
Mengangkat guci itu tinggi-tinggi dan melemparkannya ke arah Sina.
"Harus mati!"
Prank
Sina bergerak spontan menghindari Guci ke sebelah kiri, membuat benda indah nan cantikĀ itu terlempar menghantam dinding di samping Sina. Lemparan kuat itu membuat guci terpecah menjadi beberapa bagian tajam, naas karena jarak Sina terlalu dekat dengan Guci itu lengan kanannya harus menjadi korban.
"Akh.." Pecahan guci yang paling kecil menggores kulit lengan kanan Sina ketika menghindar dari lemparan guci.
Lengan bajunya berlubang, menciptakan cipratan darah merah yang masih kental dan segar di atas lantai marmer.
"Ah, apa itu sakit?" Risa bersimpati.
Dia menunjuk Sina dengan pisau dapur yang ada di tangannya dengan ekspresi yang tidak biasa. Seakan-akan kucuran darah yang mengalir dari daging pucat Sina adalah sebuah tontonan menarik yang tidak bisa dilewatkan.
"Risa..ku mohon berhenti. Masalah ini kita bisa membicarakannya baik-baik.." Sina memohon di sela rasa sakit tangannya.
Kedua matanya beberapa kali melirik ke arah pintu apartemen yang cukup jauh dari jarak mereka saat ini. Dia menduga-duga apakah bisa berlari ke sana untuk menyelamatkan diri atau sempatkah Dion menyelamatkannya dari kegilaan Risa!
Karena sungguh.. sungguh dia sangat ingin anaknya selamat. Bila nyawanya harus ditukar dengan kelahiran anaknya di dunia ini maka Sina tidak akan ragu untuk melakukannya..dia rela memberikan anaknya kesempatan untuk melihat dunia dengan menukar nyawanya sendiri.
Jadi..
Dion..tolong selamatkan anak kita..aku mohon... Batinnya mulai memanggil dengan putus asa.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita Sina karena keputusannya akan tetap sama bahwa kamu harus mati agar Dion bisa menjadi milikku!"
"Tidakkah kamu pernah berpikir Dion akan membencimu jika kamu membunuhku dan anak ini?" Sina mencoba menarik hati nurani Risa seraya mengulur waktu.
"Membenciku?"
Pisau yang terangkat menunjuk Sina perlahan turun ke bawah. Dia terdiam, menatap bingung pisau yang ada di tangannya itu seperti orang yang linglung kehilangan arah.
"Kak Dion akan membenciku jika aku membunuhmu?" Katanya lagi bingung.
Matanya memerah, buliran-buliran air mata keluar dari sudut matanya yang agak sipit.
"Aku gak mau Kak Dion membenciku..hiks..aku enggak mau.." Isaknya menahan sakit hati.
Dia mencintai Dion bukan hanya satu atau dua tahun tapi sudah bertahun-tahun lamanya. Dia mencintai Kakak angkatnya sendiri tapi nyatanya Dion sudah punya seseorang di dalam hatinya.
"Namun Sina bila aku tidak membunuh mu sekarang maka Kak Dion tidak akan pernah mau melihat ku selama hidup ini hiks..dia akan selalu melihat mu tapi tidak dengan ku!! Katakan Sina! Katakan solusi apa yang harus aku lakukan agar Kak Dion mau melihat ku sama seperti cara dia melihatmu!!" Raung Risa cemburu.
Ketika tahu wanita yang Dion cintai selama 15 tahun terakhir ini adalah Sina, jantung Risa rasanya langsung hancur. Dia tidak punya jalan lagi untuk mengisi hati Dion karena orang yang sekarang sedang duduk di tahta itu adalah Sina seorang, hanya Sina seorang!
"Bahkan sekalipun kamu membunuhku Dion tetap tidak akan bisa menjadi milikmu apa kamu mengerti!" Sina sudah tidak tahan lagi melihat aksi gila Risa.
Dia harus membuat Risa sadar bahwa semuanya tidak bisa diselesaikan hanya dengan membunuhnya saja. Malah bukannya menyelesaikan masalah hal itu justru semakin memperburuk masalah.
Risa tersenyum miring, dengan wajah basah yang berantakan ekspresi terlihat cukup menyeramkan.
"Dia selalu membenciku meskipun aku tidak membunuhmu karena dimatanya aku dan wanita yang lain adalah sebuah penghalang. Hei Sina, apakah kamu tahu apa yang terjadi dengan Bela dan Kira sekarang?" Tanyanya sambil memainkan pisau dapur yang ada di tangannya.
Apa yang terjadi dengan Bela dan Kira secara spesifik Sina tidak tahu. Dia hanya tahu jika perusahaan H milik Paman dan Bibi Bela sudah bangkrut sedangkan sisanya dia tidak tahu.
