
"Permisi."
"Ya?" Laki-laki paruh baya itu menengadah dan menemukan ada gadis cantik yang sedang berdiri di depannya.
"Ini..aku membelikan Paman air minum dan beberapa makanan untuk mengganjal perut, Sina harap Paman tidak akan sungkan menerimanya." Ujar Sina sopan.
Dia menyodorkan kantong plastik yang ada di tangannya ke depan laki-laki paruh baya itu. Wajahnya yang agak merah karena malu membuat laki-laki paruh baya itu yakin jika Sina sangat tulus saat memberikan makanan ini kepadanya.
"Namaku adalah Maman jadi kamu bisa memanggilku Paman Maman. Oh...juga terimakasih untuk air minum dan makanannya, Paman idak akan menyia-nyiakan semuanya. Dan ini.." Dia mengambil selebaran yang masih menumpuk banyak di dalam tasnya.
Mengambil satu lembar dan memberikannya kepada Sina dengan ekspresi penuh harap. Sina tidak mengecewakan harapannya, dia mengambil selebaran itu dan menerimanya dengan sopan.
"Paman mempunyai sebuah gedung apartemen yang baru saja diresmikan kemarin. Awalnya gedung itu masih dalam tahap pembangunan dan belum bisa ditempati untuk sementara waktu, akan tetapi karena sahabat Paman berkhianat dan membawa uang kontruksi lari maka situasinya menjadi berbeda. Paman tidak bisa menyia-nyiakan gedung apartemen ini dan memutuskan untuk menyewakannya. Ini... sebenarnya sudah layak ditempati walaupun masih belum sempurna. Kami hanya kekurangan beberapa fasilitas saja di sana tapi masih sangat nyaman untuk ditinggali." Paman Maman terlihat serius membicarakan masalah apartemen ini.
Gedung yang seharusnya diresmikan tahun depan malah diresmikan secara dadakan kemarin tanpa ada suasana sukacita selayaknya orang yang baru meresmikan gedung baru. Dia dikhianati dan ditinggalkan oleh sahabatnya sendiri, meninggalkan beberapa hutang besar yang harus dibayar secepatnya. Karena itulah dia terpaksa meresmikan gedung apartemen itu dan menyebarkan selebaran di sini untuk menarik para penyewa atau pembeli yang berminat tinggal di apartemen.
"Aku akan memberi tahu teman-teman ku tentang informasi ini. Mungkin ada dari mereka yang berminat tinggal di apartemen untuk hidup mandiri, Paman tenang saja." Bohong Sina tidak bisa menolak tawaran Paman Maman.
Paman Maman tersenyum lembut, "Terimakasih, kamu adalah anak yang baik." Katanya tulus.
Jarang sekali bertemu dengan anak sesopan dan sebaik Sina, setidaknya hari ini dia belum menemukan satupun kecuali Sina. Sekali bertemu Paman Maman agak tidak ingin berpisah dengan Sina, kiranya mereka bisa berbicara lebih lama lagi di sini.
"Paman juga orang yang baik, kalau begitu Sina pamit pulang dulu. Jaga diri Paman di sini dan jangan terlalu lama berdiri dibawah sinar matahari."
Setelah mengucap pamit Sina melanjutkan lagi perjalanannya. Dia melihat selebaran yang Paman Maman berikan dan membacanya secara singkat. Kesimpulannya, apartemen ini sebenarnya cukup bagus dan layak untuk ditempati. Akan tetapi karena fasilitasnya yang masih kurang lengkap membuat peminat agak berpikir lagi untuk tinggal di apartemen ini.
Namun, harga yang ditawarkan pun cukup murah dari apartemen yang lain dan menurut Sina ini sebanding.
"Ini tidak berguna untukku tapi aku tidak bisa membuangnya.." Hati nuraninya tidak mengizinkan Sina membuangnya.
"Lalu, aku akan menyimpannya di dalam tas saja. Mungkin suatu hari nanti selebaran ini bisa berguna untuk Calista atau... untuk diriku sendiri... hahaha.. Dion sudah punya rumah jadi kenapa aku harus tinggal di apartemen ini?" Dia tertawa geli seraya memasukkan selebaran yang sudah dilipat rapi ke dalam tasnya.
