Dear Dion

Dear Dion
76. Sebuah Pengakuan


__ADS_3

"Om Bagas!" Teriak Calista sekuat tenaga.


Laki-laki dewasa yang Calista panggil sontak menoleh ke arah Calista. Dia langsung berlari mendatangi Calista ketika melihat ada sesuatu dengan keponakannya ini.


"Apa yang kamu lakukan di sini Calista?" Tanya Om Bagas mulai khawatir.


Mata kelamnya lalu melirik pemuda tinggi yang berdiri lurus di belakang Calista. Wajahnya tampak tidak asing namun Om Bagas tidak ingat pernah bertemu dengannya dimana.


"Aku..aku ikut liburan sama Dion ke sini-ah, masalah ini kita bicarakan nanti saja Om karena Calista udah gak kuat berdiri. Calista mau istirahat..Om." Jawab Calista memohon dengan nafas yang tersendat-sendat.


Om Bagas lagi-lagi menatap pemuda tinggi yang ada di belakang Calista. Kali ini dia akhirnya mengingat siapa pemuda tinggi itu. Namanya adalah Ridwan, sahabat Dion sejak kecil. Om Bagas sulit mengenalinya karena Ridwan tidak menggunakan kacamata.


Biasanya Ridwan selalu menggunakan kacamata kemanapun dia pergi. Om Bagas pikir Ridwan tidak bisa lepas dari kacamata namun faktanya saat ini ternyata tidak.


Lalu, mengenai hubungan Ridwan dan Calista. Om Bagas tidak bisa menebak hubungan mereka melihat sikap mereka berdua saat ini. Jadi, membawa Calista pulang adalah pilihan yang baik melihat kondisinya saat ini.


"Oke, kamu ikut sama Om." Om Bagas membantu Calista berjalan menuju mobilnya yang tidak terlalu jauh.


Di belakang mereka Ridwan dengan patuh mengikuti tanpa mengeluarkan suara apapun. Suasana ini Om Bagas entah mengapa merasa bersalah karena sudah lancang menengahi hubungan mereka.


Ketika Om Bagas membantu Calista masuk ke dalam Ridwan tiba-tiba membuka suara setelah sekian lama terdiam.


"Om, tolong jaga Calista baik-baik." Kata Ridwan kaku.


Om Bagas tersenyum kecil, menutup pintu belakang agar Calista tidak bisa mendengar apa yang akan dia katakan kepada Ridwan.


"Aku akan membawa Calista pulang ke rumah kedua orang tuaku. Kebetulan Kakakku dan suaminya sedang ada di sana jadi mampirlah jika kamu punya waktu luang." Ucap Om Bagas tidak bisa tidak membuat Ridwan terkejut.


"Alamatnya jalan x di kota x, manfaatkan waktu ini untuk menjalin hubungan dengan kedua orang tuanya." Setelah mengatakan ini Om Bagas langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Ridwan yang masih terpana di tempat.


Beberapa detik kemudian dia mengepalkan kedua tangannya kuat dan segaris senyuman tercetak jelas di bibirnya.


"Aku akan pergi!" Gumamnya memutuskan.


Ridwan segera memutar arah dan kembali ke tenda secepat yang dia bisa. Memasukkan kembali semua barang-barangnya ke dalam tas secepat yang dia bisa tanpa memperdulikannya lipatan pakaiannya rusak. Setelah itu dia langsung pergi dari kota T tanpa sempat berpamitan kepada sahabatnya.


"Maaf Dion, aku benar-benar tidak bisa mengabaikan kesempatan ini. Aku akan menghubungi mu lain kali." Gumamnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Flash Back Off


"Calista." Dia langsung tersadar dari lamunannya.


Berbalik, dia menemukan Ridwan sudah berdiri di belakangnya dengan sebuah senyuman yang amat sangat lembut.


Calista akui dia hampir saja terbuai dibuatnya.


"Ah..apa Kak Ridwan merasa bosan?" Calista merasa canggung berduaan dengan Ridwan.


Setelah pertengkaran itu Ridwan tiba-tiba datang mengunjunginya ke rumah Kakek. Dia mengambil simpati semua orang dengan mudah sehingga Calista tidak punya jalan melarikan diri darinya.


Calista mulai bertanya-tanya alasan mengapa Ridwan keras kepala terus mencarinya. Mungkinkah karena dia sangat marah gara-gara Calista sengaja membuatnya mabuk dan menghabiskan malam bersamanya?


