
Sina merasa hari ini Dion sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tiba-tiba dia lebih perhatian kepada Sina tanpa alasan dan selalu menanyakan keadaannya setiap setengah jam. Sina bingung dengan perubahan Dion yang mendadak namun tidak bisa menampik bahwa dia senang dengan perhatian yang Dion berikan. Mendapatkan semua perhatian yang sebelumnya tidak pernah dia dapatkan dari Dion entah mengapa membuat Sina merasa jika Dion adalah suami siaga.
"Hari ini Calista pulang dari kota." Ucap Dion tiba-tiba sambil menutup dokumen yang ada di depannya.
Dia berdiri dari duduknya, melepaskan kacamata bingkai yang sudah berjam-jam membebani hidungnya kemudian mengembalikan kacamata itu ke tempat kotak asalnya. Setelah itu Dion mengangkat kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot-otot di tubuh yang sudah menjadi kaku karena terlalu lama duduk mengolah dokumen.
Semua proses ini diamati oleh Sina dalam binar kekaguman yang terus membanjiri matanya. Bagaimana tidak, Dion tampak sangat seksi ketika melakukan semua itu.
"Dia lebih cepat dari yang aku harapkan." Lanjut Dion menarik Sina kembali dari lamunannya.
Sina merasakan wajahnya mulai panas, dia merutuki dirinya sendiri yang begitu mudah terjebak dalam pesona Dion.
"Apa Calista akan datang ke sini?" Tanya Sina mengalihkan fokusnya dari Dion.
Oh benar, Sina juga merindukan Calista.
Dia sudah lama ingin bertemu dengan Calista, dia rindu berbincang-bincang dengannya sambil saling berbagi keluhan hati.
"Dia dan Ridwan sedang dalam perjalanan ke sini. Berhubung Paman dan Bibi sibuk merawat Nenek Calista diluar kota, maka Calista akan menginap di sini untuk beberapa hari ke depan." Jawab Dion seraya berjalan mendekati Sina.
"Apa kepalamu pusing lagi?" Tanya Dion lebih lembut dari biasanya.
Sina gugup tapi berusaha menenangkan dirinya.
"Kepalaku tidak pusing." Jawab Sina jujur, ada rona merah di wajahnya.
Dia bingung dan bertanya-tanya mengapa Dion tiba-tiba menanyakan ini. Sina juga merasa jika Dion mungkin tahu tentang kehamilannya. Tapi apakah iya?
Sina tidak yakin.
Karena bila Dion memang sudah tahu Sina ragu Dion akan tetap tenang dan tutup mulut. Lagipula, Dion tidak punya alasan untuk membiarkan Sina mengandung anak itu.
Tidak mungkin, daripada tutup mulut Dion pasti menyarankan ku untuk menggugurkan kandungan ini. Batin Sina agak mellow.
Dia sangat takut berharap seperti waktu itu, disaat perasaannya melambung tinggi tiba-tiba sebuah kenyataan menghempaskannya tanpa ampun. Waktu itu Dion juga memberikan perhatian yang intim kepada Sina tapi itu juga bukan berarti Dion menyukainya. Seperti yang Dion bilang hari itu kepada Bela bahwa Sina hanyalah..
Seorang tamu saja, cepat atau lambat aku akan segera pulang ke rumah ku sendiri. Batin Sina merasa miris.
Dion sepertinya menyadari perubahan suasana hati Sina. Ekspresi Sina tampak tidak benar yang menunjukkan bahwa dia sedang tidak bahagia.
"Lalu bagaimana dengan perut kamu? Masih mual atau rasanya tidak nyaman?" Dion jelas khawatir anaknya bertingkah lagi.
Sina tertegun, kedua tangannya sontak menyentuh perut buncitnya yang mulai agak berisi.
"Perut ku juga tidak apa-apa." Jawab Sina gugup.
"Tapi.. bagaimana kamu tahu aku sering merasa tidak nyaman di bagian kepala dan perut?" Tanya Sina was-was.
Dion terkekeh kecil.
"Aku tahu karena semalam kamu tiba-tiba bangun mengeluh sakit kepala dan ingin muntah. Bagaimana sekarang, apa kepala dan perut kamu jauh lebih nyaman dari semalam?"
Ah, sekarang Sina mengerti. Wajahnya segera santai seraya menganggukkan kepalanya. Bagaimana bisa dia tidak nyaman di saat orang yang dia cintai ada di dekatnya?
"Syukurnya, aku merasa jauh lebih nyaman dari semalam. Ehm.. Dion, terima kasih karena sudah merawat ku semalaman." Ujar Sina tulus.
Pantas saja badannya lebih nyaman dari biasanya ketika dia menghadapi gelombang mengerikan itu. Ternyata ada Dion yang sudah mau merawatnya semalam. Memikirkan ini Sina tiba-tiba semakin merasa bersalah kepada Dion karena sudah memanfaatkan Dion untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi, cinta memang sejatinya bersifat egois dan Sina tidak bisa menampik bahwa ia juga menikmati keegoisan cinta itu sendiri.
