Dear Dion

Dear Dion
48. Kebenaran


__ADS_3

Lelah, rasanya begitu melelahkan. Badannya juga lebih lemas dari yang kemarin, mungkin ini disebabkan karena luka di jari kelingking dan telunjuknya. Luka di kedua jari ini memang tidak terlalu dalam tapi darah yang keluar sangat banyak, Calista saja sampai merinding setiap kali memikirkannya.


Yah, ini memang yang dirasakan Sina tapi poin terpentingnya adalah dia sedang gelisah dan cemburu pada saat yang bersamaan. Cemburu, bahkan sangat cemburu ketika melihat kedekatan Bela dan Dion yang sudah bisa dikatakan sebagai interaksi sepasang kekasih. Sina cemburu dan berpikir jika Bela adalah orang ketiga di hubungan ini. Jika tidak ada Bela maka hubungannya dengan Dion akan berjalan lancar seperti hari-hari sebelumnya. Tapi dia juga gelisah, sangat gelisah setiap kali memikirkan betapa jauh perbedaan sikap yang Dion berikan kepada Bela dibandingkan dengan sikap Dion kepada dirinya.


Sina seolah merasakan firasat buruk setiap kali memikirkannya, seakan-akan itu menjadi tanda bahwa Dion akan segera menghilang dari pandangannya. Pergi bersama Bela dan menjalin hubungan hubungan yang membahagiakan di luar sana.


Sina gelisah dan takut, dia bingung bagaimana mencegah pemikiran gila ini terjadi disaat yang bersamaan Dion tidak ingin bertemu lagi dengannya. Kacau, dia mengacaukan semuanya!


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Sina putus asa, memijat pelipisnya yang kini sedang berkedut terasa pusing.


"Jangan terlalu banyak pikiran Sina, lihat kondisi ku sekarang? Kesehatan mu semakin memburuk!" Keluh Calista sakit kepala.


Setiap kali melihat kondisi Sina yang semakin mengkhawatirkan hari demi hari tidak bisa tidak membuatnya berpikir jika Sina punya penyakit akut yang serius. Lebih serius dari asam lambung, pasalnya kondisi Sina tidak menunjukkan perbaikan setelah satu hari full beristirahat. Bahkan, dia juga enggan memakan nasi dan lebih memilih memakan buah-buahan yang sungguh tidak bisa mengenyangkan sama sekali.


"Aku tahu..aku hanya tidak bisa menghentikan diriku memikirkan Dion." Bisik Sina lemah, lebih tepatnya dia agak frustasi.


"Yah, cinta memang keterlaluan." Keluh Calista yang juga menjadi korban.


Dia menarik selimut hangat dan menutupi Sina dengan selimut itu, setelah itu dia mulai memijat kembali pelipis Sina.


"Tidurlah, setidaknya kamu tidak akan memikirkan Dion selama kamu terlelap." Bujuk Calista ikut merasa sedih.


Dia sedih melihat Sina seperti ini, diperlukan asing oleh Dion. Padahal dia sudah memberitahu Sina tentang konsekuensi ini tapi dia tetap tidak mau mendengarkannya. Sekarang inilah yang terjadi, Dion lebih memilih Bela dibandingkan Sina. Menghujani Sina dengan berbagai macam cobaan di setiap harinya tanpa jeda.


Sina, seharusnya menyerah bukan?


"Kamu.. tidak perlu melakukan ini. Kamu sedang hamil dan seharusnya lebih banyak memanfaatkan waktu untuk bersantai." Sina meraih tangan Calista berniat menurunkannya tapi langsung dihentikan oleh Calista.


"Aku baik-baik saja." Ucap Calista meyakinkan.


"Sina, aku pikir kamu harus segera keluar dari rumah ini."


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


"Non Risa seharusnya ada di dapur tadi agar bisa melihat ekspresi malu gadis itu setelah dimarahi oleh Tuan muda." Bik Minah melaporkan dengan semangat tentang kejadian tadi di dapur.


Kemarahan Dion membuat seisi rumah terkejut sehingga para pekerja di rumah ini kini tidak terlalu berani berinteraksi dengan Sina, takutnya majikan mereka menjadi tidak puas melihat hal itu.


Risa menghentikan gerakan tangannya menyisir rambut, tertegun, dia lalu membalik posisinya menjadi berhadapan langsung dengan Bik Minah. Sinar penuh semangat dan kepuasan yang tercermin di dalam mata Bik Minah memang tidak bisa ditutupi.


Dalam hati, Risa langsung mempercayai Bik Minah.


Namun dia bingung, apa yang dilakukan Sina sehingga membuat Dion sampai memarahinya. Risa memikirkan ini bukan tanpa alasan karena dia masih ingat dengan jelas waktu itu foto Sina hampir memenuhi kamar Dion. Jadi, wajar saja dia agak penasaran.


"Apa yang dilakukan gadis itu sehingga membuat Kakak ku sangat marah?"


