
Di pintu masuk ke dalam dapur ini ada 2 wanita paruh baya yang juga bekerja sebagai pembantu rumah ini. Mereka berdua tidak terlalu akrab dengan Bik Mur sehingga aku juga kurang akrab dengannya. Sebenarnya aku tidak peduli siapa mereka karena aku juga ingin akrab dengan mereka seperti yang kulakukan dengan Bik Mur.
Aku rasa kedua orang ini sengaja menjaga jarak dari ku dan tidak ingin terlalu dekat dengan ku. Lihat saja tatapan permusuhan yang dilemparkan mereka berdua saat ini ke arahku, sangat jelas dan agak menakutkan.
"Minah, Siti, kalian tidak boleh berbicara seperti ini dengan non Sina di masa depan. Kalian terlalu tidak sopan." Bik Mur dengan baik hati memperingati mereka.
Orang normal pasti seharusnya tidak akan berani menggangguku apalagi aku adalah kekasih majikan mereka. Namun, Bik Minah dan Bik Siti justru tidak perduli dengan itu dan malah menatapku semakin congkak.
"Kenapa kami harus sopan dengannya? Kemana-mana selalu menempeli Tuan muda kita, apa dia tidak merasa malu?" Bik Minah menyerang ku persis seperti yang Risa katakan.
Kenapa orang-orang ini berpikir aku selalu menempeli Dion padahal aku sama sekali tidak pernah menempeli Dion. Apa otak orang-orang ini sakit?
"Mungkin kami terlalu kasar berbicara blak-blakan seperti ini dengannya tapi aku sudah tidak tahan lagi memendamnya. Dia ini-hanya seorang tamu di rumah ini dan punya batas waktu tertentu untuk tetap tinggal di sini. Ketika seorang tamu berkunjung maka ia juga akan kembali ke rumahnya, tapi non Sina tidak melakukannya. Padahal dia hanya tamu di rumah ini tapi tidak pernah mau pulang ke rumahnya sendiri." Bik Siti juga ikut memojokkan ku.
Tamu?
Huh, apa kalian tau orang yang kalian sebut tamu ini adalah kekasih Tuan muda tampan kalian?
"Hati-hati dengan apa yang kalian bicarakan, jika Tuan muda sampai mendengarnya maka yakinlah ini adalah terakhir kalinya kalian bernafas di rumah ini." Peringat Bik Mur ada benarnya.
Orang-orang ini harus masuk akal dengan tempat mereka. Huh, aku sudah tidak tertarik lagi dengan makanan yang ada di depan ku.
"Kenapa Tuan muda harus marah kami mengatakan ini? Justru sebaliknya, dia pasti senang kamu membantunya berbicara dengan tamu ini. " Kata Bik Minah seraya melirikku.
"Biarkan saja Bik Mur, mungkin mereka masih belum menerima ku di rumah ini seperti Risa. Tidak masalah karena cepat atau lambat mereka akan menerimanya juga." Kataku seraya menggeser piringku menjauh dari jangkauan.
Aku benar-benar tidak nafsu lagi ketika melihatnya, ah, lebih tepatnya melihat dua mulut besar orang-orang ini yang tidak bisa diam.
"Bahkan non Risa sampai tidak menerimanya? Apa-apaan, dia terlalu tidak tahu malu terus tinggal di rumah ini." Kali ini mereka berdua berbisik.
Dari jarak ini aku masih bisa mendengarkan percakapan mereka walaupun samar.
"Benar, apalagi dia adalah seorang gadis dan memilih tinggal di rumah laki-laki adalah sesuatu yang tidak benar. Tuan muda tidak bisa bersama dengan gadis tidak benar ini, dia terlalu tidak tahu malu berani tinggal di sini."
"Jika kalian berdua terus seperti ini maka aku akan menghubungi Tuan muda dan melaporkan apa yang kalian lakukan kepada non Sina." Bik Mur terlihat tidak senang saat mengatakan ini.
Aku lagi-lagi dibuat hangat olehnya. Tapi, dua orang yang ditegur lebih tidak senang lagi dan bahkan berani melihat ku dengan tatapan provokasi.
__ADS_1
Aku sangat kesal!
"Jelas, meskipun aku hanya tamu di sini tapi itu bukan berarti aku harus menurunkan levelku ke tempat yang rendah. Kalian adalah pembantu dan aku adalah tamu majikan kalian, seharusnya kalian bisa memahami ini dari awal." Kataku sengaja membuat mereka kesal.
Aku memang tidak suka menjatuhkan harga diri orang lain tapi itu bukan berarti aku harus diam ketika harga diriku terinjak-injak. Apalagi aku tidak mengenal mereka, tidak pernah berbicara dengan mereka, dan bahkan aku tidak mengenal mereka sama sekali jadi sungguh tidak sopan rasanya jika aku terus diam sedangkan mereka menertawakan ku.
"Kamu-"
"Apa?" Potongku mengejek.
"Apa kamu pikir karena aku adalah tamu yang tidak kalian sukai di sini kalian bisa dengan bebas mengintimidasi aku? Haha...lucu sekali, aku benar-benar tidak tahu jika ada pembantu yang melupakan tempatnya sendiri." Yah, wajah mereka sangat jelek saat ini.
Menarik, sekali-kali aku harus mengingatkan mereka pada posisi yang sebenarnya.
"Jika aku mengatakan masalah ini kepada Dion, lalu akankah kalian akan dipecat? Karena biar bagaimanapun Dion adalah tunangan ku jadi masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja." Sekarang, setelah aku mengatakannya apa kalian akan membantahnya lagi?
