
Cup
"Ini adalah hadiah penyemangat dariku untuk mu karena mulai besok kamu akan bekerja membersihkan kamarku, Sina, selamat malam." Katanya sebelum pergi keluar dari kamar Sina, meninggalkan Sina yang masih terpejam tidak bergerak. Bisa dipastikan jika saat ini Sina pasti sangat terkejut, saking terkejutnya ia tidak bisa merasakan tangan dan kakinya.
Beberapa detik terdiam tanpa gerakan, kedua mata Sina yang terpejam mulai bergetar menatap langit-langit kamarnya yang ia pikir hari ini entah mengapa warnanya jauh lebih manis dari sebelumnya.
Lalu, tangan kanannya yang sedari tadi mengepal kuat menyentuh bibirnya, menyentuh bagian bibir yang disentuh Dion. Oh, lebih tepatnya bagian bibir yang dicium singkat oleh Dion. Bibir mereka tadi sempat saling menyentuh walaupun singkat tapi Sina tidak bisa melupakan sensasi aneh yang ditimbulkannya.
"Dion...mencium ku?" Tanyanya tidak percaya.
"Jika Dion mencium ku maka apa yang dikatakan Risa itu bohong'kan?" Tanyanya pada entah siapa.
Ia hanya berbicara sesuka hatinya untuk melampiaskan kebahagiaannya di sini. Dion tadi menciumnya, mengambil ciuman pertamanya yang selama ini Sina jaga dengan penuh kesiagaan. Jika Dion menciumnya maka bukan tidak mungkin Dion juga menyukainya dan apa yang Risa katakan itu tidak benar, semua yang dia ucapkan tidak benar karena faktanya Dion baru saja menciumnya!
"Risa salah dan aku benar, semua yang dikatakan Risa tidak benar sama sekali. Ahahaha..aku menang.." Teriaknya senang.
Sina berguling-guling di atas ranjangnya untuk melampiaskan betapa bahagianya ia sekarang. Lalu, saat ia berguling ke samping kiri Sina tiba-tiba teringat jika tempat ini yang digunakan Dion saat tidur tadi. Maka segera saja Sina dengan rakus menarik bantal yang Dion gunakan, membawanya ke dalam pelukan dan menghirupnya kuat. Ia juga mengelus sayang kasur lembut itu, mengelusnya seolah-olah ada Dion di sana.
"Kami tidur bersama dan Dion memelukku saat tidur, dia juga mengizinkan ku masuk ke dalam kamarnya untuk bertanggung jawab atas kebersihannya. Dengan kata lain dia mempercayai ku untuk masuk ke dalam privasinya yang seharusnya menjadi rahasia terdalam. Dan yang terakhir dia memberikan ku sebuah penyemangat yang sangat luar biasa indah, mencium ku tepat di bibir ini-" Tangannya terangkat menyentuh bagian bibir yang dikecup Dion.
Sebuah senyuman manis lalu terbentuk di sana dengan bola mata yang bersinar terang, "Semua yang terjadi hari ini adalah sebuah bukti bahwa Dion menyukai ku, ia mempunyai rasa yang sama dengan diriku. Tuhan...hari ini aku sangat bahagia.."
Sina tidak pernah menyangka jika kata-kata pelangi setelah hujan itu ternyata memang terbukti kebenarannya. Lihat saja hari ini, pagi-pagi ia harus diserang dengan kejam oleh Risa sampai-sampai bernafas pun terasa sulit. Tapi, beberapa jam setelah itu Dion langsung memberikannya perhatian yang manis. Mematahkan semua perasaan tidak nyaman sepenuhnya dari hati Sina.
Sina sangat bahagia.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Non Sina, saatnya makan malam." Terdengar suara lembut Bik Mur dari depan pintunya.
"Iya Bik, Sina bentar lagi turun kok." Teriaknya bersemangat.
Ia mengecup berkali-kali bantal yang ditiduri Dion dengan sayang, setelah itu ia segera turun dari ranjangnya dan berlari dengan terburu-buru ke dalam kamar mandi. Membersihkan seluruh tubuhnya untuk memberikan kesan yang baik kepada Dion.
Dia harus tampil cantik!
...🌺🌺🌺...
"Kemana kamu akan pergi malam-malam begini?" Tanya Risa lembut ketika melihat Sina masuk ke ruang makan.
Risa tampil dengan alami dan bersikap normal seperti biasanya, seolah pembicaraan tadi pagi adalah ilusi singkat yang pernah Sina lihat. Namun, karena Risa sudah seperti ini maka Sina tidak akan mencari mengungkitnya lagi. Apalagi jika sampai membuat hubungan mereka semakin jauh dan berjarak, Sina sama sekali tidak mengharapkan hal itu terjadi.
