
Tok
Tok
Tok
Tidur siang Sina terganggu, matanya yang terpejam tenang kini mengerjap tidak puas pada sang pengetuk pintu. Padahal Sina sudah berkali-kali mengatakan ia tidak lapar. Sarapan tadi pagi masih memenuhi perutnya jadi dia tidak punya ruang untuk makanan yang lain. Mengerang kesal, Sina tidak pernah tahu jika Bik Mur begitu keras kepala.
"Sina gak lapar, Bik." Teriaknya memberi tahu.
Setelah itu ia tidak lagi mendengar suara ketukan pintu dan ruangan kamarnya kembali tenang tanpa suara. Ia menghela nafas puas, membalik badannya untuk menemukan posisi tidur yang nyaman untuk tidur. Tidak lupa juga ia menarik selimut merah muda penuh kehangatan yang sudah beberapa hari ini Sina gunakan. Menariknya sampai menutupi bagian pundak, Sina bisa merasa lebih nyaman untuk menutup matanya kembali.
Di dalam tidurnya yang masih ringan dan belum terlalu lelap, ia mendengar suara langkah kaki di dalam kamarnya. Suara langkah kaki yang ringan dan penuh kehati-hatian semakin mendekati tempat tidur Sina. Suara itu kemudian berhenti setelah beberapa detik yang disusul dengan ranjangnya yang tiba-tiba tenggelam. Seolah-olah ada beban berat yang naik ke atasnya sehingga membuat ranjang yang Sina tempati agak tenggelam.
Sina awalnya cukup terganggu dan ingin membuka matanya untuk melihat siapa yang telah naik ke atas ranjangnya. Namun, saat ia merasakan sebuah usapan lembut nan hangat di keningnya, Sina tidak lagi berniat membuka kedua matanya. Malah ia merasa nyaman dan tenang dengan usapan lembut tersebut, rasanya Sina tidak rela jika usapan tersebut menghilang sehingga ia bergerak lebih dekat lagi ke arah pemilik usapan.
Merasakan kehangatan mulai melingkupi dirinya yang kesepian, tiba-tiba Sina berpikir jika ini adalah tidur ternyaman yang pernah ia rasakan selama ia hidup. Merasakan sebuah perasaan nyaman yang tidak pernah ia pikirkan rasanya, Sina di dalam tidurnya menjadi lega.
Lega karena ia masih punya kehangatan yang mau melingkupi dirinya yang kesepian.
"Sst.. jangan takut, ini aku." Dalam tidurnya, sayup Sina mendengar seseorang membisikkan sesuatu ke telinganya.
Sebuah suara yang terdengar samar akan tetapi Sina masih bisa mengenali suara menenangkan tersebut.
__ADS_1
Dion.
Nama ini adalah satu-satunya nama yang muncul di dalam kepalanya. Dia yakin bahwa tidak ada orang yang akan mempunyai suara ini kecuali Dion, ya, hanya Dion yang mempunyai suara ini.
Ah, Dion ternyata juga muncul di dalam mimpinya, pikir Sina sangat senang. Meskipun hanya sebatas suara tapi Sina tidak bisa tidak merasa senang mendengarnya,
Ya, ini sangat menyenangkan pikirnya seraya mengeratkan pelukannya kepada sumber kehangatan yang kini sedang melingkupi dirinya. Entah itu hanya perasaannya saja atau apa, di dalam tidurnya Sina seolah merasakan jika sumber kehangatannya membalas lebih kuat pelukannya. Mengikat dirinya ke dalam kehangatan yang tidak terbatas, lambat laun Sina benar-benar tenggelam dalam mimpinya.
"Dasar putri tidur.." Bisik laki-laki itu merasa tergelitik dengan tingkah manis Sina.
Melihat orang yang ada di dalam pelukannya tertidur lelap, laki-laki itu tiba-tiba merasa terbuai dengan tidur Sina yang lelap. Dia tergoda untuk segera menyusul Sina ke alam mimpi, ya, semua rasa lelahnya ketika bekerja tiba-tiba menjadi sangat kuat ketika bersama Sina. Membisikkannya kata-kata untuk beristirahat sejenak saja bersama Sina untuk menghilangkan kelelahan yang menggerogotinya.
