
Berita terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh Viola putri dari pemilik perusahaan X saat ini sedang santer dibicarakan dimana-mana. Hanya dalam waktu beberapa menit peluncuran topik berita ini sudah menjadi trending topik di sosial media. Bahkan para pengamat politik yang hanya berbicara omong kosong tampil di televisi swasta maupun televisi nasional untuk menyuarakan pendapat mereka.
Awalnya, sebagian besar orang lebih pro terhadap Viola karena di samping dia adalah pihak wanita yang tidak melawan dan terkesan lemah, citranya di mata publik juga cukup bagus karena dia adalah salah satu model terkenal yang cukup dihormati. Sehingga diluar sana banyak suara-suara perempuan yang bersimpati menyuarakan pembelaan.
Bahkan para penggaung perlindungan hak asasi wanita mulai tampil dimana-mana menyalahi Dion dan berpendapat bahwa ini hanyalah akal-akalan Dion saja agar bisa menjatuhkan reputasi baik model cantik itu. Namun, pembelaan ini hanya berlaku sementara setelah pihak perhotelan mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut.
Mereka juga merilis video yang Dion berikan ke media massa untuk mempertegas kebenaran posisi Dion. Selain itu, mereka juga menyebarkan audio percakapan Dion dan Viola selama di dalam kamar hotel tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi.
Alhasil dalam sekejap mata semua pembelaan untuk Viola hilang, jika pun ada satu suara yang bertahan maka akan langsung diserang oleh orang-orang yang pro Dion. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Viola selaku model terkenal namun juga kepada perusahaan X Tuan Jason.
Tersebarnya percakapan Dion dan Viola di dalam kamar hotel merusak reputasi perusahaan X, apalagi Viola sempat menyebut Ayahnya di dalam percakapan dan membuat orang-orang memikirkan ada sebuah konspirasi yang Viola serta Ayahnya siapkan untuk Dion. Apalagi orang-orang semakin dibuat marah ketika mereka mendengar ancaman Viola kepada Dion agar mau berhubungan badan.
Ini adalah bentuk penghinaan untuk semua wanita diluar sana.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
"Bos, Tuan Jason ingin berbicara dengan Anda."
"Aku sudah bilang, tolak dia bagaimanapun caranya. Apa kamu masih belum paham juga?" Nada dingin Dion menakuti sekretaris itu.
"Maaf bos, saya sudah melakukannya tapi dia menggunakan koneksi pejabat di pusat untuk menghubungi saya." Dia sudah melakukan apa yang Dion perintahkan tapi Tuan Jason sangat keras kepala.
Dia menggunakan koneksi orang yang lebih tinggi untuk menekan perusahaan mereka.
"Hem," Dion menaikkan salah satu alisnya terganggu.
"Siapa?" Dia cukup heran ketika mendengar ada seorang pejabat tinggi yang tertarik bermain dengannya.
"Dia Pak Ruli, bos. Pejabat daerah yang baru naik beberapa bulan yang lalu." Jawab sekretarisnya cepat.
"Dia baru seumur jagung tapi sudah berani main-main dengan ku. Baiklah, kita ikuti apa yang dia mau." Suasana hatinya sedang buruk dan dia tidak suka diganggu kesenangannya.
Ketika ada yang mengganggu maka mereka harus bersiap-siap menerima imbas dari permainan mereka sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan, bos?" Dia sangat kesal ditekan dengan embel-embel kekuasaan, apalagi orang yang menekan adalah pilihan rakyat yang dipercayai sehingga bisa duduk di kursi itu.
Dion menggelengkan kepalanya,"Bukan tugas kamu, tapi milik yang lain."
"Bagaimana kabar perusahaan X saat ini?"
"Perusahaan X terancam pailit, bos, karena harga saham mereka turun drastis. Tapi saya pikir itu tidak akan mudah selama mereka mengandalkan kekuasaan orang-orang yang ada di pusat."
Dion tersenyum dingin,"Tekan terus harga saham mereka dan jangan biarkan bergerak di kisaran normal. Masalah yang lain aku akan mengutusnya, sekarang kamu bisa pulang."
Dion bangun dari duduknya, meregangkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa letih setelah berjam-jam duduk di tempat yang sama melihat dokumen.
"Bos..apa Anda tidak pulang lagi? Kesehatan Anda sangat penting, bos, jadi sebaiknya Anda jangan terlalu begadang." Dia adalah bawahan Dion sekaligus orang yang terpercaya untuk Dion.
Setiap malam dia akan menyempatkan diri memeriksa cctv ruangan Dion dari rumahnya dan selalu menemukan Dion berkutat di depan komputer. Ini terus berlangsung sampai hari ini, atasannya yang dulu terlihat bugar kita tampak lebih pucat dan mempunyai emosi yang buruk.
Jujur, dia lebih senang melihat Dion yang ketat tapi emosi stabil daripada Dion yang ketat namun punya emosi yang buruk.
__ADS_1
"Pulang sebelum aku berubah pikiran." Tegur Dion dingin.
