Dear Dion

Dear Dion
106. E


__ADS_3

"Kamu jangan pingsan dulu!" Sebelum Dion jatuh ke lantai Nyonya Ranti sudah menahannya, dia memukul pundak Dion dengan penuh semangat.


Mata Dion berkedip lelah, badannya seolah tidak bisa diajak bernegosiasi ketika teriakan bayi itu terus bergema di dalam kepalanya.


"Ma, anak itu tidak mati?" Tanya Dion linglung.


Nyonya Ranti sontak memukul keras pundak Dion, hampir-hampir Dion jatuh ke lantai dibuatnya.


"Apa yang kamu katakan? Tentu saja anak itu lahir hidup dan sehat!"


Hidup dan sehat?


Dia menoleh ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Lampu ruang operasi telah berubah menjadi hijau, menandakan jika operasi telah selesai dilaksanakan.


Beberapa detik kemudian, pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka sambil mendorong sebuah kereta kecil. Di dalam kereta itu Dion tahu ada anaknya karena tangisan bayi terus saja bergema dari sana.


"Kenapa diam, ayo temui anak kamu!" Nyonya Ranti menarik tangan Dion yang terkulai lemah.


Mereka berjalan mendekati kereta itu, di dalam kereta itu ada seorang bayi mungil nan lembut yang sudah dikelilingi berbagai macam alat bantu pernapasan.


Meskipun bayi itu masih merah namun garis-garis milik Dion tidak bisa tertutupi, membuat para dokter yang menangani bergumam takjub melihat keindahan anak tersebut.


Karena biasanya anak yang terlahir jarang terlihat jelas kemiripan wajahnya dengan orang tuanya.


"Pak Dion, selamat anak Anda lahir selamat dan berjenis kelamin laki-laki." Dokter perempuan yang telah memimpin operasi memberikan ucapan selamat kepada Dion.


Kini penerus pengusaha sukses nan muda telah lahir jadi ini merupakan berita yang sangat besar untuk mereka.


Dion tertegun, menatap kosong bayi merah yang sedang tertidur dengan berbagai macam alat bantu pernapasan ditubuhnya. Sekali lihat saja Dion tahu bila anak ini sampai ke sini dengan usaha yang tidak mudah. Bila kelahiran anak ini saja tidak mudah maka kekasihnya tentu saja lebih tidak mudah.


Tangan Dion tanpa sadar mengepal, dia senang anak ini lahir namun hatinya tidak bisa berbohong bahwa dia lebih memikirkan keselamatan Sina.


"Bagaimana dengan Sina?" Begitu pertanyaan ini jatuh, senyuman para dokter itu langsung menghilang digantikan tatapan bersalah.


Dion merasa ada sesuatu yang salah dengan ekspresi mereka.


"Bagaimana dengan kekasihku?" Tanya Dion sekali lagi.


Tangan kanannya lalu menunjuk anak itu dengan perasaan campur aduk.


"Bukankah aku bilang untuk menyelamatkan Sina?" Tanya Dion mengingatkan.


"Apa?" Nyonya Ranti tersentak.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan Dion!" Bentak Nyonya Ranti marah karena tidak digubris sama sekali oleh Dion.


Dion sama sekali tidak perduli dengan kemarahan Nyonya Ranti karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada nasib hidupnya.


"Sekarang anak ini sudah ada di sini..maka Sina juga selamatkan? Dia pasti selamat karena kalian berjanji untuk menyelamatkannya, katakan apa dia memang selamat dan kenapa aku masih belum bertemu dengannya?" Tanya Dion menuntut.


Dia sudah lama berdiri di sini tapi kenapa Sina masih belum dibawa keluar dari ruang operasi?


"Pak Dion.." Dokter itu ragu mengungkapkan kebenarannya.


"Sebelum kami operasi tadi kekasih Anda meminta kami untuk menyelamatkan anak kalian terlebih dahulu.." Ucap Dokter wanita itu tampak gentar melihat'tatapan tajam Dion.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Dion dingin, sudut matanya mengeluarkan cairan hangat.


Tampak marah tapi juga menyendu.


"Kenapa kamu diam saja?! Aku tanya apa yang ingin kamu katakan tapi kenapa kamu tidak menjawab ku?! Apa kamu tuli! Apa kamu tidak punya telinga! Apa kamu tidak punya kepala?!" Teriak Dion kalut.


Nyonya Ranti bahkan harus memeluk lengannya agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


"Pak Dion mohon tenang...ini adalah permintaan langsung dari kekasih Anda. Kami tidak bisa menolak permintaannya karena dia juga seorang Ibu." Dokter wanita itu mencoba menjelaskan kepada Dion.


