Dear Dion

Dear Dion
108. D


__ADS_3

Dion perlahan masuk ke dalam ruang rawat inap Sina. Di dalam tidak ada siapapun kecuali Sina dan anak mereka yang kini terlelap di lengan Sina. Ketika Dion melihat anak itu dia tidak bisa menahan kejutan karena anak itu adalah anak yang persis sama di dalam mimpi buruknya. Mama bilang anak ini juga laki-laki jadi keheranan Dion semakin bertambah.


Dia berjalan pelan mendekati Sina, menyentuh wajah pucat Sina yang kini sedang tertidur lelap tidak terganggu. Dion langsung merasa lega setelah melihat secara langsung kondisi sina di depan matanya.


Kecemasannya berkurang sedikit, dia akhirnya bisa bernafas lega.


Akan tetapi ketika matanya jatuh pada perban di lengannya bekas luka robek yang Risa buat, hati Dion tiba-tiba menjadi dingin.


Dia menyentuh perban itu dengan hati-hati, seolah-olah apa yang dia sentuh sekarang bukanlah perban melainkan luka robek Sina.


"Dion.."


Dion membeku, menatap kaku juga bersemangat kedua mata Sina yang perlahan terbuka. Dia segera menyingkirkan tangannya dari perban itu, merendahkan kepalanya agar lebih dekat lagi dengan Sina.


"Aku di sini.." Jawab Dion akhirnya merespon, mengecup lembut puncak kepala Sina dan punggung tangannya penuh kasih.


"Dion?" Samar, Sina melihat wajah tampan Dion kini berada tepat di depan wajahnya.


"Iya sayang, aku di sini.." Dion membalas lebih lembut lagi.


Dia tidak menyangka Sina akhirnya bangun, masih bernafas dan memanggil namanya.


"Mengapa aku di sini," Dia terkejut.


"Anak kita.." Sina langsung panik terjadi sesuatu kepada anaknya.


Padahal sudah jelas-jelas dia meminta dokter wanita itu untuk menyelamatkan anaknya dan memberikan kesempatan untuk anaknya hidup.


"Dia di sini," Dion menenangkan, mengarahkan tangan kiri Sina yang masih diinfus untuk menyentuh bayi lembut nan tampan yang kini tertidur di lengan kanannya.


Dion sungguh tidak berbohong, anak ini terlihat tampan meskipun baru berumur 1 hari lebih beberapa jam saja.


"Lihat, tidurnya sangat lelap di sampingmu."


Sina tertegun, tangan kirinya tanpa sadar gemetar halus saat menyentuh wajah anaknya yang terlingkupi kain hangat.


"Dia laki-laki." Kata Dion memberitahu.


"Apa kamu sudah memberinya nama?" Sina tidak tahu bila Dion juga baru bangun.


Dion tersenyum tipis,"Aku belum memberinya nama karena menunggu kamu bangun." Bohong Dion tidak ingin membuat Sina khawatir.


Sina tersenyum, mengusap wajah anaknya dengan perasaan hangat yang membuncah.


Ah, rasanya begitu melegakan pikir Sina.


Usahanya ternyata tidak sia-sia dan Tuhan juga mendengar doa yang selalu dia lambungkan tanpa henti.


Setelah puas menyentuh wajah anaknya, Sina kini kembali fokus memandangi Dion yang juga sedang memandanginya.


Wajah tersenyum nya menyusut membentuk sebuah garis datar.


"Apa ada yang sakit lagi?" Dion pikir Sina merasa tidak nyaman di tubuhnya, maklum saja dia baru sehari yang lalu operasi.


Sina tidak bersuara, namun kedua matanya menunjukkan sebuah amarah.


"Apa kamu marah?" Dion melihatnya.


Karena jarang sekali melihat Sina marah senakal apapun Dion sebelumnya.


Kali ini, kesalahannya mungkin cukup besar.

__ADS_1


Sina masih tidak mau mengatakan apa-apa.


Dion tahu Sina pasti sangat marah sampai-sampai mendiamkannya. Dia menghela nafas panjang, menganggukkan kepalanya tidak berdaya seraya memegang tangan Sina yang tidak dipasangi jarum infus.


