
Lalu, bagaimana dengan nasib anakku?
Karena Dion tidak mau menerima ku maka apakah aku harus membuang anak ini juga? Dengan kata lain, mungkinkah aku harus melenyapkan nyawanya?
Astaga!
Aku memang patah hati karena Dion memikirkan wanita lain di dalam hatinya tapi bukan berarti aku harus melenyapkan anak ini. Bagaimanapun juga anak ini adalah anakku dengan Dion walaupun itu adalah sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Bagiku anak ini adalah Dion dengan versi kecil yang imut dan manis. Dia adalah Dion ku dan aku tidak akan pernah melenyapkan hidupnya.
"Nak, kamu jangan salah paham kepada Papamu karena orang yang tidak diinginkan Papamu adalah Mama dan bukannya kamu. Jadi, kamu jangan sedih karena Papa meninggalkan kita. Dia hanya tidak mencintai Mama dan Mama pun sadar kalau Papamu tidak akan pernah bersama Mama. Benar, ini adalah kesalahan Mama sehingga kamu tidak bisa bersama dengan Papa. Seandainya Mama tidak terlalu berharap tinggi... mungkin.. mungkin kamu tidak akan merasakan sakit yang Mama rasakan."
Ini adalah kesalahan ku, terjatuh dari tempat yang sama dan harapan yang sama. Gara-gara imajinasi ku yang terlalu tinggi anakku bahkan harus menjadi korbannya. Dia harus merasakan perasaan tidak nyaman yang hatiku rasakan.
Ini tidak baik, dokter bilang pertumbuhannya akan terganggu jika aku terlalu emosional. Karena apa yang aku rasakan juga dirasakan oleh anakku. Ada baiknya aku memikirkan yang baik-baik saja sehingga pertumbuhan anakku tidak akan terganggu lagi.
"Dan kotak ini.. sebaiknya dibuang saja. Ini tidak berguna, mengingatnya pun selalu membangkitkan luka." Kotak yang sudah tidak berbentuk lagi karena diinjak-injak Dion kini tidak berguna lagi untukku.
Percuma saja disimpan karena rasa sakit saat menerima penolakan Dion pasti akan selalu membayangi ku. Aku tidak bisa karena aku sangat lemah, dan karena aku lemah ada baiknya kotak ini dibuang saja.
"Hah..lebih baik aku segera mengemasi barang-barang ku sebelum mereka lebih marah lagi." Mengabaikan perasaan sedih yang kurasakan, aku mulai mengemasi barang-barang ku ke dalam koper kecil yang aku bawa ke sini.
Pakaian ku untungnya tidak terlalu banyak sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memasukkan semuanya ke dalam koper.
Tok
Tok
Tok
Nah, sekarang ada yang datang lagi.
"Masuk." Kataku mengizinkannya masuk.
"Non Sina, Bik Mur diperintahkan oleh Tuan muda untuk membantu Non Sina berkemas." Ternyata yang datang Bik Mur.
Hatiku setidaknya merasa aman jika Bik Mur di sini. Oh, aku juga merindukan Calista. Setelah pergi dengan Ridwan mereka tidak pernah kembali lagi. Aku khawatir dia akan panik jika tahu aku sudah tidak ada lagi di rumah ini. Oh..aku bisa mengirimkannya pesan jadi dia tidak akan merasa bersalah lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu Bik, aku sudah selesai mengemasi semuanya." Kataku menolak seraya menunjukkan koper kecilku yang sudah ditutup rapi.
"Maafkan Bik Mur, non. Bibi terlambat datang dan membiarkan non Sina melakukan semuanya sendiri." Katanya terlihat agak bersalah.
"Bibi tidak perlu merasa bersalah, lagipula pakaian ku tidak banyak jadi tidak memakan waktu banyak untuk menyelesaikannya." Kataku menghiburnya.
"Non Sina.. sebenarnya Bibi juga ada di dapur saat itu. Bibi melihat apa yang terjadi di dapur tapi Bibi tidak bisa mengatakannya karena non Kira mengancam Bibi untuk tutup mulut. Jika tidak..jika Bibi membuka suara maka keselamatan keluarga Bibi yang ada di kampung akan menjadi taruhannya. Bibi tidak bisa berbuat apa-apa karena keselamatan keluarga Bibi dipertaruhkan di sini..Bibi tidak-"
"Aku mengerti, Bik, dan aku juga tidak menyalahkan Bik Mur untuk itu. Ini sudah menjadi jalan Sina di sini. Sina tidak bisa tinggal di rumah ini lagi karena Dion juga berharap Sina keluar dari rumah ini. Percuma saja aku tinggal di sini jika Dion tidak berharap Sina tinggal di sini." Meskipun Bik Mur menjadi saksi semua yang terjadi tidak akan merubah perasaan Dion terhadap ku.
Dia ingin aku pergi dan aku harus pergi dari rumah ini.
"Tuan muda meminta non Sina keluar dari rumah ini?" Bik Mur tiba-tiba bertanya dengan ekspresi kebingungan.
Aneh, bukankah alasan mengapa Bik Mur di sini adalah membantuku mengemasi semua barang-barang ku. Jika aku tidak pergi lalu mengapa Dion memintaku mengemasi semua barang-barang ini?
