Dear Dion

Dear Dion
64. Tuduhan


__ADS_3

PRANG


Apa yang terjadi?


"Argh..." Bela berteriak nyaring sambil memegang kakinya.


Mangkuk itu tiba-tiba terjatuh dari tangannya dan berakhir mengenai kakinya sendiri. Sekarang Bela kesakitan dan memegang kakinya yang terkena bubur panas buatannya sendiri-


"Ya Tuhan, Sina! Kenapa kamu menyiram Bela dengan bubur panas itu?" Kira tiba-tiba masuk ke dalam dapur dan menuduhku menyiram Bela dengan bubur panas itu.


"Aku.. menyiram Bela dengan bubur panas itu?" Tanyaku heran.


Aku pikir Kira salah paham di sini karena aku sama sekali tidak pernah menyiram Bela dengan bubur panas itu. Jangankan menyiram, menyentuhnya saja aku belum sempat tadi karena mangkuk bubur itu lebih dahulu jatuh dari tangan Bela.


"Ya, kamu yang menyiramnya! Jika bukan kamu siapa lagi yang akan melakukannya!" Teriak Kira marah kepadaku.


"Tidak..aku tidak menyiramnya karena bubur itu jatuh sendiri dari tangan Bela sebelum aku sempat menyentuhnya." Kataku menjelaskan.


Aku tidak bisa membantu Bela karena badannya sudah dipenuhi bau bubur yang tajam. Jika aku mendekati Bela takutnya aku tiba-tiba muntah dan itu pasti akan membuat semua orang menatap jijik kepadaku.


"Alah, alasan! Kamu pikir aku gak tahu akal-akalan busuk kamu kepada Bela? Pura-pura jadi polos di depan yang lain mungkin bisa menipu mereka tapi sayangnya tipuan itu tidak berpengaruh untukku. Sekarang aku berhasil menangkap basah kejahatan yang kamu lakukan dan kamu tidak bisa mengelak lagi."


Polos?


Kejahatan?


Kira ini apa dia yakin tidak sedang merapalkan skenario naskah drama Korea?


"Siapa yang berpura-pura? Aku memang tidak pernah menjatuhkan mangkuk itu apalagi sampai sengaja menyiram Bela." Aku memang tidak berpura-pura.


Aku sungguh tidak pernah menjatuhkan mangkuk itu apalagi sampai menyakiti Bela dengan bubur panas itu. Hell, dia tidak bisa mencium bau bubur itu jadi bagaimana dia bisa tahan memegangnya?


Hah... Kira terlalu banyak menonton drama.


"Bohong, ka-"


"Ada keributan apa ini?" Tante Ranti masuk ke dalam dapur.


Syukurlah, ada Tante Ranti yang akan membantuku menjelaskan semua kesalahpahaman ini kepada Kira.


"Tante lihat, Sina menyiram Bela dengan bubur yang masih panas. Padahal bubur itu dibuat Bela khusus untuk Sina tapi dia tidak mau memakannya dan malah menyiram bubur itu langsung ke kaki Bela. Tante..kaki Bela sekarang mulai melepuh..ini bisa meninggalkan bekas di kulitnya." Bahkan aku belum sempat mengeluarkan suara tapi Kira sudah berbicara terlebih dahulu.

__ADS_1


Mengatakan omong kosong yang sama kepada Tante Ranti. Aku harap Tante Ranti tidak mempercayai apa yang dia katakan.


"Ya Tuhan, Sina apa yang kamu lakukan?" Tante Ranti bergegas mendekati Bela.


Dia melihat kulit kaki Bela yang mulai melepuh dan masih dibalut bubur buatannya sendiri.


