
"Apa dia gila? Memukuli anak kecil di tempat umum?" Orang-ojrang mulai berbisik sinis, mencemooh perilaku kasar Sina terhadap anak kecil itu.
"Usianya sudah besar tapi otaknya masih seperti anak kecil, dia terlalu kekanakan!"
"Iya, dia mungkin tidak punya teman-"
"Dia tidak punya malu-"
"Memukuli anak kecil di tempat umum-"
"Dia sangat sombong-"
"Apa orang tuanya tidak bisa mendidiknya-"
Rasanya sangat panas di dalam hatinya, Sina marah sekaligus benci dengan ucapan sok tahu mereka. Padahal sudah jelas-jelas anak kecil ini terlebih dahulu yang mencari masalah kepadanya tapi kenapa yang disalahkan adalah dirinya?
Sina tidak bisa memaafkannya!
"Kakak cantik..hiks.. tangan ku sangat sakit jadi aku tidak bisa bermain lagi dengan mu...jadi tolong... tolong biarkan aku pergi..aku tidak bisa lagi menerimanya.." Anak kecil itu memohon kepada Sina.
Dihadapan semua orang dia terlihat rapuh dan menyedihkan, membangkitkan simpati penuh kasih mereka kepada anak kecil itu dan memilih menutup mata dengan ekspresi terkejut dari Sina. Mereka pikir paling-paling Sina hanya berekting saja untuk menutupi kesalahannya.
"Apa?" Tanya Sina kosong.
"Siapa yang memukulinya! Jelas-jelas dia yang pertama menghalangi ku dan memukul perut ku sampai terasa sakit. Kalian jangan tertipu dengan sandiwaranya karena anak ini sangat sombong dan pandai menyembunyikan wajah aslinya." Sina berteriak marah sambil menunjuk-nunjuk ke arah anak itu.
Dia menjelaskan kepada orang-orang bahwa anak ini sangat licik dan mereka tidak seharusnya percaya dengan apa yang anak ini katakan.
Salah satu orang yang menonton mencela pembelaan Sina, "Apa kamu pikir kami semua bodoh dan tidak bisa melihat? Anak ini masih kecil tapi kamu begitu berani memukulnya. Kemudian, kamu bilang dia memukuli perutmu sampai sakit? Hei, dia pasti tidak akan berani melakukannya kepadamu karena dia masih kecil. Atau kalau memang dia benar memukuli mu maka mungkin itu bentuk perlawanan darinya terhadap kekerasan yang kamu lakukan kepadanya. Dia memukul kamu tapi aku yakin rasanya tidak sakit sama sekali."
"Sungguh, perutku sangat sakit.. percayalah kepada ku." Ucap Sina meyakinkan.
Wajahnya memang agak pucat tapi mereka memilih tutup mata terhadap itu. Karena poinnya Sina adalah orang yang salah, bertengkar dengan seorang anak kecil dan bahkan sampai memukulinya bukanlah hal yang baik. Sina perlu mendapatkan hukuman karena perbuatannya ini.
"Nak, jangan terlalu biasakan dirimu berbohong. Apalagi-"
"Aku tidak berbohong! Aku sama sekali tidak berbohong!. Anak ini adalah anak yang licik-"
"Siapa yang licik?"
Ucapan Sina terpotong, dari kerumunan dia melihat seorang wanita anggun berjalan ke arahnya dengan wajah tersenyum tapi tidak bisa sampai ke mata Sina.
__ADS_1
Wanita ini pasti Ibunya, batin Sina menebak.
"Mama!" Teriak anak itu senang sambil berlari masuk ke dalam pelukan Ibunya.
Seolah-olah kedatangan Ibunya adalah penyelamat yang dia tunggu-tunggu.
"Lho, tangan dedek kenapa? Kok berdarah, nak?" Wanita yang dipanggil Mama melihat siku anaknya terluka.
Langsung saja dia segera meraihnya dan mendapati jika ada sesuatu yang salah dengan anaknya. Wajahnya sembab karena menangis dan tangannya berdarah karena tergores batu. Situasi merugikan ini membuat jiwa Ibunya langsung berkobar marah.
"Mama.. Kakak itu.. Kakak cantik itu yang memukul dedek sampai jatuh ke tanah hiks.. tangan dedek jadi berdarah.. sakit, Ma.." Cerita anak kecil dengan ekspresi yang memilukan.
Para Ibu yang ada di sana sontak tersihir dengan ekspresi rapuh anak ini, mereka mengerti betul betapa sakitnya hati wanita itu ketika melihat anak yang dibesarkan diperlakukan salah oleh orang lain. Apalagi jika sampai memukulinya, sungguh itu adalah perbuatan yang tidak bisa diterima.
"Maksud dedek gadis ini?" Tunjuk Mama kepada Sina.
Anak itu mengangguk takut-takut setelah itu langsung menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan sang Mama.
"Kamu," Mamanya kini beralih menatap Sina.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada anakku?" Tanyanya dengan ekspresi tidak bersahabat.
Sekalipun wanita ini adalah Ibu anak ini tapi dia tidak akan gentar karena sejak awal yang salah adalah anak ini.
Wanita itu tidak percaya begitu saja, "Bagaimana mungkin kamu tidak melakukan apa-apa melihat betapa takutnya anakku ketika melihat mu, lihat, sikunya juga berdarah karena tergores benda keras. Hem... kebohongan mu terlalu jelas."
