Dear Dion

Dear Dion
90. Pinternya Anak Mama


__ADS_3

Tapi karena jarak mereka sangat dekat Dion juga bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan Sina.


"...kamu serius?" Dion bahkan kesusahan menelan ludahnya sendiri!


Bagaimana tidak? Wajah Sina begitu menggoda saat ini ditambah lagi tingkah manjanya yang menggemaskan, iman Dion mulai diuji.


"Kamu..gak mau?" Sina tampak kecewa juga malu karena sudah meminta hal yang jauh dari kata sopan.


"Bodoh," Dion menarik Sina semakin dekat dengannya.


Dia malah mengangkat Sina naik ke atas pahanya dan membuat Sina memekik kaget karena tertangkap tidak siap.


"Aku tentu saja mau." Setelah mengatakan itu Dion mendekati wajah merah Sina, memperpendek jarak diantara mereka berdua.


Dia menikmati ekspresi gugup bercampur senang di wajah Sina, rasanya ini adalah pengalaman mendengarkan karena untuk pertama kalinya Dion dan Sina melakukan hal intim secara sadar.


Biasanya Dion sendiri yang mencium Sina secara diam-diam atau pernah Dion menciumnya singkat ketika Sina sedang tidak siap.


Itu adalah keinginan pribadi Dion tanpa meminta persetujuan Sina.


Tapi kali ini yang mengejutkan adalah mereka melakukan hal intim karena permintaan Sina sendiri.


"Sina.." Dion mengecup ringan bibir ranum Sina.


Membuat Sina tanpa sadar menutup kedua matanya gugup. Kedua tangannya bahkan meremas kuat pundak Dion menunjukkan betapa gugupnya dia sekarang.


"Jangan gugup." Dion melepaskan kedua tangan Sina dari pundaknya dan membawa kedua tangan Sina untuk melingkari lehernya.


"Lihat aku." Pinta Dion dengan suara rendah nan lembut.


Sina tidak bisa menolak suara ini!


Dia membuka matanya perlahan dan berhadapan langsung dengan wajah tampan Dion.


"Aku.." Sina tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Jangan tutup kedua matamu saat kita sedekat ini tapi tetaplah mataku, Sina."


"Aku tidak bisa.. rasanya terlalu mengejutkan." Akui Sina malu.


Dia tidak tahan bertatapan langsung dengan Dion di saat intim seperti ini.


"Lalu mencoba lah." Dion tidak memaksa.


"Em." Sina berjanji meski tidak yakin.


Dion sekali lagi mendekatkan wajahnya, memiringkan kepalanya dia mulai mengecup ringan bibir Sina. Rasanya manis dan lembut seperti biasa, ini jauh lebih baik dari permen manis sekalipun yang pernah Dion makan ketika kecil.


"Ugh.." Sina sontak memejamkan matanya ketika merasakan sebuah isapan ringan dibibir bagian bawahnya.


Rasanya aneh tapi meninggalkan candu.


"Suka?" Tanya Dion setelah mengakhiri ciuman mereka.


Sina tersipu, menganggukkan kepalanya senang.


"Suka." Bibir atas dan bawahnya terasa kebas karena sering dihisap oleh Dion.


Sensasinya aneh namun Sina tidak bisa menampik bahwa dia menyukai perasaan ini.


Dion tertawa kecil,"Aku juga suka, rasanya manis." Kata Dion tanpa malu-malu.


"Em, rasanya manis." Sina diam-diam mengakui.


Dion tidak bisa menahan gelak tawanya lagi. Dia tertawa besar, mengusap lembut puncak kepala Sina yang sudah agak berantakan karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


"Apa ini lucu?" Sina merasa gugup.


Dion perlahan menghentikan tawanya,"Ini tidak lucu tapi cukup menyenangkan."


"Okay, apa sekarang aku boleh pergi?" Dion melihat waktu yang sebentar lagi masuk jam 3 dini hari.


Dia tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi karena kekasih dan anaknya saat ini sedang kelaparan.


"Tapi jangan lama yah.." Sina masih tidak rela.


Dion tersenyum geli, mengecup ringan puncak kepala Sina sebelum menurunkan Sina dari pangkuannya.


"Gak akan lama, percaya sama aku."


"Yah, hati-hati."


Setelah mendapatkan izin Sina dia langsung bergegas keluar dari kamar. Menyalakan semua lampu paviliun dingin, Dion lalu keluar dari paviliun dingin.


"Oh..apa aku sudah gila!" Raung Sina memandang kepergian Dion.


Dia tiba-tiba bersikap aneh di depan Dion sampai-sampai bertindak gila meminta sebuah ciuman!


"Aku berusaha menahan perasaan ku tapi kenapa malam ini pertahanan ku tidak berguna sama sekali?" Tanyanya merasa aneh.


Biasanya Sina berusaha menahan gejolak hatinya dengan bersikap kalem dan tenang di depan Dion meskipun sekali-kali dia akan tersipu. Yah, tersipu adalah reaksi yang paling normal dan wajar di sini karena otak tubuh sendiri tidak bisa mengendalikan.