"Tante ini tidak seperti yang Kira katakan, sungguh. Tadi Bela sudah menyiapkan bubur itu ke dalam mangkuk dan akan memberikannya kepadaku. Awalnya aku ingin menerimanya tapi tiba-tiba perutku terasa tidak nyaman ketika mencium baunya. Nah, aku berusaha menjaga jarak dari Bela agar baunya tidak bisa tercium lagi. Tapi Bela sangat keras kepala Tante dan bersiteguh aku harus mencoba buburnya, kemudian kejadiannya berakhir seperti ini. Tangan Bela tiba-tiba menjatuhkan mangkuk bubur itu sebelum aku bisa menyentuhnya. Ini adalah cerita yang sebenarnya Tante, sungguh, aku tidak berbohong ataupun menyembunyikan apapun. Jika Tante tidak percaya coba tanya saja ke Bela, dia pasti mengatakan hal yang sama seperti yang ku katakan ini." Sekarang aku sudah mengatakan kronologisnya tanpa menyembunyikan apapun-ah, kecuali pada bagian aku sedang hamil tentunya.


Semuanya sudah jelas dan Bela pun ada di sini sehingga kebenaran akan terungkap.


"Bela, apa benar yang dikatakan Sina? Apa ini hanya salah paham saja?" Tante Ranti bertanya dengan sayang kepada Bela.


Perlakuan Tante kepada Bela dan kepadaku ternyata berbeda. Sebelumnya aku meragukan penilaian ku sendiri tapi setelah melihatnya sekarang aku akhirnya sadar jika dimatanya kami memang punya tempat yang tidak sama. Hah..tentu saja Bela adalah gadis yang luar biasa dan lebih sempurna dari diriku.


Dia pandai memasak sedangkan aku tidak.


Dia pandai dalam hal bisnis sedangkan aku tidak.


Dia punya pendidikan yang tinggi sedangkan aku tidak.


Dia juga sangat cantik dan mempunyai bentuk tubuh yang bagus, sedangkan aku tidak.


Jadi, aku benar-benar kalah dalam semua hal di sini. Aku kalah untuk semuanya-kecuali anak ini, darah daging Dion yang tidak dimiliki Bela sekarang. Memikirkannya aku bisa menjadi lebih santai karena aku tahu aku akan menang.


Anehnya, Bela tidak langsung menjawab pertanyaan Tante Ranti tapi dia malah memeluk Tante Ranti seraya terisak lebih besar dari sebelumnya. Kata-katanya menjadi ragu seolah-olah dia ketakutan menjawab Tante Ranti.


Aku entah mengapa merasakan sebuah firasat buruk.


Tidak mungkin, Bela bukan orang yang seperti itu. Ya, dia bukan orang yang seperti itu.


"Kenapa sayang? Katakan saja semuanya kepada Tante, kamu tidak perlu takut." Tante Ranti mencoba menenangkannya.


"Aku...aku memberikan Sina mangkuk bubur itu dan dia juga menerimanya. Aku pikir dia akan memakannya tapi siapa sangka Sina malah melempar mangkuk bubur itu dan mengenai kakiku. Aku sangat shock dan takut Tante..aku tidak tahu apa yang membuat Sina marah sehingga dia melempar bubur yang sudah ku buat dengan tulus..aku sungguh tulus membuatkannya bubur itu..tapi dia hiks.."


Bukan ini yang terjadi!


Tidak, apa maksud Bela mengatakan ini semua? Kenapa dia berbohong kepada Tante Ranti tentang semua ini?


Aku tidak mengerti... kenapa Bela melakukan semua ini?


"Tidak, dia berbohong. Tante, itu tidak benar karena Bela berbohong. Kejadiannya tidak seperti itu-"

__ADS_1


"Cukup!" Tante Ranti memotong ucapan ku.


Matanya yang tajam menatap lurus ke arahku dan terlihat begitu dingin. Dia pasti sangat marah karena mempercayai kebohongan yang Bela ciptakan. Mirisnya, Tante Ranti sangat menyukai Bela sehingga apapun yang dikatakan Bela akan langsung dipercayainya. Bahkan, Tante Ranti tidak bisa membedakan baik kebenaran ataupun keburukan karena hatinya sudah tertutup oleh citra baik Bela.


"Tante, aku.."


