Dear Dion

Dear Dion
78. Tentang Risa


__ADS_3

Seringkali dia jatuh dalam keadaan ini. Lelah dan bingung dengan rencananya yang masih belum menemukan titik terang. Dia sudah lelah menahan sabar namun Tuhan masih belum mau memberikannya kesempatan. Sekuat apapun dia bersabar Tuhan seolah menutup mata kepadanya.


"Jika saja aku tidak menjadi adik angkatnya, mungkin Kak Dion tidak akan ragu menyukai ku." Bisiknya berharap.


Dia adalah anak angkat yang Nyonya Ranti adopsi dari sebuah panti asuhan diluar kota. Mereka pertama kali bertemu ketika Nyonya Ranti dan Tuan Edward datang ke sebuah panti asuhan sebagai donatur yayasan perusahaan mereka.


Flash Back On


"Hari ini kita akan kedatangan tamu yang sangat penting jadi kalian semua harus menggunakan pakaian yang bagus dan tampil cantik untuk menarik perhatian mereka. Jika beruntung kalian akan diadopsi oleh salah satu tamu penting itu jadi bersikaplah baik dan manis di depan mereka." Suara pengurus panti menyemangati anak-anak asuhannya.


Menyalakan api harapan agar mereka mau bekerja sama dengan pengurus panti.


Semua anak sangat antusias ketika mendengar kata 'adopsi'. Tidak terkecuali dengan gadis usia 5 tahun yang kini sedang melompat-lompat tidak sabar.


Wajah cantiknya memerah menunggu gilirannya untuk mendapatkan sebuah gaun putih yang sangat indah. Gaun ini sengaja panti siapkan untuk kedatangan para tamu penting itu sehingga momen ini sangat berharga untuk semua anak panti.


Mereka bisa menggunakan sesuatu yang tidak pernah berpikir gunakan sebelumnya.


"Ini gaun untuk Risa, lihat.. gaunnya sangat cantik'kan?"


Tiba gilirannya, pengurus panti memperlihatkan Risa gaun yang akan dikenakan. Gaun selutut itu sangat cocok bila dipadukan dengan tubuh mungil milik Risa yang putih mulus.


"Sangat cantik, Risa suka Bunda." Ungkap Risa kecil langsung jatuh cinta dengan gaun tersebut.


Bunda, panggilan untuk pengurus panti juga setuju dengan apa yang Risa kecil katakan. Entah mengapa Bunda seolah merasa jika gaun ini memang sengaja dibuat khusus untuk Risa kecil.


"Bagus, sekarang Risa pergi mandi dan minta Bunda Lia memakaikan Risa gaun ini yah." Pesan Bunda seraya memberikan Risa kecil gaunnya.


Risa kecil langsung mengambil gaunnya dari bunda dan memeluknya dengan erat. Dia masuk ke dalam kamarnya dan bertemu dengan teman-teman yang sebaya. Sama seperti Risa kecil, mereka semua juga senang dengan gaun masing-masing. Saling memamerkan gaun diiringi dengan nada cemburu khas anak-anak.


Pameran itu tidak berlangsung lama karena Bunda Lia tiba-tiba masuk ke dalam kamar untuk membubarkan mereka. Bunda Lia mengintruksikan mereka semua agar segera membersihkan diri jika ingin mendapatkan orang tua baru.


Sontak saja mereka semua langsung melepaskan gaun masing-masing dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Cukup beberapa menit mereka sudah selesai dan dibantu untuk menggunakan gaun masing-masing oleh Bunda Lia.


Prosesnya tidak membutuhkan waktu yang lama karena gaun mereka juga tidak terlalu rumit.


"Nah, sekarang kalian bisa keluar dan menyambut tamu kita dengan senyuman yang manis. Ingat, tampil yang baik dan manis agar mereka mau menjadikan kalian sebagai anaknya." Bunda Lia mengingatkan mereka sebelum membiarkannya keluar dari kamar.


Risa kecil mengikuti teman-temannya keluar dan berbaris rapi di depan halaman panti asuhan. Mereka berbaris rapi menunggu rombongan tamu penting yang akan menjadi orang tua angkat mereka.


Setengah jam menunggu tiba-tiba barisan mobil mewah perlahan memasuki halaman panti asuhan. Satu persatu orang yang ada di dalam mobil turun dan menyapa anak-anak dengan senyuman lembut.


Dari dalam mobil mereka keluar berbagai macam kado yang sudah dibungkus indah untuk anak-anak panti.


