Dear Dion

Dear Dion
50. Liburan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pembicaraan, Sina dan Bela lantas turun ke bawah untuk ikut makan malam bersama di ruang makan. Rencananya mereka akan membicarakan masalah pemulangan Sina setelah selesai makan malam. Calista dan Sina ingin jika masalah ini jangan diberitahukan kepada siapapun dulu sebelum semuanya sudah pasti.


Di ruang makan semua orang makan dalam suasana hati yang baik, terkadang kegiatan rutin tersebut disela dengan beberapa tawa ringan yang menggelitik kebahagiaan semua orang. Bahkan mereka juga sempat-sempatnya membicarakan tentang isu politik yang terjadi di Indonesia. Dalam topik tersebut mereka mengungkapkan pendapat masing-masing, cukup tegang tapi tidak sampai menghancurkan suasana damai yang sudah tercipta di meja makan.


Berbeda dengan semua orang yang terbelit dengan suasana menyenangkan, Sina justru terkurung dalam suasana yang menyiksa. Sejak masuk ke ruang makan, dia tidak terlalu bertingkah seperti hari-hari sebelumnya. Dengan patuh mendudukkan dirinya di kursi paling akhir bersama Calista dan lebih banyak menundukkan kepalanya untuk fokus memakan makan malamnya. Sama seperti sebelumnya, perutnya masih bergejolak untuk menolak makanan-makanan yang ada di atas meja. Tapi untungnya Calista mengerti kondisinya dan dengan perhatian hangat dia memilihkan Sina makanan yang lebih ringan seperti sup atau makanan rendah lemak lainnya.


Sikap pendiam Sina membuat orang-orang yang ada di atas meja terkejut tapi mereka sama sekali tidak mempermasalahkannya karena toh menurut mereka Sina lebih baik diam daripada terus berbicara seperti waktu-waktu yang lalu.


Tapi, tidak semua orang mengharapkan Sina menutup mulutnya dengan damai di sini. Risa, gadis yang sudah berhasil membakar kepercayaan diri Sina tidak ingin melepaskan kesusahan Sina begitu saja. Well, bibit api sudah dinyalakan dan akan sangat sayang rasanya melepaskan api ini begitu saja. Jadi, untuk semakin membesarkan nyala apinya Risa dengan acuh memulai pembicaraan membosankan dengan Sina.


"Apa perut Sina masih terasa tidak nyaman? Kenapa makan malam mu sangat sedikit dan itupun aku perhatikan kamu lebih banyak minum sup."


Sina tersentak, mengangkat kepalanya dia menatap canggung ekspresi mencemooh Risa kepadanya.


"Perutku masih agak bermasalah...jadi, untuk meringankannya aku memutuskan untuk makan sup." Jawabnya malu.


Kira juga tidak ingin ketinggalan, karena Risa sudah menyalakan api lebih besar lagi maka dia juga memutuskan untuk mengirim beberapa potong kayu bakar ke dalam nyala api tersebut.


"Sepertinya makanan keluarga Dion sangat buruk sehingga perut Sina tidak bisa menerimanya dengan baik. Mungkin koki keluarga Sina lebih cakap memasak daripada tangan sederhana Bik Mur." Ucapnya bercanda, tertawa ringan untuk menyamarkan sindirannya.


Sina panik dan takut pada saat yang bersamaan, mata sayunya tanpa sadar melihat Dion yang kini sedang menatapnya dengan kening berkerut.


"Tidak, ini bukan seperti itu. Masakan Bik Mur sangat enak dan aku juga menyukainya. Hanya saja..asam lambung ku sedikit bermasalah akhir-akhir ini sehingga aku kesulitan memakan makanan berat." Sina menggigit bibirnya canggung.


Kira tidak mau melepaskannya, "Oh ya, tapi setahuku-"

__ADS_1


"Dia punya penyakit asam lambung dan akhir-akhir ini sering kambuh. Itulah kenapa nafsu makannya menurun dan dia juga mengalami kesulitan untuk mencerna makanan berat. Kak Kira adalah seorang dokter dan pasti tidak asing dengan penyakit asam lambung, entah itu gejala atau efek samping yang ditinggalkan penyakit ini. Jadi, akan sangat mengherankan jika Kakak terus menerus memojokkan Sina di sini. Seolah-olah Sina melakukan semua ini untuk merendahkan keluarga kami, padahal sudah jelas-jelas dia sedang sakit dan tidak dibuat-buat tapi Kak Kira terus saja menyudutkan." Potong Calista tidak sabar.


Matanya yang jernih menatap langsung ke dalam mata Kira, menguncinya tanpa takut dan tidak memberikannya kesempatan untuk melarikan diri.


Suasana yang ada di meja makan langsung menjadi canggung. Orang-orang yang tadinya sempat mengangkat sendok mereka kini mulai menaruhnya kembali di atas piring. Memperhatikan interaksi panas antara Kira dan Calista.


"Menyudutkan apa.. kenapa aku harus menyudutkan Sina?" Kira tertawa canggung, melirik orang-orang yang ada di sekitarnya mulai fokus menatapnya.


Calista tersenyum simpul, meletakkan peralatan makannya di atas piring makan dengan santai. Dia masih menatap lurus wajah pucat Kira, mengabaikan tatapan penuh protes dari Sina.