Ya, tidak ada yang tahu tentang masa depan. Mungkin saja itu tidak akan berguna sekarang, tapi bagaimana jika suatu hari nanti Tuhan membuat skenario yang tidak terduga?
...🌺🌺🌺...
Sina P.O.V
"Siang, Tante dan Om?" Siapaku ramah pada Tante Ranti.
Ketika aku masuk ke dalam rumah ada Tante Ranti dan Om Edward yang sedang bersantai di ruang keluarga. Mereka terlihat menikmati momen santai ini ditemani dengan beberapa makanan ringan dan kopi tentu saja.
"Siang, Sina."
"Kamu habis darimana, Sin? Tante pikir kamu dari tadi masih istirahat di dalam kamar." Tante Ranti terlihat agak aneh ketika menatapku.
__ADS_1
Entahlah, tatapannya seperti bukan tatapan yang biasanya aku lihat. Mungkin...ya, atau mungkin ini hanya perasaan ku saja?
"Sina baru pulang dari rumah sakit, Tante. Beberapa hari ini'kan Sina kurang enak badan dan agak takut kalau-kalau ada penyakit di dalam tubuh Sina. Tapi, ternyata dokter bilang aku gak kenapa-kenapa dan cuma terlalu kelelahan aja jadi dia saranin aku harus banyak istirahat di rumah." Aku gak bisa cerita sekarang ke Tante Ranti dan Om Edward kalau aku lagi hamil.
Aku mau orang yang pertama tahu kehamilan ku adalah Dion selaku Ayah dari anakku ini. Kabar gembira ini kemudian akan Dion sampaikan kepada semua orang agar mereka tahu jika aku dan Dion akan segera menikah.
Ya, kami akan menikah.
"Oh, syukurlah kamu baik-baik saja. Tante juga sempat khawatir kemarin sama kondisi kamu yang tiba-tiba drop beberapa hari ini." Tante Ranti bilang dia khawatir tapi ekspresinya terlihat biasa-biasa saja.
Apa ini yang disebut dengan sikap acuh?
Atau ini yang mereka sebut sebagai kepalsuan?
Hah..aku berhalusinasi lagi, bagaimana mungkin Tante Ranti yang baik dan lembut bisa bersikap sedingin itu? Jawabannya tentu saja sangat mustahil.
"Nah sekarang, kamu istirahatlah di kamar dan ikuti kata dokter agar jangan terlalu lelah. Perhatikan tubuh kamu di masa depan agar kejadian ini tidak terulang lagi." Aku sangat malu menatap Om Edward.
Wajah datarnya memang agak menakutkan tapi sorot matanya terlihat begitu tulus. Aku tidak bisa menampik betapa lembut perhatian Om Edward meskipun itu hanya sebuah kata-kata yang singkat.
"Tentu, Om. Aku akan mendengarkan kata-kata dokter dan lebih memperhatikan lagi tubuhku." Karena ada cucu Om juga di dalam sehingga aku harus benar-benar memperhatikan kondisi tubuhku.
"Bagus, sekarang kembalilah ke kamar."
"Eh, tunggu." Tante Ranti menarik perhatian kami.
"Bela sangat khawatir ketika tahu kamu sedang sakit jadi dia meluangkan waktunya untuk membuatkan mu bubur di dapur. Pergilah ke dapur untuk menemui Bela, bagaimanapun dia sangat tulus saat memikirkanmu jadi kamu tidak boleh menolak masakannya kali ini." Ucap Tante Ranti santai.
Aku kali ini benar-benar ragu jika perasaan tidak nyaman yang sedang ku rasakan sekarang hanya halusinasi ku saja. Lihat sorot mata Tante Ranti, jauh berbeda dengan yang dulu. Dia terlihat skeptis terhadap ku untuk beberapa alasan. Mempunyai perubahan, mungkinkah karena aku sudah membuatnya tersinggung?
Tapi kapan? Aku tidak ingat pernah membuatnya tersinggung.
"Ya...ya, aku akan segera ke dapur."
Tante Ranti mengangguk puas, "Sekarang pergilah."