Calista pikir mungkin bukan ini. Rasanya tidak wajar Ridwan sampai harus mengejarnya ke kota ini.


Lalu, jika bukan ini maka alasan apa yang membuat Ridwan sampai datang ke kota ini?


"Sedikit, mau keluar untuk jalan-jalan?" Tawar Ridwan berharap.


Mungkin sudah waktunya aku melepaskan Ridwan. Batin Calista sedih.


Ridwan pasti ingin membicarakan masalah itu. Calista tidak bisa terus-terusan melarikan diri darinya. Mungkin sudah saatnya Calista memperjelas hubungan ini karena sebentar lagi perutnya akan membesar dan jalan satu-satunya adalah pergi menghilang dari semua orang untuk membesarkan bayinya.


Ini untuk kebaikan semua orang meskipun luka tidak bisa dihindari.


"Ya, ayo." Calista memimpin jalan keluar dari rumah.


Kebetulan rumah Kakek dan neneknya punya halaman rumah yang luas, bahkan seringkali orang-orang menganggapnya sebagai taman daripada halaman.

__ADS_1


"Maafkan aku. Malam itu aku sudah bersikap kasar kepadamu. Aku sungguh menyesal telah menyakitimu." Ridwan membuka pembicaraan dengan canggung pula.


Dia memang tidak bisa melihat ekspresi Calista malam itu namun dia bisa merasakan tubuh Calista bergetar ketakutan.


"Yah, malam itu aku juga salah. Jika saja aku tidak keras kepala dan melarikan diri mungkin semuanya tidak secanggung sekarang." Calista juga tahu diri soal malam itu.


"Jadi apa sekarang kita bisa membicarakan tentang malam itu dan hubungan kita?" Tanya Ridwan hati-hati.


Calista awalnya tidak mengatakan apa-apa. Mereka diam selama beberapa menit dan tenggelam dalam kecanggungan yang menyiksa.


"Aku akui aku memang salah Kak Ridwan. Aku memang sengaja menjebak Kak Ridwan dengan minuman alkohol kandungan tinggi. Ya, aku memang merencanakan semuanya dan aku sangat menyesal. Jika aku tahu Kakak akan semarah dan sebenci ini kepadaku, mungkin hari itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan melakukan rencana gila untuk menjebak Kakak dan Kakak tidak akan pernah membenciku. Aku..minta maaf." Calista sudah mengatakannya.


Dia sudah mengakui rencana gilanya malam itu dan dia harap Ridwan tidak akan lagi membencinya.


Ridwan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia menatap diam punggung kurus Calista yang semakin menjauh darinya. Sampai akhirnya Calista tiba-tiba menyadari Ridwan tidak ada lagi di sampingnya. Dia lantas berbalik dan menemukan Ridwan sedang menatapnya dalam diam-diam.


Ditatap seperti ini Calista tidak bisa menahan perasaan malunya. Dia malu karena menjadi gadis yang tidak baik dan bahkan berani mengotori kehidupan laki-laki yang sangat dia cintai.


Rasanya dia sangat kotor dan menjijikkan.


Tapi mau bagaimana lagi, cinta kadang egois dan serakah. Untuk memenuhi keinginan apapun akan dilakukan asalkan keinginan itu tercapai.


"Aku tidak pernah membenci kamu." Ucap Ridwan setelah sekian lama terdiam.


"Apa?" Calista tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Kenapa aku harus mencari kamu jika aku memang membencimu? Seharusnya aku yang bersembunyi dari kamu dan bukannya kamu yang bersembunyi dariku." Ujar Ridwan sekali lagi membuat Calista meragukan pendengarannya.


"Lalu..jika kamu tidak membenciku maka kenapa kamu terus mencari ku selama ini?" Calista bertanya hati-hati sambil menenangkan suara degup jantungnya yang menggebu-gebu.


Rasanya sangat senang tapi juga membingungkan.


"Menurut kamu kenapa aku selama ini mencari mu?" Ridwan tidak bertanya dan malah bertanya balik.


"Jika bukan karena benci maka Kak Ridwan marah kepadaku?" Jawab Calista tidak yakin.


Dia membawa langkah demi langkahnya berjalan mendekati Calista. Menatap langsung dan mengunci kedua mata Calista agar tidak bisa berpaling darinya.


