Dear Dion

Dear Dion
69. Berubah-ubah


__ADS_3

"Dion?" Mengapa Dion ada di sini?


"Tenanglah, ini aku." Bisiknya tepat ditelinga Sina.


Hembusan nafasnya yang hangat dan suaranya yang lembut bagaikan alarm penenang yang langsung membuat Sina patuh. Rasanya hangat, berada di dalam pelukan Dion terasa mendebarkan. Detak jantungnya kini berdebar kencang merasakan suhu hangat dada Dion yang tertutupi pakaian.


Tidak, bisa!


Jika seperti ini terus Dion pasti akan mendengarkan suara jantungku. Kemudian, setelah Dion mendengarnya dia akan tahu jika selama ini aku menyukainya. Aku...aku masih belum mau keluar dari rumah ini!


"Maaf! Aku tidak tahu orang yang masuk adalah kamu." Kataku segera melepaskan diri dari pelukannya.


Ya Tuhan, aku sangat bodoh!


Bagaimana bisa aku langsung memeluk Dion?


"Ini salahku karena tidak mengatakan apa-apa saat masuk. Aku pikir kamu sudah tidur jadi aku tidak berani bersuara takut membangunkan mu." Katanya tidak terdengar marah.


Nada suaranya jauh lebih lembut dari tadi siang, mungkinkah ini hanya perasaanku saja atau mungkin karena Dion sudah tidak marah lagi.


"Oh..ya.. rencananya aku akan segera tidur tadi." Aku berbohong.


Tidur di paviliun dingin yang sudah lama tidak ditinggali sangat menakutkan untukku. Aku bahkan tidak merebahkan diriku dengan nyaman di atas kasur karena takut kalau-kalau ada sosok dingin yang diam-diam memperhatikan ku.


"Sangat larut? Biasanya kamu tidur dibawah jam 10." Oh, bagaimana bisa Dion tahu jam tidur ku biasanya?


"Yah...itu karena aku sempat tidur siang." Alasanku berbohong lagi.


Oh ya, aku akui jika hari ini sangat melelahkan secara fisik maupun non fisik. Tapi untuk tidur aku aku tidak akan bisa selelah apapun aku hari ini. Emosiku sedang kacau sehingga aku sulit memejamkan mata.


"Guling mu." Aku segera memeluk bantal guling yang baru saja Dion ambil dari lantai.


Karena kepanikan ku, bantal guling tidak bersalah ini harus menjadi korban sekaligus saksi akan tragedi memalukan ku. Dia terlempar tidak berdaya di atas tangga tanpa bisa ditolong.


Ah, ini adalah hal yang memalukan!


"Masuklah ke dalam, ini sudah larut dan kamu harus segera beristirahat." Dia menyentuh punggung ku dan membimbing langkah kami masuk ke dalam kamarku.


Apa ada yang salah di sini?


Dion tadi siang sangat marah tapi kenapa saat ini dia tiba-tiba menjadi Dion 'Normal' yang aku kenal pertama kali datang ke rumah ini. Padahal beberapa hari yang lalu dia sangat sibuk dan sering mengacuhkan ku, bahkan sampai memarahiku tadi siang tanpa mau mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu!


Ya Tuhan, bagaimana bisa sikap Dion berubah-ubah begini?


Aku takut..aku takut berharap lagi seperti tadi siang karena pada akhirnya harapan ku tidak akan pernah menjadi nyata. Selalu menjadi delusi menyedihkan, aku tidak ingin berakhir menyakiti hatiku sendiri.


"Lalu kamu.." Paviliun tidak punya ruangan lain dilantai 2 selain kamarku sendiri.


"Aku ke sini untuk bekerja."

__ADS_1


Bekerja?


Ya, dia memang membawa dokumen di tangannya tapi kenapa harus bekerja di sini? Aku pikir kamarnya sudah sangat tertutup dan sunyi secara alami sehingga tidak akan ada yang mengganggu konsentrasinya saat bekerja.


"Kalau begitu..aku tidak akan mengganggumu." Rasanya canggung sekali.


