Dear Dion

Dear Dion
86. Mood


__ADS_3

"Lho, kok Sina gak respon-respon aku sih Kak?" Calista berdecak tidak tenang.


Hampir 5 menit dia mengetuk pintu tapi Sina masih belum meresponnya juga. Calista khawatir terjadi sesuatu sama Sina di dalam karena dia yakin Bela baru pulang dari paviliun dingin untuk menemui Sina.


"Kamu coba telpon dulu siapa tahu dia jawab." Ridwan yang masih berpikiran jernih memberikan saran.


"Telpon apaan! Aku gak tahu nomor Sina gara-gara Kakak ngejar aku di danau malam itu!" Semprot Calista semakin jengkel.


"Mana ponsel baru aku ketinggalan di dalam mobil lagi!" Decak Calista mulai tidak sabar.


Seandainya Ridwan langsung mengatakan perasaannya malam itu mungkin Calista tidak akan menjatuhkan ponselnya ke dalam danau. Dan jika ponsel Calista masih ada ditangan maka saat ini dia pasti bisa menghubungi Sina.


Jadi, semuanya gara-gara Ridwan!


"Ya aku minta maaf, kamu juga sih main lari-larian segala-"


"Oh, jadi Kakak nyalahin aku!" Teriak Calista marah.


Ridwan langsung ngurut dada.


"Semuanya salah aku! Aku yang salah di sini." Ridwan buru-buru menyalahkan diri sendiri.


Ridwan baru pertama kali melihat dan menghadapi langsung bagaimana sifat Calista ketika sedang marah. Dia pikir sikap Calista cukup mengerikan ketika sedang kesal karena Calista akan bersikap cuek dan irit bicara ketika kesal tapi saat sedang marah ternyata Calista lebih menakutkan.


Ridwan curiga bila Calista sedang Pms hari ini.


"Bagus Kak Ridwan sadar." Balas Calista judes.


"Aku tuh heran sama kalian berdua kenapa harus berteman sama orang yang jahat semua sih!"


Entah itu Bela atau Kira, hati mereka berdua busuk dan penuh skema jahat!


"Urusan hati hanya Tuhan yang tahu. Aku juga gak mau temenan sama mereka kalau ujungnya bakal gini." Ridwan berprilaku baik agar Calista tidak marah lagi.


"Makanya Kak, kalau nyari temen tuh jangan liat tampangnya doang! Lihat juga sifat dan sikap mereka gimana. Kalo cuma modal tampang doang kan hasilnya gini, orang-orang terdekat habis mereka babat!" Calista masih mengomel panjang lebar.


Lagi-lagi Ridwan di dalam hati mengurut dadanya. Kemarahan Calista sepertinya tidak mudah untuk dihadapi namun dia pikir itu wajar saja karena sikap Kira dan Bela sudah jauh kelewatan batas.


Kesalahan yang mereka buat sudah melebihi kata toleransi. Ridwan pribadi agak enggan berteman lagi dengan mereka. Terutama dengan Kira, teman masa kecilnya ini hampir saja membuat hubungannya dengan Calista tidak tertolong. Bila saja dia tidak berjuang keras mungkin Calista memilih menjalin hubungan dengan laki-laki lain.


"Aku akan berhenti berteman dengan mereka." Ujar Ridwan kalem.


Calista bukannya senang melihat sikap kalem Ridwan tapi malah bertambah kesal. Intinya Ridwan selalu salah dimatanya saat ini!


"Alah, paling besok Kakak main lagi sama mereka. Laki-laki'kan semuanya buaya." Ucap Calista sarkas.


"Sayang, aku berbeda dengan mereka semua. Aku adalah laki-laki sejati dengan hati-"


"Berisik! Malesin banget!" Calista hilang kesabaran.


Dia berjalan ke samping paviliun dingin untuk mencari jalan masuk alternatif. Tidak ada solusi yang dia temukan kecuali jendela persegi yang ada di samping pohon beringin.


"Kok merinding, yah.." Calista meraba lengannya agak takut.


"Kak Ridwan-lho, dia kok gak ada di sini!" Ketika menoleh ke belakang dia tidak melihat ada bayangan Ridwan.


"Kak Ridwan kok ninggalin aku sih.." Teriak Calista sedih.


Suasana hatinya cepat sekali berubah hari ini. Calista memang menyadarinya tapi dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.


"Calista..kamu kenapa, hem?" Ridwan langsung berlari mendekati Calista setelah mendengar teriakannya.


"Kak Ridwan kok ninggalin aku?" Tanyanya sedih.


Kedua matanya mulai basah menahan tangis.