Namun Dion sama sekali tidak mengerti dan malah semakin marah. Dia ingin menjangkau dokter wanita itu tapi dia tiba-tiba menyadari sudah ada banyak tangan yang menahannya.


Dia mencoba melepaskan diri dari mereka dengan meronta-ronta sekuat tenaga. Namun, tenaganya sungguh tidak bisa mengalahkan mereka semua.


"Bukankah aku sudah bilang untuk menyelamatkan dia?" Tanya Dion lemah.


Tenaganya sudah benar-benar habis untuk melepaskan diri jadi dia menyerah untuk melampiaskan amarahnya.


"Bukankah aku sudah bilang untuk menyelamatkan hidup kekasihku?" Tanya Dion linglung mulai terisak.


"Kami sungguh minta maaf, Pak." Dokter wanita iti merasa sangat bersalah.


Dion seolah tidak mendengar permintaan maafnya.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Dion lemah.


"Dia masih di dalam ruang operasi, Pak."


Dio mengangguk, melepaskan tangan-tangan itu darinya. Dengan langkah gontai dia mendekati ruang operasi, membuka pintunya ruang operasi dan melihat tubuh kekasihnya sudah tertutupi kain putih yang ternodai darah merah.


Dion menghirup udara dingin, berlari panik mendekati bangsalnya. Dion menjangkau kain putih itu tapi masih tidak berani membukanya.

__ADS_1


Bagaimana bisa?


Hidupnya dalam sekejap direnggut oleh Tuhan.


Padahal Tuhan tahu bahwa wanita yang ada dibalik kain ini adalah alasan terbesarnya bisa bertahan hidup. Tanpa dia, bagaimana mungkin Dion bisa melewati hidup ini selanjutnya?


Dion sama sekali tidak bisa membayangkannya..


"Sina?" Panggil Dion menahan isak tangisnya.


Kedua tangannya bergetar, mengangkat kain putih itu menjauh dari kepala Sina.


"Bangunlah Sina, ini..ini masih sore.."


Perlahan, wajah cantik nan pucat tidak bernyawa Sina terlihat. Wajahnya sangat putih tanpa ada warna kehidupan, bibir merah nan ranumnya kini berubah menjadi pucat keunguan. Dan kedua mata yang selalu menatapnya malu-malu itu kini telah tertutup rapat untuk selamanya.


"Dokter bilang tidak baik tidur diwaktu sore karena-dingin?" Tangan Dion langsung membeku ketika menyentuh wajah pucat Sina.


Ini sangat dingin...ini lebih dingin dari apapun. Membuat Dion langsung merasa kosong dan hilang.


"Kamu..kamu berani meninggalkan ku?" Bisik Dion marah bercampur sedih.


"Kamu berani pergi tanpa seizin ku?!" Teriak Dion di depan wajah kaku Sina, berharap teriakannya bisa membangunkan Sina.


Namun, sama seperti batu yang dilemparkan ke dalam lautan teriakan Dion sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari Sina.


"Bangun Sina! Jangan membohongi ku! Katakan bila kamu masih hidup! Katakan dan buka matamu!" Dion mengguncang wajah Sina, berusaha membuatnya terbangun tapi cara ini sama sekali tidak berhasil.


"Aku akan mencium mu! Bukankah.. bukankah kamu sangar suka aku cium? Lihat, aku mencium mu jadi bangunlah dan jangan tidur lagi!" Dion menangkup wajah dingin Sina, menciumnya beberapa kali untuk membangunkan Sina.


Dia ingat Sina sangat suka dicium olehnya, entah itu di wajah, tangan, atau bibir Sina selalu suka semuanya asalkan itu adalah Dion.


Tidak seperti putri salju yang dibangunkan dengan ciuman pangeran, Sina justru tetap tertidur sekuat apapun Dion menciumnya. Sina tidak bereaksi apa-apa, wajahnya tidak merona seperti dulu, dan matanya tetap terpejam tidak bisa melihatnya malu-malu lagi.


Dion tersadar, kakinya langsung lemah dan jatuh merosot ke lantai. Kepalanya terkulai tanpa kehidupan, menatap wajah tenang Sina yang kini tertidur damai.


Tidak akan pernah terbangun untuk selamanya, dia pergi bersama kehidupan Dion yang kembali diwarnai dengan kekosongan.


"Jika kamu mati maka aku juga mati, Sina.." Isak Dion dengan suara yang memilukan.


"Bagaimana bisa aku melanjutkan hidup ini disaat kamu pergi meninggalkan ku.."


"Dion.." Nyonya Ranti mencoba memanggil Dion.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2