"Kamu tidak mungkin menjadi tunangan Tuan muda-"
"Oh lalu bagaimana kamu menjelaskan ini, Dion memberikan ku akses masuk ke dalam kamarnya secara bebas sedangkan yang aku tahu tidak ada siapapun yang diizinkan masuk ke dalam kamarnya. Jadi, apakah seorang tamu bisa keluar masuk ke dalam kamar Tuan rumah sesuka hati yang diinginkan? Apakah tamu punya wewenang seperti ini?" Tanyaku tidak berniat memberikannya waktu untuk bernafas.
Dia tiba-tiba masuk ke dalam dapur dan ikut bergabung bersama kami. Dia datang dengan sikap malas dan dengan pandangan mengejek yang sudah pasti dilemparkan untuk ku.
Jika Risa ikut campur dalam pembicaraan ini maka habislah sudah, kata-katanya terlalu tajam!
"Non Risa." Sapa Bik Minah dan Bik Siti terlihat kembali bersemangat.
Risa tidak terlalu memperdulikan mereka berdua karena sedari tadi pandangannya terus tertuju padaku.
"Datang sebagai tamu dan dengan percaya diri tinggal di rumah ini, menempeli kemanapun Kakak ku pergi sampai-sampai kamu dengan berani mengaku sebagai tunangannya. Sina, tidakkah kamu pikir jika tindakan mu ini terlalu berlebihan?"
Aku..sama sekali tidak merasa ini berlebihan karena faktanya Dion juga mau menerimaku.
"Tidak, aku pikir selama aku tinggal di sini aku tidak pernah melampaui batas ku sebagai tunangan Dion." Jawabku yakin.
"Tunangan?" Tanyanya dengan nada ejekan.
"Apa IQ kepalamu sangat rendah sampai-sampai pertanyaan segampang inipun tidak bisa kamu mengerti. Aku tanya Sina, kenapa kamu begitu berani mengklaim dirimu menjadi tunangan Kakak ku? Tidak tahukah kamu jika tindakan mu saat ini sudah sangat berlebihan?"
__ADS_1
Di saat seperti ini aku merasa sangat rendah karena tidak melanjutkan kuliah, jika aku kuliah maka Risa tidak akan memandang rendah aku seperti ini.
"Aku..memang sudah resmi menjadi tunangan Dion. Buktinya Dion memberikan ku izin masuk ke dalam kamarnya dan.." Dia juga menciumiku.
Tapi, aku tidak bisa mengatakan ini kepada mereka!
"Dan Dion juga memperlakukan ku dengan baik."
"Ya Tuhan, Sina.. hahaha.." Dia tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan.
Tindakan ini juga langsung diikuti oleh Bik Minah dan Bik Siti yang sedari tadi terus mengejekku dari balik punggung Risa.
"Kamu sangat lucu Sina!"
"Sudah ku bilang bukan kamu adalah gadis yang tidak tahu malu dan selalu menempeli Kakak ku. Untuk memberi mu wajah, dia mengizinkan mu masuk ke dalam kamarnya itupun hanya sebatas sebagai pembantunya saja. Lalu, perlakuan baik yang kamu terima adalah bentuk dia menghargai mu sebagai tamu di rumah ini dan bukan sebagai tunangannya. Jadi, akan sangat berlebihan jika kamu mengklaim dirimu sebagai tunangannya di saat Dion punya wanita lain di dalam hatinya."
Deg
Wanita lain?
Tidak mungkin!
Jika Dion punya wanita lain di dalam hatinya maka mana mungkin ia mencium ku semalam. Ya, Dion tidak akan melakukannya jika di dalam hatinya ada wanita lain. Lagipula kenapa aku harus mempercayai omong kosong Risa yang sudah jelas tidak menyukai ku. Karena dia tidak menyukai ku maka dia pasti melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan ku dari rumah ini.
"Berbicaralah sesuka hatimu, Risa. Sebanyak apapun kamu mengatakan semua omong kosong itu aku tidak akan pernah mempercayai mu. Aku tahu jika kamu ingin menyingkirkan ku dari rumah ini tapi maaf saja Risa, trik kotor mu ini tidak akan berpengaruh untukku sama sekali." Ujar ku tidak perduli.
Semua omong kosong ini adalah jebakan Risa untukku, sudah pasti dia ingin aku pergi dari rumah ini.
"Oh, aku sangat tersanjung dengan pikiran bersih mu tentang diriku ini." Katanya terlihat tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan ku.
Padahal aku baru saja membuka topengnya tapi dia masih saja bersikap santai seolah-olah tidak pernah mendengar apa-apa.
"Baiklah, karena kamu sangat keras kepala maka aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Di masa depan aku akan menjadi pengamat setia mu di rumah ini. Menonton kenyataan kejam yang akan menampar wajah jelek mu ini, Sina, kamu harus mempersiapkan dirimu mulai hari ini. Ku harap kamu tidak akan sangat malu ketika bertatap muka dengan ku di masa depan nanti. Aku juga-ah, sepertinya aku sudah banyak bicara di sini. Maafkan aku yang sudah membuang waktu berharga mu dan selamat sore untuk kalian semua." Katanya dengan suara lembut seperti biasanya.
Tersenyum ringan, dia lalu pergi meninggalkan dapur dengan langkah anggun yang berwibawa.
Bersambung...
__ADS_1