"Bos, selamat malam dan jangan begadang terlalu lama!" Dia langsung keluar dari ruangan Dion sebelum atasannya berubah pikiran.
Setelah tidak ada siapapun di ruangannya, Dion mengusap wajahnya kasar. Mengambil ponsel dari saku untuk menghubungi seseorang.
"Selidiki pejabat daerah yang bernama Pak Ruli dan apa hubungannya dengan Tuan Jason perusahaan X, aku ingin informasi orang ini sudah ada di dalam kotak email ku besok pagi."
"Siap bos, besok pagi informasinya sudah ada dan akan saya kirimkan." Orang yang di seberang sana langsung menyanggupi.
"Bagus, sekarang kamu bisa pergi." Dion mematikan sambungan, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
Berdiri, dia diam-diam memandangi gelapnya malam yang membentang di depan. Ingatannya dibawa melayang pada malam dimana dia dan Sina menghabiskan waktu di pasar malam.
Duduk di depan sungai sambil menikmati cahaya redup bulan yang amat sangat damai dan menenangkan.
Ah, Dion masih ingat jelas wajah merona Sina malam itu. Malam yang amat sangat penting untuknya karena di malam itu juga dia mengetahui tentang keberadaan anaknya.
"Bulan ini usia kandungan kamu pasti hampir 7 bulan, usia yang cukup melelahkan untuk pengalaman pertama sebagai Ibu muda." Hati Dion berdenyut sedih.
"Aku penasaran sebesar apa perut mu sekarang dan aku juga penasaran, apakah badan kamu gemuk seperti wanita hamil pada umumnya atau justru kamu lebih kurus dari yang lain. Aku ingin melihatnya.."
Hari ini seharusnya dia sedang memeluk hangat Sina dan anak mereka, menceritakan sebuah dongeng tidur untuk orang yang ia kasihi. Melakukan hal manis itu pasti langsung menghilangkan keletihannya setelah bekerja seharian. Seharusnya, akhir itulah yang dia dapatkan namun nyatanya dia justru sedang berdiri di sini tenggelam dalam kesepian yang melelahkan.
Lelah sampai batas dimana dia lebih suka tidak memikirkan apapun selayaknya orang gila yang tidak tahu apa-apa daripada harus disiksa karena kerinduan yang tidak kunjung-kunjung bisa dilampiaskan.
"Hah..kepalaku pusing." Pandangan Dion mulai berkunang-kunang, tapi itu tidak lama karena setelah itu Dion bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Terd
"Telepon rumah?" Dion mengernyit tidak suka ketika melihat id penelepon.
Ini adalah telpon dari rumahnya, Dion hapal dan tahu karena Nyonya Ranti sering memanggil dari sini setelah dia mengabaikan semua panggilannya.
Dion ingin mematikan sambungan telepon tapi hati kecilnya menghentikan. Dia pikir ini mungkin urusan yang sangat mendesak di rumah jadi tidak apa-apa mengangkatnya sekali saja.
Toh, sudah 5 bulan dia tidak pernah pulang ke rumah sehingga dia tidak terlalu tahu tentang kabar keluarga di rumah.
"Tuan muda, ini Bik Mur." Ini adalah suara Bik Mur.
"Ada apa Bik, kenapa menelpon ku di waktu selarut ini?" Ini pasti kabar yang sangat penting jika Bik Mur sampai memanggilnya tengah malam.
"Tuan muda..saya minta maaf menghubungi Tuan selarut ini tapi ini adalah waktu yang paling tepat untuk membicarakannya, Tuan."
Dion memijit pelipisnya merasa pusing,"Membicarakan tentang apa?"
"Tuan..saya tahu dimana non Sina berada." Bik Mur terdengar sangat bersemangat di ujung sana tapi tetap mengontrol volume suaranya.
Deg
Jantung Dion sontak berdegup kencang. Dia tanpa sadar menegakkan punggungnya, memfokuskan pendengarannya setajam mungkin.
"Apa yang baru saja kamu katakan.. Sina.." Dion tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Kedua tangannya mulai gemetaran, dadanya terasa sesak setiap kali bernafas dan kedua lututnya mulai terasa lemas. Kabar baik ini sudah berapa malam dia merindukan agar sampai ke dalam pendengarannya.
"Benar Tuan, saya kebetulan menemukan ponsel non Sina di dalam bathub ketika membersihkan paviliun dingin. Saat itu saya pikir ponsel non Sina sudah rusak karena terlalu lama berendam di dalam air dan tidak bisa digunakan jadi saya hanya asal-asalan menekan tombol power. Namun, saya tidak menyangka ternyata ponsel non Sina tidak rusak dan masih bisa dihidupkan kembali, Tuan. Beruntung ponsel non Sina sama sekali tidak terkunci jadi saya bisa melihat pesan non Sina sebelum pergi."
__ADS_1
"Apa kamu membukanya?" Tanya Dion tidak sabar.
