Dear Dion

Dear Dion
31. Cinta Masa Kecil


__ADS_3

"Bela?" Kenapa Bela?


Bukankah orang yang bersama Dion adalah Sina? Tapi mengapa Nyonya Ranti malah mengatakan jika Dion tidak akan melanggar kesetiaannya kepada Bela. Mungkinkah Tante Ranti tidak tahu jika Sina sekarang sudah bersama Dion?


Pikir Sina terganggu.


"Iya, kamu belum diceritakan sama Risa yah tentang Bela?" Tanya Nyonya Ranti terlihat sangat antusias.


Sina langsung menatap Risa yang duduk di sebelah Nyonya Ranti. Selama tinggal di sini Risa tidak pernah mengatakan apapun tentang siapa Bela dan apa hubungannya dengan Dion. Jika Risa bahkan Dion tidak pernah mengatakannya maka Sina pikir jika Bela sebenarnya bukan orang yang penting untuk Dion'kan?


"Risa dan Dion tidak pernah mengatakan apa-apa tentang Bela, justru aku baru tahunya dari Tante Ranti hari ini." Kata Sina yakin.


Nyonya Ranti mencubit pipi Risa gemas mungkin karena putrinya tidak pernah memberi tahu Sina mengenai Bela. Sahabat kecil Risa sekaligus kekasih masa kecil Dion, semua orang yang ada di keluarga ini mengetahui tentang hubungan Risa, Dion, dan Bela.


Tentu saja ini bukan lagi rahasia umum untuk keluarga besar yang ada di sini.


"Ma, pipi Risa sakit." Keluh Risa seraya menyentuh pipi yang Nyonya Ranti cubit tadi.


Dia bertingkah manja dan bersikap seolah tidak ada Sina diantara mereka berdua. Senang sekali rasanya melihat ekspresi bodoh Sina yang menghibur, setidaknya untuk beberapa hari ke depan dia akan dihibur dengan tingkah impulsif Sina.


Huh, gadis keras kepala seperti Sina ini memang butuh kejutan yang luar biasa karena jika tidak rasa percaya dirinya yang selangit tidak akan pernah mengenali kekurangan dan kelemahannya.


"Hukuman buat kamu yang gak mau dengerin Mama." Selesai menghukum Risa, Nyonya Ranti padahal sudah mengingatkan putrinya kemarin untuk memberitahu Sina tentang Bela.


Takutnya, Sina menaruh hati kepada Dion yang sudah jelas-jelas punya kekasih. Yah.. walaupun itu hanya sebatas kekasih masa kecil tapi siapa yang tahu jika Dion menganggap serius hubungan itu.

__ADS_1


Sina mengubah posisi duduknya merasa gelisah dan sudah tidak sabar ingin tahu mengetahui tentang siapa Bela. Walaupun tidak yakin jika Dion dan Bela punya hubungan yang dekat tapi tetap saja Sina tidak bisa mengenyahkan pikiran liarnya.


"Jadi siapa Bela, Tante?" Ucap Sina bertanya menengahi kemesraan Ibu dan anak yang ada di depannya.


"Bela dulunya tetangga kami di sini. Hubungan keluarga kami dengan keluarganya sangat baik sehingga Bela tidak akan sungkan datang bermain ke sini. Bertemu dengan Risa dan berhasil menjalin persahabatan yang baik." Cerita Nyonya Ranti mengenang.


"Saat itu, Dion pernah mengalami peristiwa yang sangat menakutkan dan tiba-tiba merubahnya menjadi anak yang pendiam. Tidak ada yang bisa membuatnya tertawa sampai akhirnya dia bertemu dengan Bela. Karena Bela, Dion tidak lagi terpuruk dan mulai terbuka dengan banyak orang. Dia sangat nyaman bersama dengan Bela sampai suatu hari dia tiba-tiba mengumumkan kepada semua orang bahwa dia dan Bela telah resmi menjadi sepasang kekasih. Haha..saat itu kami tidak terlalu menganggap serius ucapan mereka dan berpikir itu hanyalah pembicaraan anak-anak yang masih belum mengenal dunia. Akan tetapi setelah Bela pindah dari sini kami mulai menyadari jika Dion tidak pernah dekat lagi dengan gadis lain bahkan sampai sebesar ini. Kami pikir Dion serius dengan sumpahnya saat itu karena itulah kami sesekali mengundang Bela ke rumah ini untuk melihat perkembangan hubungan mereka berdua. Meskipun tidak sering ke rumah tapi setiap kali Bela datang ke sini suasana rumah pasti akan menjadi hidup. Jadi, membawa Bela sesekali tinggal di sini adalah keputusan yang bagus."


Dari awal sampai akhir Sina mendengarkan cerita Nyonya Ranti, dia terlihat patuh mendengarkan namun sebenarnya itu tidak sama sekali karena pikirannya mulai melayang ke waktu 3 minggu yang lalu ketika Risa mendebatnya di dapur bersama 2 pembantu yang tidak menyukainya.


