Dear Dion

Dear Dion
95. Balas Dendam


__ADS_3

Seketika semua orang di dalam ruangan ini terdiam. Mereka menatap Dion dengan berbagai macam ekspresi dan tatapan rumit yang sulit dijelaskan.


"Dion.." Nyonya Ranti berjalan mendekati Dion, dia pikir ingatan putranya bermasalah.


"Penculikan 15 tahun yang lalu sudah diurus oleh polisi dan kamu saat itu tidak mengalami luka apapun sehingga tidak mungkin Sina menyelamatkan kamu. Apalagi dia saat itu masih kecil dan kalian juga tidak saling mengenal." Beberapa orang setuju dengan alasan logis Nyonya Ranti tapi tidak dengan Dion.


Mendengar wanita yang melahirkannya mengatakan ini tiba-tiba dia ragu apakah wanita ini orang tuanya atau bukan karena mengapa Nyonya Ranti sama sekali tidak menjadi kritis mengenai kasus yang Dion alami 15 tahun yang lalu.


Jadi dia tertawa rendah,"Apa Mama masih ingat kenapa kedua orang tua Sina mengantarkan ku pulang ke rumah hari itu?"


"Ya, mereka bilang tidak sengaja menemukan mu di jalan-"


"Mereka bohong, Ma!" Teriak Dion marah.


"Mereka bohong karena satu-satunya putri yang mereka cintai tergeletak tidak berdaya di atas genangan darah. Karena siapa? Itu karena menyelamatkan ku!" Ucap Dion seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Dion.." Nyonya Ranti sangat shock setelah mendengar ini.


Dia tidak pernah menyangka dibalik kedatangan kedua orang tua Sina dulu ada kejadian berdarah menyakitkan. Dia tidak tahu dan tidak mencari tahu karena faktanya Dion pulang dengan selamat sudah cukup.


"Saat itu Sina jatuh koma, Ma. Dia jatuh koma selama satu bulan penuh! Setiap hari hidupnya disokong dengan berbagai macam mesin mengerikan di rumah sakit. Bahkan para dokter saat itu memvonis bahwa Sina tidak akan pernah bangun lagi. Dokter bilang Sina sudah tidak punya harapan hidup lagi karena menyelamatkan aku, Ma! Seandainya Sina tidak datang menolong aku hari itu mungkin orang yang sedang berbaring di rumah sakit pada saat itu adalah aku. Seandainya saja!"


"Tapi.." Dion tertawa dingin.


"Orang yang menjadi korban adalah Sina. Dia koma dalam waktu yang lama dan bangun tanpa pernah mengingatku lagi. Apa yang Mama rasakan sekarang setelah mendengar semua ini?"


Nyonya Ranti merasa jantungnya sesak, dia ketakutan saat membayangkan putranya yang masih kecil berlumuran darah dan harus hidup dengan bantuan mesin selama 1 bulan penuh.


"Dia tidak bisa keluar rumah dan lebih suka mengurung diri di dalam kamar bukan karena dia penyendiri tapi dia punya trauma masa lalu yang tidak bisa dilupakan tubuhnya. Dia tidak bisa berbaur dengan orang luar karena tubuhnya tidak mengizinkan, Ma! Dan Mama tahu siapa yang membuatnya seperti itu? Benar, lagi-lagi itu adalah aku. Karena hidup Dion dia membenci keramaian. Tapi lihat sekarang..Mama dan semua orang di rumah ini menganggapnya bodoh, parahnya lagi dia dianggap pembawa sial di rumah ini. Apa kalian semua sungguh manusia?"


"Dion!" Teriak Tuan Edward mengingatkan.


"Kenapa, Pa? Papa juga tidak tahu semua inikan? Papa juga tidak tahu apa yang Dion alami 15 tahun yang lalu dan malah memanggil psikiater untuk memperbaiki kejiwaan ku saat itu. Padahal jika kalian mencari tahu jawaban yang kalian inginkan pasti langsung ditemukan. Tapi kalian tidak melakukannya dan malah menganggap kejiwaan Dion bermasalah. Tebak, apa kalian masih punya hati saat melakukan itu kepadaku?" Dion melemparkan pertanyaan menusuk, menatap dingin wajah-wajah pucat di ruangan ini.


