
Mereka akhirnya sampai di depan rumah megah milik keluarga Bela. Halaman rumah yang sudah dihias berbagai macam dekorasi bunga dan lilin tampak indah di malam hari. Keindahan itu semakin menarik tatkala banyak perempuan-perempuan cantik berhias berbagai macam perhiasan tersebar luas di halaman maupun di dalam rumah.
Pesta ini seolah dibuat untuk ajang pencarian pasangan dan bukan pesta politik.
"Ayo turun, kedua orang tuaku sudah menunggu di dalam." Ajakan Bela ditujukan kepada Dion.
Sina sadar diri dia hanya akan menjadi pihak ketiga di sini, oleh karena itu dia langsung membuka pintu mobil dan turun. Dia sama tidak memperhatikan gerakan kaku Dion ketika melihatnya langsung keluar tanpa mengatakan apapun.
Menghela nafas panjang, Dion kemudian turun dari mobil dan menyusul Sina yang masih berdiri di samping mobil menunggu mereka keluar. Dia berjalan mendekati Sina seraya mengancingkan jas hitamnya.
Mereka berdua berdiri bersamaan dengan pikiran rumit masing-masing. Sina sedang menunggu Dion membuka pintu untuk Bela karena mereka adalah pasangan sedangkan Dion malah menunggu Bela keluar sendiri.
Beberapa menit menunggu, Dion maupun Bela tidak bergerak sama sekali sehingga Sina menjadi bingung. Dia melirik Dion penasaran, orang yang dia lirik bisa merasakan arah lirikan Sina. Setelah seperti ini, Dion menghela nafas panjang tidak berdaya. Dia mengetuk pintu mobil beberapa kali.
Tuk
Tuk
Tuk
Bela menurunkan kaca mobil dan menatap Dion dengan ekspresi imut.
"Ya, Dion?" Tanya Bela dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
Sina sampai bergidik mendengarnya.
"Kenapa kamu diam saja di mobil, ayo keluar sebelum orang tua kamu menunggu lama." Kata Dion dengan ekspresi datar.
Bela,"...." Bukankah dia harus membukanya pintu agar terlihat romantis?
"Oh..aku akan segera keluar." Meskipun tampak konyol tapi Bela berusaha tetap terlihat anggun di depan Dion.
Apalagi mereka saat ini sedang dipandang banyak pasang mata sehingga dia harus mengendalikan wibawa dan emosinya.
Setelah dia turun dari mobil, Bela secara alami meraih lengan Dion untuk dirangkul. Akan tetapi sebelum dia bisa meraih tangannya, Dion sudah lebih dulu menghentikan gerakannya.
"Bersikaplah sewajarnya dan jangan mengundang kesalahpahaman." Peringat Dion dingin.
Bela terkejut dan sontak menarik tangannya menjauh. Dia takut juga panik melihat sorot mata Dion yang dingin. Rasanya mengerikan, Bela tiba-tiba merasa terancam saat bertatapan langsung dengan mata dingin Dion.
"Aku..aku minta maaf tapi kakiku masih sakit. Aku tidak bisa berjalan dengan normal tanpa ada pendukung beban tubuhku." Bela segera mencari alasan.
Dia menggunakan luka bakar dikakinya sebagai alasan agar dia bisa berjalan bersama dengan Dion.
Dion melirik kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi. Di dalam hati dia bertanya-tanya apa semua wanita segila ini tentang penampilan?
Padahal dia tahu kakinya sedang cidera tapi harus memaksakan diri menggunakan hak tinggi kalau sakit.
"Baiklah, lakukan sesuka hatimu." Putus Dion tidak perduli seraya melirik Sina.
Dia ingin melihat apakah Sina cemburu atau tidak. Tapi sayangnya Sina tidak memenuhi harapannya karena saat ini dia terlihat sangat sibuk melihat dekorasi pesta yang cantik.
Hah..benar saja, dia masih kekanak-kanakan. Batin Dion merasa lucu.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju tempat pesta dan langsung disambut oleh kepala pelayan keluarga Bela yang sangat kompeten.
"Tuan, Nyonya.. silakan." Katanya mempersilakan.
