Dear Dion

Dear Dion
27. Dion Mabuk


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam namun Dion masih belum juga pulang. Hujan deras yang Sina minta turun lebih lambat ternyata tidak sesuai harapannya karena tepat setelah ia selesai dari taman hujan tiba-tiba turun tanpa bisa dicegah.


Menggiring suasana dingin dan mengantuk untuk semua orang yang ada di rumah ini. Tidak terkecuali juga Sina, setelah menyelesaikan makan malamnya yang singkat ia memang agak terpengaruh dengan hujan deras ini. Namun, karena pikirannya hanya berfokus pada Dion maka pengaruh hujan itu tidak berlaku sama sekali untuknya.


Dia menunggu dan menunggu tapi Dion belum juga pulang, menunggunya kedatangan Dion pulang namun hujan semakin deras saja di luar sana.


Sina khawatir dan tidak sabar menunggu kepulangan Dion sehingga ia memutuskan untuk berdiri di balkon kamarnya. Menikmati kegelisahannya diiringi hujan deras yang belum kunjung reda. Dia berdiri sendiri menatap taman yang sedang dibasahi hujan deras, terkadang matanya melirik paviliun dingin yang berdiri kokoh di ujung taman. Tersembunyi oleh pohon-pohon rindang yang subur. Meskipun paviliun dingin itu disembunyikan dengan baik oleh pohon-pohon tersebut tapi ketinggian pohon-pohon tersebut masih belum bisa menutupi semua bagian dari paviliun dingin.


Dari tempatnya berdiri sekarang ia bisa melihat bangunan kokoh itu dan Sina juga yakin dari balkon kamar Dion juga bisa melihat apa yang Sina lihat.


"Sayang sekali bangunan itu dijadikan tempat untuk pengasingan, padahal bangunan ini cukup cantik dan seharusnya dihuni oleh banyak orang di rumah ini." Bisiknya menyayangkan.


"Aku pikir bangunan ini lebih cocok jika dijadikan sebagai tempat untuk bersantai bagi pasangan suami-istri yang baru menikah. Atau bangunan itu juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk menjamu tamu jauh yang datang menginap. Sebenarnya bangunan ini layak untuk kegiatan apapun yang positif asal jangan dijadikan sebagai tempat untuk mengasingkan diri. Gayanya tidak cocok dengan fungsinya yang membuat orang tertekan." Lanjut Sina berbicara pada entah siapa tidak ada yang tahu.


Sina pikir paviliun dingin tidak seharusnya digunakan untuk menjalankan hukuman karena gaya paviliun itu sama sekali tidak menuju fungsinya. Sina justru berpikir jika paviliun itu lebih cocok untuk melakukan hal-hal yang positif dan menyenangkan melihat gayanya yang diukir indah.


Sina melihat layar ponselnya lagi untuk melihat sudah jam berapa sekarang karena dirinya sudah mulai mengantuk. Dia sudah menguap untuk kesekian kalinya sejak waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Pukul 11.27 malam, sebentar lagi jam 12 tapi Dion masih belum pulang juga." Ucap Sina sambil menguap lebar.


"Badan ku terasa pegal-pegal dan aku sangat mengantuk, mungkin ini karena aku bekerja keras membersihkan kamar Dion sampai lupa waktu." Bisiknya menyimpulkan.


Berpikir sejenak, Sina kemudian memutuskan untuk mengirim pesan kepada Dion sebelum ia pergi tidur karena sungguh ia sangat mengantuk saat ini.


To: Suami Tampanku


Apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu masih belum pulang padahal sebentar lagi jam 12?


Lalu jarinya dengan cepat mengklik send.


Setelah mengirim pesannya, Sina menunggu balasan dari Dion. Mungkin saja Dion masih berkumpul bersama kliennya sehingga dia tidak bisa pulang.


Setelah 5 menit menunggu Dion masih belum membalas pesannya sehingga Sina sekali lagi membuat kesimpulan baru.


"Dion mungkin saat ini sedang dalam perjalanan pulang sehingga dia tidak bisa membalas pesanku." Katanya menyimpulkan.


Dia sekali lagi mengirim pesan kepada Dion untuk yang terakhir kalinya.


To: Suami Tampanku


Hati-hatilah di jalan dan jangan berkendara terlalu cepat, jalanan licin karena hujan jadi kamu harus memperhatikan keselamatan mu.

__ADS_1


Kemudian Sina mengklik send untuk yang terakhir kalinya. Setelah melihat pesannya sukses terkirim Sina lalu memutuskan untuk segera tidur di dalam kamarnya. Dia menutup pintu balkon untuk menghalangi angin malam masuk ke dalam.


Setelah itu Sina merebahkan dirinya di atas kasur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut agar tubuhnya lebih hangat. Beberapa menit kemudian Sina menutup matanya masuk ke alam mimpi tanpa mematikan lampu kamar tidurnya.


Ya, Sina tidak suka gelap sehingga dia terbiasa tidur dengan lampu yang masih menyala. Mungkin ini yang membuat kecerdasannya begitu rendah tidak seperti kedua orang tuanya yang luar biasa.


...🌺🌺🌺...