"Sudah ku bilang bukan kamu adalah gadis yang tidak tahu malu dan selalu menempeli Kakak ku. Untuk memberi mu wajah, dia mengizinkan mu masuk ke dalam kamarnya itupun hanya sebatas sebagai pembantunya saja. Lalu, perlakuan baik yang kamu terima adalah bentuk dia menghargai mu sebagai tamu di rumah ini dan bukan sebagai tunangannya. Jadi, akan sangat berlebihan jika kamu mengklaim dirimu sebagai tunangannya di saat Dion punya wanita lain di dalam hatinya." Kata-kata tajam ini masih teringat jelas di dalam kepalanya.


Sina akhirnya mengerti siapa wanita yang Risa maksud. Wanita yang ada di dalam hati Dion adalah Bela, begitulah yang Nyonya Ranti katakan secara tersirat.


"Ja-jadi seperti itu." Sina meremat pakaiannya sedih bercampur takut.


"Dia akan datang beberapa hari lagi setelah semua urusannya diselesaikan. Dia orang yang baik dan cantik, Tante saranin kamu harus bertemu dengannya." Nyonya Ranti sangat antusias jika mengenai Bela.


Gadis ceria itu sudah tumbuh besar dan mandiri sekarang, wajahnya yang cantik dan manis tidak jauh berbeda dengan dirinya yang kecil. Hanya saja dia agak matang dan dewasa sehingga kecantikan berkali-kali lipat pesonanya. Jika Dion melihatnya besok, Nyonya Ranti yakin jika putranya pasti akan sangat senang.


"Apa Kak Dion tahu jika kekasihnya akan pulang?" Tanya Risa sengaja membesarkan suaranya.


Dia ingin membuat Sina sakit dan malu karena terlalu percaya diri dengan halusinasinya yang menjengkelkan. Huh, gadis seperti ini seharusnya tahu diri dengan kekurangan yang mereka punya dan bukannya memaksakan kepercayaan diri mereka yang berlebihan. Sebagai gadis yang terlahir memenuhi segala aspek, Risa sangat benci dengan orang seperti Sina yang tidak tahu diri.


"Papa sepertinya sudah memberitahu Kakak mu jadi mustahil dia tidak akan segera pulang."

__ADS_1


Risa tersenyum polos, melirik wajah pucat Sina yang terlihat kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Mama benar, Kak Dion pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertemu Bela. Aku juga gak sabar ingin ketemu Bela, menemaninya jalan-jalan dan memperkenalkan Bela dengan tamu spesial kita. Sina juga tertarik'kan ketemu sama Bela?"


Tersadar dari lamunannya, "Aku-yah, aku juga ingin bertemu dengannya." Jawab Sina gelagapan.


Setelah itu mereka bertiga-oh, lebih tepatnya hanya Nyonya Ranti dan Risa saja karena Sina lebih banyak diam mendengarkan daripada berbicara. Mereka membicarakan tentang persiapan menyambut Bela, mulai dari menyiapkan kamar dan memasak makanan favorit Bela. Mereka juga membahas acara apa saja yang akan mereka buat selama Bela tinggal di sini. Intinya, segala sesuatu yang mereka rencanakan untuk menyambut kedatangan Bela menunjukkan kepada Sina bahwa di mata mereka semua Sina tidak berarti apa-apa di sini.


Jujur, rasanya begitu sakit melihat betapa antusiasnya orang-orang ini menyambut kedatangan gadis itu. Ini berbeda ketika Sina datang ke sini karena faktanya orang-orang lebih banyak tidak menerimanya.


Aku hanya perlu mempercayai hatiku saja bahwa orang yang disukai Dion bukanlah Bela melainkan diriku. Adapun tentang kisah masa kecil mereka aku tidak terlalu menganggapnya serius karena sekali lagi itu hanya kisah anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Batin Sina menghibur diri sendiri.


...🌺🌺🌺...


"Apa Mama sangat menyukai Bela?" Dia asal bertanya, ekspresi malasnya yang jelas menunjukkan jika dia tidak benar-benar serius bertanya.


"Tentu saja Nak, dia adalah gadis yang baik jadi mengapa Mama tidak menyukainya?"


Dia bertanya lagi, "Lalu, seandainya Kak Dion tidak menyukainya apakah Mama akan marah?"


Mamanya menghela nafas berat, "Jika Dion tidak menyukainya maka Mama tidak bisa memaksakan keinginan Mama. Biarkan saja Dion yang memutuskan karena dialah yang akan menjalaninya.


Mendengar jawaban Mamanya yang memuaskan, sebuah senyuman manis kemudian terbentuk di wajah cantiknya.


"Mama adalah yang terbaik." Ucapnya senang seraya mencium pipi Mamanya sayang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2