"Baiklah, katakan apapun yang ingin kamu katakan. Aku akan diam dan mendengarkan mu."


Sina awalnya diam saja, sampai beberapa menit kemudian dia akhirnya bersuara.


"Haus." Katanya singkat.


"Kamu haus? Aku akan ambilkan minum." Dion dengan sigap mengambil air putih di atas nakas dan sendok.


Karena Sina baru saja selesai operasi, untuk sementara waktu perutnya tidak bisa ditekuk karena luka jahitnya masih belum kering.


"Biar ku bantu." Dion dengan cekatan memasukkan sesendok demi sesendok air ke dalam mulut Sina.


"Cukup." Sina sudah puas.


"Sedikit lagi, okay?" Dion membujuk.


Sina menatap datar, tanpa senyum juga tanpa suara.


Melihat wajah kaku Sina yang masih tidak berubah, Dion menghela nafas panjang. Meletakkan kembali gelas dan sendok itu ke tempat semula.


"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Sina tidak tahan lagi.


Dia sangat kecewa dengan keputusan Dion pada hari itu.


"Melakukan apa?" Dion tidak mengerti.


"Memilih menyelamatkan ku daripada anak kita, kenapa kamu melakukan itu?"


Dion terkejut, beberapa detik kemudian punggungnya langsung layu.


"Jadi kamu tidak mencintai anak kita? Anak kita, ada darah kamu dan darahku di sana." Sina menegaskan posisi anak itu di depan Dion.


Mendengar kemarahan Sina, dia segera menggelengkan kepalanya seraya menggenggam erat tangan Sina tidak mau melepaskan.


"Siapa bilang? Aku sangat mencintaimu kamu dan anak kita. Apalagi anak ini adalah buah cinta kita berdua jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintainya?"


Sama seperti Sina, dia juga tidak sabar ingin bertemu dengan buah hatinya. Melimpahkan semua kasih sayang kepada anak mereka.


Namun Dion terpaksa melakukannya karena diberi pilihan, bila bisa dia ingin kedua orang yang dia cintai ini selamat tapi nyatanya dokter wanita itu tidak menerima pilihan yang ia ambil.


Dengan kata lain, hanya salah satu yang bisa selamat.


"Lalu.. kenapa kamu tidak memilih anak kita?" Sina akhirnya luluh, dia tidak semarah tadi karena dia lega Dion memberikan jawaban yang dia inginkan.


"Meskipun aku mencintai anak kita tapi aku tidak akan pernah bisa hidup bila kamu pergi. Bukankah kamu tahu sendiri bila kamu adalah alasan ku masih bertahan sampai sekarang. Jika kamu tidak ada maka di dunia ini tidak ada Dion yang berdiri di depan mu sekarang."


Dia hanya lega bersama Sina di sisinya, itu saja. Apa ini salah?


Sina tidak berdaya, menarik tangan Dion untuk dia cium.


Laki-laki tangguh ini sejujurnya tidak sekuat yang terlihat. Dia manja dan suka bergantung kepada Sina, selayaknya anak kecil yang butuh perlindungan.


"Aku tahu, aku juga tidak bisa hidup tanpamu. Namun, kamu harus tahu bila aku juga mencintai anak kita, aku tidak akan sanggup menjalani hari dengan damai bila aku tahu dia mati hanya untuk menyelamatkan hidupku."


"Aku tahu..aku tahu tapi aku tetap memilih kamu sekalipun waktu terulang lagi. Maaf, karena aku bersikap egois tapi aku sungguh tidak ingin kehilanganmu."


Sina lebih tidak berdaya lagi, menggelengkan kepalanya antara gemas dan kesal karena Dion masih saja keras kepala.

__ADS_1


Hem, mau bagaimana lagi dia juga tidak bisa memarahinya karena biar bagaimanapun Dion membutuhkannya-tidak, lebih tepatnya mereka sama-sama saling membutuhkan.


"Jadi kapan kamu akan menikahi ku? Lihat, kita sudah punya anak tapi aku masih juga belum kamu halalkan." Sina niatnya bercanda tapi tidak menyangka Dion menanggapinya serius.


