
Paginya, mereka naik bus bersama untuk pergi ke tempat tujuan yaitu daerah T. Mereka sengaja menggunakan bus karena tidak ingin meninggalkan kesan keluarga kaya yang arogan. Selama perjalanan di dalam bus diisi dengan suara gitar dan nyanyian sumbang dari beberapa orang. Walaupun bernyanyi dengan nada yang salah tapi mereka sangat menikmatinya dan terus bernyanyi bersama layaknya konser dadakan yang begitu menyenangkan.
Sementara bus diisi dengan nyanyian penuh kegembiraan, Sina dan Calista dengan sadar diri menjauhkan posisi duduk mereka jauh dibelakang untuk menyamarkan keberadaan mereka. Selain untuk mengamankan kehamilan Calista yang mulai agak membesar tapi ini juga mereka lakukan untuk menghindari Dion dan Dion sebagai objek dari luka patah hati masing-masing hati. Rencana mereka ini awalnya berjalan sesuai dengan harapan mereka, akan tetapi itu tidak bertahan lama ketika Dion dan Ridwan pindah duduk dari posisi depan menjadi posisi belakang. Kini mereka duduk tepat di depan Sina dan Calista, mengantarkannya perasaan frustasi yang menjengkelkan.
Diam, dari tempatnya duduk sekarang Sina bisa melihat punggung tegap Dion yang kini membelakanginya. Figurnya tampak dingin tapi sebenarnya Dion penuh dengan kehangatan yang lembut. Malam itu, malam ketika Sina menyerahkan dirinya ke dalam pelukan Dion perasaan hangat terasa begitu jelas melingkupi dirinya. Membawa Sina melayang ke tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Setelah kejadian itu Sina terus saja bertanya-tanya mungkinkah Dion melupakannya atau justru mengingatnya, sampai akhirnya Sina mengetahui semua kebenaran itu dan membuat sebuah kesimpulan yang logis.
Sina ingat setelah kejadian itu Dion menghilang selama 3 minggu lamanya tanpa pernah mau pulang ke rumah. Setiap kali Sina menghubungi Dion tidak pernah memberikan respon, SMS yang dia kirim juga bagaikan kerikil yang dilemparkan ke dalam lautan dalam tidak berujung. Langsung jatuh dan tenggelam begitu saja tanpa mendapatkan balasan dari ombak yang hidup. Saat itu dia keras kepala dan dengan penuh percaya diri pergi ke dalam kantor Dion guna bertemu dengannya. Akan tetapi dia lagi-lagi diabaikan dan parahnya diusir oleh petugas keamanan tanpa ampun.
Hah.. sekarang setelah dia tahu kebenarannya, Sina mengerti. Dion tidak pernah sibuk tapi sebenarnya sengaja menghindarinya. Malam itu adalah kesalahan yang tidak disengaja jadi Dion pasti sangat shock sehingga dia memutuskan untuk bersembunyi selama beberapa waktu.
Memikirkan alasan logis ini tidak bisa tidak membuat hati Sina merasa sakit dan sesak. Dia adalah orang yang menyakiti dirinya sendiri,. lucunya inilah yang terjadi.
Sedang asiknya melamun Dion tiba-tiba berbalik menatap ekspresi kosong Sina yang fokus memandangi punggung tegap Dion. Dia tertangkap tidak siap dan segera mengalihkan pandangannya, berpura-pura menatap ke bawah.
Dion tidak bisa menahan sebuah tarikan halus di sudut bibirnya, kemudian tangan kanannya terulur di depan Sina. Memberikannya sebuah kantong plastik putih yang diisi dengan berbagai makanan.
"Tadi pagi kamu gak sempat sarapan jadi aku bawa ini untuk kamu." Katanya masih dengan wajah datar, namun agak lembut.
Sina terkejut, tidak menyangka jika Dion memperhatikannya pagi ini. Tapi mungkin ini hanya kebetulan saja.
"Aku.." Sina ingin menolak tapi Calista menyenggol pinggangnya.
Jadi dia terpaksa menerima perhatian Dion, "Terimakasih..aku akan segera memakannya bersama Calista."
__ADS_1
Dion puas, "Pastikan kamu tidak membuangnya." Pesan Dion sebelum kembali menghadap depan.