"Aku sangat marah karena kamu tiba-tiba menghilang setelah meluluhkan hatiku. Aku sangat marah karena kamu tiba-tiba bersembunyi dariku setelah mengambil 'pengalaman' pertama ku dan aku sangat marah karena kamu tiba-tiba bersikap asing kepadaku. Seolah-olah semua hari yang kamu lewati dengan ku tidak pernah terjadi. Calista kenapa kamu melarikan diri setelah berhasil membuat ku jatuh cinta kepadamu? Kenapa kamu bersembunyi dariku setelah berhasil membuat ku menginginkan kamu?. Setelah semua yang terjadi, mengapa kamu tiba-tiba ingin menjauh dariku?" Tanyanya putus asa tepat di depan wajah Calista.


Jarak mereka sangat dekat, bahkan saking dekatnya mereka bisa merasakan hembusan nafas hangat masing-masing.


"Bagaimana bisa.." Calista ingin mundur ke belakang namun langsung dicegah oleh Ridwan.


Dia menarik Calista ke dalam pelukan dan mendekapnya dengan penuh kerinduan. Dia sungguh-sungguh merindukan Calista dan sudah lama ingin mendekapnya seerat ini.


"Jangan melarikan diri lagi Calista..kamu tidak pernah tahu betapa sakit yang aku rasakan setiap kali kamu bersembunyi dariku." Bisik Ridwan lemah dan sarat akan perasaan rapuh.


"Kak Ridwan.. bukankah kamu dan Kak Kira adalah sepasang kekasih?" Calista memberanikan diri bertanya.


Tangannya terkepal erat tidak berani membalas pelukan Ridwan. Padahal hatinya saat ini sangat bahagia mendengar pengakuan Ridwan. Dia ingin menangis saking senangnya.


"Jangan menuduhku yang tidak-tidak, Kira adalah sahabatku sejak kecil dan sudah ku anggap sebagai saudara sendiri jadi bagaimana mungkin aku bisa mempunyai hubungan yang romantis dengannya?" Ridwan heran kenapa Calista harus mengait-ngaitkannya dengan Kira. Padahal jelas-jelas mereka hanya bersahabat jadi-


Jangan-jangan selama ini Calista salah paham dengan Kira?. Batin Ridwan terkejut.


Sontak saja dia melepaskan pelukannya dan menatap Calista dengan hati-hati. Wajah Calista bersemu merah, terlihat sangat manis namun kedua matanya terlihat basah.


Calista menangis.


"Apa aku tadi menyakiti mu?" Tanya Ridwan selembut mungkin.


Tangan kanannya mengusap lembut pipi basah Calista.


Calista tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Lalu.. kenapa kamu tiba-tiba menangis? Apa karena Kira?" Tanya Ridwan lagi.

__ADS_1


Kali ini Calista tidak menjawab tapi tidak menunjukkan isyarat apapun. Matanya hanya menatap Ridwan dengan ekspresi cemberut.


"Dengar, aku dan dia tidak punya hubungan yang romantis karena dia sudah aku anggap sebagai saudara ku sendiri. Selama ini satu-satunya orang yang berhasil meluluhkan hatiku adalah kamu. Hanya kamu yang berhasil membuat ku segila ini. Untuk bisa menemukan kamu segala macam cara aku lakukan selama 2 bulan ini. Pekerjaan ku di rumah sakit menjadi berantakan dan aku hampir gila setiap hari memikirkan kamu. Katakan alasan kamu selama ini bersembunyi dariku apakah karena Kira?"


Kedua pipi Calista lagi-lagi merona merah. Warnanya semakin terang setiap kali Ridwan menatapnya seintens ini.


"Ya." Jawab Calista dengan suara yang sangat kecil.


Dia malu sedekat ini dengan Ridwan.


"Bodoh." Ridwan tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar ini.


Hanya karena salah paham ini dia hampir gila memikirkan Calista.


"Aku tidak bodoh!" Bantah Calista jengkel.


"Dia tidak senang melihat aku terlalu dekat dengan Kakak. Kak Kira bilang aku menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian berdua. Awalnya aku tidak menganggap serius ucapan Kak Kira dan terus mengganggu Kak Ridwan jika ada waktu luang, saat itu aku hanya menganggap Kak Kira cemburu melihat kedekatan kita. Tapi suatu malam aku datang ke club' malam bersama teman-teman ku. Di dalam aku melihat kalian berdua sedang berciuman jadi..jadi.. malam itu aku sangat marah dan memutuskan untuk menjauhi Kakak. Aku tidak mau mengganggu hubungan kalian berdua..jadi itulah alasan mengapa aku terus bersembunyi dari Kak Ridwan." Calista menceritakan awal mula kenapa dia tiba-tiba menghilang.


