
Awalnya, dia tidur dengan damai dan dipenuhi kehangatan. Dalam tidurnya dia bahkan masih bisa tersenyum menikmati indahnya alam mimpi yang penuh akan dunia fantasi.
Namun itu tidak bertahan lama karena dadanya tiba-tiba terasa sesak seperti ada beban berat yang menindihnya. Sina tidak bisa bernafas dengan bebas dan perutnya pun mulai mendidih ingin mengeluarkan sesuatu.
Alhasil tidur damainya terusik tanpa bisa dicegah. Dia tersiksa dalam tidurnya dan lambat laun kelopak matanya terbuka menatap langit-langit kamar yang diterangi cahaya redup dari lampu tidur.
Dia langsung panik dan ketakutan melihat seluruh ruangan gelap. Tidak ada cahaya terang yang menerangi kamar ini seperti biasa. Dia tidak terbiasa tidur dengan lampu mati bahkan tinggal di tempat yang sudah lama tidak ditinggali. Dia takut jika ada sesosok makhluk putih mengambang tanpa kaki di sekitarnya. Dia takut jika ada mata besar berdarah sedang menatapnya dari sudut tertentu kamar ini.
Dia sangat ketakutan.
Akan tetapi rasa takutnya segera menghilang dari fokusnya ketika perutnya mulai bergejolak ingin mengeluarkan sesuatu. Rasanya memang tidak sakit namun sangat tidak nyaman.
"Uargh.." Kedua tangannya segera menutupi mulut, merapatkan mulutnya agar jangan sampai menumpahkan cairan menjijikkan.
"Uargh.." Gejolak di dalam perutnya semakin tidak tertahankan.
Dia tidak bisa terus menahannya seperti ini. Maka dari itulah segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menumpahkan semua isi perutnya ke closed.
"Uargh..Uargh.." Kepalanya menjadi pusing dan pandangannya mulai berputar-putar.
Di tambah lagi perutnya masih tidak mau bekerja sama dengan kondisi fisiknya yang mulai drop. Dia tetap memuntahkan apapun yang ada di dalamnya sekalipun sudah tidak ada apa-apa lagi dari sisa makanan semalam.
Perutnya terus memaksa untuk mengeluarkan isinya sampai tidak ada yang bersisa dan hanya cairan putih saja yang keluar.
"Pusing.." Keluhnya lemas.
Sementara itu di dalam kamar. Orang yang tidur di sampingnya tiba-tiba terbangun setelah merasakan guncangan dari kasur yang ditiduri. Kedua matanya menatap linglung sisi sampingnya, meraba-raba dengan salah satu tangan untuk mencari seseorang yang sebelumnya tidur di sini.
Masih hangat namun orangnya sudah tidak ada lagi.
Kedua matanya sontak terbuka lebar, meraba-raba sisi sampingnya dengan panik.
"Sina?" Panggilnya dengan suara serak khas baru bangun tidur.
"Uargh..uargh.." Ada suara orang muntah dari dalam kamar mandi.
Dion menoleh ke arah kamar mandi. Pintunya sudah terbuka lebar dengan lampu terang yang masih menyala.
"Sina..kamu..apa yang terjadi denganmu?" Dia segera turun dari kasur dan mengabaikan selimut tidak berdosa yang sudah tergeletak tidak berdaya di atas lantai.
Dia masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan Sina sudah duduk lemas di samping closed. Wajahnya menjadi pucat seperti kekurangan darah menatap sayu lantai kamar mandi yang ada di depannya.
"Hei, apa kamu baik-baik saja?" Dia membawa Sina ke dalam pelukannya, merengkuh Sina hati-hati untuk memberikan kehangatan.
Sina mengangkat kepalanya, menatap orang yang sedang merengkuhnya dengan tatapan sayu. Perlahan kedua matanya menjadi basah dan ada isakkan kecil yang lolos dari bibir pucat nya.
"Dion..hiks.." Panggil Sina terisak.
Kedua tangan Sina entah sejak kapan sudah memegang erat kemeja hitam lengan panjang Dion yang belum sempat diganti semalam.
"Kenapa sayang..kamu kenapa tiba-tiba nangis?" Dion ikut sedih melihat keadaan kekasihnya yang lemah, apalagi dia semakin lemah jika Sina mulai menangis di depannya.
"Dion..sakit..hiks.." Adu Sina merengek seperti anak kecil.
Hati Dion melunak, dia menyingkirkan rambut panjang Sina yang menghalanginya menatap langsung wajah cantik Sina.
"Apanya yang sakit? Sini, cerita sama aku biar nanti bisa diobatin." Bujuk Dion merasa lucu.
Dia seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang tersesat mencari Ibunya. Sangat manis dan imut pada waktu yang bersamaan.
Tapi.. kenapa Sina tiba-tiba bersikap cengeng dan manja seperti ini? Karena Sina yang aku kenal tidak akan mau bersikap manja kepada siapapun. Dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil sehingga kepribadiannya menjadi lebih tertutup. Batin Dion mulai bingung.
