersih tidak bersisa. Tangan kirinya yang mengusap sudut bibirnya merasa puas dan lega di saat yang bersamaan.
Sina melihat Bela dan Kira sedang berkutik di dalam dapur. Dari penglihatannya dia tahu jika mereka berdua sedang memasak bersama untuk makan malam. Sina tidak senang dan tidak mau Bela mendapatkan semua perhatian orang-orang di rumah ini. Oleh karena itu dia menarik Calista bersamanya ingin juga bergabung di dalam dapur untuk memasak. Sebagai seorang gadis, dia tidak ingin kalah saing dengan mereka karena dia juga sempat belajar memasak pada Bik Mur. Meskipun singkat tapi Sina yakin dengan pengetahuannya sendiri.
"Aku.. sungguh-sungguh tidak bisa memasak." Calista berbicara serius.
Di dunia ini dia tidak punya keterampilan apapun sebagai seorang perempuan kecuali makan, tidur, dan mempercantik diri. Dia tidak bisa membersihkan rumah apalagi memasak jadi agak menakutkan baginya tiba-tiba masuk ke dalam dapur.
"Kamu tidak perlu memasak karena aku juga tidak mempercayai mu." Ucap Sina langsung menohok hati Calista.
Yah, lidahnya terkadang tajam. Pikir Calista prihatin.
"Jadi apa yang bisa aku lakukan di sana?" Calista berpikir dewasa dan mencoba untuk memahami sifat kekanak-kanakan Sina.
"Kamu cukup bantu saja aku di sana. Dengar, di dalam sana ada saingan cinta kita berdua. Apa kamu mau mereka berdua merebut perhatian semua orang? Meskipun kita tidak bisa memasak tapi setidaknya kita harus berusaha untuk memenangkan perhatian orang-orang. Nah, kamu juga jangan terlalu putus asa dan permalukan saja Kira di depan Ridwan. Buktikan jika kamu jauh lebih menarik dibandingkan dengan nenek sihir itu." Sina memanas-manasi Calista, mengirimkan kayu bakar ke dalam hati Calista yang sedang menyala-nyala terbakar semangat.
"Baiklah, kamu menang. Aku akan membantu mu di dapur tapi bukan berarti aku melakukannya untuk menarik perhatian Ridwan." Ujar Calista berpura-pura tidak tertarik.
__ADS_1
Sina tidak perduli dengan kepura-puraannya, "Yah, pilihan yang cerdas."
Setelah itu mereka segera masuk ke dalam dapur dan tanpa mengatakan apapun kepada Bela atau Kira, mereka langsung mengambil beberapa sayuran hijau. Menyerahkan tugas memotong sayuran itu kepada Calista sedangkan Sina mengupas bawang merah. Mereka berdua bekerja seolah-olah hanya ada mereka saja di dalam dapur itu. Mengabaikan keberadaan dua orang lain yang kini menatap heran heran sikap mereka.
"Kalian tidak perlu repot-repot memasak di sini karena aku dan Bela yang akan menyiapkan semuanya." Ujar Kira tidak senang melihat Sina dan Calista masuk ke dalam dapur.
Bagi Kira, suasana hatinya akan semakin buruk jika kedua orang ini ada di sini. Membuat matanya sakit setiap kali berkedip, mereka terlalu mengganggu, ah!
"Aku dan Sina mau memasak masakan sendiri, jadi Kak Kira dan Kak Bela tidak perlu repot-repot memasak untuk kami berdua." Calista membalik ucapan Kira dengan mudah.
Wajah cantiknya memang tersenyum manis tapi kedua matanya tidak bisa menyembunyikan kilatan dingin yang bersinar samar.
"Jangan terlalu keras kepala, kalian keluar saja dan tunggu kami selesai memasak. Walaupun kami harus repot memasak tapi ini juga demi kalian berdua agar bisa memakan makanan yang bisa dimakan manusia dan bukannya memaksakan diri menelan makanan yang seharusnya tidak bisa dimakan manusia." Ucap Kira bias, secara tidak langsung merendahkan keterampilan memasak Sina dan Calista.
Sina dan Calista tentu saja tidak terima dipandang rendah seperti ini, mereka ingin membantah Kira tapi sebelum bisa mengeluarkan suara Dion tiba-tiba masuk ke dalam dapur dengan gelas bersih ditangan kirinya.
"Apa yang sedang kalian ributkan?" Tanyanya dengan ekspresi dingin seperti biasa.
"Dion...kami tidak meributkan apa-apa dan hanya sedikit mendiskusikan tentang menu makan malam hari ini." Bela memperbaiki ekspresinya selembut mungkin.
Berjalan mendekati Dion, dia lalu mengambil segelas air putih dan diberikan kepada Dion.
Dion mengambil minuman yang Bela berikan kepadanya dan duduk di kursi yang ada di sampingnya. Dia tidak meminum air itu dan meletakkannya di atas meja, lalu alisnya terangkat begitu melihat ada Sina dan Calista juga di sini. Di tangan Calista ada sayur hijau yang sudah berantakan dan ditangan Sina ada bawang merah yang baru selesai dikupas, melihat semua ini Dion tentu saja tahu apa yang mereka ingin lakukan.
"Kalian berdua akan memasak juga?" Tanyanya agak tertarik.
Sina dan Calista saling melirik, diam-diam berdiskusi lewat mata mereka akhirnya memutuskan untuk tidak menyembunyikannya. Toh, tujuan mereka di sini untuk menarik perhatian orang yang mereka suka.
"Ya, kami juga akan memasak." Jawab Calista mewakili.
Dion awalnya senang, tertarik ingin melihat Sina berinteraksi dengan dapur. Akan tetapi semua ketertarikannya langsung hilang ketika melihat jari kelingking yang ada di tangan kanan Sina dilapisi plester.
"Aku pikir biarkan tugas ini dilakukan oleh Bela dan Kira saja yang sudah terbiasa dengan dapur. Kalian lebih baik keluar agar tidak mengganggu mereka di dapur." Ucap Dion tidak senang seraya menatap lurus Sina yang kini terlihat pucat.
Bersambung..
...Ini bukan masalah Sina cerdas apa enggak karena yang saya ingin tekankan di sini adalah percaya diri. **Sina terlalu percaya diri sehingga meragukan fakta-fakta yang dia dapatkan dari sekelilingnya. Dia pikir cinta cukup simpel dan tidak harus istimewa sehingga menumbuhkan keyakinan yang tinggi bahwa Dion menyukainya....
__ADS_1
Terlalu percaya diri itu gak baik**