Dear Dion

Dear Dion
65. Marah


__ADS_3

"Mama dan Papa tenang saja, dia aman kok di rumah Dion. Dia juga selalu patuh dan gak pernah membuat masalah di rumah Dion-"


"Oke..oke, Dion gak akan panggil 'Mama' lagi. Tante...anak Tante aman hidup sama Dion." Dia meringis kecil setelah mendengar penolakan dari calon mertuanya yang jauh di seberang sana.


"Dion tulus dengan dia, seharusnya Ma-eh, seharusnya Tante sudah tahu ini semenjak Dion bisa berdiri sendiri dan berhasil memenuhi harapan kalian. Tante, Om, yakinlah jika Dion masih mengingat dengan jelas apa yang Dion janjikan 15 tahun yang lalu. Aku gak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini setelah 15 tahun berjuang untuk menjadi kuat dan layak untuk mendapatkan putri kalian." Mata hitamnya yang jernih terbang jauh mengenang hari dimana dia berjanji untuk menjadi orang yang kuat.


Dia ingin menjadi kuat hanya untuk melindungi si 'dia'.


Dia ingin menjadi sukses hanya untuk membanggakan si 'dia'.


Dan dia ingin menjadi pantas hanya untuk bisa memiliki si 'dia'.


Semua tekatnya berasal dari gadis itu, dan karena gadis itu dia berambisi menjadi laki-laki yang mampu dan layak agar bisa bersanding dengannya.


"Aku sangat serius mengatakannya.. Haha.." Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi lainnya.


"Kalau begitu kapan kalian pulang? Dia pasti sangat merindukan Tante dan Om." Tanyanya terlihat agak santai.


Tangan kirinya yang bebas perlahan membuat gerakan kaku ketika mendengar jawaban dari lawan bicaranya di seberang sana. Senyumannya juga mulai menghilang beberapa derajat meninggalkan sudut kecil yang tidak bisa disebut sebagai sebuah senyuman.


"Aku pikir hubungan kalian sangat baik."


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu lagi. Ya..ya, selamat siang." Setelah itu Dion memutuskan sambungan teleponnya dan menaruhnya kembali ke dalam sakunya.


Diam, pikirannya melayang kembali mengingat jawaban lesu dari lawan bicaranya tadi. Dial tidak bahagia mungkin, pikir Dion menebak. Enggan melanjutkan sekolah, lebih senang di dalam rumah mengurung diri, dan tidak perduli dengan urusan bisnis keluarganya. Sikap ini menunjukkan jika bertahun-tahun mereka berpisah orang yang dia cintai memendam sakit berteman dengan sepi.


"Kenapa aku tidak menyadarinya selama ini?" Tanyanya menyesal.


Dert...dert..


"Mama kok tumben telpon Dion." Tanyanya agak heran ketika melihat id penelepon.


"Halo, Ma-"


"Dion, cepat pulang ke rumah sekarang! Kaki Bela melepuh disiram bubur panas sama Sina!" Teriak Nyonya Ranti sangat marah diseberang sana.


"Apa?" Dion tidak bisa menahan keterkejutannya.


...🌺🌺🌺...


Sina P.O.V


Kotak itu sekarang ada di tanganku, warnanya yang biru tua dilingkupi oleh tali putih bersih membuatnya terlihat jauh lebih anggun. Aku suka warna ini, aku juga suka tali putihnya yang polos. Intinya, aku suka bentuk dan semua yang ada di kotak ini.

__ADS_1


Terlebih lagi, surat ini.


Aku sudah melipatnya dengan rapi dan berusaha untuk tidak meninggalkan kusut di setiap sudutnya. Setelah melipatnya aku memasukkannya ke dalam kotak hadiah yang ku beli dan mengikatnya dengan hati-hati. Semenarik mungkin dan secantik mungkin untuk membuat kesan jika hadiah yang ada di dalamnya juga secantik nan semenarik mungkin kotak hadiahnya.


"Tapi...masalah Bela, mungkin Dion sudah mendengarnya sekarang." Bisa jadi Tante Ranti sudah menghubungi Dion dan menceritakan masalah yang terjadi hari ini.


Jika Dion tahu maka bukan tidak mungkin dia akan pulang lebih cepat dari biasanya dan aku harus siap menghadapi pertanyaan demi pertanyaan yang Dion layangkan kepadaku. Tapi, sebelum itu aku harus memberikan Dion kotak ini terlebih dahulu. Karena di dalam kotak ini ada penjelasan mengapa akhir-akhir ini aku menolak makan yang dapur buat. Kenapa akhir-akhir ini aku sering kelelahan dan kenapa akhir-akhir ini perutku terasa tidak nyaman.


Semuanya sudah dijelaskan di dalam kotak itu. Namun, jika Dion lupa pernah melakukannya bersamaku maka aku akan mencoba mengingatkannya tentang malam itu. Malam ketika dia pulang mabuk dan masuk ke dalam kamar ku secara diam-diam.


Aku harap... Dion mempercayai ku.


Tentunya, aku tidak berharap banyak Dion langsung sadar saat bangun pagi itu karena setelah malam itu Dion langsung menghilang selama 3 minggu lamanya. Mungkinkah dia menghindari ku karena ketakutan ketika bangun dia sudah ada di dalam kamarku dengan keadaan yang... cukup berantakan?


Tidak...aku tidak mau memikirkannya.


Cklak


Pintu kamarku tiba-tiba terbuka.