Sina mengepalkan kuat kedua tangannya menahan kesal, "Dia membuat masalah lebih dulu, memblokir jalan ini untuk keegoisannya sendiri. Tentu saja aku tidak mau mendengarkannya karena bagaimanapun juga aku adalah penyewa di sini sama seperti kalian, oleh karena itu aku tidak mendengarkan larangannya dan melanjutkan perjalanan ku. Tapi dia keras kepala dan malah memukuli perutku, karena terasa sakit aku terpaksa mendorongnya menjauh dan berakhir terjatuh ke tanah. Aku sungguh tidak berbohong, ini adalah kejadian yang sebenarnya. Aku tidak kenal anakmu jadi aku tidak punya alasan untuk mengganggunya apalagi sampai memukulinya."
Seharusnya penjelasan ini cukup masuk akal menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Apalagi sebagai seorang Ibu wanita ini pasti sangat mengenal tingkah laku anaknya ini, Sina yakin dia akan menyelesaikan kesalahpahaman ini.
"Bohong, anakku sangat penurut dan penakut kepada orang asing. Kamu pasti-"
"Sina?" Suara bariton Dion mengalihkan perhatian mereka berdua.
Sontak Sina menatap antusias kedatangan Dion, akan tetapi ketika mengingat harapan bertepuk sebelah tangannya dia menjadi malu dan tidak berani menatap langsung ke mata Dion.
Dion dan yang lain baru saja menyelesaikan rapat dadakan mereka. Dia rencananya akan segera kembali ke tenda akan tetapi tiba-tiba dia melihat keributan di sini. Awalnya dia tidak tertarik tapi saat dia mendengar suara Sina semua fokusnya langsung teralihkan. Dia berjalan ke dalam kerumunan dan menemukan Sina sedang berdiri kesal di depan Nyonya Xia, istri dari CEO perusahaan H yang kini sedang menjalin kerjasama dengannya.
"Sina, apa yang sedang terjadi di sini?" Dion berjalan ke arah Sina dan dengan alami berdiri di sampingnya.
Sina malu juga canggung karena masalah ini pasti membuat Dion semakin tidak menyukainya.
__ADS_1
"Aku-"
"Jadi, Tuan muda mengenal gadis ini?" Nyonya Xia segera memotong ucapan Sina.
Dion dengan sopan menganggukkan kepalanya, "Benar Nyonya, dia adalah tamu penting di rumah ku."
Disebutkan sebagai tamu penting, sebuah senyuman samar terbentuk di wajah Nyonya Xia. Dia melirik ekspresi malu Sina dengan pandangan cemoohan yang mencela.
"Tuan muda, apakah Anda tahu jika tamu penting Anda ini sudah membuat putri semata wayang saya terluka?" Nyonya Xia memperbaiki cara bicaranya lebih anggun dari sebelumnya.
Dion mengernyitkan keningnya tidak percaya, dari sudut matanya dia melirik Sina yang kini hanya menunduk menatap tanah. Kedua tangannya mengepal kuat dan agak bergetar, Dion tebak pasti Sina-nya sangat marah saat ini.
"Aku tidak tahu, maka bisakah Nyonya Xia menjelaskan secara singkat bagaimana Sina membuat putri Nyonya terluka?" Tanya Dion seraya melirik anak kecil yang kini sedang bersarang di dalam pelukan Nyonya Xia.
"Tuan muda, tamu penting Anda ini telah memukuli putri saya. Bahkan, dia juga mendorong putri saya ke tanah dan membuat tangannya berdarah." Katanya sambil menunjukkan siku yang tergores.
Dion menganggukkan kepalanya ringan, setelah itu dia meraih tangan Sina dan menggenggamnya dengan lembut. Sontak Sina terkejut dan mengangkat kepalanya menatap Dion dengan tatapan yang canggung.
"Kembali ke tenda mu untuk beristirahat dan tunggu aku kembali, ingat..jangan pergi kemanapun sebelum aku datang." Pesan Dion kepada Sina.
Tercengang, Sina tidak tahu harus merespon apa karena dia tidak berharap Dion akan menyuruhnya kembali ke tenda. Dia pikir Dion akan memarahinya di depan banyak orang dan membuatnya malu. Tapi ternyata Dion tidak melakukan itu dan malah menyuruhnya kembali ke tenda.
"Aku-"
"Tuan muda, Anda harus ingat jika perusahaan kita berdua kini sedang mengerjakan proyek yang besar. Untuk kerjasama itu saya mohon Anda tidak membuat saya kecewa." Nyonya Xia mengingatkan dengan ramah, dalam arti lain dia baru saja memberikan sebuah ancaman.
Dio tersenyum tipis, mata hitamnya yang jernih memantulkan sinar rembulan yang mempesona.
"Nyonya, tentu saja aku tidak lupa." Katanya singkat.
"Pergilah dan tunggu aku kembali." Perintah Dion lagi.
Sina menganggukkan kepalanya canggung, dia melepaskan tangannya dari Dion dan berjalan keluar dari kerumunan. Sina tidak tahu apa yang akan Dion bicarakan di sana, entah itu Dion menyalahkannya atau tidak Sina tidak bisa menebaknya. Dia tidak ingin berharap oleh karena itu dia tidak ingin menebak secara acak apa yang Dion bicarakan di sana. Lagipula wanita itu tadi bilang jika perusahaan mereka berdua punya kerjasama sebuah proyek yang besar, jadi Sina tahu mungkin Dion akan membela anak itu.
"Hah..hari ini sangat melelahkan." Gumam Sina merasa lelah.
"Sina, tunggu Om!" Panggil Tuan Edward tergesa-gesa.
Sina langsung menghentikan langkahnya dan menemukan jika Tuan Edward ada dibelakangnya. Dia terlihat terengah-engah karena berlari, mungkin dia dari tadi mengejar Sina.
Bersambung..
__ADS_1