Dear Dion

Dear Dion
70. Pesta


__ADS_3

Tidak ada siapapun di kamar ini begitu Sina bangun dari tidurnya. Ia juga sempat kaget ketika melihat waktu sudah menunjukkan pukul 9 siang, waktu yang sangat terlambat untuk bangun tidur. Tapi anehnya, tidurnya terasa jauh lebih nyaman dan diapun tidak pernah terbangun di tengah malam.


Hem..


Sebenarnya Sina sempat bangun di tengah malam dan mendapati dirinya di dalam pelukan Dion. Tapi itu sangat meragukan sehingga Sina menganggap dia tidak pernah bangun semalam dan dia juga hanya menganggap bangun di dalam pelukan Dion adalah bagian dari mimpinya.


Mimpi yang begitu nyata.


"Dia sudah pergi..pasti semalam dia kembali ke rumah utama saat tengah malam. Pekerjaannya sangat banyak semalam jadi tidak mengherankan dia pulang dini hari."


Sina kemudian bangun dari tidurnya, melihat tidak tertarik pada sarapan yang sudah di atas meja dan sebuah kotak?


Dia langsung membuka kotak itu tanpa berlama-lama, ada gaun putih terlipat rapi di dalamnya diikuti dengan selembar surat singkat yang ditulis dengan indah.


Nanti malam gunakanlah baju ini,-Dion.


Sina mengangkat gaun putih itu dengan gugup, jujur..dia sedikit terkejut karena gaun putih yang ada di depannya ini sangat sesuai dengan gayanya. Panjang selutut dan tidak terlalu terbuka, dalam artian lain ini sangat sederhana tapi berkualitas tinggi. Kainnya juga lembut, sudah pasti sangat nyaman untuk kulitnya nanti.


Ini sederhana, tidak butuh banyak gaya, tidak butuh banyak jaitan tapi Sina tahu harganya tidak murah. Ini pasti karya desainer dan seharusnya dibuat setelah ada pemesanan.


"Sayangnya itu hanya dugaan ku saja karena Dion tidak mungkin menghubungi desainer untuk membuatkan ku baju. Lagipula jika iya, sang desainer tidak akan bisa secepat itu membuat baju ini dalam waktu semalam. Juga...aku ini adalah tamu yang dihukum di rumah ini sehingga Dion tidak harus memberikan perhatian ini. Yah, dia mungkin hanya asal beli saja." Tuturnya menghibur diri.


Sina tidak berani lagi menyentuh baju itu lama-lama karena dia takut membuatnya kotor atau rusak. Dia mengembalikannya ke dalam kotak bersama surat itu, terakhir dia memasukkannya ke dalam lemari.


Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkannya dirinya. Selesai mandi dia segera ganti baju dan menggunakan pakaian rumahan selutut. Bedak bayi favoritnya yang harum adalah tahap terakhir acara bersih-bersihnya yang singkat.


Sekarang saatnya sarapan atau mungkin Sina sebut sebagai makan siang. Dia berencana tidak akan pergi makan siang ke rumah utama karena tidak mau makan dimeja yang sama dengan Kira dan Bela, biang masalah yang memfitnahnya.


"Lihat apa yang Bik Mur masak untukku hari ini." Sina membuka tudung saji.


"Eh, bubur putih dan..ini masih hangat?" Bingungnya.


Dia meraba-raba sisi mangkuk dan piring yang ada di atas meja untuk memastikan keterkejutan. Benar, mereka semua masih hangat seolah baru dimasak beberapa puluh menit yang lalu.


"Bik Mur gak mungkin kirimin aku makanan di atas jam 8 untuk waktu sarapan, kecuali ada orang lain yang masakin aku jam segini. Tapi itu mustahil deh, karena satu-satunya orang yang gak terganggu sama kehadiran aku di rumah ini hanya Bik Mur saja. Jadi..yah, mungkin ini memang Bik Mur nya yang masak kesiangan." Dia menduga Bik Mur tidak akan kesiangan mengirimkannya makanan.


Tapi faktanya hanya Bik Mur saja yang perduli padanya di rumah ini sehingga itu tidak mungkin orang lain yang memasak.