Setelah mengusirku ke tempat ini dia datang ke sini dengan alasan untuk bekerja. Mungkinkah dia sama sekali tidak merasa bersalah karena telah memarahiku?


Tapi..


Aku lupa, aku bukanlah siapa-siapa untuknya jadi kenapa dia harus merasa bersalah ataupun canggung berada di tempat yang sama denganku?


Hah..benar, jangan terlalu menganggap penting dirimu Sina.


"Kamu belum makan?" Dia terlihat tidak senang saat melihat makanan yang Bik Mur kirim masih utuh tidak tersentuh di atas meja.


Aku bukannya tidak mau makan tapi anakmu terlalu manja dan pilih-pilih makanan. Aku tidak tahu apa yang dia suka dan tidak suka karena setiap kali melihat makanan dia akan memberontak, setiap kali mencium bau makanan dia juga akan memberontak.


Dia manja tapi aku sangat menyanginya, darah daging kita berdua.


"Aku masih belum lapar..." Faktanya aku tidak bisa menelannya!


"Duduklah, ayo makan bersama. Aku juga tadi tidak sempat makan malam karena ada urusan kantor yang mendesak untuk ditangani." Dia menarik tanganku dan menekan bahuku agar bisa duduk di sofa.


Tidak heran dia melewatkan makan malamnya, dia adalah orang yang sibuk dan pekerja keras. Apalagi ada proyek besar yang sedang dia kerjakan bersama perusahaan perempuan sombong itu. Dion benar-benar memperhatikan.


"Kalau begitu kamu bisa makan semuanya karena aku tidak la-"


Apa baru saja perut ku berbunyi-di-depan-Dion?


Ya Tuhan, aku sungguh memalukan hari ini!


"Makanlah, kamu membutuhkannya." Dia tersenyum?


Tidak mungkin, itu hanya perasaan ku saja. Sina berhentilah mengharapkan Dion, dia sudah punya Bela di sisinya jadi kamu harus menyadari kedudukan mu sendiri.


"Aku..akan makan. Kamu juga harus makan." Dan sekali lagi aku entah kenapa tidak mual lagi ketika mencium ataupun melihat makanan ini.


Hal ini juga terjadi saat di dalam bus ketika Dion memberikan ku makanan. Aku tidak menolaknya dan aku juga tidak mual ketika mencium baunya. Mungkinkah itu karena anak ini mengenali siapa Ayahnya?


Hah, benar-benar licik.


Kami berdua makan dalam diam, suasana canggung yang sempat melingkupi ku pun perlahan menghilang. Aku memang gugup tapi masih bisa dikendalikan di depan Dion. Aku juga mulai membiasakan diriku agar jangan terlalu memperhatikannya untuk menjaga kemungkinan kalau-kalau Dion tahu isi hatiku.


Ini adalah keputusan ku untuk menjaga hatiku agar jangan terluka. Di samping itu juga aku harus menguatkan diri dirumah ini agar anakku bisa merasakan keberadaan Ayahnya. Walaupun tidak mendapatkan kasih sayang secara langsung tapi setidaknya dia bisa merasakan keberadaan Dion, ya..dan mungkin setelah usia kandungan ku masuk 3 atau 4 bulan aku akan pergi dari rumah ini.


Menghilang, mencari tempat persembunyian untuk melahirkan dan membesarkan anak ini.


Aku sudah memikirkannya.

__ADS_1


"Besok malam, keluarga Bela mengadakan sebuah pesta dan mengundang semua orang untuk datang. Terutama kamu, mereka ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi kemarin. Apa kamu bisa datang?" Dion membuka pembicaraan setelah kami selesai makan.


Sebuah pesta yang dibuat oleh keluarga Bela dan mereka juga ingin aku datang ke acara itu untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi kemarin, aku takut undangan ini tidak sesederhana itu. Aku juga tidak berharap banyak wanita itu mau meluruskan masalah yang karang oleh anaknya sendiri.


"Jika kamu tidak bisa maka katakan saja, lagipula aku perhatikan akhir-akhir ini kondisi fisik kamu sedang tidak bagus."


"Aku akan datang..dan fisikku juga baik-baik saja. Mereka sudah mengundang ku dengan tulus dan aku juga tidak enak menolak undangan mereka."