Menajamkan kedua telinganya guna mendengar bunyi kantong kresek yang dibuka Sina. Menyimak apa yang dilakukan Sina dibelakang.
"Bagaimana..apa kamu bisa memakannya?" Dion mendengar Calista bertanya.
"Ya..aku pikir tidak apa-apa..tapi aku harus mencobanya dulu.." Setelah itu tidak ada percakapan apa-apa lagi.
Dion khawatir dan tanpa sadar menyampingkan tubuhnya menempel di sandaran kursi, dia ingin tahu apakah Sina menolak makanan yang dia berikan.
"Rasanya enak.." Ucap Sina terdengar terkejut. "Perutku juga tidak menolaknya..aku pikir perutku sudah jauh lebih baik dari semalam."
Setelah mendengarkan ini Dion langsung merasa lega, merilekskan tubuhnya di kursi sambil memejamkan kedua matanya. Menikmati suara kecil Sina sama seperti mendengarkan lagu Nina Bobo terindah di dunia ini.
Dion tidak perduli dan tetap memejamkan matanya untuk lebih fokus mendengarkan suara Sina di belakang.
"Jadi laki-laki jangan sok jual mahal, apa kamu tidak takut Sina berpindah hati menemukan laki-laki lain yang lebih ramah dan pengertian?" Ridwan sengaja menakut-nakuti Dion.
Dion membuka matanya tidak perduli, mata dinginnya kini beralih menatap ekspresi mengejek Ridwan. Lalu, sebuah senyuman miring terbentuk di bibirnya, "Maaf, Sina bukan Calista yang mudah berpindah hati ketika merasa bosan." Balas Dion kejam.
Langsung saja senyuman Ridwan menghilang digantikan wajah datar seperti biasanya. Dion puasa dan kembali memejamkan matanya, fokus mendengarkan perbincangan santai Calista dan Sina di belakang.
Sina, bahkan jika kamu sama sekali tidak bisa mengingat hari itu maka tidak apa-apa karena kamu akan tetap menjadi milikku. Hem..kamu hanya bisa menjadi milikku, Sina.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Mereka sampai di tempat perkemahan, sama seperti yang Sina lihat di tv lingkungan tempat ini sangat bersih dan hijau. Banyak tenda-tenda putih tersebar dengan barisan yang rapi dan tenda-tenda itu juga besar. Seharusnya ukuran ini bisa ditempati 2 atau 3 orang.
"Kita berdua tinggal di tenda yang sama." Bisik Calista memberitahu.
Sina tahu jadi dia tidak terkejut.
"Nah, ayo..tenda kita tepat di depan danau. Kamu pasti sangat terkejut melihat pemandangan indah yang ada di depan tenda kita." Seru Calista tidak sabar.
Dia menarik tangan Sina untuk mengikuti langkahnya menuju nomor tenda yang diberikan Dion tadi. Nomor tenda ini sudah tidak asing untuk Calista karena view yang didapatkan sangat bagus jadi wajar saja banyak yang meminatinya. Dia sungguh tidak menyangka Dion akan memberikan mereka tenda itu dengan murah hati.
"Kak Dion sebenarnya menyukai Sina atau Kak Bela, sih..kenapa perhatian yang diberikan Kak Dion kepada Sina begitu berbeda dengan Kak Bela? Ini..kenapa aku lagi-lagi merasa ada sesuatu yang disembunyikan Kak Dion. Karena sejujurnya.. Kak Dion sangat berubah sejak Sina masuk ke rumah. Seolah-olah.. Sina punya posisi khusus di dalam hati Kak Dion. Ini..apa perasaan ku terlalu berlebihan?" Gumamnya merasa bingung.
Perhatian Dion kepada Sina memang terkesan dingin tapi Calista malah merasa justru perhatian ini sangat tulus dan kehangatan. Yah..ini adalah feeling seorang wanita jadi benar atau tidaknya, Calista tidak bisa menjaminnya.
"Apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Sina tidak bisa mendengarnya secara jelas.
Calista gelagapan, "Hah..tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Itu hanya perasaan mu saja mungkin." Bantah Calista.
Sina yakin tadi sempat mendengar Calista menyebut nama Dion dan dirinya tapi itu tidak jelas.
"Yah.. mungkin."
__ADS_1
Bersambung..