Dion tersenyum simpul, duduk di sebelah Sina untuk menikmati waktu sore yang mulai menenggelamkan cahaya matahari.
"Tidak masalah, toh kamu juga sudah membayarnya melalui kesepakatan kita berdua." Jawab Dion ringan.
"Lalu..apa aku bertingkah aneh lagi semalam?" Tanya Sina ragu.
__ADS_1
Dia ingin muntah dan pasti akan muntah. Sina tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Dion saat melihat muntahan yang keluar dari mulutnya.
"Selain mencium dan memelukku sepanjang malam, kamu tidak punya sikap 'aneh' lain lagi." Jawab Dion ambigu.
Sina tertawa kering, wajahnya kian terasa panas setiap kali teringat dengan ciuman panas semalam. Ia juga tidak punya keberanian untuk menatap Dion saat ini karena kilasan waktu itu pasti akan berkilat kembali di dalam kepalanya.
"Oh..ini sudah sore. Tadi pagi kamu bilang mau ke supermarket sore ini tapi sudah jam segini dan kamu masih belum berangkat ke sana. Apa kamu tidak jadi pergi ke supermarket?" Sina mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Dion menggeser duduknya pura-pura tidak nyaman. Salah satu tangannya memijit pundak belakang dengan sebuah helaan nafas panjang.
Dia terlihat kelelahan juga tidak nyaman.
"Aku ingin pergi tapi kamu lihat sendiri aku baru saja selesai bekerja. Karena tidak sempat menyelesaikan pekerjaan semalam hari ini aku terpaksa bekerja dua kali lipat dari waktu biasanya. Alhasil otot-otot ku menjadi kaku dan sakit, aku tidak bisa pergi keluar dalam keadaan seperti ini apalagi sampai harus membawa barang belanjaan." Ujar Dion mengeluhkan rasa 'sakit' yang dibuat-buat, tentu saja.
Dia menekankan setiap keluhan dengan nada tidak berdaya untuk menarik simpati dari Sina.
Sina kian tertekan mendengar keluhan Dion. Meskipun sudah melakukan kesepakatan bersama, tapi Sina tetap tidak bisa melupakan betapa besar dampak yang Dion rasakan karena ulahnya tadi malam.
"Aku..aku.." Sina bangun dari duduknya dan berjalan ke belakang Dion.
"Aku akan memberikan mu pijitan." Ucap Sina ragu Dion akan mengizinkannya.
Dion segera menyingkirkan tangannya dan mempersilakan Sina untuk memulai pelayanan.
"Terima kasih, Sina. Aku sangat terbantu." Dion menyandarkan tubuhnya merasa santai.
Dia sungguh menikmati wangi khas Sina yang lembut dan menenangkan.
"Um."
Sina mengangkat tangannya, menyentuh kedua pundak Dion dengan hati-hati tapi juga dipenuhi perasaan senang. Dia mulai memijit Dion dengan tenaga yang tidak terlalu besar sambil memperkirakan kenyamanan Dion.
Setelah itu mereka tidak berbicara lagi dan kamar ini seketika menjadi sunyi. Mereka berdua memang tidak berbicara tapi hati mereka berdua hanyut dalam suasana manis yang samar. Bibir mereka berdua tersungging menarik sebuah senyuman malu-malu yang syarat akan sentuhan rasa manis yang candu.
"Dion...jika kamu tinggal di sini apakah Tante Ranti tidak marah?" Hanyut dalam cinta, Sina tiba-tiba teringat dengan Nyonya Ranti.
Tapi Nyonya Ranti dan Risa tidak menyukainya.
Kedua orang ini tidak mudah untuk dihadapi. Apalagi Nyonya Ranti sudah mulai menunjukkan rasa tidak sukanya untuk Sina. Sudah pasti orang yang disukai oleh Nyonya Ranti adalah Bela. Wanita yang pantas bersanding dengan Dion menurut Nyonya Ranti hanya Bela seorang.
Tapi Dion tidak menyukai Bela sehingga sulit untuk membuat keinginan Nyonya Ranti terwujud. Dan sekarang Dion tinggal di paviliun dingin bersama Sina. Kabar ini tentu saja semakin membuat Nyonya Ranti tidak menyukai Sina.
Lalu tentang Risa,
Sina tidak tahu bagaimana mengartikan posisi Risa di sini. Pasalnya Risa adalah adik Dion namun sikap dan perilakunya saat ini membuat Sina merasa jika Risa menyukai Dion.
Bagaimana mengatakannya..
Risa selalu dipenuhi rasa cemburu setiap kali Sina punya kedekatan dengan Dion. Awalnya Sina pikir itu wajar saja karena biar bagaimanapun Dion adalah Kakaknya. Namun semakin ke sini Sina semakin merasa jika itu tidak benar.
