
Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan secara tidak langsung mengakui kekalahannya dari gadis sakit mental itu. Diam menikmati buaian angin sore, tangan kanannya perlahan menyentuh perutnya yang masih belum mengalami perubahan yang signifikan. Agak membengkak tapi masih belum cukup untuk menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. Untuk berjaga-jaga dia juga sengaja menggunakan pakaian yang lebih longgar agar perutnya bisa bernafas-ah, lebih tepatnya agar anak yang ada di dalam merasa lebih nyaman.
"Calista?"
"Kemarilah, Sina." Calista menggeser duduknya agar Sina bisa duduk di sampingnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sina khawatir.
Beberapa waktu yang lalu Calista tiba-tiba menelpon dan memintanya untuk datang ke taman. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh karena itu dia meminta Sina datang ke taman. Tapi, Sina tidak terlalu memikirkan permintaannya karena dia hanya fokus mendengarkan suara Calista yang sedikit murung. Dari suaranya saja dia bisa menyimpulkan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan Calista.
"Aku baik-baik saja," Calista menjawab dengan senyuman yang dipaksakan.
"Kamu.. tidak harus memendamnya sendirian karena kamu tidak sendiri di sini. Ada aku yang siap mendengarkan kamu, meskipun tidak bisa memberikan saran atau solusi yang baik tapi setidaknya aku tidak akan pernah memberitahu orang lain tentang masalah mu. Calista, kamu bisa membicarakannya denganku." Sina tahu bagaimana perasaan Calista sekarang.
Karena dia juga pernah mengalaminya, ini seperti hidup sendiri tanpa ada orang yang menemani. Lalu, kehidupan yang terbiasa akan kesepian semakin ditekan dengan masalah yang sangat sulit dihadapi. Masalah yang menuntut untuk dikeluarkan, dilepaskan, dan dibicarakan dengan orang-orang yang mau mendengarkan dengan tulus.
Calista, meskipun baru saling mengenal tapi Sina tahu jika orang seperti Calista sangat suka memendam masalah sendirian dan enggan untuk membicarakannya dengan orang lain. Namun, meskipun begitu tapi dia juga punya masa-masa sulit. Masa dimana dia butuh didengarkan dan mengeluarkan tekanannya, Sina bisa merasakannya.
"Sina.." Calista menatapnya tulus, sebuah cairan bening mengalir lembut di atas pipinya. "Kamu sangat baik." Katanya sambil terisak-isak.
Calista menutup wajahnya seraya menangis, melampiaskan kekesalan hatinya yang tidak kunjung mendapatkan kedamaian. Di saat dia sedang terisak menyakitkan, tiba-tiba sebuah perasaan hangat melingkupinya. Menepuk-nepuk punggungnya sayang yang ajaibnya langsung membuat dirinya tenang. Dia merasa tenang dan tangisannya semakin tidak terkendali di dalam pelukan Sina.
"Bagus, menangislah sekeras mungkin agar hatimu menjadi lebih nyaman." Hibur Sina seraya menepuk lembut punggung Calista.
Terkadang, menangis adalah cara terbaik untuk melampiaskan perasaan sesak yang memenuhi hati. Dan terkadang menangis adalah cara terbaik untuk menenangkan hati daripada membicarakannya.
Yah, menangis adalah puncak dari ketidakberdayaan manusia dalam mengatasi beban hati dan pikirannya. Terdengar pengecut memang tapi setidaknya ini adalah cara terapuh yang Tuhan ciptakan untuk membuat hamba-Nya berbalik melihat-Nya.
...🌺🌺🌺...
Setelah menenangkan Calista di dalam kamarnya, Sina kemudian keluar dari kamar ingin mengambil makanan di dapur untuk mereka berdua. Rencananya malam ini Sina tidak ikut bergabung makan malam bersama yang lain karena Calista saat ini sedang membutuhkan dirinya.
Cklak
Saat Sina menutup pintu kamarnya kebetulan dia bertemu dengan Dion yang juga baru saja keluar dari kamar. Mereka saling tatap selama beberapa detik, yah..hanya beberapa detik karena setelah itu Dion langsung mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Begitu enggan menatap wajah Sina.
Canggung, Sina tidak tahu dimana letak salahnya sampai-sampai Dion memberikannya bahu dingin.
"Apa kamu ingin turun juga?" Tanya Dion memecah keheningan.
Sina mengangguk ringan, "Aku akan ke dapur untuk mengambil makan malam." Jawab Sina hati-hati mengamati perubahan ekspresi Dion.
Dion mengerutkan keningnya terganggu, "Kamu tidak ikut makan malam bersama yang lain?" Tanyanya menebak.
"Malam ini aku tidak bisa ikut tapi malam selanjutnya aku tidak akan melewatkannya." Jawab Sina masih belum memuaskan Dion.