Bahkan meskipun dia tahu membentak orang tuanya dan membuat mereka sedih adalah sebuah dosa besar, tapi hati kecil Dion punya rasa sakit tersendiri juga yang sudah ada sejak lama.


Dia sangat berharap orang tuanya mengerti kecemasannya selama ini tapi mereka tidak melakukannya. Mereka sama sekali tidak mencari tahu apa yang Dion butuhkan dalam hidup ini.


"Tidak Dion, kami pikir kamu saat itu sangat trauma dengan kasus penculikan yang kamu alami karena itulah kami memanggil psikiater. Kami sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti mu.." Nyonya Ranti menjelaskan dengan panik tapi Dion menganggap ini hanya alasan kosong saja karena faktanya, kedua orang tuanya lebih sibuk memikirkan karir selama ini.


"Mama benar, saat itu aku sangat trauma. Aku trauma melihat genangan darah Sina tepat di depan mataku, jatuh tersungkur di atas aspal dengan berlumuran darah segar. Itu adalah hal kejam yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidup ini. Tapi Mam dan Papa tidak tahu ini karena karir kalian lebih penting, bukan?"


"Itu tidak benar, Dion!" Nyonya Ranti segera membantah.


"Oh ya," Dion tersenyum tipis.


"Lalu, apa kalian tahu selama tinggal di Belanda aku sudah beberapa kali mendapatkan percobaan pembunuhan?"


Sontak saja Tuan Edward dan Nyonya Ranti terkejut, mereka sejujurnya tidak pernah memikirkan Dion akan mendapatkan teror sekejam itu.


Melihat keterkejutan orang tuanya, Dion hanya bisa tersenyum miring. Ini sesuai dengan harapannya.


"Yah, kalian tidak tahu itu wajar saja. Toh, karir lebih penting bukan? Inilah kenapa aku lebih senang bersama Sina dibandingkan wanita lain karena dia sudah pasti tidak akan bekerja dan sibuk memikirkan karir. Ditambah lagi, dia adalah penyelamat hidupku sehingga tidak ada alasan lain bagi kalian untuk menyakitinya!" Teriak Dion marah.


Dia melemparkan semua orang tatapan dingin, tidak ada yang bisa lolos dari tatapan dinginnya. Ini jelas membuat mereka terkejut karena Dion yang biasanya mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari tidak setajam ini.


Melihat situasi kian tegang, Bela memutuskan untuk berbicara dengan Dion dan mencari solusi untuk masalah ini.


"Dion ayo-"


"Diamlah, sialan. Apa aku terlihat membutuhkan kata-kata omong kosong mu!" Potong Dion dingin.

__ADS_1


Bahkan Bela tidak luput dari kemarahannya.


"Kejahatan yang kamu lakukan kepada Sina tidak akan pernah aku lupakan dalam hidup ini jadi mulai dari sekarang berhentilah masuk ke dalam hidupku. Jangan merayu kedua orang tuaku lagi dengan ekspresi sok lugu mu karena bagiku wajah itu tidak lebih baik dari sampah menjijikkan. Aku sungguh muak berurusan dengan wanita gila seperti kamu jadi aku mohon jangan muncul lagi di depan ku. Anggap saja kita tidak saling mengenal untuk semua kejahatan mu."


"Dion..aku tidak-"


"Tutup mulut mu, sampah! Apa kata-kata ku masih belum jelas?" Bentak Dion kesal.


"Dion.. cukup, nak.." Nyonya Ranti ingin mendekati putranya tapi orang yang dia dekati segera menjaga jarak.


"Ma, aku sungguh sangat marah kepadamu. Kamu adalah wanita yang melahirkan ku dan seharusnya tahu apa yang aku butuhkan tapi kenapa..kenapa kamu menyingkirkan satu-satunya alasan ku bertahan di dunia ini? Kenapa Mama melakukan itu? Tidak tahukah Mama mengusir dan menyakiti Sina sama saja dengan membunuhku?" Kali ini volume suara Dion merendah, terdengar kesakitan.