Perasaan tadi dia masih ngomel-ngomel deh tapi kenapa sekarang udah sedih aja?. Batin Ridwan bingung.


"Aku gak ninggalin kok, buktinya sekarang aku udah ada di depan kamu." Ridwan dengan hati-hati membawa Calista ke dalam pelukannya.


Dia pikir Calista akan langsung memukulnya tapi ternyata Calista tidak keberatan dan malah membalas pelukan Ridwan.


"Tapi tadi Kak Ridwan gak ada di samping aku waktu dicari-cari. Aku takut banget Kak di depan aku ada pohon beringin." Adu Calista seraya menunjuk pohon beringin yang ada di samping jendela.


"Udah gak apa-apa sekarang kan udah ada aku. Tadi aku pikir kamu masih marah makanya aku gak mau ikutin kamu. Aku minta maaf, yah? Lain kali kemanapun kamu pergi aku akan ikutin tanpa kamu minta." Ucap Ridwan lembut sambil mengecup puncak kepala Calista.


Dia merasa bersalah telah membuat Calista marah dan sedih hari ini.


Calista di dalam pelukan Ridwan menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia tidak marah maupun sedih lagi kepada Ridwan. Sebaliknya, dia malah merasa aman berada di dalam pelukan Ridwan.


"Okay, sekarang Kakak bisa gak buka jendela ini. Aku khawatir banget sama Sina di dalam takut diapa-apain sama Kak Bela tadi." Pinta Calista memohon.


Ridwan melihat jendela yang ditunjuk Calista. Seharusnya cukup sulit untuk membuka paksanya tapi bukan berarti Ridwan tidak bisa.


Demi sang kekasih apapun akan dia lakukan.


"Okay, kamu tunggu dulu di sini yah?" Ridwan melepaskan pelukannya.


Sebelum beraksi dia melepaskan stelan biru yang dia gunakan dan memakaikannya ke badan Calista.


"Kak Ridwan kok ngasih aku?" Calista menolak tapi Ridwan memaksanya.

__ADS_1


"Kamu harus pakai karena di sini dingin dan banyak nyamuk. Aku gak mau kamu menderita sementara ada aku di samping kamu."


Kedua pipi Calista sontak memerah. Dia menganggukkan kepalanya ringan seraya menyembunyikan rona wajahnya.


"Terima kasih." Ucapnya malu-malu.


Ridwan tersenyum simpul, mengelus lembut rambut panjang Calista beberapa detik kemudian kembali fokus pada misinya. Dia melepaskan ikatan sabuknya tanpa mengeluarkan suara apapun, membuat Calista berjenggit kaget melihat tindakan vulgar Ridwan.


"Aku..di sini.. bukan tempat untuk melakukan 'itu'!" Calista sangat panik.


Dia sedang hamil trimester pertama dan tidak diizinkan untuk melakukan hubungan badan sebelum masuk bulan keempat!


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Ridwan bingung.


"Sabuk.. kenapa Kak Ridwan tiba-tiba lepas sabuk?" Calista tidak bisa membayangkan betapa merah wajahnya saat ini.


Ridwan melihat sabuk yang sudah ada ditangannya dengan bingung.


"Aku mau pakai besi sabuk aku buat cungkil jendelanya. Emang ada yang-haha..astaga, pikiran kamu yah jauh banget! Aku gak segila itu ngelakuin hal 'itu' di sini." Ridwan tidak bisa menahan gelak tawanya.


"Kak Ridwan ngetawain aku?"


Otak Ridwan segera mengirim alarm tanda bahaya.


"Uhuk..enggak kok. Perasaan kamu aja." Ridwan segera bersikap normal.


Dia melanjutkan lagi misinya membuka jendela-


"Lho, jendelanya gak dikunci?" Tiba-tiba jendela terbuka sebelum Ridwan sempat menarik besi sabuknya dari jendela.


"Sina ceroboh banget, sih!" Calista menarik jendela terbuka lebar ingin naik ke atasnya.


"Sini aku bantu naik." Ridwan mengangkat Calista langsung naik ke atas jendela.


Setelah berhasil mengirim Calista ke atas, dia mengangkat tangan kanannya berniat meminta bantuan kepada Calista.


"Sekarang kamu bantu-"


"Aku duluan Kak." Calista langsung masuk ke dalam tanpa menunggu ucapan Ridwan selesai.


"..aku?" Ridwan menatap tangan kanannya yang kosong.


"Kemana sikap manjanya 3 menit yang lalu?" Ridwan tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat suasana Calista yang mudah berubah-ubah.