"Aku sudah memperhatikannya dari beberapa hari yang lalu. Ketika kamu menolak masakannya beberapa kali, aku sudah menilai sikap mu ini. Awalnya, aku pikir kamu tidak akan berani bertindak kasar seperti ini tapi nyatanya aku meremehkan kepolosan mu. Kamu terlalu berani... terlalu berani menyakiti keluarga ku di dalam rumah ku sendiri. Siapa kamu? Datang ke rumahku sebagai tamu tapi bertindak sebagai Tuan rumah, apa kamu sadar kelakuan kasar mu ini bisa membuat kami marah?" Tante Ranti benar-benar marah.


Aku memang tamu di rumah ini dan aku tidak pernah bersikap kasar seperti yang kalian pikirkan. Penolakan ku terhadap makanan yang dibuat punya alasan yang kuat. Aku sedang hamil, mengandung darah daging Dion. Ini adalah bulan awal kehamilan ku jadi tubuhku punya beberapa kondisi yang diciptakan oleh anak ini. Anak Dion, bagian keluarga kalian juga dan bukannya tamu.


Aku ingin mengatakan ini tapi aku tidak bisa karena...aku ingin orang pertama yang tahu kehamilan ku adalah Dion. Hanya Dion seorang, anak dari bayi yang ku kandung ini.


"Aku sungguh tidak melakukan apa-apa, Tante, karena jangankan melempar mangkuk itu menyentuhnya saja aku belum sempat tadi." Untuk saat ini aku hanya bisa mengatakan ini.


Aku yakin Tuhan tidak tidur dan melihat situasi buruk yang sedang menimpaku sekarang.


"Hah..jangan dengerin dia, Tante. Dia ini orangnya licik dan suka berbohong, mempercayainya sama saja memberikannya kesempatan untuk melakukan kejahatan lagi dimasa depan." Kira melemparkan ku tatapan provokasinya.


Aku memang marah tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Aku juga ingat dengan pesan dokter tadi di rumah sakit agar aku lebih mengontrol emosi ku. Karena apa yang kurasakan juga dirasakan oleh bayiku dan ini akan berdampak tidak baik untuk pertumbuhannya.


"Tante, aku saranin Bela diobati sekarang biar luka bakarnya bisa tertolong dan tidak meninggalkan bekas. Jika tertunda terus, aku takut kita harus membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih serius."


"Kamu benar, masalah ini kita tunda dulu karena untuk saat ini mengobati luka bakar Bela yang paling penting." Mereka lalu membantu Bela bangun dan memapahnya keluar.


Sebelum keluar, Tante Ranti melihatku dan mengatakan sesuatu kepada ku.


"Kamu jangan senang dulu karena masalah ini belum selesai. Setelah urusan Bela beres maka aku akan kembali mencari mu dan menyelesaikan masalah yang sudah kamu buat hari ini." Katanya dingin.


Masalah ini aku harap bisa diselesaikan secepat mungkin karena aku tidak ingin membangun permusuhan dengan Tante Ranti dan keluarga Dion.


Ah.. rasanya begitu melelahkan. Aku ingin beristirahat di dalam kamarku sembari menunggu kepulangan Dion. Aku sudah tidak sabar memberitahu Dion kabar gembira ini dan menjelaskan kepada semua orang alasanku tidak bisa memakan masakan yang dibuat Bela atau yang lainnya.


Dengan begini kebenaran akan terungkap dan Tante Ranti akhirnya tahu wajah asli kedua orang itu. Bela dan Kira, aku yakin mereka bersekongkol menjatuhkan ku tadi.


...🌺🌺🌺...


"Ee... dramanya sudah berakhir? Terlalu cepat, aku masih belum puas menonton." Sebuah keluhan centil keluar dari bibir tipis itu.


Tangannya yang ramping dan bersih menyentuh sisi mulutnya mengungkapkan senyuman manis yang anehnya tampak begitu dingin.


"Tapi, ya sudahlah. Toh, cerita klimaksnya akan segera datang. Aku ingin tahu apa yang akan Kak Dion lakukan kepada Sina ketika mendengar kabar menyenangkan ini? Hahaha... aku sudah tidak sabar melihat ekspresinya."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2