Dan diapun tertidur, menyusul Sina ke alam mimpi yang tidak berujung.
Wajah Dion begitu dekat, pikir Sina takjub saat pertama kali membuka matanya. Garis-garis kuat nan halus dari wajah Dion bisa dengan jelas Sina lihat dari tempatnya. Bulu alisnya yang hitam pekat menggambarkan sosok kuat yang tidak tersentuh namun nyatanya begitu baik dan ramah untuk Sina, bulu matanya yang panjang dan tumbuh subur bagaikan sebuah godaan manis ingin disentuh, menutupi mata hitam pekat yang biasa menatap siapapun dengan tatapan arogan yang tampan. Dion juga punya hidung yang menjulang tinggi, menggambarkan citra sosoknya yang tinggi dan kuat. Dan yang terakhir bibirnya, Dion punya bibir yang seksi. Tidak terlalu tipis juga tidak terlalu tebal, cukup harmonis dengan warnanya yang merah muda menunjukkan Dion bukanlah perokok.
Ya, Dion terlalu sempurna di dalam mata Sina. Bagi Sina, laki-laki di depannya inilah simbol sempurna yang pernah Sina lihat di dunia ini. Memang benar tidak ada yang sempurna di dunia ini karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Namun, karena Sina tidak bisa menemukan cela dari Dion secara fisik maupun non fisik, Sina tiba-tiba menyimpulkan secara gamblang jika Dion adalah manusia yang sempurna.
"Mengapa mimpi serealistis ini?" Tanya Sina tidak percaya.
Ini terlalu luar biasa untuk Sina, sedekat ini dengan Dion dan bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Dion menerpa kulit wajahnya, Sina hampir saja berpikir jika ini bukan mimpi.
"Karena ini mimpi..maka..aku bisa menyentuh mu tanpa malu lagi." Ucapnya berbisik pada sosok tampan yang tidak bergerak.
__ADS_1
Perlahan, ia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah tampan Dion yang terasa hangat. Hem, benar-benar seperti nyata pikir Sina. Ia lalu mengusapnya dengan gerakan lembut, takut jika kuku tangannya sampai melukai wajah Dion.
Tangannya bergerak menyentuh alis Dion, turun sedikit ia menyentuh bulu mata panjang Dion yang panjang, turun lagi jari telunjuknya dengan lembut menyusuri batang hidung Dion yang tinggi, turun lagi tangannya kemudian menyentuh bibir Dion yang seksi.
Mengelusnya lembut, sebuah pikiran nakal tiba-tiba terbersit di benaknya.
"Ini hanya mimpi jadi tidak masalah jika aku menciumnya." Gumamnya pada diri sendiri.
Walaupun ini hanya mimpi tapi debaran jantungnya yang kuat bahkan terasa sangat nyata, ia bahkan sempat meragukan mimpi ini namun Dion yang tidur di atas ranjangnya dan bahkan memeluknya adalah sesuatu yang tidak nyata untuk Sina. Jadi, sekali lagi ia meyakini dirinya bahwa ini adalah mimpi yang indah untuknya.
Menganggukkan kepalanya yakin, Sina lalu mempersempit jarak diantara mereka berdua. Mendekati wajah tampan Dion yang masih tenang tidak bergerak. Setelah jarak mereka menjadi dekat, Sina kemudian menatap bibir seksi Dion yang menggoda hatinya. Perlahan ia memonyongkan bibirnya agak ke depan berniat menyentuh bibir Dion.
Namun,
Sebelum ia bisa menyentuh bibir itu, mata Dion yang semula terpejam tiba-tiba membuka matanya. Menatap gerakan yang dilakukan Sina yang kini langsung membeku menatap shock Dion yang sedang melihatnya.
Sejenak, ia tiba-tiba merasa bodoh dan konyol pada saat yang bersamaan. Otak kecilnya yang tidak pintar kini menjadi semakin tidak pintar saat melihat mata tajam itu mengamatinya dengan diam.
"Apa ini benar-benar mimpi?" Tanyanya mulai ragu lagi, "Mengapa semuanya terasa sangat nyata?"
"Jika ini mimpi maukah kamu tetap mencium ku?" Tanya Dion dengan suara seraknya.
Deg
__ADS_1
Bersambung...