Nyonya Ranti bisa merasakan betapa tersiksa putranya. Dia sungguh bersalah di sini dan menyesali semua keegoisannya. Jika saja dia tidak melewati batas maka putra satu-satunya tidak akan sesakit ini.


Yah, dia adalah Ibu yang kejam. Menyakiti dan menyiksa anaknya pada saat yang bersamaan. Dia mengakui betapa kejam dirinya.


"Mama minta maaf, Dion.. Mama minta maaf.." Nyonya Ranti ingin meraih Dion tapi lagi-lagi Dion mundur ke belakang.


Dia sungguh kecewa hari ini, seolah-olah hatinya sudah dikhianati dengan kejam.


"Dion, berhentilah..Papa, mohon." Tuan Edward memeluk Nyonya Ranti yang mulai menangis terisak menyesal, merengkuhnya untuk berbagi penyesalan.


"Aku butuh waktu." Ucap Dion sebelum berbalik meninggalkan mereka.


"Dion... Dion..kemana kamu pergi, Nak?" Teriak Nyonya Ranti panik.


"Aku akan mencari Sina." Jawab Dion tanpa menoleh ke belakang.


Kedua orang tuanya sakit tapi Dion juga lebih sakit lagi. Dia menyakiti mereka namun disakiti balik oleh mereka. Jadi katakan, bagaimana mungkin dia bisa menghadapi mereka berdua?


Setidaknya.. untuk saat ini biarkan dia sendiri dulu. Dia ingin mencari Sina dan membawanya pulang. Menikah dan membesarkan anak mereka bersama-sama. Dia akan menjaga Sina dan anaknya, tidak membiarkan siapapun untuk menyakiti mereka lagi. Ya, Dion sudah memikirkan semuanya. Hari yang indah.


...🌼🌼🌼...


"Buat proposal aja kalian gak bisa apalagi saya suruh buat laporan proyek besar! Keluar sekarang, perbaiki semua proposal yang salah kalau kalian masih ingin tinggal di perusahaan ini!!" Bentak suara dingin dari dalam ruangan.


Orang-orang yang mengantri ingin melapor menggigil di tempat, saling pandang untuk menunjukkan adanya keraguan masuk ke dalam asal sumber suara.


Cklak


Pintu terbuka dari dalam, beberapa orang dengan setelan formal keluar dari kantor dengan wajah muram.


"Poin sekecil ini tidak bisa luput dari matanya.."


"Dia terlalu ketat.."


"Apa yang harus aku lakukan jika sampai dipecat dari perusahaan ini.."


Melihat suasana hati bos mereka masih belum juga membaik, orang-orang yang mengantri tadi menjadi semakin ragu masuk karena tidak ingin menjadi korban kemarahan selanjutnya.


"Kalian kembali dulu, nanti setelah istirahat kalian boleh datang kembali." Sekretaris memutuskan untuk membiarkan mereka pergi dulu.


Setelah mereka semua pergi dia mengetuk pintu bosnya sebelum masuk.


"Kenapa?" Suara dingin itu bertanya mengangkat kepala.


Sekretaris itu meneguk ludahnya kasar. "Bos, Nona Risa sejak pagi di luar ingin bertemu dengan Anda."


"Jangan biarkan dia masuk. Kalau dia masih keras kepala panggil keamanan untuk menyeretnya keluar. Dan mulai besok bila dia madih datang berkunjung lagi jangan sungkan untuk mengusirnya." Ucapnya tanpa emosi.


Sekretaris itu langsung mencatat apa yang Dion perintahkan seraya bergumam di dalam hati bahwa Bos dingin nan tanpa emosi mereka akhirnya kembali, ini normal saja di kantor namu juga tidak normal karena sebelumnya Bos mereka juga pernah memperlakukan karyawan dengan baik.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" Seolah melihat keraguan sekretarisnya pemilik obsidian dingin itu bertanya.


Sekretaris itu langsung tersadar dari lamunannya.


"Itu..Tuan Jason dari perusahaan X beberapa hari yang lalu menghubungi saya. Beliau bilang ingin bertemu dengan Anda untuk membahas kerja-."