Namun berbeda dalam hal tindakan. Sina harusnya bisa menahan tapi mengapa tadi dia tiba-tiba kelepasan dan bahkan berani melakukan tindakan gila.


"Tapi..tapi Dion tidak marah kepadaku. Dia juga bilang menyukainya...dan..aku curiga jika Dion sebenarnya sudah tahu tentang kehamilan ku. Namun jika benar dia tahu lalu darimana dia mengetahuinya?" Kini fokusnya beralih pada tanggapan cepat Dion yang lebih mirip seperti suami siaga.


Dia juga tahu Sina ingin makan sesuatu sebelum Sina mengatakannya sendiri. Bahkan saat Sina mual tadi Dion langsung mengeluarkan makanan itu sebelum Sina mengatakannya sendiri!


Ini memang layak dicurigai.


"Aku masih ingat sudah menghancurkan surat hasil tes darah ku kemarin dan aku juga ingat sudah membuangnya ke tempat sampah. Dion pasti tidak bisa membacanya meskipun dia berusaha menyatukan robekan surat itu. Lalu, bila bukan dari surat hasil tes darah ku maka darimana Dion mengetahui tentang kehamilan ku?" Kini Sina mulai meragukan sendiri kecurigaannya.


Dia dilanda kebingungan antara percaya atau tidak karena masing-masing sisi punya penjelasan masuk akal yang tidak bisa diabaikan.


"Hah..aku tidak bisa memastikannya sekarang." Pasrah Sina tidak punya jalan keluar.


Tapi dia tidak berkecil atau merasa kecewa.


"Jika memang Dion sudah tahu tentang kehamilan ku maka seharusnya ini adalah yang terbaik. Dia juga terlihat tidak menolak keberadaan ini bila dinilai dari sikapnya. Namun, jika Dion masih belum tahu maka biarlah seperti ini. Karena jika sudah waktunya aku akan memberitahu sendiri tentang keberadaan anak ini, tentunya aku harap ketika hari itu terjadi Dion sama sekali tidak menolak kami." Harap Sina tidak mau terlalu banyak berpikir.


Bila Dion sudah tahu maka mungkin itu adalah jalan terbaik dan jika dinilai dari sikapnya pun Dion tampak tidak menolak, malah cukup antusias. Namun jika Dion belum tahu Sina berjanji akan memberi tahu Dion secara langsung suatu hari nanti, dia harap saat itu terjadi Dion sama sekali tidak menyangkalnya.


"Tapi ngomong-ngomong semenjak tinggal bersama Dion perut ku tidak pernah berulah lagi.  Ei, apa dia sudah mengenal Dion sebagai Ayahnya?" Sina mengelus perut buncitnya sayang.


Sudah dua hari ini anaknya tidak bertingkah seperti yang kemarin-kemarin. Sina jadi jarang merasa tidak nyaman dan jarang mual, dia bahkan punya nafsu makan yang baik dan tidak menolak masakan Dion. Kecuali ya, untuk makanan yang baru saja Dion hangatkan.


Mungkin karena dia sedang ngidam sehingga makanan iti langsung ditolak mentah-mentah oleh anaknya.


"Nak, Papa kasian tahu kamu jahilin begitu. Lain kali kalau kamu mau jahilin Papa mending waktunya dipending dikit yah, jangan tengah malam begini. Mama khawatir tahu kalau ada sesuatu terjadi sama Papa kamu di jalan." Ucap Sina diakhiri dengan sebuah tawa kecil.


Dia kasihan tapi juga merasa lucu melihat Dion harus keluar bersusah payah mencari makanan di tengah malam. Di dalam hati Sina menebak jika anaknya sengaja menjahili Dion sebagai bentuk balas dendam untuk kejadian tempo hari.


Anak Mama kok pinter banget sih, nurun yah pinternya dari Mama?. Batin Sina bangga.


...🌺🌺🌺...


Dion berhasil menemukan es krim coklat setelah keluar dari komplek perumahannya karena memang minimarket 24 jam selalu ada dimana-mana. Namun, berbeda dengan soto ayam yang Sina inginkan.


Makanan ini tidak dijual di minimarket maupun supermarket jadi Dion harus berusaha keras mencari keberadaannya di waktu tengah malam seperti ini. Dia juga tidak yakin masih ada yang jualan karena hei, dia sedang mencari tukang soto bukan tukang sate yang masih bisa ditemukan.


Hampir menyerah, Dion tiba-tiba melihat sebuah gerobak dorong dipinggir jalan. Tampaknya pasangan suami istri yang sedang pemilik gerobak sedang berkemas siap pulang. Langsung saja Dion menghentikan mereka berdua dan membeli dua mangkuk soto ayam yang masih hangat.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu tampak ramah dan baik kepada Dion. Ketika membuat pesanan tadi wanita tua itu langsung tahu bila Dion sedang memenuhi keinginan wanita yang sedang ngidam. Dion tidak menyangkalnya sehingga wanita tua tersebut memberikan Dion soto tersebut secara cuma-cuma namun langsung ditolak oleh Dion.


