Dear Dion

Dear Dion
105. Papa Tahu


__ADS_3

"Masih belum mengerti juga?" Dion lalu berdiri dari duduknya, dengan kedua mata merah dan basah dia menunjuk ruang operasi yang masih tertutup rapat.


"Monster yang kalian adopsi dan besarkan dengan kasih sayang sepenuh hati ingin mengambil nyawa Sina serta anakku!" Ungkap Dion merasakan sakit.


"Dia..dia ingin membunuh mereka, Ma..dia ingin mengambil kebahagiaan ku di dunia ini."


Tidak perduli sedewasa apapun seseorang, di mata kedua orang tuanya dia masihlah anak kecil yang butuh perlindungan.


Itu juga berlaku untuk Dion. Dia memang kejam dan sudah di usia yang matang tapi ketika berhadapan dengan sorot mata belas kasih Nyonya Ranti, semua kemarahan dan kebenciannya berubah menjadi kesedihan.


"Apa.. Risa sungguh melakukannya?" Nyonya Ranti membawa Dion ke dalam pelukannya sedangkan Tuan Edward berdiri diam membisu melihat anak laki-lakinya yang selalu kuat kini menangis tidak berdaya di dalam pelukan istrinya.


"Dia melakukannya..di depan mataku.." Jawab Dion mengadu.


Nyonya Ranti sulit mempercayainya namun di saat yang sama tidak menyangka bahwa anak yang dia besarkan dengan segala bentuk kasih sayang diam-diam menyimpan hati yang busuk.


"Kenapa dia ingin membunuh Sina, Nak... seingat Mama..dia tidak pernah begini sebelumnya.." Di dalam kesedihannya Nyonya Ranti bingung dengan perubahan situasi yang tidak terduga.


Apa alasan Risa melakukan semua ini?


Tuan Edward yang sebelumnya diam menonton menghela nafas panjang, dia menepuk pundak Nyonya Ranti ringan.


"Risa..anak itu menyukai Dion, Ma. Dia mungkin cemburu melihat Dion bersama Sina, apalagi sekarang Sina sedang hamil anak Dion sehingga membuat tingkat kecemburuan Risa berlipat ganda."


Nyonya Ranti lagi-lagi terkejut.


"Tidak mungkin.." Kemudian potongan-potongan memori di kepala menuntun Nyonya Ranti mengingat setiap keanehan Risa ketika berbicara dengannya dan mengenai sikap Dion yang tiba-tiba anti dekat dengan Risa.

__ADS_1


Semua itu seolah menjawab keraguannya.


"Bagaimana Papa bisa tahu?" Tanya Nyonya Ranti dilanda shock.


Tuan Edward menatap Dion yang masih tenggelam dalam kesedihannya, lalu beralih melihat pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.


"Malam ketika kita berlibur di daerah T, Papa sempat mendengar percakapan Risa, Bela, dan Kira yang sedang membicarakan Sina. Papa juga sebenarnya tahu pertikaian Sina malam itu dengan pemilik perusahaan H hanyalah rencana yang Bela siapkan untuk merusak hubungan Dion dan Sina. Papa tahu dan karena inilah malam itu Papa meminta Sina pulang. Papa takut mereka akan membuat rencana yang lebih ekstrim lagi dan Papa lebih takut malam itu Dion memarahi Sina." Jelas Tuan Edward kini menarik perhatian Dion.


"Lalu..kenapa Papa diam saja melihat Sina diperlakukan salah, Pa? Dia..dia saat itu sedang hamil dan kurang sehat, dia butuh perhatian dariku dan kalian. Tapi kenapa..kenapa Papa tidak membantunya?!" Dion berpikir jika Tuan Edward sengaja membiarkan Sina mengalami semua kesulitan ini.


Dia menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung, menatap semua orang dari sisi buruk yang belum tentu buruk.


"Papa tidak bisa karena ini adalah permintaan kedua orang tua Sina." Jawab Tuan Edward tidak hanya membuat Dion tercengang, namun Nyonya Ranti pun sama terkejutnya.


"Apa maksud Papa?" Ini diluar rencananya.


"Dion, apa kamu pikir janji yang kamu buat 15 tahun yang lalu membuat mereka percaya kamu bisa melindungi Sina?"