Intinya aku harus berada di sekitar Dion agar anak ini tidak membuat ulah lagi. Selain itu, aku juga penasaran dengan interaksi keluarga Bela kepada Dion. Mungkinkah hubungan mereka sudah melangkah jauh sampai melibatkan kedua keluarga?


Dion tidak mengatakan apa-apa tapi matanya yang hitam pekat nan memikat kini sedang menatap lurus ke arahku. Jujur, ini membuat ku sangat gugup dan salah tingkah pada saat yang bersamaan. Aku lemah jika ditatap seperti ini oleh Dion.


"Baiklah, kamu bisa tidur sekarang." Dia lalu berdiri dan berjalan langsung menuju meja kerjanya.


Menyalakan komputer dan membuka dokumen yang dia bawa tadi di atas meja kerjanya. Setelah itu semua perhatian Dion benar-benar terfokus pada pekerjaannya, dia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran ku di sini.


Syukurlah, sementara Dion di sini aku harus bisa memejamkan mataku. Takutnya aku tidak akan bisa tidur jika Dion sudah pergi dari sini, meninggalkan ku sendirian dengan paviliun dingin yang sudah lama tidak ditinggali.


Begitu aku merebahkan diri di atas kasur, semua rasa lelah dan kantuk ku perlahan merayapiku. Membuai ku dalam rayunya agar segera memejamkan mata. Ah, aku sangat mengantuk..mataku sudah berat..


Tapi..


Aku tiba-tiba teringat dengan penemuan ku di meja kerja Dion, bagaimana bisa ada foto masa kecil ku di sini?


Apa Dion tahu?


Aku ingin menanyakannya tapi kantukku sangat hebat, mungkin besok..aku akan bertanya kepadanya.


...🌺🌺🌺...


Gerakan tangannya berhenti bersamaan dengan suara sibuk keyboard yang menghilang. Perlahan wajah tampannya yang cermelang terangkat menatap sosok polos yang kini sudah tertidur lelap. Dadanya bergerak teratur dan ekspresi polosnya yang damai memberikan petunjuk jika sosok polos itu sudah tertidur lelap, masuk ke dalam dunia mimpi yang tidak berujung.


Dia kemudian bangun dari tempat duduknya seraya kedua tangannya yang terampil bergerak cepat menutup dokumen dan laptopnya. Kedua kaki jenjangnya mulai berjalan menuju ke tempat tidur dengan suara yang sangat halus, hampir tidak terdengar.


Diam, kini dia berdiri tepat di depan sosok polos yang masih tertidur lelap, begitu damai.


Tangan kanannya yang besar dan ramping terangkat menyusuri wajah cantik sosok polos itu. Mengelusnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian yang lembut.


"Terkadang aku merasa jika kamu juga menyukai ku, Sina." Bisiknya lembut.


"Tapi terkadang aku merasa jika kamu tidak menyukai ku. Menjaga jarak dan bahkan berani bersembunyi dariku, Sina..aku bingung dengan sikap mu ini." Kini tangannya bergerak menyusuri bibir ranum Sina yang menggoda. Mengelusnya bolak-balik beberapa kali, jakun seksinya yang menonjol bergerak secara alami mengikuti irama jarinya.


"Namun, aku adalah laki-laki yang ambisius, Sina. Bagiku apakah kamu suka atau tidak suka, akhirnya akan selalu bersamaku. Terikat denganku seumur hidup, melewati jalan dan hari yang sama denganku seumur hidup. Itu karena kamu.." Dia menundukkan kepalanya, mengecup ringan bibir ranum Sina.


"Hanya bisa menjadi milikku. Milikku seorang." Bisiknya posesif.


"Hem.. seharusnya memang begitu karena semenjak kamu masuk ke dalam perangkap ku malam itu, maka sejak saat itulah kamu terikat seumur hidup denganku. Menjadi milikku, seorang." Bisiknya terkekeh.


Naik ke atas ranjang, dia kemudian menarik Sina ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali sebelum ikut terlelap menyusul Sina ke dalam dunia mimpi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2