Sina berjalan di belakang mereka berdua, dia selama ini selalu memperhatikan kedekatan Dion dan Bela dari belakang. Bahkan cincin berlian yang ada ditangan kiri Bela tidak luput dari perhatiannya.
Cincin berlian itu..
Ah, Sina ingat. Cincin itu adalah cincin berlian yang Sina temukan di dalam kamar Dion. Saat itu dia sangat bodoh berpikir jika cincin itu untuknya dan begitu berani menggunakannya di jari manis, membuat Dion marah dan membencinya.
Sekarang, cincin yang dia dambakan kini tersemat di jari manis milik Bela. Terlihat cantik dan mempesona sama seperti pemilik tangan, cincin itu memang dibuat khusus untuk Bela.
Memikirkan kebodohannya di masa lalu, Sina tanpa sadar menyentuh perutnya yang agak kembung. Mengelusnya ringan untuk menyampaikan kehangatan pada sang bayi yang masih belum menumbuhkan anggota tubuh.
"Ma, Pa, selamat malam." Bela menyapa kedua orang tuanya dengan senyum sumringah.
Tahu jika dirinya tidak dibutuhkan di sini, Sina lalu menggeser tubuhnya agak menjauh dari mereka. Dia tidak mau mengganggu acara temu kangen kedua keluarga yang sangat harmonis.
Sina berjalan menuju tempat yang agak jauh dari keramaian dan berjanji akan kembali jika Dion atau Bela memanggilnya.
__ADS_1
Selain karena tidak mau mengganggu acara temu kangen mereka, Sina juga tidak terbiasa berada di keramaian seperti ini. Dikelilingi orang-orang dengan latar belakang luar biasa, ini sama sekali bukan gaya hidup Sina. Dia lebih suka berada di tempat yang tenang apalagi saat ini dia sedang hamil dan butuh suasana sehat untuk janinnya.
"Hei, kamu sendirian aja."
Sina segera mengalihkan perhatiannya ke asal suara. Beberapa meter jaraknya berdiri seorang laki-laki tinggi sambil membawa segelas minuman ditangan kirinya.
Dia berjalan mendekati Sina, memasang senyum menggoda guna menarik perhatian Sina.
"Minum?" Tawar laki-laki itu.
Sina menggelengkan kepalanya menolak dan mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak darinya. Di tangan laki-laki itu ada segelas koktail dan baunya sangat menyengat hidungnya.
Karena indera penciumannya sangat sensitif setelah hamil, Sina mencoba untuk menjauhinya agar perutnya tidak membuat masalah lagi
"Hahahaha..kamu imut banget.." Dia tertawa keras, mengabaikan tampilan formalnya yang anggun.
"Aku tidak bisa mencium bau alkohol." Ujar Sina jujur.
"Terlalu imut..kamu pasti tidak pernah mencoba hal-hal keras seperti ini. Aku tahu..aku tahu..kamu masih gadis yang murni, ini adalah harta karun." Laki-laki itu mengucapkan kata-kata yang tidak jelas, entah mengapa firasat Sina mengatakan jika dia bukan orang yang baik.
Lalu dia mundur lagi beberapa langkah agar laki-laki asing itu tidak bisa menjangkaunya jika dia mempunyai niat yang jahat.
"Kamu pasti Sina, gadis menyebalkan yang dibicarakan Bela." Kata laki-laki itu santai, menutup mata pada ekspresi waspada Sina.
Oh..jadi dia adalah orang-orang wanita munafik itu. Batin Sina tidak terkejut.
Karena laki-laki ini adalah bagian dari Bela maka kewaspadaannya semakin tinggi. Dia tidak mau lengah seperti kemarin saat Bela dengan lancar memfitnahnya.
"Tidak buruk, kamu sama sekali tidak terlihat menyebalkan. Menurutku kamu sangat imut dan penakut..yah, karakter kamu ini sangat cocok untuk.." Laki-laki itu menatap Sina dari bawah sampai ke atas.
Menilai bagian tubuh Sina yang peka terhadap sentuhan dengan pandangan sensual terang-terangan.
"Bermain di atas ranjang." Lanjutnya seraya menyesap gelasnya ringan.
