
"Namaku Bela, senang bertemu dengan mu, Sina." Bela memperkenalkan dirinya dengan sopan dan suara yang lembut juga bersahabat.
Deg
Seketika, senyum Sina langsung membeku ketika merasakan hawa dingin yang perlahan mengaliri punggungnya. Membekukan semua saraf-sarafnya sampai batas dimana dia kesulitan untuk mengeluarkan suara.
Calista langsung menyikut pinggang Sina, memberikannya petunjuk agar dia segera menyambut uluran tangan Bela.
"Sina sepertinya masih terpesona dengan kecantikan Kak Bela.." Katanya bercanda untuk mencairkan suasana kaku diantara mereka berdua.
Bela menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah diwajahnya yang cantik. Wajahnya sangat merah menunjukkan betapa pemalu dirinya.
"Aku sangat lapar jadi lebih baik kita segera ke ruang makan." Sina melangkah mundur.
Tersenyum ringan tanpa rasa bersalah dia kemudian pergi menuju ruang makan terlebih dahulu. Membuat Bela malu dihadapan Calista sebagai pengenalan yang ramah untuk seseorang yang berniat mengambil Dion darinya.
"Oh.. Sina ternyata sangat lapar." Ujar Bela malu setelah terang-terangan diabaikan Sina.
Padahal dia sama sekali tidak mengenal Sina dan bahkan tidak pernah bertemu dengannya, tapi kenapa sikapnya begitu acuh disaat pertemuan pertama mereka?
Bela tidak mengerti sirkuit otak Sina.
"Aku meminta maaf atas namanya," Ucap Calista malu dan juga terkejut pada saat yang bersamaan.
Dia tidak pernah mengira jika Sina juga bisa memberikan sikap tidak bersahabat seperti itu.
"Kak Bela harus yakin jika ada sesuatu yang salah dengan Sina hari ini karena biasanya Sina adalah gadis yang baik dan mudah berteman." Lanjutnya menjelaskan untuk menyelamatkan citra hangat Sina.
Bela menganggukkan kepalanya pura-pura mengerti, padahal dia tahu betul jika Sina tidak menyukainya. Lihat saja tatapan bermusuhannya tadi, sekali lihat saja Bela langsung tahu jika Sina tidak mau berkenalan dengannya. Sina tidak ingin dekat dengannya tapi Bela bingung mengapa Sina tidak menyukainya.
"Aku mengerti."
Bela dan Calista lalu menyusul Sina ke ruang makan. Suasana tegang yang hidup tadi langsung dilempar ke belakang oleh Bela karena dia pikir itu wajar saja Sina tidak bersikap baik kepadanya karena mereka belum saling mengenal.
__ADS_1
Yah, mereka bisa saling mengenal secara perlahan karena Bela juga tinggal di rumah ini untuk waktu yang lebih lama dari sebelumnya.
...🌺🌺🌺...
Sina masuk ke ruang makan dan langsung bergegas ke tempat duduknya seperti biasa. Namun, sebelum dia bisa mendudukkan dirinya di atas kursi Nyonya Ranti lebih dulu menghentikannya.
"Maaf Sina, kursi ini sudah di tempati sama Bela. Tidak sopan rasanya mengambil kursi yang sudah ditempati orang lain. Kamu bisa duduk di kursi yang kosong, kebetulan ada beberapa kursi yang masih kosong di sana." Ucap Nyonya Ranti seraya menunjuk deretan kursi yang bisa dibilang menjadi bagian terakhir.
Sina mengikuti arah jari telunjuk Nyonya Ranti dan merasa sedikit bermasalah lagi, pasalnya kursi itu begitu jauh dan yang paling penting dia tidak bisa lagi dekat dengan Dion selama makan.
Jadi, Sina menolak dengan alasan yang jelas. "Maaf Tante, Sina bukannya tidak mau duduk di sana dan tidak bermaksud pula merebut tempat duduk Bela karena kursi ini sebelumnya Dion berikan khusus kepadaku. Dia bilang hanya aku yang bisa duduk di kursi dan orang lain tidak diizinkan."
Ketika dia mengatakan ini matanya sempat melirik ekspresi Dion yang tampak biasa-biasa saja, sepertinya Dion masih marah kepadanya pikir Sina.
Senyuman Nyonya Ranti membeku di tempat, dia kemudian melirik putranya yang masih tidak bergerak dan berekspresi datar. Jelas sekali putranya tidak ingin diganggu.
"Tapi Bela baru saja duduk di sini sehingga Tante tidak enak memintanya pindah." Nyonya Ranti bersikeras.
Untuk Bela, calon menantu pilihan terbaiknya ini dia akan melakukan apa saja untuk membuatnya tetap dekat dengan Dion. Karena Bela adalah satu-satunya gadis yang berhasil menarik Dion dari masa lalunya.
Senang sekali rasanya melihat ekspresi tertekan Sina yang terlihat tidak bisa melakukan apa-apa.
"Aku memang datang terlambat tapi seharusnya kamu bisa mencegah Bela duduk di kursi ku karena saat Dion memberikan tempat duduk ini kepadaku, kamu juga ada di sini'kan?" Sina masih menolak untuk mengalah.
Sifat keras kepalanya yang tersembunyi kini muncul di waktu yang menegangkan. Dia tidak ingin menyerahkan apa yang diberikan Dion langsung kepadanya karena biar bagaimanapun itu adalah pemberian Dion.