Malahan Dion melipatkan gandakan bayaran soto tersebut untuk rasa syukur atas kebaikan mereka dan rasa syukur karena dia akhirnya berhasil memenuhi keinginan Sina.


Setelah membeli es krim coklat dan soto ayam, Dion segera bergegas pulang ke rumah dalam suasana hati yang baik. Dia memarkirkan mobilnya di garasi dan segera bergegas lari menuju paviliun dingin.


Dion tidak tahu bila ada sepasang mata yang terus saja mengawasinya dari balik jendela.


"Apa yang Kak Dion lakukan di luar jam segini?" Pemilik mata itu bertanya heran.


Dion melihat paviliun dingin yang diterangi lampu cerah semakin dekat dengannya. Lantas, langkahnya kian cepat melihat tempat dimana sang kekasih dan anaknya bersembunyi.


Dia masuk ke dalam paviliun dingin, memindahkan dua bungkus soto itu ke dalam mangkuk dan membawanya ke kamar Sina. Dia pikir Sina di dalam kamar setia menunggunya dan akan memberikan sebuah senyuman manis untuk menyambut kepulangannya.


Tapi ternyata itu hanya harapannya saja karena faktanya Sina sudah tertidur begitu Dion masuk ke dalam kamar.


Dia tertidur lelap sembari memeluk bantal yang Dion tiduri tadi, menyesap baunya untuk menenangkan syaraf tegangnya.


Melihat ini Dion tidak tahu harus tertawa atau menangis karena dia agak marah melihat Sina tidak menunggunya pulang namun juga lega melihat Sina baik-baik saja.


"Dasar putri tidur.." Gumam Dion terkekeh.


Dia meletakkan makanan yang dia bawa ke atas nakas. Lalu Dion naik ke atas ranjang untuk membangunkan Sina. Dia harus makan soto ini sebelum mendingin.


"Sin..bangun, Sina." Dion mengelus puncak kepala Sina sayang.


Sina mudah tertidur tapi mudah juga terbangun. Dia langsung bangun ketika mendengar suara lembut Dion.


"Ugh.. Dion.. kapan pulang?" Sina mengusap kedua matanya untuk menyesuaikan sinar lampu yang masuk ke dalam retina.


"Baru aja, nih makan es krim coklat kamu sebelum cair."


"Um..mau.." Sina tidak bisa menahan decakan ludahnya meskipun sedang mengantuk.


Dion terkekeh, mengambil makanan yang ada di nakas dan memberikannya kepada Sina. Satu demi satu es krim coklat yang Dion beli perlahan dilahap oleh Sina.


Sejujurnya, Sina tidak makan banyak karena tepat bungkus keempat dia tidak lagi tertarik memakannya. Dia bilang es krimnya simpan saja di kulkas untuk besok. Selesai makan es krim Sina kembali memakan soto ayam yang paling dia idam-idamkan.


"Aku udah kenyang, mau bobok lagi." Sina bahkan tidak sempat memakan sendok ketiganya tapi dia sudah bosan.


Entah mengapa keinginan Sina langsung hilang mencicipi rasanya.


"Sotonya masih banyak Sina jadi makan beberapa sendok lagi." Dion menarik Sina bangun untuk melanjutkan makan lagi tapi Sina sama sekali tidak mau bekerja sama.


Dia bilang sudah kenyang dan mengantuk ingin segera tidur sehingga Dion terpaksa melepaskan Sina untuk kali ini saja.


"Dion bobok.." Sina menarik-narik lengan jaket kulit Dion yang belum sempat dia lepaskan.


"Bentar yah, aku harus balikin sisa makanannya ke dapur dulu biar besok kamu bisa makan lagi."


Sina cemberut,"Jangan lama-lama."


"Siap, tuan putri." Dion segera ke turun ke dapur.


Memasukkan sisa es krim coklat dan soto ayam ke dalam kulkas. Siapa tahu Sina ingin makan soto ayam ini lagi pikir Dion.


"Peluk.." Setelah masuk ke dalam kamar Sina tiba-tiba minta dipeluk.


Dion langsung menyingkirkan jaketnya dan segera naik ke atas ranjang, menarik Sina ke dalam pelukannya untuk berbagi kehangatan.


Tunggu sebentar lagi Sina, hanya.. sebentar lagi. Batin Dion seraya mengulum senyum.


Bersambung...


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, adakah yang puasa syaban hari ini?

__ADS_1


Hari dimana semua amalan kita selama satu tahun penuh diangkat ke langit, adakah yang sudah meminta maaf kepada orang-orang terkasihnya?


Dari author untuk semuanya maaf karena kadang buat kesel dan up tidak sesuai harapan, in shaa Allah author akan berusaha keras up cepat biar bukunya selesai 🥰


__ADS_2