"Aku tidak akan menerima kerjasama dengan perusahaan mereka, tolak dan jangan pernah angkat telepon dari mereka lagi." Potongnya tidak senang.


"Baik Bos, saya akan mengingatnya." Sekretaris itu mencatat poin ini lagi.


"Apa Bos butuh sesuatu sebelum saya keluar?" Sekretaris itu bertanya sopan sebelum pergi.


"Tidak ada, kamu boleh pergi."


Sekretaris itu mengangguk sopan, akan segera berbalik tapi langsung dihentikan oleh suara dingin Bosnya.


"Tunggu."


"Ya, Bos?"


Dia meletakkan pulpennya di atas meja, menatap tumpukan berkas di atas mejanya.


"Apa kamu sudah mendengar tentang perusahaan H?" Perusahaan H adalah perusahaan milik keluarga Bela yang berlokasi di pusat kota dan tidak jauh dari perusahaan ini.


"Sudah, Bos. Perusahaan H dikabarkan tersandung beberapa kasus penipuan dan beberapa petinggi mereka juga diketahui telah melakukan korupsi besar. Saat ini pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus mereka dan akan mengumumkannya setelah penyelidikan final. Akan tetapi karena kasus-kasus ini harga saham mereka terus menurun seiring banyaknya investor yang mengundurkan diri dan bisa dipastikan perusahaan H akan mengalami pailit karena kekurangan dana untuk menutupi hutang." Sekretaris menjabarkan dengan lugas setelah beberapa hari mengamati perkembangan kasus perusahaan H, perusahaan besar yang awalnya menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka.


"Bagus, terus pantau situasi mereka sampai tidak ada lagi yang tersisa."


"Baik, Bos."


"Sekarang kamu bisa pergi."


Sekretaris itu segera keluar setelah mendapatkan perintah.


Sekarang hanya dia seorang di dalam ruangan ini beserta tumpukan dokumen di atas meja dan beberapa foto wanita cantik yang sudah berbulan-bulan menghantui pikirannya.


"Lihat Sina, ini adalah akibat yang mereka terima setelah membuat kamu menangis. Ini adalah harga yang harus mereka bayar untuk rasa sakit yang kamu rasakan." Bisiknya lembut pada sosok cantik di dalam foto.


Sudah 5 bulan dia mencari namun semua pencarian belum membuahkan hasil. Namun, meskipun belum berhasil dia masih menolak menyerah karena dia percaya Tuhan sudah menciptakan skenario terindah untuknya dan Sina.


"Dimana kamu sayang?"


"Apa kamu tahu betapa aku merindukanmu? Aku merindukanmu sampai titik kegilaan yang menyiksa. Aku sungguh membutuhkan kamu, Sina. Aku sungguh membutuhkan kamu..jadi ku mohon, kembalilah. Pulang kepadaku agar hatiku tidak sakit lagi. Pulanglah Sina.." Kedua matanya memerah, tampak basah karena menahan rasa sakit.


Dia sungguh tersiksa tanpa kehadiran Sina. Dia sungguh merasa gila saat tahu Sina menghilang bersama hatinya. Meninggalkan luka yang hanya bisa diobati jika bertemu dengan Sina.


Kring..


Ada panggilan masuk dari sekretaris. Diam, dia tidak langsung menjawab karena suasana hatinya saat ini benar-benar buruk.


"Ada apa?" Tanyanya dingin, jelas tidak mau diganggu.


"Bos, nona Viola ingin bertemu-"


"Langsung usir dia jika datang berkunjung ke perusahaan ini lagi."


Tud


Dia langsung menutup sambungan, berdiri dari duduknya sambil mencari nomor seseorang.


"Ya, Bos?" Ada suara berat di ujung sana.

__ADS_1


"Sebarkan informasi tentang pelecehan seksual yang coba dilakukan putri perusahaan X kepadaku ke semua media massa, jika perlu sebarkan video di kamar hotel saat itu. Buat mereka hancur sama seperti perusahaan H, apa kamu mengerti?"


Bersambung...


__ADS_2