Toh, mereka sudah tidak pernah bertemu lagi sehingga Sina tidak terlalu peduli.
"Kamu tidak tahu'kan?" Diam Sina adalah ketidaktahuan bagi Risa.
"Bela dan Kira punya akhir cerita yang berbeda. Bela setelah ditolak mentah-mentah oleh Kak Dion hari itu langsung jatuh sakit. Dia menjadi murung setiap hari dan tidak suka berbicara dengan orang lain. Lalu kondisinya kian memburuk ketika perusahaan H keluarganya jatuh bangkrut. Beberapa orang di keluarganya curiga jika orang yang telah menargetkan perusahaan H adalah Kak Dion sehingga mereka melimpahkan semua kesalahan kepada Bela. Bila Bela tidak menyinggung batas Kak Dion mungkin semuanya tidak akan sehancur sekarang. Hahaha... dia akhirnya jatuh gila, Sina!" Tawa Risa pecah, dia menghentak-hentakkan kakinya di atas lantai karena tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
Dia merasa akhir yang didapatkan Bela terlalu lucu!
Sina berpikir itu tidak lucu sama sekali, dia malah mulai berpikir yang mengalami gangguan jiwa tidak hanya Bela saja namun nyatanya Risa juga tidak jauh berbeda.
"Lalu.. lalu Kira.. wanita sialan itu dipecat dari pekerjaannya di rumah sakit karena ketahuan memalsukan ijazah kelulusan pendidikannya di Amerika. Dan lagi-lagi itu karena siapa? Itu karena kamu Sina! Karena kamu kehidupan orang lain menjadi hancur! Kamu adalah pembawa sial!"
"Jadi.." Dia berhenti memainkan pisau ditangannya.
"Aku harus melenyapkan kamu dari dunia ini agar tidak lagi menciptakan kesialan untuk orang lain." Dia kemudian berjalan mendekati Sina dengan langkah lurus tanpa ragu.
Mengangkat tinggi pisaunya bersiap untuk menghujani Sina.
"Ku mohon Risa.. hentikan semua ini.." Sina meraih apapun yang bisa dia raih dan melemparkannya ke arah Risa.
Tapi Risa seolah tidak merasakan sakit apapun. Dia tetap berjalan mendekati Sina.
"Pergi! Pergi dariku!" Sina berusaha menghindar dari Risa tapi sayangnya dia terjebak oleh dinding sehingga pergerakannya dibatasi.
"Mau pergi kemana, Hem?" Risa meraih tangan Sina, menertawakan kebodohan Sina yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis terisak melindungi perut bundarnya.
"Risa aku mohon..aku mohon biarkan anakku hidup. Dia sama sekali tidak bersalah di sini..dia tidak tahu apa-apa di sini!" Mohon Sina meminta belas kasihan.
Tenaganya saat ini seolah tersedot habis untuk melayani kemarahan Risa, ditambah lengan kanannya masih berdarah dan perutnya mulai membuat ulah.
Sekujur tubuhnya lemas karena rangsangan sakit yang terus berdatangan tiada henti.
"Oh yeah, jadi pertama-tama aku harus melenyapkan nyawa mu dulu baru anak itu?" Tawar Risa berbaik hati.
"Tidak.. tidak..anak ink harus-"
"Maaf Sina, tapi aku sama sekali tidak suka tawar menawar. Jadi pertama-tama kamu harus menikmati perasaan ketika hidupmu perlahan mulai menghilang di dunia ini.."
SRK
"Argh!" Sina memegang daging pundaknya yang terkoyak dengan ekspresi pucat kesakitan.
"Hem, luar biasa Sina! Ini sangat cantik!" Seru Risa semakin tertarik menambah luka di atas tubuh Sina.
"Hei, jangan tertidur dulu!" Tubuh Sina jatuh lemas merosot ke atas lantai dan kedua matanya perlahan kehilangan sinar hidup.
"Aku bilang jangan tidur dulu!" Marah karena tidak di dengar, Risa lalu dengan kejam menendang perut Sina.
Membuat Sina meraung kesakitan karena perutnya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
"Anakku..hiks..tolong jangan sakiti anakku.." Mohon Sina disela-sela kesadarannya yang kian menipis.
"Hahaha..bagaimana, Sina? bukankah rasanya menyenangkan melihat hidupmu perlahan terlepas-"
Cklak
"Sayang..aku pulang-" Kata-kata Dion langsung terhenti ketika dia melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang.
Tubuhnya kaku mencerna lambat cairan warna merah yang membasahi pakaian hamil Sina. Setengah jam yang lalu Dion masih ingat pakaian itu masih bersih dan Sina pun masih punya senyum cerah diwajahnya.