Dia mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya, kotaknya sederhana namun meninggalkan rasa kemewahan yang elegan. Lalu, ketika dibuka tampaklah sebuah cincin berlian berwarna biru langit yang sangat cantik. Cincinnya sengaja tidak dipahat terlalu mewah tapi akan selalu menarik perhatian bila tersemat di jari manis.


Karena ini sungguh sangat cantik.


"Sebenarnya aku ingin memberikan mu cincin ini di malam sebelum aku melakukan perjalanan bisnis. Namun kamu tidak mengizinkan ku untuk mengungkapkan perasaan ku sampai aku pulang dari perjalanan bisnis. Tidak menyangka itu adalah pertemuan terakhir kita sehingga aku tidak bisa memberikan mu cincin ini..lalu setelah pertemuan kita beberapa bulan lalu, aku pikir sekarang lah waktu yang tepat untuk mengatakannya."


Dengan tulus, Dion menatap dalam mata Sina. Menguncinya hanya untuk dirinya sendiri dan tidak mengizinkannya berpaling.


Mengambil nafas panjang, dia mulai menyuarakan maksud hatinya.


"Sina Zein, maukah kamu menikah denganku?"


Ini adalah sebuah kalimat yang singkat, sederhana, dan terdengar cukup ringan. Namun, bagi Sina kalimat singkat, sederhana, dan terdengar cukup ringan ini mempunyai makna yang sangat besar dan dalam.


Ini adalah kalimat yang selalu para wanita impi-impikan bergema di dalam pendengaran mereka suatu hari nanti. Dan sekarang Sina akhirnya menemukan hari itu..


"Dion..." Sejenak, Sina tidak bisa mengatakan apa-apa.


Dion gugup,"Apa kamu mau?" Dia mengulangi.


Dion tahu bila acara lamarannya terlalu dadakan dan tidak mewah seperti laki-laki diluar sana. Tapi apa boleh buat, dia terlalu impulsif dan tidak bisa menahannya.


Sina sekuat tenaga akhirnya menganggukkan kepalanya, mengulurkan tangan kirinya kepada Dion.


"Dion Bramasta, aku mau menikah dan menjadi istrimu." Jawab Sina dengan air mata yang sudah memenuhi matanya.


Dia menangis, tentu saja.


Toh dulu dia selalu berpikir Dion hanya bisa dipandang dari jauh dan bukan untuk dimiliki.


Namun rencana Tuhan terlalu tidak terduga, sungguh indah dan penuh akan kejutan.


Begitu kata itu jatuh, Dion langsung menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Sina dan menciumnya dengan perasaan yang sangat dipenuhi kebahagiaan.


Akhirnya dia bisa memiliki Sina seutuhnya.


"Ekhem, mesraan aja terus sampai anak sendiri dilupain." Tegur Tuan Edward dan Nyonya Ranti tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Sina.


Tidak hanya mereka saja, namun Calista, Ridwan, dan anak mereka juga ikut hadir.


Sina dan Dion sontak malu, mereka pura-pura menoleh ke anak mereka dan menemukan jika anak mereka sudah bangun. Bayi itu kini sedang menatap Dion dengan pandangan ingin tahu yang menggemaskan.


"Jangan diliatin terus tapi segera kasih nama. Masa Mamanya kamu nikahin sedangkan anaknya belum dikasih nama." Ledek Ridwan senang sekali melihat wajah kesal Dion.


Tapi untuk pertama kalinya Dion tidak kesal, malah dia senang dengan saran Ridwan.


"Apa kamu mau memberinya nama?" Dion bertanya kepada Sina.


Sina tersenyum,"Aku serahkan kepada kamu saja."


Dion berpikir, menatap wajah lembut anaknya yang masih saja memperhatikannya.


"Bagaimana dengan Zein Aldior Bramasta. Ada nama kamu dan namaku, kita bisa panggil dia Dior."


Sina langsung menganggukkan kepalanya, mencium kepala Dior dengan sayang seraya berbisik di telinganya.


"Selamat datang Zein Aldior Bramasta, Mama dan Papa harap kamu bisa tumbuh menjadi laki-laki yang kuat serta tangguh lebih dari Papa kamu."

__ADS_1


...TAMAT...


Mau Bonus apa Enggak nih?


__ADS_2