"Tidak, Nak. Kamu saat itu masih 9 tahun dan siapapun pasti tidak akan mempercayai kata-kata anak kecil begitu saja. Mereka menganggap lucu janji yang kamu buat dan melaporkannya kepada ku, mereka bilang kamu harus mengurangi omong kosong mu. Namun, Papa membalas kata-kata mereka dengan memastikan secara langsung ambisi mu menepati semua janji itu. Kamu pikir semua orang mengizinkan mu sekolah di Belanda saat itu? Padahal usia kamu masih kecil dan belum mengerti dunia luar. Tidak, Dion. Satu-satunya orang yang mengizinkan dan mempercayai tekat kamu adalah Papa. Untuk mewujudkan ambisi kamu, Papa sampai berdebat panjang dengan Mama kamu. Bahkan Paman dam Bibi mu juga ikut mendebat Papa, mengecap Papa sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan terlalu kejam kepada kamu. Namun meskipun melewati perdebatan yang panjang nyatanya keputusan Papa membuahkan hasil, kamu berhasil membangun apa yang ingin kamu bangun dan kamu berhasil membuat yakin kedua orang tua Sina." Ungkap Tuan Edward membuat telinga Dion berdengung.


Seolah-olah ada ribuan pisau tajam mengiris hatinya.


Dia..mengapa dia tidak pernah berpikir tentang semua langkah mudah yang dia dapatkan selama ini?


Kenapa dia tidak bertanya bagaimana bisa saat itu kedua orang tua Sina mempercayai kata-kata muluknya saat itu?


Dan kenapa dia tidak pernah berpikir keluarganya sangat mudah memberikan keputusan, mengirimnya pergi ke negeri yang jauh seorang diri. Mengapa dia tidak pernah berpikir jika dibalik itu semua adalah adanya peran besar seseorang yang sangat mengerti dia?

__ADS_1


Dion sungguh bodoh, dia masih jauh dari kata cerdas.


"Pa.." Dion menatap tidak berdaya Tuan Edward.


Dion baru sadar jika tubuh tegap yang selalu berdiri kokoh itu kini terlihat menua dan lelah.


"Papa tidak bisa menolong Sina karena satu-satunya yang diizinkan melakukan itu adalah kamu, Nak. Mereka ingin melihat seberapa besar kemampuan mu melindungi Sina karena jauh dari dalam hati, mereka ingin menebus semua kasih sayang yang tidak bisa diberikan dengan memberikan putri mereka laki-laki terbaik. Laki-laki yang tidak akan pernah melukai putri mereka, karena itulah Papa bertahan melihat semua kekacauan yang terjadi dalam diam. Papa sama seperti mereka, Papa juga ingin melihat seberapa besar harga yang kami bayar untuk semua perjuangan Papa. Apa kamu mengerti sekarang, Nak?" Papa menepuk pundak Dion dengan senyuman tipis di wajah tuanya.


"Papa.. kenapa, Pa?" Dion memegang tangan rapuh Tuan Edward yang sudah berkerut.


Papa tersenyum yang lebih lebar lagi, memegang balik tangan kuat Dion yang masih muda.


"Karena Papa ingin kamu menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, Nak. Sama seperti Sina yang mengorbankan hidupnya, kamu juga harus memberikan harga yang pantas untuknya. Gunakan hidup mu untuk membahagiakannya, paham?" Ini adalah harapan terbesar Tuan Edward sebagai seorang Ayah.


Dia ingin putranya tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan mempunyai tujuan hidup yang jelas. Karena dengan begini dia bisa tenang, melepaskan putranya pergi mengarungi dunia bersama pasangan hidup.


"Dion paham, Pa. Dion tidak akan pernah mengecewakan-"


Oek..


Oek..


Oek..


Badan Dion langsung membeku di tempat. Dengan kaku dia menoleh ke arah sumber suara, tepatnya sumber suara itu dari dalam ruang operasi.


"Anaknya lahir!" Nyonya Ranti berseru senang, menepuk lengan Dion bersemangat.

__ADS_1


"La-lahir?" Lalu dunia berubah menjadi gelap.


Bersambung...


__ADS_2