"Dion, kamu akhirnya pulang-"


"Kenapa kamu menyiram Bela dengan bubur panas itu?" Dia langsung bertanya tentang masalah tadi.


"Aku akan menjelaskannya nanti karena yang terpenting sekarang aku ingin memberikan mu sesuatu." Kataku berkompromi seraya mengambil kotak hadiah itu.


Memberikannya kepada Dion dan langsung diterima-


BRAK


Dia melempar kotak hadiah itu ke arah bak sampah yang ada di kamarku. Bahkan..bahkan tanpa melihat isinya sama sekali. Dion hanya menatapku marah dengan sorot mata tajam yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Ini sangat menakutkan, aku tidak senang melihat Dion marah seperti ini.


"Bagiku yang paling penting sekarang adalah masalah ini. Katakan, kenapa kamu menyiram Bela dengan bubur panas itu?" Tanyanya lagi.


"Dion..di dalam kotak itu ada hadiah besar yang tidak pernah kamu duga. Di sana ada hadiah yang tidak pernah kamu duga...kamu harus melihatnya." Aku berjalan ke arah bak sampah dan mengambil kembali kotak yang Dion buang tadi.


Sekali lagi mengulurkannya kepada Dion agar dia membukanya dan melihat hadiah apa yang aku siapkan di dalam. Aku yakin setelah Dion melihatnya dia akan berhenti marah dan menjadi tenang.


"Hadiah! Hadiah! Aku tidak butuh hadiah kamu!" Kali ini Dion tidak membuangnya ke bak sampah lagi seperti sebelumnya.


Tapi dia melemparnya ke lantai, menginjak-injaknya sekeras mungkin tanpa ampun di depanku. Aku seperti melihat apa yang Dion injak-injak sekarang adalah hati kecilku yang menyedihkan. Dibuang dan dihancurkan tanpa diberikan kesempatan untuk mengungkapkan rasa.


Jujur saja, aku kesakitan melihat harapanku diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tega melakukan itu kepada Bela? Apa salahnya sampai kamu harus melakukan tindakan keji itu? Hah, aku hanya ingin tahu itu tapi kamu terus berbelit-belit dan membuat ku muak!"


Untuk Bela dan hanya untuk Bela. Dia begitu perhatian kepada Bela, dari awal seharusnya aku tidak termakan angan-angan ku lagi. Sudah jelas-jelas hari itu Dion mengatakan jika dia tidak tertarik kepada ku tapi hanya karena kehadiran anak ini aku menjadi besar kepala.


Sina, kamu terlalu menyedihkan.


"Apa Bela sangat penting untuk kamu? Apa Bela... orang yang paling penting untuk kamu?" Tanyaku merasa bodoh.


"Apa kamu harus membicarakannya sekarang?" Dia bertanya balik.


Hah.. sekarang aku mengerti. Itu hanya kecelakaan saja. Malam itu terjadi karena kecelakaan dan anak ini ada juga karena kecelakaan malam itu.


Sekali lagi, semua itu adalah kecelakaan yang tidak disengaja.


"Aku tidak pernah melakukannya." Kataku mencoba menahan tangis.


"Aku tidak pernah menyiramnya. Mangkuk bubur itu tiba-tiba jatuh dari tangannya sebelum aku bisa menyentuhnya. Tapi Bela tidak mau mengakuinya dan malah menuduhku sengaja menyiramnya. Aku bertanya-tanya apa aku pernah menyinggungnya sampai dia menuduhku melakukan kejahatan itu. Aku bertanya-tanya kesalahan apa yang aku lakukan kepadanya sehingga dia-"


"Aku mengerti." Dion memotong ucapan ku.


"Sekarang kemasi semua barang-barang mu." Kata-kata Dion selanjutnya membuat ku langsung membeku.


"Kemasi barang-barang ku?" Tanyaku memastikan.


Dion tidak langsung menjawab, dia membalikkan badannya ke arah pintu bersiap pergi.


"Ya, segera kemasi semua barang-barang mu dikamar ini karena mulai hari ini kamu tidak bisa tinggal di kamar ini lagi." Jawabnya tanpa ragu.


"Tapi..tapi aku tidak bersalah, aku difitnah oleh mereka! Aku sama sekali tidak pernah melakukan kejahatan itu!" Aku tidak bisa menerimanya begitu saja.


Aku tidak pernah melakukan kejahatan itu jadi kenapa aku harus angkat kaki dari rumah ini?


"Segera kemasi barang-barang mu." Dia bahkan tidak perduli dengan kesedihan yang aku rasakan. Memintaku untuk segera pergi dari rumahnya ini.


Setelah mengatakan itu dia langsung keluar dari kamarku. Menutup pintu sekaligus menutup hatinya untuk mendengarkan kebenaran yang ingin ku sampaikan.


Perih rasanya.


Setelah hatiku dihancurkan, dia kini memintaku untuk pergi dari rumahnya. Padahal aku sudah mengatakan yang sebenarnya bahwa aku tidak bersalah dan aku tidak pernah berniat menyakiti Bela. Tapi ternyata pembelaan ku sama sekali tidak masuk ke dalam matanya.


Dia tidak perduli dengan kebenaran yang coba aku jelaskan. Bahkan sebelum selesai mengatakan semua alasanku, dia sudah lebih dulu memvonis ku. Mempersilakan ku untuk pergi dari tempat ini, tempat yang sempat aku angankan menjadi rumahku bersamanya.


Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang karena sekali lagi Engkau menjatuhkanku dari tempat yang sama dan dari harapan yang sama. Mungkinkah ini adalah akhirnya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2