"Dasar gila!" Umpat Sina kesal sekaligus marah karena dilecehkan secara tidak langsung oleh laki-laki itu.
Dia berjalan ingin melarikan diri dari laki-laki itu namun tindakannya jelas sudah bisa ditebak laki-laki itu. Dia segera mengejar Sina dan menghalangi langkahnya melarikan diri.
"Yo, nona cantik. Kita masih belum bersenang-senang tapi kamu sudah ingin melarikan diri. Bukankah ini terlalu kejam?" Tanyanya dengan ekspresi yang menyedihkan, itu jelas hanya dibuat-buat.
Dia ingin melepaskan tangannya tapi tenaga laki-laki ini terlalu besar. Dia tidak sanggup melawannya.
"Kita adalah pasangan nona manis, jadi-"
"Siapa yang pasangan?" Tanya Dion dingin.
Dion tiba-tiba ada di sini entah sejak kapan tidak ada yang tahu. Pandangan matanya yang tajam dan mengintimidasi menyapu tangan laki-laki yang masih menggenggam pergelangan tangan Sina.
"Di-Dion..ini..aku gak maksud itu..aku hanya bercanda saja." Laki-laki itu segera menjauhkan tangannya dari Sina dan menjelaskan dengan gugup kepada Dion.
Dion berjalan mendekati Sina, mengangkat pergelangan tangan Sina yang sudah memerah karena ulah laki-laki itu.
"Dimas.. bercandaan mu ini sudah terlalu jauh." Ucap Dion masih dengan nada yang sama.
Dia mengelus kulit merah Sina dengan hati-hati seraya meniupnya lembut. Membuat Sina dan laki-laki itu terperangah di tempat.
"Tahukah kamu, aku paling benci dengan orang-orang yang menyentuh milikku sembarangan. Aku pikir mereka sudah bosan hidup." Ucap Dion masih fokus merawat pergelangan tangan Sina.
Milikku?. Batin Sina tertegun.
Kedua pipinya sontak terasa panas dan mulai memerah.
Dimas merasakan punggungnya menjadi dingin dan otaknya langsung mengingatkan jika Dion bukanlah orang yang mudah untuk ditangani.
"Aku.. sungguh minta maaf.. aku sama sekali tidak berniat menyakitinya.." Dimas rasanya ingin berlutut untuk meminta pengampunan Dion.
Selain tidak ingin memprovokasi Dion, dia juga tidak mau merusak ikatan dua keluarga yang sudah ada bertahun-tahun lamanya.
"Enyah, anggap saja aku memaafkan mu." Perintah Dion masih dengan nada mengintimidasi.
Dimas tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung pergi setelah berulang kali menyampaikan permohonan maafnya.
"Kenapa kamu ke sini gak bilang dulu sama aku?" Tanya Dion suram.
__ADS_1
"Aku.. tidak mau mengganggu pertemuan kalian." Jawab Sina jujur.
Dia tidak mau membuat banyak alasan karena saat ini suasana hati Dion sepertinya tidak baik. Apakah pembicaraan mereka berjalan dengan lancar?
"Ayo pulang." Dion menggenggam tangan Sina dan menariknya pergi.
"Tapi.. pestanya masih belum dimulai." Kata Sina mengingatkan.
"Biarkan saja, toh mereka tidak akan masalah meskipun kita pulang." Jawab Dion acuh tak acuh.
Suasana hatinya masih suram, Hem.. sangat suram.
"Lalu.. bagaimana dengan Bela? Dia pasti sedih kamu tiba-tiba tidak ada di sini." Tanya Sina ragu-ragu.
"Dia sekarang bersama orang tuanya jadi kenapa dia harus sedih aku pergi?" Dion bertanya balik.
Sina menjadi gugup,"Bukankah itu karena kalian pasangan kekasih?" Suaranya sangat kecil ketika menanyakan ini.
Dia takut dengan segala kemungkinan yang muncul di kepalanya saat ini. Padahal dia tahu betul mereka adalah pasangan kekasih bahkan sudah bertunangan tapi kenapa dia masih saja mempertanyakannya?
Dion kemudian melambatkan langkahnya dan mensejajarkan posisinya di samping Sina. Tangan mereka masih terjalin seperti beberapa menit yang lalu dan malah semakin erat.