"Ya, Tuan muda. Malam sebelum non Sina pergi dia sempat menghubungi seseorang yang bernama Paman Maman. Lalu paginya Paman Maman mengirimkan nomor apartemen yang akan non Sina tempati namun belum sempat dibuka non Sina."
Nomor apartemen?
Dion mengepalkan tangannya kuat,"Apa isi pesannya?"
"Isi pesannya adalah non Sina akan tinggal di apartemen no. 7 lantai 1 tepat di samping apartemen Paman Maman bersama istrinya. Paman Maman juga mengingatkan non Sina agar sampai ke gedung apartemen X dengan selamat karena di kota C jaraknya cukup jauh dari kota ini, Tuan."
Kota C?
Kota ini cukup jauh, mungkin perlu dua jam perjalanan agar bisa sampai ke sana.
Dion menghela nafas panjang, sudut bibirnya tanpa sadar tertarik membentuk sebuah senyuman. Setelah 5 bulan penantian dan pencarian, dia akhirnya bisa tersenyum kembali. Perasaan lega yang telah berbulan-bulan tidak dirasakan kini akhirnya dia rasakan juga karena..
Sina, sang kekasih akhirnya dia temukan.
"Tuan muda?" Bik Mur memanggil dari seberang sana karena sedari tadi dia tidak mendengar respon apapun dari majikannya.
Dion tersenyum simpul,"Bik Mur tolong rahasiakan masalah ini dari siapapun, jangan sampai masalah ini sampai ke telinga orang-orang rumah. Setidaknya untuk saat ini biarkan aku saja yang mengetahuinya."
"Tenang Tuan muda, di rumah ini tidak ada siapapun yang tahu tentang rahasia ini."
Setelah itu Dion memutuskan sambungan, mengambil jasnya di sandaran kursi dan langsung bergegas keluar dari perusahaan. Tidak ada siapapun di dalam perusahaan kecuali petugasĀ keamanan yang sering melakukan patroli rutin. Para wartawan yang keras kepala juga sudah tidak ada lagi diluar sehingga Dion bisa keluar dengan mudah dan cepat.
"Malam ini adalah hujan terakhir aku merasakan sendirian karena setelah ini akan ada Sina yang mewarnai hidupku." Bisiknya pada gerimis hujan diluar yang terus bersenandung lembut menemani perjalanannya ke kota C.
Di tengah perjalanan menuju kota C hujan mulai turun lebat dan deras. Beberapa pengendara motor yang tidak membawa jas hujan berhenti di depan minimarket 24 jam tidak terkecuali Dion. Dia sengaja mampir ke minimarket bukan untuk berteduh tapi ingin membeli susu Prenagen untuk Sina. Kandungan dari usia 6 bulan sampai 9 bulan dia masukkan ke dalam keranjang dalam jumlah yang besar. Tidak hanya itu saja, dia juga memasukkan susu untuk wanita yang baru melahirkan. Katanya kandungan susu ini cocok untuk diminum setelah melahirkan.
Setelah selesai berbelanja dia melanjutkan lagi perjalanannya ke kota C dalam keadaan tubuh sudah basah kuyup. Dia merasa pusing tapi tidak dianggap serius karena yang terpenting saat ini adalah bertemu Sina.
Pukul 2 dini hari Dion akhirnya sampai di depan gedung apartemen milik Paman Maman. Sekilas, dia bisa tahu jika gedung apartemen ini kekurangan dana pembangunan.
"Istriku sungguh pandai mencari tempat persembunyian. Tapi ini adalah yang terakhir karena di masa depan nanti tidak akan ada lagi yang kedua kali." Ucapnya memberi peringatan pada diri sendiri agar lebih ketat mengawasi Sina.
"Sina, aku datang." Dia mengambil semua barang-barang belanjaannya.
Masuk ke gedung apartemen setelah mendapat izin dari pihak keamanan-sebenarnya Dion memberikan beberapa lembar merah untuk menyuapnya.
Dia masuk ke lorong gedung apartemen sebelah kanan dan berhenti di depan pintu apartemen nomor 7.
Ting-nong~
Dion membunyikan bel. Dia pikir Sina tidak akan membuka pintu tapi ternyata dia salah karena nyatanya pintu tiba-tiba terbuka. Menampilkan sosok cantik berbadan dua yang masih mengantuk karena tiba-tiba terbangun oleh suara bel pintu.
Dion tertegun di tempat, memandangi wanita cantik yang sudah menjadi mimpi-mimpi di dalam tidurnya kini sedang berdiri tepat di depan. Dia masih cantik namun jauh lebih kurus dari yang Dion harapkan. Wajahnya juga pucat seperti orang yang sakit-sakitan, tampak menyedihkan.
Wanita yang sedang hamil harusnya punya pipi yang gembil dan sehat, tapi mengapa kekasihnya terlihat kurus seperti orang yang sakit-sakitan?
Hati Dion sakit melihatnya.
"Bibi, aku sungguh tidak apa-apa. Perut ku juga tidak sakit lagi jadi Bibi-Dion?"
Bersambung..
Up 2 atau 3 jam lagiš
__ADS_1