"Aku juga bertanya-tanya sebenarnya, apa tujuan Kak Kira terus saja menyudutkan Sina setiap kali kita berkumpul di meja makan. Padahal Sina adalah tamu di rumah ini dan belum pernah bertemu dengan Kak Kira sebelumnya. Dia juga tidak mengenal Kakak tapi anehnya apapun yang dilakukan Sina seolah menjadi kesalahan di mata Kakak. Ini terlihat terlalu jelas setiap kali Kakak bertemu Sina." Katanya serius.


Calista tidak takut mendapatkan kritikan dari siapapun karena dia pikir tindakannya ini benar. Dia membuka kedok Kira dihadapan keluarganya agar mereka tahu seperti apa perilaku perempuan ini.


Di dalam hatinya sekarang dia sangat mengutuk keras Calista karena sudah merusak kesenangannya. Padahal tadi dia sempat senang melihat ekspresi tertekan Sina tapi itu tidak bertahan lama karena Calista ikut campur dan bahkan berhasil memperlakukan Kira.


"Oh ya, Mama'kan punya berita penting yang akan disampaikan untuk kita semua. Daripada membicarakan hal yang tidak-tidak lebih baik kita mendengarkan berita penting apa yang Mama akan sampaikan kepada kita." Risa mengalihkan topik dengan mulus.


Mengerti maksud putrinya, Nyonya Ranti lantas langsung bekerja sama dengannya untuk menjaga suasana harmonis yang sempat tercipta.


"Ah ya, benar aku punya kabar baik untuk semua orang." Nyonya Ranti memperbaiki duduknya senyaman mungkin.


Dia melanjutkan, "Besok kita akan pergi ke daerah T untuk liburan. Rencananya kita di sana akan kemah selama beberapa hari dan melakukan kegiatan santai untuk merilekskan pikiran dari pekerjaan yang melelahkan. Semua orang harus ikut pergi liburan dan tidak diizinkan untuk menolak. Jadi, malam ini kalian harus menyiapkan pakaian atau barang-barang yang perlu dibawa besok karena rencananya kita akan berangkat pukul 08.00 pagi."


Ini adalah kesempatan yang bagus untuk liburan, apalagi Bela juga ada di sini sehingga Nyonya Ranti tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk membuat waktu ternyaman bagi Dion dan Bela untuk terus mengembangkan perasaan mereka.

__ADS_1


Mendengar pengumuman Nyonya Ranti yang begitu tiba-tiba, Sina dan Calista sontak saling pandang. Wajah mereka menggambarkan isi masing-masing yang dipikirkan. Jika mereka tidak diizinkan menolak maka sudah bisa dipastikan jika Sina tidak bisa pulang besok. Dia harus menunggu selama beberapa hari lagi untuk bisa pulang ke rumah.


Ini memang diluar dugaan dan Sina tidak punya ruang untuk menolak pengaturan ini. Hah, hanya beberapa hari saja dan Sina tidak akan mengeluh tentang itu. Dia berencana menjaga jarak dari Dion-oh, lebih tepatnya berjanji tidak akan muncul di depan Dion. Takutnya dia melihat Dion sedang berbagi kasih dengan Beka, itu akan sangat menyakitkan pastinya.


"Nanti kita akan bicarakan di dalam kamar." Bisik Calista yang langsung diangguki pelan Sina.


...🌺🌺🌺...


Semua orang sudah beranjak dari duduknya menyisakan Dion yang terlihat dingin menatap air putih yang ada di depannya. Karena Dion masih belum ingin pergi Bela memutuskan untuk menemani Dion di sini. Dia pikir mungkin ada sesuatu yang sedang Dion pikirkan.


"Kira," Panggil Dion acuh tanpa mengalihkan perhatiannya menatap Kira yang akan keluar dari ruang makan.


"Ya, Dion?" Jawab Kira cepat seraya berjalan kembali ke ruang makan.


Dion bangun dari duduknya, mengangkat wajah dinginnya dan menatap wajah Kira yang tampak santai.


"Jangan mencoba melewati batas ku di masa depan. Aku punya batasan untuk setiap orang dan itu juga berlaku untuk kamu. Ketika ada yang melewatinya mataku tidak bisa membedakan kaki siapa yang menyentuhnya, entah itu teman atau orang asing bahkan sahabat atau keluarga bagiku mereka sama saja. Mengganggu." Tersenyum dingin, Dion lalu membawa langkah dinginnya berjalan meninggalkan Kira dan Bela yang masih berdiri kaku.


Setelah beberapa langkah, Dion tiba-tiba menghentikan langkahnya seraya berkata. "Untuk urusan hati aku ini sangat kejam lho. Jadi berhati-hatilah untuk tidak mengusik ketenangan ku di masa depan." Peringatnya santai.


Setelah itu dia tidak ragu melangkah menjauh tanpa memberhentikan langkah dinginnya yang panjang dan beraturan. Punggung kokohnya yang tegap perlahan menghilang dari pandangan Kira dan Bela. Meninggalkan sensasi dingin di dalam pikiran masing-masing.


"Apa yang Dion maksud itu Sina?" Bisik Bela bingung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2