Sesak, Sina tidak bisa bernafas dan badannya tidak bisa digerakkan. Sebuah kekuatan besar mulai menekannya tanpa berniat memberikan Sina kesempatan untuk bernafas ataupun bergerak. Sontak saja Sina langsung terbangun dari tidurnya dan menemukan wajah tampan Dion sangat dekat dengannya.


Tangan besar Dion saat ini sedang mengelus wajah tidur Sina yang masih terperangah dengan keberadaan Dion di atas tubuhnya.


"Dion..apa kamu mabuk?" Tanya Sina tidak pasti karena dia mencium bau minuman keras dari Dion.


Minuman yang biasanya kedua orang tua Sina minum di rumah setiap kali pulang. Ini..apa Dion sedang mabuk?


Dion tersenyum, mamerkan wajah tampannya tanpa cela sedikit pun.


"Aku gak mabuk kok, buktinya aku masih bisa mengenali kamu." Katanya dengan suara yang agak normal.


Sebenarnya Dion memang terlihat normal seperti biasanya akan tetapi bau minuman keras yang ada di pakaian dan mulutnya sangat kuat sehingga Sina yakin jika Dion saat ini memang sedang mabuk.


"Aku gak mabuk ya gak mabuk! Aku cuma minum sedikit aja tadi jadi mana bisa aku langsung mabuk?" Bantahnya seperti anak kecil.


Sina tertegun juga takjub melihat tingkah kekanak-kanakan Dion, dia lupa jika orang mabuk tidak akan pernah sadar jika diri mereka sedang mabuk sehingga percuma saja memberi tahu mereka.


"Baik..baik..kamu gak mabuk, aku tahu kamu lagi gak mabuk." Kata Sina terdengar seperti membujuk anak kecil.


Rasa kantuknya yang kuat tadi langsung menghilang setelah melihat sikap Dion yang tidak biasa.


"Dion turun dulu dari atas aku biar badan aku gak sakit." Bujuk Sina pelan-pelan.


Dion sangat berat, ah!


Dion langsung tidak senang mendengar permintaan Sina, wajahnya yang tadi tersenyum kini berubah menjadi sangat serius.


"Gak mau! Aku gak mau turun, maunya sama kamu!" Tolak Dion masih seperti anak kecil.


Wajahnya sih memang serius tapi entah mengapa Sina tidak takut lagi melihatnya karena saat ini sifat Dion tidak jauh berbeda dengan anak kecil!


"Okay, tapi aku gak bisa nafas dan badan kamu juga berat banget, Dion, jadi..kamu turun yah biar badan aku gak sakit?" Bujuk Sina lagi.

__ADS_1


Dion menggelengkan kepalanya keras kepala, bukannya pergi dia malah menekan Sina untuk lebih dekat lagi dengannya. Mengunci Sina agar tidak bisa lari kemana-mana.


"Di-Dion..." Panik Sina seraya mencoba mendorong dada bidang Dion menjauh.


Tapi apalah daya Sina sebagai perempuan biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan besar Dion. Sina benar-benar tidak bisa berkutik!


"Milikku.." Ucap Dion serak. Tangan kanannya yang tadi mengelus lembut wajah Sina kini bergerak turun menyentuh leher Sina.


"Dion..ini..apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Sina panik.


Tidak, dia tidak hanya panik tapi sangat panik!


"Jadilah milikku.." Ucap Dion lagi.


"Ugh..kenapa kamu menggigit ku?" Tanya Sina merasakan sakit di bagian leher yang baru saja digigit Dion.


Namun setelah rasa sakit Sina merasakan sensasi aneh yang tidak biasa dan membuatnya tidak bisa tidak menginginkannya lagi.


"Jadilah milikku.." Kata Dion lagi seraya mengangkat kepalanya menjauh dari tempat yang baru saja ia tandai.


Dia menatap Sina keras kepala seolah memberi tahu Sina jika dia tidak menerima penolakan.


Dion Mabuk, pikir Sina dan orang mabuk tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Tapi, orang bilang bahwa mabuk adalah saat yang paling jujur untuk manusia. Apapun yang mereka lakukan saat mabuk adalah keinginan yang mereka ingin lakukan saat sadar.


Jadi, Sina menyimpulkan jika Dion menginginkan dirinya sehingga dia memutuskan untuk memenuhi keinginan Dion.


Toh, mereka akan segera menikah jadi tidak ada salahnya melakukan semua itu sebelum menikah.


"Jika kamu ingin aku menjadi milikmu.." Ucap Sina lembut seraya mengangkat tangannya memeluk leher kuat Dion.


"Maka lakukanlah." Lanjutnya menyerahkan diri sendiri.


Dion menginginkan dirinya dan dirinya menginginkan Dion, tidak ada yang salah seharusnya pikir Sina. Mereka hanya sedang dimabuk cinta dan tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


Jadi malam ini Sina dengan tulus sepenuhnya menyerahkan diri sendiri kepada Dion. Dia dengan rela membiarkan Dion melakukan apapun kepada dirinya. Menghujaninya dengan sensasi aneh yang tidak terlukiskan, Sina tidak bisa mengendalikan kegembiraan hati dan fisiknya.


Dia sangat bahagia berbagai keringat gairah bersama orang yang dia cintai.


Malam penuh gairah ini adalah saksi penyatuan kita berdua bahwa malam ini aku menjadi milikmu sepenuhnya dan kamu menjadi milikku sepenuhnya, malam yang indah Dion.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2