"Ya, Dion bilang aku harus segera mengemasi barang-barang ku karena mulai hari ini kamar ini tidak bisa aku tempati lagi." Kataku menjelaskannya.
"Tidak benar, mungkin non Sina salah paham maksud Tuan muda." Kata Bik Mur membuat ku bingung.
Padahal sudah jelas-jelas Dion memintaku untuk keluar dari kamar ini dan mengemasi semua barang-barang ku.
"Non Sina tidak akan keluar dari rumah ini karena non Sina mulai hari ini akan tinggal di paviliun dingin untuk sementara waktu sampai batas dimana Tuan muda mengizinkan non Sina kembali ke kamar ini."
Paviliun dingin.
Aku ingat, paviliun dingin adalah hukuman untuk anggota keluarga yang sudah melakukan sebuah kesalahan fatal. Tapi aku bukan anggota keluarga jadi kenapa aku harus tinggal di sana?
Juga, kenapa Dion tidak mengusirku saja-ah, berhentilah memikirkan yang tidak-tidak!
"Apakah Dion mengatakan ini kepada Bibi?"
Bik Mur menganggukkan kepalanya yakin, "Tuan muda sendiri yang memintaku mengantarkan non Sina secara langsung ke paviliun dingin. Dia bilang Bibi harus memastikan jika non Sina pindah ke paviliun dingin."
Aku tidak ragu lagi. Meskipun membingungkan tapi ini lebih baik daripada aku harus angkat kaki dari rumah ini. Ingat, ada anakku dan Dion di dalam perutku. Dia butuh kasih sayang Papanya... sebenarnya meskipun dia butuh aku juga tidak bisa dekat dengan Dion.
__ADS_1
Tapi..tapi setidaknya anakku bisa merasakan keberadaan Dion. Meskipun jauh tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Nanti..jika perutku sudah membesar dan tidak bisa disembunyikan lagi maka aku harus segera pergi dari rumah ini.
Aku harus mencari tempat tinggal dan bersembunyi dari semua orang yang mengenalku. Kemudian aku akan melahirkan anak ini dan membesarkannya seorang diri.
Ya, untuk sementara waktu aku harus mengesampingkan perasaan ku dan fokus pada pertumbuhan anakku.
"Non...non Sina?"
"Eh...iya, Bik?" Jawabku gelagapan.
"Apa non Sina baik-baik saja?" Tanyanya terlihat khawatir.
"Aku baik-baik saja. Em.. bisakah kita pergi sekarang? Badanku agak pegal-pegal jadi aku ingin beristirahat secepat mungkin di sana."
"Oh..tentu non Sina, kita bisa pergi sekarang. Kopernya biar Bik Mur saja yang bawa." Bik Mur mengambil alih koperku.
Aku tidak keberatan karena aku sebenarnya juga cukup lelah hari ini. Perasaan ku sudah beberapa kali diaduk hari ini jadi rasanya agak melelahkan. Aku hanya ingin tidur, melupakan sejenak apa yang terjadi hari ini dan memulai hidup baru setelah bangun dari tidur.
...🌺🌺🌺...
"Yo, senang rasanya bisa pindah kamar. Apalagi kamarnya ada di tempat yang indah dan dipenuhi dengan berbagai macam bunga di taman. Sina oh Sina, hari ini kamu terlalu beruntung." Kira menyambut kedatangan Sina dan Bik Mur yang baru saja turun dari tangga.
Raut wajah Sina yang murung dan terlihat kelelahan adalah pekan dan terindah yang pernah dilihat Kira beberapa hari ini. Dengan menjatuhkan Sina hatinya menjadi agak tenang karena Ridwan dan Calista masih belum juga ada kabarnya. Oleh karena itu dia membalas dendam dengan menghancurkan Sina setelah itu baru kemudian dia menyerang Calista.
Sina tidak perduli dan mengabaikan ejekan dari Kira. Dia melakukannya bukan tanpa alasan, lebih tepatnya dia tahu bagaimana warna asli Kira dan Bela. Mereka bukan orang yang baik selama ini dan lebih penting lagi, mereka berdua membenci Sina.
"Aku tidak menyangka Sina tega melakukan itu." Itu suara Risa, berpura-pura terkejut melihat kemalangan Sina yang sebenarnya sudah dia prediksi sejak Bela dan Kira menyusun rencana ini.
"Hah, dia ini licik dan suka berpura-pura terlihat polos jadi kamu tidak boleh tertipu dengan wajah sok polosnya." Kira terus mencemooh Sina, melampiaskan rasa bencinya yang sudah tidak tertahankan.
"Aku akan mendengarkan Kak Kira, di masa depan aku tidak boleh menilai orang dari luarnya saja. Aku harus berhati-hati agar aku tidak menjadi korban kedua setelah Kak Bela." Risa ikut bekerja sama dengan Kira, mengolok-olok Sina yang hanya bisa diam tanpa mengucap satu katapun.
"Bagus, belajarlah dari pengalaman calon Kakak ipar mu." Angguk Kira puas.
"Calon Kakak ipar, hem.." Gumamnya seraya tersenyum miring.
__ADS_1
Bersambung...