Dia mulai menganalisis dari Sina tiba-tiba bangun dan muntah-muntah di dalam kamar mandi. Kemudian sikapnya berubah 180 derajat menjadi gadis kekanak-kanakan dan manja pada saat yang bersamaan. Seolah-olah Sina yang ada di depannya ini bukan Sina biasanya di kehidupan sehari-hari.
__ADS_1
Tunggu..
Apa mungkin ini karena dia sedang hamil? Aku dengar wanita hamil akan lebih sensitif terhadap lingkungannya. Emosi wanita hamil juga gampang berubah-ubah dan mudah merasa sedih apabila ditegur ataupun dimarahi. Astaga..aku harus menanyakannya ke Ridwan nanti. Siapa tahu tebakan ku memang terbukti benar. Batin Dion menyimpulkan hasil analisisnya.
Dia menduga perubahan sikap Sina saat ini dikarenakan dia sedang mengandung.
Sina meraih tangan Dion dan membawanya ke atas kepala sambil mengatakan,"Kepala aku pusing Dion..dan perut aku juga mual.. rasanya sakit..hiks.." Adu Sina mulai menangis sesenggukan.
Seandainya saja Sina tidak pucat dan dalam keadaan yang fit, mungkin Dion sudah memakannya di dalam kamar. Namun saat ini Sina sedang sakit dan membutuhkan perlindungannya, dia tidak hanya tidak tergoda dengan keimutan Sina namun malah ikut merasa sedih melihat orang yang dia cintai menderita karena ulahnya sendiri.
"Okay, pusingnya aku obatin sekarang yah.." Tanya Dion membujuk.
Sina dengan polosnya menganggukkan kepala.
Dion tersenyum simpul, menundukkan kepalanya untuk mengecup kening Sina selama beberapa kali.
"Gimana, pusingnya udah hilang belum?" Dion menurunkan pandangannya menatap wajah Sina yang kini sudah tidak terlalu pucat.
Ada semburat merah dikedua pipi Sina. Entah mengapa fokus Dion tiba-tiba terganggu karena dia merasa Sina terlihat menggoda saat ini.
Pipi Sina merona merah dengan kedua mata yang masih basah karena menangis tadi. Hei, Sina terlihat menggoda, bukan?
Namun untungnya Dion adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan pikirannya pun masih bersih-okay, itu sudah lama dicemari ketika dia menginginkan Sina.
Namun meskipun punya pikiran kotor Dion masih bisa mempertahankan kewarasannya. Dia mengingatkan diri bahwa bukan saatnya memikirkan hal 'itu' karena saat ini objek yang selalu dia pikirkan sedang menderita.
"Apa yang kamu pikirkan Dion! Ingat, ada anak kamu di dalam rahimnya!" Dion memarahi dirinya sendiri agar segera kembali fokus.
"Sedikit..tapi perut aku masih mual.." Jawab Sina masih tidak nyaman dengan gejolak perutnya.
Perutnya sudah kosong sejak muntahan pertama jadi kenapa perutnya masih mual ingin memuntahkan sesuatu?
Dion akan memegangi perut Sina tapi gerakan tangannya berhenti. Dia melirik lingkungannya saat ini dan merasa tidak nyaman terus-terusan duduk seperti ini di dalam kamar mandi. Kedua kakinya lama-lama kram karena hanya duduk dalam satu posisi yang sama selama setengah jam.
Merebahkannya di atas kasur yang empuk dan nyaman agar badannya tidak sakit.
"Dion..kaki kamu masih sakit?" Tanya Sina panik akan mulai menangis.
Dion segera mengusap wajah Sina dan menenangkan emosinya seraya mengatakan,"Gak sakit kok, kaki aku baik-baik aja." Katanya seraya menggerak-gerakkan kedua kakinya di sisi kasur.
Setelah melihat kaki Dion masih sehat Sina menjadi lega untuk sesaat karena detik berikutnya dia kembali merengek sambil memegang perutnya.
"Dion..mual..hiks.." Adunya mulai menangis.
"Cup..cup..jangan nangis lagi, okay? Ngeliat kamu nangis membuat aku jadi sedih. Kamu gak mau'kan ngeliat aku sedih?" Dion mengusap wajah Sina lembut, menghapus jejak air mata hangat yang baru saja keluar.
Sina segera mengatupkan mulutnya dengan patuh seraya menggelengkan kepalanya tidak ingin melihat Dion menjadi sedih.
Dion tersenyum simpul, menundukkan kepalanya untuk mengecup kening Sina penuh kasih.
"Makasih sayang." Bisiknya puas.
"Sekarang aku obatin perut kamu, yah?"
Sina menganggukkan kepalanya patuh. Sangat imut, pikir Dion.
Dion memang tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat perut Sina menjadi nyaman. Dia hanya mencoba melakukan apa saja yang dia bisa untuk membuat Sina merasa lebih baik.
Dion menundukkan kepalanya, menempatkan kepalanya tepat di perut Sina seraya mengelusnya sayang.