Tapi sekarang lihat.. dunia seolah terbalik hanya dalam setengah jam saja.
"Kak Dion pulang! Kak Dion lihat aku membantu mu-"
Dingin, hati Dion rasanya membeku. Kaki jenjangnya melangkah cepat mendekati Risa yang kini sedang memasang sebuah senyuman menjijikkan di depannya dengan kedua tangan diwarnai merah terang nan segar.
"Melenyapkan pembawa sial yang sudah mempersulit hidup-" Dion menjambak rambut panjangnya kasar dan,
__ADS_1
Plak
Dia menamparnya sekuat tenaga hingga terjatuh ke atas lantai.
"Kak Dion..apa yang kamu lakukan-"
Buk
Tidak puas dengan tamparan saja, Dion juga menendang Risa dengan emosi yang meledak-ledak. Pandangannya menjadi hitam dan satu-satunya hal yang ada di kepalanya sekarang adalah membunuh Risa.
"Argh sakit..sakit..Kak Dion sakit.." Isak Risa yang sudah babak belur tapi masih saja dihajar oleh Dion.
Badannya terasa mati rasa dan wajahnya juga bengkak membiru.
"Dion.. hentikan.." Samar, Sina melihat Dion kini sedang menghajar Risa.
Tapi Dion masih belum sadar.
"Dion anak kita..dalam bahaya.. ku mohon hiks.. selamatkan dia.." Isak pilu Sina akhirnya menyadarkan Dion dari emosinya.
"Sina.." Dia buru-buru mendekati Sina yang terduduk lemas di atas lantai.
Menariknya ke dalam pelukan dengan hati-hati. Sina-nya sekarang sangat rapuh, pisau di lengannya masih tertancap pisau tajam dan Dion tidak berani mengambilnya takut lebih melukai Sina.
Dia mengecup kening Sina menahan sakit hati, tanpa sadar dari sudut matanya keluar sebush cairan hangat.
"Apakah sakit.." Tangan kanannya yang bergetar dan ternoda oleh darah mengusap wajah pucat Sina yang masih berkeringat dingin.
Hatinya ketakutan dan pada saat yang sama bingung mau melakukan apa.
"Jangan pikirkan aku..anak kita.. tolong selamatkan dia.." Sina meraih tangan Dion di atas wajahnya, membawa tangan bergetar itu menyentuh perut bundar Sina yang masih belum reda sakitnya.
"Aku baik-baik saja tapi anak kita... tidak baik-baik saja.." Katanya memaksakan senyum.
"Ya Tuhan...kamu..kamu pendarahan Sina.."
Bersambung..
Bila saja menulis semudah itu, mungkin dalam sehari saya bisa update berkali-kali.
Tolong Pahami posisi saya jugaš
Selama saya menulis di sini saya tidak pernah meminta kalian untuk harus vote atau komentar bila ingin membaca karya saya, faktanya saya tidak memintanya meskipun saya juga tidak ingin munafik bahwa setiap orang pasti ingin dihargai usahanya.
Vote mentok di itu-itu aja dari sekian banyak pembaca, okay.. mungkin karya saya tidak memuaskan jadi saya maklum.
Namun, kalian juga harus menghargai posisi saya di dalam kehidupan nyata karena fokus hidup saya bukan tentang menulis saja. Apalagi saya masih menghadapi UTS di beberapa mata kuliah yang praktis membuat saya tertekan.
Oh, apa itu ghosting atau PHP..saya sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan itu. Toh kalau saya gak update yang rugi adalah saya sendiri sebenarnya, jadi kenapa saya harus merugikan diri sendiri disaat rajin update malah tambah Untung?
Saya juga ingin lebih cepat menyelesaikan novel ini tapi nyatanya real life saya gak mengizinkan.
"Nah, kalau tahu gak punya waktu nulis kenapa malah publis buku lain padahal buku ini aja belum kelar?"
Buku yang kemarin Publis?
Saya udah bilang beberapa kali kalau itu sudah saya tulis beberapa bab jadi saya hanya tinggal update saja. Sama seperti buku ini awalnya, setengah usah saya tulis kok makanya bulan kemarin terus update.
Cuma karena saya lagi banyak kesibukan makanya buku ini bab selanjutnya jadi macet, serius..sibuk banget. Ditambah lagi saya harus perang mental dengan keluarga jadi sebenarnya saya sama sekali gak punya mood untuk menulis..
Terutama bab ini, saya sangat memaksakan diri untuk menulis bab pendek ini saja selama dua hari karena apa?
__ADS_1
Karena semua masalah yang saya jabarkan tadi, terimakasih.