"Ini bukan masakan Bik Mur.." Gumam Sina ragu saat memasukkan setengah sendok bubur ke dalam mulutnya.


Ini jelas bukan buatan Bik Mur karena rasanya juga bukan gaya Bik Mur. Lalu, jika ini benar-benar bukan buatan Bik Mur maka buatan siapa makanan ini?


"Tapi perutku juga tidak menolaknya, yang mengejutkan lagi pagi ini aku tidak muntah sama sekali meskipun masih ada perasaan tidak nyaman di dalam perutku." Katanya lagi lebih terkejut.


Satu sendok lagi, satu sendok lagi, satu sendok lagi. Dia terus menggumamkan ini di dalam hatinya seraya menebak-nebak siapa yang membuatkannya bubur ini.


"Bagaimana jika ini buatan Bela?" Dia menebak ngeri, menatap kosong pada mangkuk bersih yang ada di depannya.

__ADS_1


"Aku akan menanyakannya kepada Bik Mur!" Katanya bertekad.


Setelah itu Sina menghabiskan waktunya berolahraga ringan di dalam Paviliun dingin dengan berjalan ringan bolak-balik di dalamnya. Kegiatan itu terus diulangi sampai dia benar-benar merasa cukup kelelahan. Lalu, dia akan membaringkan dirinya di atas sofa seraya bersantai menghadap ke arah jendela paviliun dingin yang menampilkan taman rumah Dion yang hijau dan menyegarkan.


Untuk meluangkan waktu membosankan ini, dia juga terkadang berselancar ke dalam dunia internet guna mencari tahu makanan yang bagus untuk perkembangan tumbuh anaknya.


"Aku harus membeli susu..anakku butuh susu.." Katanya sembari menahan kantuk.


Sina sadar setelah hamil dia memang mudah mengantuk dan kelelahan, keinginan tubuhnya selalu menjadi tempat yang hangat dan nyaman untuk merebahkan diri. Seperti halnya sofa ini.. rasanya begitu lembut dan hangat..


Lambat laun mulai merayu Sina untuk memejamkan matanya, masuk ke dalam dunia mimpi yang tidak berujung.


Dia tertidur, sangat pulas.


...🌸🌸🌸...


Pukul setengah delapan malam Sina sudah siap dengan gaun putihnya. Dia memadukan gaun putih polos miliknya dengan sepatu Hells gaya Loafer berwarna hitam dan make up yang tipis.


Penampilannya sangat sederhana dan terlihat natural, mencerminkan sifat anak remaja yang begitu rendah hati dan naif.


Setelah semuanya siap, kini dia tidak tahu harus melakukan apa. Otaknya berpikir keras apakah dia harus keluar lebih dulu untuk mencari Dion atau Dion yang akan datang menjemputnya ke sini. Namun, jika Sina yang akan keluar mencarinya maka itu adalah bencana besar!


Dia tidak berani melewati jalan itu karena ini sangat gelap tanpa pencahayaan. Akan tetapi, jika Dion yang akan datang ke sini menjemputnya maka ini adalah pilihan terbaik.. walaupun dia agak gugup.


"Sudah siap?"


"Yah.. aku.. sudah siap." Jawab Sina gugup.


Dion benar-benar datang menjemputnya!


Setelah itu Dion tidak lagi mengatakan apa-apa namun matanya terus saja memperhatikan Sina. Membuat orang yang ditatap menjadi salah tingkah dan panik pada saat yang bersamaan, dia takut jika penampilannya sangat jelek karena kebodohannya yang tidak bisa menggunakan make up!


"Di masa depan, gunakanlah warna lipstik yang ringan dan tidak berminyak karena bibir kamu lebih cocok dengan yang lebih ringan." Dion tiba-tiba mendekati Sina, menyentuh bibir Sina dengan sapu tangan putihnya.


Tubuh Sina sontak menjadi kaku, dia tidak bisa bergerak dan bahkan tanpa sadar menahan nafas berada sedekat ini dengan Dion.


"Aku.. mengerti." Jawabnya malu setelah Dion berhenti mengusap bibirnya.


"Baiklah, ayo kita pergi."


Dion mengangkat lengan kirinya, mempersilakan Sina untuk memegangnya. Sina memang terkejut juga ragu pada awalnya, tapi dia tidak menolak memegangnya karena di dalam hati sejujurnya dia sangat senang.