"Tuan muda melarangnya masuk ke dalam dapur agar tidak mengganggu non Bela dan non Kira yang sedang memasak. Tapi gadis itu sangat keras kepala dan menolak untuk keluar dari dapur, dia berjanji tidak akan mengganggu mereka selama memasak. Tapi janji itu tidak bertahan lama ketika jari non Bela tidak sengaja terluka Tuan muda terlihat sangat khawatir, nah.. karena gadis itu cemburu dengan perhatian Tuan muda kepada non Bela, dia kemudian sengaja melukai jarinya untuk menarik perhatian Tuan muda. Tentu saja Tuan muda tidak menerima tindakan liciknya, bukannya memberikan perhatian lembut Tuan muda memarahinya habis-habisan. Tidak hanya itu saja, setelah memarahinya Tuan muda lalu membawa non Bela ikut bersamanya dan tidak memberikan wajah sama sekali kepada gadis tidak tahu malu itu!" Cerita Bik Minah sangat senang.

__ADS_1


"Dion.. melakukan itu?" Tanya Risa tidak menyangka.


"Ya, non Risa bisa menanyakannya kepada siapapun di rumah ini jika ragu dengan apa yang Bibi katakan."


Menganggukkan kepalanya mengerti, sebuah senyuman manis kemudian terbentuk di wajahnya. Rasa ketidakpuasan yang sempat memenuhi dada akhirnya bisa dia lepaskan juga. Merasa puas dengan kinerja Bik Minah, dia kemudian melambaikan tangannya untuk membiarkan Bik Minah keluar dari kamarnya.


"Terus awasi mereka untukku dan jangan khawatir, gaji bulan ini aku berikan 3 kali lipat dari biasanya."


Bik Minah sangat senang, "Terimakasih non Risa, Bibi berjanji tidak akan pernah mengecewakan non Risa."


"Hem, sekarang kembalilah."


Setelah mengucapkan terimakasih berulang-ulang Bik Minah akhirnya keluar dari kamarnya. Berdiri dari duduknya, Risa kemudian berjalan menatap hamparan langit malam yang kini sedang memperlihatkan gemerlap bintang.


"Aku pikir dia sangat penting untuk Dion tapi nyatanya dia tidak berharga sama sekali. Hah.. seharusnya aku tahu jika orang yang paling Dion sukai sekarang adalah Bela karena segi manapun Bela adalah yang terbaik." Gumamnya mengejek.


"Baiklah, aku sekarang hanya perlu mengadu domba mereka berdua dan membuat Dion secara perlahan merasa muak dengan mereka. Muak sampai batas dimana Dion akhirnya memilihku." Dia tertawa kecil, menari-nari di sekitar kamarnya untuk menyampaikan betapa senangnya dia sekarang.


...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ...


Dia tidak bisa tidur sekuat apapun dia mencoba. Anehnya, dia masih merasa lelah dan lemas namun tidak bisa tertidur. Padahal biasanya Sina mudah tertidur jika dalam suasana hati yang tidak menentu seperti ini, tapi kali ini sepertinya karena sesuatu yang khusus. Percuma saja, dia tidak bisa memaksakan diri untuk tidur oleh karena itu Sina memutuskan untuk bangun dari acara baringnya.


Di sampingnya ada Calista yang sedang tertidur lelap. Jadi, dia bergerak sehati-hati mungkin agar jangan sampai membangunkannya. Sina merasa tidak enak karena beberapa hari ini Calista terus saja membantunya menghadapi setiap masalah di rumah ini. Padahal dia sedang hamil dan seharusnya lebih banyak beristirahat dibandingkan berpikir stres.


Setelah keluar dari kamarnya, dia melirik pintu kamar Dion selama beberapa detik. Ragu, dia kemudian berdiri tepat di depannya sambil mengangkat salah satu jarinya untuk menekan sensor sidik jari tersebut.


"Apa yang sedang aku pikirkan?" Bisiknya malu pada entah siapa tidak ada yang tahu.


Dion sudah melarangnya masuk ke dalam kamar ini lagi jadi sudah barang tentu Dion menghapus sidik jarinya dari sistem.


"Aku harus menenangkan diriku terlebih dahulu." Ujarnya memutuskan.


Dia lalu turun ke lantai satu dan kebetulan bertemu dengan Risa yang awalnya ingin naik ke lantai dua. Sina agak canggung bertemu dengannya karena sikap Risa berubah lagi setelah Bela datang ke rumah ini.


"Mau ke taman?" Risa bertanya kepada Sina.


"Yah, apa kamu ingin ikut?"


Risa tidak menolak, "Aku akan ikut."


Secanggung ini, mereka berdua lalu berjalan ke arah lorong yang menyambungkan lingkungan rumah dengan lorong. Saat diperjalanan ke sana Risa tiba-tiba menarik tangan Sina dan membawanya bersembunyi di dinding lorong.


"Ada Kak Dion dan Kak Bela di luar." Dia berbisik kepada Sina.


"Lalu kenapa jika ada mereka?" Tanya Sina cemburu.