Aku menganggukkan kepalaku sesopan mungkin dan membawa langkahku menuju dapur. Dari luar aku bisa melihat Bela yang sedang memasukkan sesuatu ke dalam mangkuk sambil bersenandung lembut. Dia tampak antusias memasakkan ku sepenuh hati padahal beberapa hari ini aku sudah menolak untuk makan masakannya.
Hah..dia wanita yang baik, cantik, cerdas, dan pandai memasak. Tak ayal jika banyak orang yang menginginkan Bela menjadi kekasih mereka.
"Hei, kamu di sini?" Suara Bela mengejutkan ku.
"Ah..ya..Tante bilang kamu membuatkan ku bubur jadi dia memintaku datang ke sini." Kataku agak malu.
Dia tersenyum dan menarik tanganku mengikutinya. "Kebetulan, aku baru saja memindahkannya ke dalam mangkuk dan berniat mengantarnya ke kamarmu. Tapi, karena kamu sudah ada di sini maka sekalian saja makannya di sini." Katanya.
__ADS_1
"Duduklah." Dia kemudian mengambil mangkuk yang dia sebutkan tadi dan membawanya kepadaku.
"Uh.." Wanginya terlalu berat.
Aku tidak bisa memakannya bahkan mencium baunya saja membuatku terasa mual ingin muntah.
"Aku..aku tidak bisa memakannya." Kataku seraya bangun.
Berjalan agak jauh untuk menjaga jarak dari bubur itu.
"Kenapa kamu tidak bisa memakannya? Bubur ini rasanya enak kok, aku sudah mencobanya tadi." Bela tidak mau menyerah dan terus mendekatiku.
Tidak bisa, aku tidak bisa mencium baunya!
Aku merasa mual dan ingin muntah setiap kali mencium baunya.
"Tidak..tolong, jangan mendekat. Ini mungkin agak kasar karena aku menolak masakan mu tapi sungguh aku tidak berbohong, aku tidak bisa memakan bubur ini. Baunya.. sungguh.." Aku tidak bisa mengatakannya.
Bagaimana cara menjelaskan bau bubur ini...aku tidak bisa menjelaskannya karena ketika masuk ke dalam penciuman ku hal pertama yang bereaksi adalah penolakan dari tubuhku.
"Baunya.." Dia mencium asap mengepul dari mangkuk itu dengan ekspresi bingung.
"Apa yang salah? Baunya enak kok tidak jauh berbeda dengan rasanya. Yakinlah, ini sangat enak dan kamu juga tidak akan rugi ketika memakannya."
Ya Tuhan, tidak! Siapa bilang aku tidak akan rugi?
Ini sangat merugikan apa kamu tahu? Aku tidak bisa memakannya tapi kenapa kamu tidak bisa mengerti ini?
"Cobalah..jangan takut." Dia berjalan mendekati ku yang sudah terpojok di tembok.
Aku tidak bisa melangkah ke arah pintu karena Bela pasti akan langsung menghalangi jalanku. Dia sangat bersiteguh agar aku memakan buatannya. Berulang kali aku menolak dia tidak mau mendengarkan penolakan ku, ini..kenapa dia begitu gigih ingin aku memakan buburnya?
"Cobalah, sedikit saja tidak apa-apa.." Katanya memohon. Jarak kami mungkin hanya tinggal 2 langkah lagi.
Tanganku terangkat berniat memblokir Bela agar jangan terlalu dekat lagi denganku. "Ku mohon..jangan mendekat-"
PRANG
Apa yang terjadi?
"Argh..." Bela berteriak nyaring sambil memegang kakinya.
Mangkuk itu tiba-tiba terjatuh dari tangannya dan berakhir mengenai kaki Bela. Sekarang Bela kesakitan memegang kakinya yang terkena bubur panas buatannya sendiri-
"Ya Tuhan, Sina! Kenapa kamu menyiram Bela dengan bubur panas itu?" Kira tiba-tiba masuk ke dalam dapur dan menuduhku menyiram Bela dengan bubur panas itu.
__ADS_1
"Aku.. menyiram Bela dengan bubur panas itu?" Tanyaku heran.
Bersambung..