"Kenapa kamu tidak bergabung bersama kami di meja makan?" Sadar atau tidak, ada nada keluhan di dalamnya.
Sina tidak langsung menjawab tapi kedua matanya yang gugup melirik ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat. Bagi Dion, gerakan mata ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Sina di dalam kamarnya. Berbicara tentang kamar, mungkinkah ada laki-laki yang Sina coba sembunyikan di dalam kamar itu?
Memikirkannya membuat urat ketidaksenangan Dion menonjol kakuk menahan amarah. "Apa kamu menyembunyikannya laki-laki di dalam?" Tanya Dion dingin.
Sina terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya panik, "Tidak ada siapapun di dalam kamarku." Kata Sina membantah.
"Apa kamu pikir aku akan percaya?" Ejek Dion kesal.
Tanpa menunggu respon Sina, dia langsung meraih gagang pintu kamar Sina bermaksud membukanya. Namun, Sina tidak membiarkan hal itu terjadi dan dengan cepat menghentikan Dion. Dia memeluk lengan Dion kuat dan dengan pandangan memohon yang melankolis.
Dion mengangkat alisnya tidak sabar.
"Di dalam..ada Calista. Malam ini dia menginap di dalam kamarku tapi tidak ingin memberi tahu siapapun tentang keberadaannya di sini. Oleh karena itu aku ke dapur untuk mengambil makan malam untuk kami berdua karena Calista tidak ingin orang-orang tahu keberadaannya di sini." Sina menjelaskan dengan panik dan jujur.
Tidak menyembunyikan apapun agar keingintahuan Dion terpuaskan.
Mendengar penjelasan Sina, pegangan tangan Dion di gagang pintu perlahan melonggar.
"Apakah kamu mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Dion memastikan.
Sina menganggukkan kepalanya serius.
__ADS_1
Menghela nafas lega, Dion lalu melepaskan gagang pintu kamar Sina tapi tidak melepaskan tangan Sina dari lengannya. Dia bersikap seolah-olah tidak melihat hal intim apa yang Sina lakukan kepadanya.
"Apakah dia baik-baik saja?" Calista terbilang gadis yang kuat dan cukup pandai melobi suasana hatinya.
Karena ia pandai maka sangat mengkhawatirkan jika Calista yang biasanya kuat tiba-tiba berkabung seperti ini. Tentu saja Dion bisa menebaknya mengapa Calista tiba-tiba bersembunyi di kamar Sina dan tidak ingin orang lain tahu tentang keberadaannya.
Jawabannya sudah pasti karena Calista sedang dalam suasana hati yang buruk.
Sina ragu tapi tetap menganggukkan kepalanya.
"Dia sudah jauh lebih tenang dari tadi sore."
"Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?" Ketika gadis-gadis berkumpul kegiatan mereka tiada lain dan tiada bukan saling mencurahkan hati masing-masing.
Berbagi masalah yang mereka hadapi dan berbagi solusi untuk masalah yang mereka hadapi.
"Calista masih belum mengatakan apa-apa tapi walaupun belum mengatakan apa-apa kamu bisa yakin jika dia jauh lebih baik dari tadi sore. Setidaknya, dia masih mau makan dan berbicara seperti biasanya." Semenjak Calista menangis di taman keadaannya jauh lebih terkendali dan tenang.
Jadi, Sina tidak berharap banyak jika Calista akan membicarakan masalahnya.
Dion menghela nafas lega. "Maka aku tidak akan khawatir lagi." Katanya bersyukur.
Sina merasa lega dan membuka mulutnya akan mengatakan sesuatu. Namun, sebelum dia bisa mengeluarkan suaranya Dion tiba-tiba berjalan melewatinya tanpa mengatakan apapun.
Sina langsung tercengang dan dibuat kebingungan dengan sikap Dion panas dingin. Bayangkan saja, tadi Dion bersikap sangat protektif kepadanya tapi dalam hitungan detik sikapnya kembali menjadi dingin. Padahal Sina hampir saja menganggap Dion cemburu kepadanya karena reaksinya dingin saat mengira ada laki-laki lain di dalam kamar Sina. Dia berpikir jika Dion cemburu tapi pikiran itu langsung sirna begitu Dion bersikap dingin lagi kepadanya.
Ada apa ini?
Kenapa Dion bersikap selayaknya gadis pms yang sensitif, benar-benar tidak masuk akal!
Sejujurnya, Sina merasa ada sesuatu yang salah di sini. Hati kecilnya berbisik jika Dion masih menyukainya namun pikirannya berteriak jika Dion sebenarnya tidak menyukainya. Yah.. buktinya Dion begitu berbeda dengan Dion yang ia kenal 3 minggu yang lalu.
"Dia.. mungkin masih belum keluar dari periode stresnya menghadapi kesibukan perusahaan." Hibur Sina mencoba menghilangkan rasa kehilangannya.
Bersambung...
__ADS_1