Risa kecil berdiri malu-malu menatap para orang dewasa yang menyapa mereka melalui salam hangat. Risa ingin seperti teman-temannya tidak takut mendatangi para orang dewasa itu. Namun, Risa kecil tidak bisa karena dia pada dasarnya orang yang pemalu dan penakut.


Sampai akhirnya seorang wanita cantik tiba-tiba berjongkok di depannya.


"Hallo?" Sapanya dengan senyuman yang amat sangat lembut.


Kehangatan itu segera melunakkan pertahanannya.


"Hai, Tante." Sapa Risa kecil malu-malu.

__ADS_1


Wanita itu menjabat tangan Risa.


"Nama kamu siapa cantik?" Tanya wanita itu penasaran.


Diantara semua anak gadis di panti anak inilah satu-satunya yang paling menonjol. Entah itu dari sikap malu-malunya atau dari wajahnya yang cantik dan manis. Semuanya menarik perhatian wanita dewasa itu.


"Namaku Risa...Tante." Jawab Risa kecil malu-malu.


Bibir wanita itu tertarik membentuk senyuman yang manis.


"Risa..nama yang bagus, sama seperti pemiliknya." Katanya menilai.


Risa kecil menganggukkan kepalanya masih malu,"Terima kasih, Tante."


Wanita itu lalu menggenggam tangan Risa kecil dan mengelusnya dengan lembut seraya menatapnya serius.


"Risa mau jadi anak Tante, gak?" Tanyanya hati-hati.


Risa kecil terkejut, kedua bola matanya yang tadi malu-malu kini membesar menatap tidak percaya pada wanita itu.


"Kalau Risa jadi anak Tante mulai dari hari ini Risa akan panggil Tante dengan panggilan 'mama'. Lalu, Risa tidak tinggal lagi di sini melainkan akan ikut pulang bersama Tante ke rumah. Rumah Tante sangat besar dan luas, ada juga banyak mainan jadi Risa tidak akan bosan. Oh ya, Tante juga punya seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Jika Risa mau jadi anak Tante maka anak laki-laki itu akan menjadi Kakak Risa. Bagaimana?" Ujar wanita itu sangat bersemangat ingin segera membawa Risa pulang ke rumah.


Gadis cantik ini harus menjadi bagian dari keluarganya.


"Sungguh?" Risa kecil sangat tertarik ketika mendengar kata mainan.


Wanita itu mengangguk meyakinkan,"Ya, tentu."


"Jadi Risa mau?" Wanita itu malah bertanya.


"Mau, Tante" Kepala kecilnya mengangguk lucu.


Wajah cantiknya bersemu merah memperlihatkan kepolosan anak kecil yang sangat manis. Wanita itu segera membawa anak itu ke dalam pelukannya.


"Mulai sekarang Risa harus panggil aku 'Mama'. Jangan lagi panggil 'Tante' karena mulai sekarang Risa adalah anak Mama."


Risa kecil sudah tidak malu lagi dan memberanikan diri untuk memanggil wanita itu dengan panggilan 'Mama'.


"Oke, Ma." Suaranya mematuhi.


Lalu hari itu mereka langsung menyelesaikan semua prosedur adopsi di panti asuhan. Mengandalkan pengaruh keluarga mereka selama ini, prosedur adopsi tidak memakan banyak waktu dan sangat cepat. Jadi hari itu juga Risa kecil pulang kembali bersama mereka ke rumah.


🌸🌸🌸


Risa kecil tiba di sebuah rumah mewah setelah menempuh perjalanan jauh. Dia menatap gedung tinggi yang ada di depannya dengan tatapan takjub.


"Ayo masuk dan bertemu Kak Dion." Mama menuntunnya masuk ke dalam rumah.


Masuk ke dalam rumah lagi-lagi Risa kecil dibuat tercengang karena apa yang dia temukan di dalam rumah ini tidak pernah dia temukan di panti asuhan. Ini adalah pengalaman yang sangat baru untuk Risa kecil.


"Dion... Dion, turun sayang. Mama ada kejutan untuk kamu." Teriak Mama memanggil Dion, orang yang akan menjadi Kakaknya.


"Kenapa, Ma?" Seorang anak laki-laki tinggi turun dari lantai dua dengan pandangan acuh dan ketidak pedulian.

__ADS_1


Sorot dinginnya sama sekali tidak menatap Risa kecil dan mengabaikannya seolah-olah tidak ada orang di samping kedua orang tuanya.


"Sini, kenalan sama adik kamu. Namanya Risa, cantik'kan?" Mama menarik Dion ke depan Risa ingin memperkenalkan mereka berdua.