"Aku seharusnya pernah mengatakannya kepada mu jika aku tidak pernah punya kekasih. Sina, kamu adalah gadis pertama yang ku izinkan sedekat ini dengan ku. Kecuali kamu, mereka hanya bisa menjadi orang lain untukku." Dion menjawabnya dengan serius dan bersungguh-sungguh.
Sampai usianya sebesar ini Sina adalah obsesi terbesarnya. Dia mengejar semua yang dia dapatkan sekarang hanya agar memenuhi semua tuntutan 'mereka'. Sebuah penilaian apakah Dion layak dan pantas mendapatkan Sina 'mereka'.
Dug
Dug
Dug
Detak jantung Sina berdetak kencang, rasanya sangat nyaman dan manis tapi juga membingungkan. Dia tidak ingin memikirkan terlalu jauh apa maksud dari perkataan Dion, dia takut berspekulasi tinggi. Namun, walaupun begitu hatinya sangat senang. Sina sangat senang karena dia adalah satu-satunya gadis yang paling dekat dengan Dion.
Sangat dekat..
Setelah itu Sina tidak berani berbicara lagi dan diam-diam menikmati waktu manis kebersamaan mereka. Di sepanjang jalan menuju jalan keluar ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Mata-mata itu menatap iri sekaligus penasaran kepada Sina yang sedang bergandengan tangan dengan Dion, sang pengusaha muda yang sukses dan berprestasi.
Diperhatikan banyak orang adalah hal yang baru untuk Sina dan dia juga tidak terbiasa menjadi bahan perhatian. Oleh karena itu, dia lebih banyak menundukkan kepalanya untuk bersembunyi dari semua pasang mata yang sedang memperhatikannya.
"Jangan gugup, santai saja. Abaikan mereka semua dan angkat kepalamu." Ucap Dion lembut tepat di samping telinga Sina.
"Uh.." Rasanya aneh, pikir Sina.
"Aku..malu." Bisik Sina mengakui.
Dion tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Karena Sina sudah mengatakannya maka dia tidak akan memaksanya lagi. Biarkan saja Sina seperti itu karena mungkin dengan begitu dia akan nyaman.
Dion mengambil alih kunci mobilnya dari pelayan seraya mengucapkan terimakasih. Dia kemudian membukakan Sina pintu depan secara alami, tertawa ringan ketika melihat ekspresi terkejut Sina yang lucu.
"Terima kasih." Ucap Sina tersipu.
Dion tersenyum lebar dan tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan mulai mengintrogasi Sina dengan serius. Suasana hati baiknya segera menghilang setiap kali mengingat wajah sok pamer Dimas.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Dion terdengar cuek.
"Aku tidak mau berbicara dengannya tapi dia terus saja mengoceh dan menggangguku." Jawabnya jujur.
Mendengar ini Dion agak puas dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, namun dia masih saja tidak bisa menerimanya begitu saja.
"Benar, di masa depan nanti kamu harus berusaha menjauhi laki-laki lain. Tidak diizinkan berbicara ataupun saling menyentuh, apa kamu dengar?" Peringat Dion posesif.
Entah mengapa Sina merasa jika Dion malam ini bertingkah aneh kepadanya. Dion terdengar posesif dan benci melihat laki-laki lain menyentuh Sina, seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.
Dion, lagi-lagi menjadi aneh. Batin Sina bingung.
"Ya, aku mendengarnya." Jawab Sina pada akhirnya.
"Eh ...tapi ini bukan jalan pulang. Apa kita akan pergi ke suatu tempat?" Sina baru sadar jika mereka baru saja melewati jalan pulang ke arah rumah Dion.
Dion tersenyum kecil, "Kita akan pergi ke suatu tempat." Jawab Dion merahasiakan kemana tujuan mereka.
Sina sebenarnya penasaran tapi karena Dion tidak mau memberitahunya maka dia tidak akan protes. Cukup percayakan saja semuanya kepada Dion.
__ADS_1
Nak, malam ini kita akhirnya bisa jalan sama Papa kamu. Batin Sina merasa hangat.
Bersambung..