Wajahnya menunduk menatap dada bidang Ridwan karena dia sangat malu melihat ekspresi Ridwan saat ini.


Ini adalah pengakuan yang paling memalukan dari hidupnya.


"Club' malam.. ciuman?" Tanya Ridwan bingung.


"Aku tidak pernah masuk club' malam bersama Kira apalagi sampai berciuman. Aku hanya masuk club' malam apabila Dion punya urusan bisnis yang membutuhkan kondisi pribadi untuk membicarakannya, itupun kami lebih memilih menggunakan ruang pribadi daripada bercampur dengan banyak orang." Bantah Ridwan membuat Calista tercengang.


Ridwan sangat yakin seyakin-yakinnya jika dia tidak pernah masuk ke tempat seperti itu bersama wanita. Dia hanya masuk ke tempat seperti itu jika bersama Dion untuk menyelesaikan urusan bisnis, itupun juga mereka menggunakan ruang pribadi dan tidak bercampur dengan orang-orang.


"Tapi..aku sangat yakin orang yang berciuman dengan Kak Kira malam itu adalah kamu." Yakin Calista masih ingat.


"Tapi aku sungguh tidak pernah melakukannya. Kamu juga tahu sendiri'kan toleransi alkohol ku sangat rendah jadi bagaimana mungkin aku datang ke tempat seperti itu." Ridwan mencoba meyakinkan Ridwan.


Calista juga memikirkannya,"Tapi..malam 'itu' aku memberikan kamu minuman dengan kandungan alkohol yang sangat tinggi. Bagaimana bisa kamu masih sadar setelah meminumnya?"


Untuk pertanyaan ini Ridwan tiba-tiba tertawa kecil, tangannya spontan mengelus rambut Calista sayang.


"Aku menukar minuman itu." Jawab Ridwan mengakui.


"Apa?" Tanya Calista tidak percaya.


"Sebelum meminumnya aku bertanya kepada bartender itu seberapa kuat kandungan alkohol yang ada di minuman ku. Dia bilang itu hampir 50% dan dipesan secara khusus oleh kamu. Aku agak terkejut dan bertanya-tanya kenapa kamu memberikan ku minuman sekeras itu padahal kami tahu sendiri jika aku tidak bisa minum minuman keras. Jadi untuk mengikuti permainan kamu, aku memutuskan untuk menyuap bartender dan mengganti minuman dengan kandungan alkohol yang lebih ringan. Ya hasilnya aku memang mabuk tapi kesadaran ku masih ada jadi semua yang kita lewati malam itu masih tercetak jelas di dalam kepalaku." Jelas Ridwan mengakui perbuatannya.


Calista tercengang dan menatap Ridwan dengan pandangan tidak percaya.


"Kamu membohongiku!" Kesal Calista.


Ridwan tidak membantah,"Aku tidak punya jalan lain selain melakukan itu."


"Jadi bagaimana sekarang?" Tanya Ridwan mengalihkan topik.


Sebelum Calista menjadi miliknya dia tidak bisa membuatnya marah ataupun kesal.


"Bagaimana apanya?" Tanya Calista balik masih kesal.


"Hubungan kita berdua." Jawab Ridwan melunakkan pandangannya selembut mungkin.


"Hubungan kita.."


Bersambung...


Hello, untuk jawaban yang kemarin gak ada yang benar yah😊


Kayaknya kuis juga gak berhasil padahal author lagi mancing loh biar kalian cepat masuk bab Dion dan Sina. Hem..jika dihitung-hitung dua part lagi bab mereka, yakin kalian gak mau lihat cerita mereka selanjutnya?


Padahal nih ya makin cepat makin baik biar bukunya cepat selesai 😊


Begini, kenapa author tulis cerita tokoh lain di bab selanjutnya karena author gak mau pilih kasih. Karena yah tokoh Calista ibarat tokoh penting kedua setelah Sina jadi gak apa-apa dong author tulis tentang dia dikit aja..

__ADS_1


😊


__ADS_2