Bukannya bagus dia ada di sana sehingga Dion dan Bela tidak terus berduaan?

__ADS_1


"Bukannya aku ingin menghalangi mu bertemu dengan Kak Dion tapi aku tidak yakin kamu kuat melihat apa yang sedang mereka lakukan sekarang." Kata Risa tidak yakin.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Sina ragu.


"Kamu-"


"Gadis yang bernama Sina itu, sebenarnya siapa dia bagimu? Kenapa dia terlihat tidak senang setiap kali melihat ku di dekatmu?."


Sunyi.


Sina dan Risa saling menatap dan diam-diam menyepakati agar tidak ada yang berbicara lagi. Terlebih Sina, hatinya saat ini berdebar sangat kencang ingin mendengar pendapat Dion tentang dirinya. Mungkin Dion akan mengakui jika dia memiliki rasa yang terpendam untuk Sina....yah, dia sangat berharap Dion mengatakan ini kepada Bela.


Tidak hanya Sina, tapi Risa juga sama gugupnya. Dia ingin memastikan secara jelas jika Dion memang tidak punya rasa apapun kepada Sina.


"Hahahaha.." Suara Dion tertawa.


"Dia hanya tamu di rumah ini jadi jangan terlalu dipikirkan. Lagipula dia juga bukan tipe yang aku sukai sehingga sulit dikatakan aku tertarik kepadanya-"


"Aku..ingin kembali ke kamar." Ucap Sina tidak tahan lagi.


Dia berjalan cepat ke dalam rumah untuk segera menenangkan dirinya. Apa-


"Sekarang bagaimana rasanya? Setelah kamu mendengar sendiri kebenaran yang keluar dari mulut Kak Dion, bukankah itu memalukan?" Risa tidak membiarkannya melarikan begitu saja.


Dia mengejar Sina dan menariknya untuk berhenti melangkah. Dia sudah geram ingin menginjak-injak kepercayaan diri Sina yang terlalu tinggi. Risa sudah lama ingin melampiaskan semua rasa marahnya kepada Sina.


Well, Dion ternyata tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang tamu.


"Lepaskan aku!" Sina ingin menangis tapi dia tidak bisa melakukannya dihadapan Risa, itu sangat memalukan!


Risa tersenyum miring, "Sina, percaya diri itu boleh tapi terlalu percaya diri itu tidak diizinkan. Sekarang lihat hasilnya, apa yang kamu percayakan selama ini ternyata hanya ilusi mu saja. Lagipula, kamu tidak punya kelebihan apa-apa untuk bisa menarik perhatian Kakak ku jadi kamu seharusnya menyadari ini dari awal. Oh ya, Lihat dirimu baik-baik di depan cermin. Perhatikan apakah kamu punya sesuatu yang bisa mengalahkan Kak Bela. Aku yakin, setelah kamu melakukannya maka kamu akan menyadari satu hal bahwa kamu tidak punya apa-apa untuk melawan Kak Bela. Kamu tidak bisa mengalahkannya bahkan dari sisi terkecil pun, Sina, itu karena kamu biasa-biasa saja. Kamu tidak cantik, kamu tidak punya bakat apapun, dan pendidikan mu rendah berbanding terbalik dengan Kak Bela yang sudah memenuhi semua kriteria ini."


Tersenyum simpul, tangan kanannya menepuk pelan pundak Sina dengan gerakan akrab. "Lain kali turunkan sedikit rasa kepercayaan dirimu menjadi tingkat yang lebih rasional. Oh ya, aku juga sarankan agar kamu tidak terlalu banyak bermimpi apalagi sampai bermimpi mendapatkan orang sesempurna Kak Dion. Itu terlalu menyedihkan." Ejeknya setelah itu pergi meninggalkan Sina yang masih berdiri diam di tempat tidak mengatakan apapun.


Ah lebih tepatnya, dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena sejujurnya apa yang dikatakan Risa tadi memang benar. Dia terlalu percaya diri sampai-sampai melupakan kualitasnya sendiri. Dia terlalu percaya diri sampai-sampai melupakan kekurangannya sendiri, dan dia terlalu percaya diri sampai-sampai lupa bahwa dirinya tidak punya kelebihan apapun.


"Bagaimana mungkin aku sebodoh ini?" Bisiknya kosong.


Bersambung...


Sina bukan tokoh yang lemah!


Dari awal Sina digambarkan sebagai gadis yang kesepian tapi sangat keras kepala. Saking keras kepalanya, dia terlalu enggan mempercayai omong kosong orang lain.


Tapi walaupun keras kepala Sina tetaplah manusia biasa dan pasti akan merasakan sakit ketika hatinya dilukai. Nah, mulai dari part ini Sina tidak seagresif sebelumnya karena dia sadar jika posisinya salah di sini.


Okay, jangan berpikir Sina adalah tokoh yang lemah tapi cukup bayangkan saja diri kalian berdiri di posisi Sina yang sulit๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2