"Dia lebih mirip wanita yang sedang hamil daripada wanita yang sedang Pms." Gumam Ridwan terkekeh.


...🌺🌺🌺...


"Lho, kok kamu malah makan di sini? Aku kira kamu udah naik ke lantai dua tadi."


Setelah masuk ke dalam paviliun dingin Ridwan ingin langsung naik ke lantai dua tapi tidak jadi karena dia mendengar suara sendok berdenting dari arah dapur. Dia pikir itu mungkin tikus atau kucing karena Sina mana mungkin makan di sana dan mengabaikan suara ketukan pintu.


Ketika dia masuk ke dapur Ridwan tidak berharap di dalam dapur memang ada tikus 'jejadian'. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat orang yang dia pikir tikus tadi adalah kekasihnya sendiri. Padahal beberapa saat yang lalu Calista masih mengkhawatirkan Sina namun sekarang dia sudah anteng makan di atas meja.


"Bentar dulu, Kak. Aku mau cicipi makanan ini dulu." Kata Calista sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya yang mulai gembul.


Ridwan tersenyum geli. Dia tidak pernah mendengar ada orang yang sekedar mencicipi sampai menghabiskan setengah porsi besar makanan.


Kesayangan aku nafsu makannya besar juga. Batin Ridwan meringis.


"Aku pikir kamu khawatir banget sama Sina tapi ternyata enggak juga-"


"Siapa bilang! Ini aku khawatir banget!" Calista menyuapkan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya sebelum dengan enggan menutup kembali kotak makanan itu.


Dia berjanji akan turun lagi ke dapur untuk menghabiskannya!


"Ke atas!" Dia menarik tangan Ridwan keluar dapur dan langsung bergegas naik ke lantai dua.


"Jangan lari-lari di atas tangga." Ridwan ngilu melihat hak tinggi Calista bergerak cepat di atas tangga.


"Tapi aku khawatir sama Sina, Kak!"


Ridwan melirik ekspresi panik Calista lagi yang sudah mulai kembali seperti beberapa saat yang lalu. Lagi-lagi dia tercengang melihat perubahan mood Calista yang mudah berubah hanya dalam waktu satu jam!


Hem..Hem.. wanita memang mengerikan!


"Ya udah, kamu jalannya pelan-pelan aja. Lagian beberapa tangga lagi kita-"


Tanpa menunggu ucapan Ridwan selesai Calista sudah melompat tinggi ke atas ujung tangga. Lompatannya tidak main-main karena dia melompati empat tangga langsung dengan sepatu hak tinggi.


"Kak Ridwan lambat!" Keluh Calista tidak sabar.


Dia ingin langsung menerobos masuk ke dalam kamar Sina tapi dia takut melihat sebuah adegan berdarah. Untuk itu lagi-lagi dia mengandalkan Ridwan disaat keadaan yang genting.


"Kak Ridwan yang buka pintunya, yah?" Pinta Calista memohon.


Ridwan menghela nafas panjang, mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.


Dia menarik gagang pintu dan mendorongnya ke dalam. Tidak ada siapapun di dalam kamar tapi pintu kamar mandi terbuka buka sedikit meninggalkan celah.


Melihat itu Calista lagi-lagi memikirkan adegan berdarah yang menakutkan. Dia tidak menyangka Bela begitu berani melakukan kekerasan di dalam kamar mandi. Dalam hati Calista bermonolog apa wanita bermuka dua itu tidak takut berhadapan dengan hukum?

__ADS_1


Cek..cek..


"Jangan ulangi lagi Sina, ku mohon. Jika saja tadi aku terlambat menangkap mu maka konsekuensinya akan sangat berbahaya."


Tunggu!


Calista mendengar suara seseorang yang tidak asing dari dalam kamar mandi. Itu seperti suara Dion tapi Calista sendiri tidak yakin dengan pendengarannya.


"Apa Kak Ridwan mendengarnya?" Tanya Calista berbisik.


Ridwan tersenyum simpul,"Aku tidak mendengar apa-apa." Jawabnya berbohong.


Padahal saat ini Ridwan sedang menertawakan kesialan Dion hari ini. Dia sangat beruntung datang di waktu yang tepat bersama Calista. Ridwan bisa membayangkan bagaimana raut wajah ketakutan Dion karena tertangkap basah sedang melakukan hal yang tidak-tidak kepada Sina.


Ini adalah pembalasan ku untuk omong kosong sialan mu semalam. Batin Ridwan berada di atas angin.


"Kenapa kita tidak masuk ke dalam untuk melihat apakah ada Sina atau tidak?" Ridwan membujuk Calista berjalan mendekati kamar mandi.