"Nak, Mama lagi sakit jadi jangan diganggu lagi yah. Mulai sekarang kamu jangan terlalu membuat masalah di dalam agar Mama dan kamu bisa sehat terus, Papa akan sangat senang jika kalian bisa hidup sehat. Justru sebaliknya, Papa akan sedih jika kamu membuat Mama sakit lagi. Jika Mama sakit maka nafsu makannya akan berkurang, dan jika nafsu makan Mama berkurang kamu akan kekurangan asupan di dalam sana. Jadi, kamu harus patuh di sana demi kebaikan Mama dan kamu. Paham?"
Tidak ada respon apapun dari dalam perut Sina. Tapi Dion tidak berkecil hati, dia malah menganggap mahluk kecil di dalam sana mendengar semua yang dia katakan dan meresponnya dengan anggukan manis.
__ADS_1
Sekali lagi Dion tidak bisa menghentikan halusinasinya.
Setelah mengatakan itu dia mengecup ringan perut Sina dengan kasih sayang yang sangat tulus. Mengecupnya lama seraya berdoa semoga orang yang dia cintai dan buah hati mereka diberikan keselamatan saat hari itu tiba nanti.
"Gimana, rasanya sudah lebih nyaman?" Tanya Dion setelah menyelesaikan acara 'pengobatannya'.
Pipi Sina lagi-lagi memerah, ada sebuah senyuman di bibir ranumnya yang tidak lagi sepucat awal.
"Dion bobok.." Rengeknya sambil menarik-narik lengan Dion.
Sina ingin Dion naik ke atas kasur dan ikut tidur bersamanya.
Dion mana mungkin menolak ajakan sang kekasih. Dia langsung naik tanpa mengatakan apa-apa dan membaringkan dirinya di samping Sina. Setelah Dion berbaring di dekatnya Sina tiba-tiba menggeser tubuhnya masuk ke dalam pelukan Dion. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Dion yang kokoh dan sangat nyaman untuk dibuat sandaran.
"Dasar manja." Ucap Dion tidak berdaya seraya merengkuh Sina lebih dekat lagi dengannya.
Dia mengelus lembut rambut panjang Sina sambil menghirup wanginya sepuas hati. Mengecup beberapa kali puncak kepala Sina sebagai ungkapan betapa bahagianya dia malam ini.
"Dion belum tidur?" Suara Sina teredam di dalam pelukannya.
"Hem, aku belum tidur." Jawab Dion masih terjaga.
Setelah itu kamar ini menjadi sunyi tanpa ada percakapan. Walaupun tidak ada lagi pembicaraan namun anehnya Dion merasa sangat damai dan melegakan seperti ini. Dia lebih santai tanpa harus merasa gelisah seperti malam-malam sebelumnya karena orang yang dia cintai kini berada dalam pelukannya.
Dia ada di dalam pelukannya, berbaring di tempat tidur yang sama, dan dapat merasakan suhu tubuh masing-masing.
Dion pikir Sina sudah lama terlelap karena tidak menunjukkan tanda-tanda masih bangun. Namun ternyata dia salah karena Sina tiba-tiba mengangkat wajahnya menatap Dion. Wajah Sina merona merah dibawah cahaya redup lampu tidur. Dion tidak tahu alasan mengapa wajah Sina memerah, entah itu karena kedekatan mereka berdua atau karena lelah menahan nafas di dadanya. Dion tidak tahu alasan itu akan tetapi yang pasti Dion langsung terpesona melihatnya.
Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Sina sedetik saja. Matanya bahkan enggan berkedip takut Sina langsung menghilang dari pandangannya.
"Dion?" Panggil Sina malu-malu.
Ini nyata. Batin Dion mengkonfirmasi.
"Kepala kamu pusing lagi?" Tanya Dion setelah menjernihkan kepalanya.
Sina menganggukkan kepalanya ringan tapi langsung menggelengkan kepalanya setelah berpikir sejenak.
"Pusing tapi cuma sedikit." Jawabnya.
"Kalau bukan kepala, perut kamu masih mual? Mau muntah sekarang?" Dion akan bangun tapi Sina langsung menarik kemejanya.
"Perut aku udah gak terlalu mual lagi kok." Jawab Sina mencegah Dion turun dari kasur.
Dion lega tapi semakin bingung. Jika bukan kepala dan perut lalu bagian mana yang membuat Sina tidak nyaman?
"Kalau bukan kepala dan perut, lalu bagian mana yang terasa tidak nyaman? Tanya Dion selembut mungkin.
Jangan sampai dia menghancurkan mood baik Sina.
Sina tidak langsung menjawab namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan pikirannya. Rona merah di pipi Sina semakin jelas dan bahkan leher putihnya juga mulai memerah.
Dion terpana, menatap kosong Sina yang lagi-lagi menggoda iman dan pertahanannya.
"Sina...ini salahmu membuatku tergila-gila. Sekali ini saja..tolong maafkan aku."
Bersambung..
Kuis!
A. Dia pelaku tapi sebenarnya korban🤔
B. Dia korban tapi sebenarnya pelaku😎
__ADS_1
Yang bisa jawab author up lagi deh💚