Pasalnya Sina sudah menganggap dirinya resmi sebagai kekasih Dion sejak insiden tadi, semua perlakuan Dion yang manis dan mempesona menjadi alarm pengingat untuk Sina jika mereka punya hubungan ambigu yang manis.
Untuk kedamaian ia akan berbohong untuk menjaga hubungan mereka berdua tetap baik, meskipun yah Risa mungkin tidak akan mudah menerimanya tapi Sina tidak akan menyerah begitu saja. Ia percaya jika hari itu akan tiba, hari dimana Risa mau menerima kehadirannya di keluarga ini.
Risa tersenyum simpul, menganggukkan kepalanya mengerti. "Mama kamu pasti sangat menyanyi mu, lihat saja pakaian yang ia berikan sangat cantik dan indah." Risa dengan halus menyentil hati Sina.
Menusuknya tepat titik terapuh kedalaman hati Sina yang menyakitkan.
Senyuman Sina langsung menegang, ia tidak bisa mempertahankan kepura-puraannya jika berbicara tentang orang tua.
"Ya, aku pikir dia juga sangat menyayangi ku." Ujar Sina berharap.
Siapapun di dunia ini entah itu dia orang yang cuek atau dingin, akan selalu merasa kosong dan kesepian jika kedua orang tuanya mengabaikan keberadaannya. Itu sama seperti yang Sina rasakan, berpura-pura acuh di depan kedua orang tuanya namun sesungguhnya ia sama sekali tidak ingin bersikap sekasar itu.
__ADS_1
Sina hanya butuh kasih sayang dari mereka, kasih sayang yang seperti anak-anak pada umumnya dapatkan. Sina sangat sungguh menginginkannya.
"Hubungan kalian berdua pasti sangat baik, aku-"
"Kenapa kalian berdua masih berdiri di sini? Ayo duduk, kita akan segera makan malam." Tiba-tiba suara malas Dion mengintrupsi ucapan Risa.
Risa terkejut dan langsung memperbaiki ekspresinya menjadi lebih baik lagi, tersenyum ringan kepada Sina tanpa rasa bersalah ia lalu mendudukkan dirinya di atas kursinya.
Sina balas tersenyum dan segera duduk di kursinya. Tangannya yang akan menyentuh piring yang ada di depannya tiba-tiba berhenti bergerak karena tangan Dion sudah lebih dulu mengambil piringnya, memasukkan beberapa sendok nasi dan lauk ke dalam piring Sina dengan porsi lebih banyak dari biasanya.
"Kamu melewati makan siang mu jadi malam ini kamu harus makan lebih banyak dari biasanya." Katanya setelah menempatkan piring itu ke depan Sina.
"Aku pikir..ini terlalu banyak Dion.." Ucap Sina tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Ya, ini lebih banyak dari biasanya tapi kamu harus menghabiskannya tanpa sisa. Kamu bahkan tidak bisa berbuat curang karena aku yang akan mengawasi mu menghabiskan makanan ini." Ujar Dion tidak memberikan Sina kesempatan untuk melarikan diri.
Hell, wanita sangat sensitif tentang masalah berat badan sehingga sering kali mereka akan mengurangi porsi makanan mereka menjadi lebih sedikit dan ringan. Bahkan saat makan malam pun mereka mengaturnya dengan porsi yang tidak masuk akal, menyiksa kebutuhan tubuh sendiri hanya karena penampilan.
"..... baiklah, aku akan menghabiskannya." Sina mengalah karena tidak sanggup menatap wajah Dion.
Setiap kali ia melihat wajah Dion kenangan tadi di kamar pasti akan muncul kembali di dalam benaknya. Membuat wajahnya memerah dan terasa panas disaat yang bersamaan.
Dion mengangguk puas dan memakan makanannya sambil sesekali memperhatikan Sina yang masih malu-malu memakan makanannya.
Dia sangat manis, pikir Dion merasa lucu.
Sementara mereka berdua dipenuhi suasana aneh dan ambigu, Risa justru menatap jengkel Sina yang masih berpura-pura sok kalem dan sok polos di samping Kakaknya. Dia tidak rela melihat Kakaknya dekat dengan gadis jelek seperti Sina karena siapapun pasti melihat jika mereka berdua sama sekali tidak sepadan, ah!
Risa sungguh tidak rela.
__ADS_1
Dasar wanita tidak tahu malu, berani-beraninya kamu terus menempeli Kakakku!. Batin Risa benci.
Bersambung..