"Ayo."


Mereka lalu keluar dari Paviliun dingin, berjalan ringan melewati jalan gelap yang ditakuti Sina. Anehnya, dia tidak takut sama sekali berjalan dijalan gelap ini bersama Dion. Dia malah merasa jauh lebih aman dan nyaman pada saat yang bersamaan, yang lebih penting juga perutnya tidak membuat ulah.


"Dimana yang lain?" Tanya Sina penasaran.

__ADS_1


Pasalnya, dia tidak menemukan Bela dan kedua orang tua Dion di dalam rumah. Tidak ada siapapun di sini kecuali para pembantu yang masih aktif bekerja.


"Mereka sudah jalan duluan." Jawab Dion singkat.


Sina tidak bertanya lagi sampai mereka menuju mobil Dion yang sudah terparkir rapi di depan rumahnya. Dia secara naluriah ingin masuk dan duduk ke kursi depan di samping Dion. Akan tetapi sebelum dia bisa melakukan itu, pintu depan tiba-tiba terbuka menampilkan seseorang yang ingin sekali Sina hindari.


"Malam, Sina?" Sapanya ramah lengkap dengan senyuman palsunya.


"Malam..Bela." Sapa Sina enggan.


Jadi di sini juga ada Bela. Batinnya kecewa.


Dia mengalihkan pandangannya tidak ingin berlama-lama menatap wajah Bela. Dia juga malu melihat Dion karena sempat salah paham mendapatkan perhatian Dion, seharusnya dia tidak boleh bersikap tidak tahu malu seperti ini. Dia harus malu mengharapkan perhatian laki-laki yang sudah memiliki wanita lain di dalam hatinya.


Tidak tahan, Sina langsung masuk ke dalam kursi belakang dengan perasaan kecewa. Dia tidak bisa menahan kecewa ketika tahu ada Bela juga di dalam mobil Dion, ya.. salahkan kepolosannya yang lagi-lagi berharap lebih dengan perhatian Dion.


Dion dan Bela.


Tangan Sina tanpa sadar menyentuh perutnya. Mengusapnya dengan lembut seraya membisikkan sebuah kata-kata di dalam hatinya.


Nak, wanita itu adalah kekasih Papamu. Cantik'kan?


...🌸🌸🌸...


Di dalam mobil Sina menghabiskan waktunya menatap ke arah luar. Dia tidak berani melihat ke depan karena takut membuat hatinya semakin sakit, jika emosinya menurun maka yang akan kena imbasnya adalah anak ini.


Sina tidak mau menyakitinya.


"Dion, Mama sama Papaku dari kemarin nanyain kamu terus lho. Mereka bilang mau ketemu sama kamu, udah lama kamu gak pernah ke rumah." Sina mendengar suara manis Bela yang dibuat-buat.


"Aku sibuk." Balas Dion datar.


Matanya bahkan tidak melirik Bela saat berbicara. Suasana hatinya sedang buruk sehingga dia tidak mau diganggu. Dan itu akan lebih buruk lagi jika orang yang ada di kursi belakang tidak pernah mengatakan apa-apa, hanya diam memandangi jalanan tanpa minat.


Bela tidak menyerah, dia sangat ingin menunjukkan kepada Sina jika Dion hanya bisa menjadi miliknya jadi Sina seharusnya tidak berharap lebih.


"Aku juga udah jelasin tentang kesibukan kamu sama mereka dan mereka langsung memakluminya. Sekarang kamu akhirnya punya waktu, mereka pasti sangat senang melihat kedatangan kamu."


Bela menanti dengan gugup respon Dion, kedua tangannya bahkan saling meremat saking gugupnya. Tapi lagi-lagi dia harus dibuat kecewa karena respon Dion sama singkatnya seperti pertama. Malahan, ini lebih datar lagi sehingga Bela tidak punya mood lagi untuk melanjutkan percakapan.


"Hem, baguslah."


Mungkin Dion kelelahan, pikir Bela positif.


Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara dan suasana yang ada di dalam mobil sangat canggung. Mereka bertiga terjebak dalam suasana hati yang buruk dan menjengkelkan, sangat tidak nyaman.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2