Calista awalnya takut dengan adegan berdarah tapi rasa penasarannya lebih mendominasi apalagi ketika mendengar suara Dion dari dalam kamar mandi tadi.


"Ayo kita lihat, Kak." Sambil berpegangan tangan dia dan Ridwan berjalan mendekati celah pintu kamar mandi.


"Aku janji tidak akan mengulanginya."


Ini adalah suara Sina!


Tidak, pendengarannya memang tidak bermasalah!


Tapi, Sina dan Dion berduaan di dalam kamar mandi.. mereka tidak mungkin melakukan sesuatu yang aneh-aneh'kan?


Diliputi dengan berbagai macam perasaan Calista segera melepaskan tangan Ridwan tergesa-gesa. Dia bergegas membuka pintu kamar mandi karena takut terjadi sesuatu dengan Sina dan Dion di dalam kamar mandi.


"Kamu harus menepatinya-"


"Apa yang sedang kalian lakukan berduaan di dalam kamar mandi?" Tanya Calista setelah berhasil menerobos ke dalam.


Duduk di atas bathub Sina sedang berpegangan tangan dengan Dion yang duduk berjongkok di lantai. Ini..adegan ini cukup familiar di dalam drama romantis.


"Calista!" Sina sontak melepaskan tangannya dari Dion.


Wajahnya tampak memerah malu karena dipergoki berduaan dengan Dion di dalam kamar mandi.


"Sejak kapan kamu datang ke sini?" Dion bertanya suram.


Di saat sedang asyik-asyiknya berduaan dengan Sina tiba-tiba Calista menghancurkan suasana manis mereka.


Bagaimana dia tidak kesal!


Pertama Bela sekarang Calista, hah.. Dion harap tidak ada pengganggu lain lagi yang datang ke sini.


"Udah dari 10 menit yang lalu, Kak. Aku sama Kak Ridwan udah ketuk pintu beberapa kali tapi Sina gak datang-datang bukain. Aku kan jadi khawatir terjadi apa-apa sama Sina di sini makanya kami berdua nekat masuk lewat jendela."


"Ridwan?" Gumam Dion mulai memikirkan skema yang aneh-aneh.


Tiba-tiba orang yang sedang dia pikirkan masuk ke dalam kamar mandi dengan senyuman angkuh yang membuat mata Dion sakit.


"Oh..jadi ini rencana Ridwan.." Kata Dion sambil tertawa rendah.


Kedua matanya berkilat dingin melemparkan pandangan permusuhan kepada Ridwan.


Ridwan ikut tertawa rendah, nada suaranya dibuat main-main untuk mengejek kesialan Dion.


"Gimana? Kaget gak sama kejutan yang aku siapin sama Calista?"


Dion tersenyum dingin,"Kagetnya gak main-main."


"Kejutan apaan sih Kak Ridwan? Kok aku baru tahu sih?" Calista langsung bingung ketika mendengar kata 'kejutan' karena sebelumnya mereka tidak pernah berencana apa-apa.


"Lho, kamu gak tahu, dek?" Dion berpura-pura terkejut.


"Aku..aku gak tahu kejutan apa yang kalian maksud malah."


Ridwan buru-buru menjelaskan,"Itu kita-"


"Kalian tiba-tiba masuk ke dalam paviliun dingin lewat jendela itu yang dia maksud kejutan. Lagian, kamu aneh banget sih ngasih kejutan yang murahan. Daripada bikin orang jantungan kayak maling nyasar lebih baik kamu bawain Sina kue atau apalah yang bisa buat dia bahagia. Lha ini udah masuk lewat jendela tanpa permisi kamu juga hampir buat aku sama Sina jantungan lho." Dion mulai memainkan sebuah drama.


Calista merasa bersalah,"Tapi kita'kan udah coba ketuk pintu paviliun dingin beberapa kali cuman kalian berdua gak respon-respon makanya kita nekat masuk lewat jendela. Kita berdua ngelakuinnya karena keadaan darurat dan gak maksud apa-apa."


"Daripada masuk ke dalam jendela kamu kan bisa telepon aku, dek." Dion memainkan kartunya.


Untung saja dia membawa ponsel saat ini sehingga dia bisa memastikan apakah Calista maupun Ridwan pernah menghubunginya.


"Ponsel aku yang baru ketinggalan di dalam mobil dan Kak Ridwan ponselnya-Kak Ridwan!" Panggil Calista galak.


Dia masih ingat Ridwan tadi membawa ponselnya.


"Kamu kenapa lagi?" Sahut Ridwan merasakan firasat buruk.


"Ponsel Kakak mana!"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2