Risa mencibir betapa keras kepalanya Sina, "Bagaimana bisa aku mencegahnya sedangkan Kak Dion sendiri tidak mengatakan apa-apa saat Kak Bela duduk di sana."
Sina langsung tidak bisa mengatakan apa-apa, mata jernihnya yang mulai memerah menatap tidak percaya ke arah Dion yang masih tidak merubah ekspresinya. Sina bertanya-tanya, apakah Dion juga tidak nyaman mencegah Bela untuk duduk di kursi ini?
"Aku yang meminta Bela untuk duduk di sini, lagipula kursi ini tidak hanya satu jadi kamu bisa duduk di tempat manapun yang kamu suka. Tidak perlu merebutkan hal sepele dan membuat makan malam kita menjadi berantakan." Berlainan dengan harapan Sina, Dion justru mengatakan sesuatu yang membuatnya langsung menahan nafas.
Hal sepele?
__ADS_1
Sina tidak mengerti mengapa Dion tiba-tiba mengatakan kata-kata tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa hal ini dianggap sepele disaat posisi duduk ini diberikan langsung oleh Dion sendiri. Sina tiba-tiba merasakan perasaan kecewa di dalam dadanya.
Dia bertanya-tanya di dalam hatinya bagaimana mungkin ini dianggap masalah sepele?
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Suara lembut Bela mengalihkan perhatian semua orang menatap gadis cantik yang baru masuk ke dalam bersama Calista.
Begitu mereka masuk, Bela melihat Sina sedang berbicara dengan Dion di kursi yang dia tempati tadi.
Melihat kedatangan Bela, Sina segera membuka mulutnya untuk mengatakan keluhannya. Namun sebelum itu terjadi Calista tiba-tiba menarik tangannya menjauh dari kursi itu.
"Baiklah, kita akan segera makan jadi masalah ini kita lupakan saja." Ucap Calista memecah ketegangan, menarik tangan Sina untuk mengikuti langkahnya menuju kursi yang sempat ditunjuk tadi oleh Nyonya Ranti.
Dia menarik Sina ke sana dan mulai duduk untuk bersiap makan malam. Calista tahu jika suasana hati Sina sedang buruk, oleh karena itu dia berinisiatif sendiri untuk menyiapkan piring Sina dan mengambilkannya berbagai macam makanan. Menaruhnya tepat di depan Sina yang terlihat pucat dan sayu.
Calista menyentuh pinggang Sina dan membisikkannya sesuatu.
"Makanlah, kamu terlihat tidak baik-baik saja sekarang. Nanti, setelah makan malam masalah ini bisa dibicarakan di dalam kamar. Kau lihat, aku juga di posisi yang sulit sekarang. Tepat di depan kita berdua ada Ridwan dan Kira yang sedang makan bersama, kamu bisa bayangkan betapa tersiksanya aku sekarang." Bisik Calista dengan suara rendah.
Sina segera mengangkat kepalanya, menatap ke depan dia memang menemukan ada Ridwan dan Kira yang sedang makan bersama. Lalu, Sina kemudian mengalihkan perhatiannya menatap Calista yang mulai sibuk makan. Jika dilihat sekilas, orang-orang akan tertipu dengan ekspresi santainya. Namun, jika diperhatikan lebih teliti wajah Calista justru menampilkan sosok sendu yang sedang berpura baik-baik saja.
Tuhan tahu betapa tersiksanya kami malam ini. Batinnya miris.
Dia lalu memperhatikan makanan yang ada di depannya. Sejujurnya, semua yang ada di atas piringnya sangat layak untuk dikonsumsi dan terlihat begitu lezat. Akan tetapi asam lambung Sina berulah lagi, dia tiba-tiba merasa mual melihat semua hidangan ini. Perutnya bergejolak tidak tahan menahan bau berminyak makanan yang ada di atas meja. Dia seolah merasa sedang dikelilingi tumpukan sampah busuk dengan bau yang menyengat.
Sina tidak tahan dengan perasaan mengerikan ini, dia segera bangun dari duduknya dan membuat semua orang menatap dirinya.
Sina merasa malu, tapi badannya sangat lemas sekarang sehingga dia ingin segera kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Aku..sudah selesai, kalian lanjutkan saja makan malamnya." Ucap Sina undur diri.
Setelah mendapatkan respon persetujuan dari Nyonya Ranti, dia kemudian keluar dari ruang makan seraya berpura-pura tidak melihat tatapan mata penuh cibiran dari orang-orang yang ada di atas meja dan segera kembali ke dalam kamarnya. Merebahkan dirinya dengan perasaan letih yang membingungkan karena hari ini dia tidak melakukan kegiatan yang melelahkan. Malahan hari ini dia lebih banyak tertidur dibandingkan bergerak jadi sangat membingungkan jika dirinya tiba-tiba merasa lemas dan letih saat ini.
"Jika aku tahu asam lambung akan semenyusahkan ini, aku mungkin tidak akan bolos makan dan dengan patuh makan apapun yang mereka buatkan untuk ku." Bisiknya mengenang suasana rumah.
__ADS_1
Dia lemas dan ingin beristirahat, tidak punya waktu untuk memikirkan tentang kejadian di meja makan. Entah itu perhatian Dion kepada Bela yang ambigu atau mata permusuhan beberapa orang, Sina tidak ingin lagi memikirkannya!
Bersambung..