Risa seolah-olah menunjukkan sikap jika dia sedang cemburu.
"Kenapa dia harus marah? Emang menurut kamu, aku salah ya tinggal di sini sama kamu?" Dion bertanya balik.
Sina gelagapan, menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah di pipi.
"Menurut aku gak salah tapi belum tentu Nyonya Ranti sependapat dengan ku."
Dion mengerti mengapa Sina mengkhawatirkan Nyonya Ranti. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa untuk meredakan kekhawatiran Sina terhadap Nyonya Ranti karena kekhawatiran itu tidak akan pernah terjadi selama ada dia di sini.
"Ini adalah pilihan ku jadi Mama tidak berhak ikut campur." Ujar Dion santai.
"Kamu benar." Gumam Sina mengulum senyum.
"Aku-"
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Ucapan Sina terpotong oleh suara pintu. Sina menoleh ke arah tangga dan memutuskan untuk turun ke bawah menyambut tamu.
"Itu pasti Calista. Aku akan turun dulu membukakannya pintu." Ucap Sina setelah itu berlari kecil menuruni tangga.
Dion merasa ngilu melihat pemandangan ini. Dia sangat takut jika Sina sampai salah melangkah dan berakhir tersandung, situasi itu dapat membahayakan keselamatan Sina dan janinnya. Itu adalah mimpi buruk yang pernah Dion pikirkan selama ini.
"Sina jangan berlari, hati-hati itu adalah tangga-" Belum selesai Dion mengucapkan kata-katanya Sina tiba-tiba berteriak nyaring dari tangga.
"Argh.." Teriak Sina di pertengahan tangga.
"Ya Tuhan, Sina!" Dion tanpa pikir panjang langsung berlari tergesa-gesa menyusul Sina.
Dia turun dari lantai dua dan menghampiri Sina yang sedang diam berdiri menatap kakinya di pertengahan tangga.
"Apa yang terjadi? Apa perut kamu tidak nyaman atau kepala kamu sakit lagi?" Tanya Dion panik sambil memegang pundak Sina menilai.
Sina tercengang, sejenak dia melupakan rasa ngilu di kaki kanannya. Dia ingin tertawa tapi hari nuraninya menolak untuk melakukan itu.
Dion mengkhawatirkan aku?. Batin Sina berbunga-bunga.
"Sina? Katakan apa yang terjadi, dimana yang sakit?" Dion sekali lagi memanggil Sina.
Menarik Sina dari lamunannya.
"Ah..itu.." Sina tersadar dan merasakan kembali rasa ngilu menyengat di kakinya.
"Ada apa?" Dion tidak sabar.
"Aku tadi kurang hati-hati ketika turun tangga, jadinya kaki kanan aku tersandung dan mungkin keseleo." Jawab Sina malu.
Dion menghela nafas panjang, melihat ke arah kaki Sina yang sudah memerah dan mulai bengkak.
"Kamu duduk dulu di sini." Ujar Dion seraya menekan badan Sina ke bawah.
Sina tidak melawan dan mendudukkan dirinya di salah satu anak tangga. Di depan ada Dion yang sedang serius menatap ke arah kaki kanan Sina. Mengangkat kaki kanan Sina hati-hati dan membawanya ke atas paha.
"Dion tidak apa-apa-"
"Diamlah, aku akan memperbaiki posisinya kembali." Potong Dion serius tapi tidak kasar.
Sina langsung menutup mulutnya dengan patuh. Mematuhi Dion untuk tutup mulut dan mengamati semua gerakan tangan Dion dalam diam.
"Sakit.." Ringis Sina ketika Dion menyentuh bagian yang bengkak.
"Tahan yah, ini memang sakit tapi gak akan lama kok." Hibur Dion lembut.
Kedua mata Sina sudah basah menahan sakit. Tapi karena Dion sudah menghiburnya seperti ini Sina tidak mungkin mengabaikannya.
"Tahan.." Ucap Dion lagi sambil menggerakkan tangannya memperbaiki letak urat kaki Sina yang salah.
Kening Sina mengkerut mulai berkeringat dingin karena menahan sakit, dia menggigit kuat bibirnya untuk menahan suara ringisan yang bisa keluar kapan saja bila tidak ditahan.
"Nah sekarang sudah tidak apa-apa. Untuk sementara waktu kamu gak bisa jalan dulu karena kaki kamu masih bengkak. Tunggu beberapa hari lagi dan kamu bisa jalan dengan normal kembali." Ucap Dion lega setelah selesai memijit kaki Sina.
"Terima kasih, Dion. Lagi-lagi kamu membantu ku." Ucap Sina canggung.
Untungnya ada Dion di sini, kalau tidak Sina tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.
"Tidak masalah, lagipula ini adalah tanggung jawab ku." Jawab Dion dengan makna samar.
__ADS_1
Bersambung..