"Oh, ya." Dion sama sekali tidak tertarik dan mengangguk ringan kepada Risa sebagai salam.


"Kamu jangan gitu dong sama Risa, mulai dari sekarang kan kalian keluarga jadi jangan terlalu cuek kepada adik kamu." Mama mencubit pipi Dion yang cemberut, membujuknya untuk lebih akrab lagi dengan Risa.


Dion menyingkirkan tangan Mama dari pipinya dan sekali lagi mengangguk ringan kepada Risa sebagai salam yang kaku.


"Aku Dion, Kakak kamu." Setelah mengatakan itu dia kembali naik ke lantai dua, lebih tepatnya kembali ke dalam kamarnya.


Risa kecil tidak pernah mengatakan apa-apa saat pertama kali bertemu dengan Dion. Meskipun tidak mengatakan apa-apa hatinya sudah menandai Dion sebagai seseorang yang sangat penting. Dia ingin terus dekat dengan Kakaknya itu.


Alhasil apa yang terjadi selanjutnya di rumah itu adalah keseruan Risa untuk mendekati Dion. Dia berusaha mendekati Dion dengan cara ikut berbaur dengan teman-teman main Dion. Apapun akan dia lakukan agar bisa mendapatkan simpati dari Dion.


Semuanya berjalan lancar dan Dion juga sudah menerimanya. Risa sangat senang akhirnya bisa berbicara dengan Dion secara santai. Namun kebahagiaan Risa tidak bertahan lama karena suatu hari Dion tiba-tiba menghilang dan membuat semua orang menjadi panik.


Mereka mencari keberadaan Dion selama berhari-hari sampai 4 hari kemudian Dion tiba-tiba dibawa pulang oleh pasangan suami-istri asing. Risa tidak tahu apa yang kedua orang tuanya bicarakan dengan mereka karena itu adalah urusan orang dewasa.


"Kak Dion, aku kangen banget sama Kakak." Risa dengan wajah menangis berlari memeluk Dion.


Namun sebelum dia bisa memeluknya, Dion sudah lebih dulu menghentikannya. Dia mendorong Risa dengan acuh tak acuh sambil mengatakan,


"Enyah." Katanya dingin.


Risa hanya senang Dion bisa pulang kembali. Namun setelah Dion pulang ke rumah dia berubah menjadi lebih pendiam dan suka mengurung diri di dalam kamar. Banyak psikiater yang datang ke rumah mengatakan jika Dion sebenarnya tidak punya masalah yang serius.


Setelah periode mengurung diri Dion sekali lagi bertingkah aneh. Dia sangat sering keluar dari rumah dan pulang setelah matahari tenggelam. Mengabaikan Risa yang ada di rumah dan lebih senang keluar rumah.


"Kak Dion mau kemana? Risa boleh ikut, enggak?" Risa memeluk lengan Dion, merengek manja untuk mendapatkan perhatian Dion.


Tapi Dion tidak perduli dan melepaskan tangan Risa tanpa memperhatikan ekspresi sedih Risa.


"Jangan membuat masalah." Lalu dia langsung pergi meninggalkan Risa.


Mulai saat itu Dion tidak lagi perduli dengan Risa dan bahkan itu juga sama untuk keluarga yang lain. Dia lebih acuh dari sebelumnya dan hanya ingin keluar menemui seseorang.


Sampai akhirnya Dion bertemu dengan Bela. Dia kembali tertawa tapi tidak lama karena satu bulan kemudian dia meminta Papa mengirimnya ke Belanda. Tinggal di sana bertahun-tahun tanpa sempat menanyakan kabar Risa.


Risa menjadi tidak nyaman di dalam hatinya dan tidak rela jika Kakaknya tidak memperhatikannya. Dia pikir ini hanya perasaan saudara tapi nyatanya dia salah karena setelah beranjak remaja dia akhirnya mengerti kenapa dia tidak rela melihat Dion dekat dengan orang lain.


Itu karena dia menyukai Dion.


"Kak Dion hanya bisa menjadi milikku." Sejak dia menyadari perasaannya sejak itu pula dia berambisi merebut Dion dari siapapun yang ingin mengambilnya.


Flash Back Off


"Hahahaha...aku baru ingat Kak Dion mulai tertawa sejak bertemu Bela. Semua sikap dingin Kak Dion kepadaku itu semua karena Bela sialan!" Dia tertawa rendah menertawakan kebodohannya.


"Bela, aku akan menghancurkan kamu!"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2