Dear Dion

Dear Dion
68. Undangan


__ADS_3

"Tuan muda, maafkan saya karena sudah bersikap pengecut. Jika saja saya berani bersaksi maka nama baik non Sina di depan Nyonya besar pasti tidak akan seburuk ini. Tuan muda, tolong maafkan saya."


"Tidak apa-apa asalkan Bik Mur tidak mengulangi kesalahan yang sama. Keputusan ku memindahkan Sina ke paviliun dingin juga sebelumnya sudah lama aku rencanakan tapi baru terwujud hari ini." Dia menghela nafas panjang, matanya yang jernih menatap jauh hamparan langit yang terbentang luas dihiasi gemerlap bintang yang memanjakan mata.


"Rumah ini tidak aman untuknya...lebih baik dia tinggal di paviliun dingin untuk sementara waktu sampai aku bisa memberitahu Mama siapa Sina sebenarnya." Bisiknya termenung tapi masih bisa di dengar oleh Bik Mur.


Tentang mengapa rumah ini tidak aman Bik Mur tidak punya hak untuk mempertanyakannya tapi yang pasti untuk beberapa alasan dia menandai beberapa orang yang menjebak Sina hari ini. Kira dan Bela, kedua gadis ini cukup apik memerankan sandiwara mereka di depan Nyonya Ranti. Tapi saat itu mereka tidak pernah memperhitungkan akan ada orang lain yang tiba-tiba masuk ke dalam dan melihat secara jelas kejadian yang sebenarnya. Tentu saja, mereka adalah orang dengan kasta yang tinggi, nyawa orang rendah bukanlah sesuatu yang berharga untuk mereka. Maka jadilah untuk menutup mulut saksi, mereka mengancam akan menyakiti keluarga Bik Mur yang ada di kampung jika sampai mengeluarkan kesaksiannya.


Namun, sayangnya rencananya mereka tidak sepenuhnya berhasil karena...ada orang yang lebih kuat lagi dari mereka.


"Hem..Kira dan Bela.."


"Untuk saat ini, Bik Mur cukup mengawasi pergerakan Risa selama di dalam rumah. Lalu sisanya, biar aku yang akan menanganinya."


...🌺🌺🌺...


Malam harinya Sina menerima makanan dari Bik Mur. Dia harus makan sendirian di paviliun dingin yang sunyi juga sepi. Sejujurnya, saat matahari masih tenang Sina berpikir jika tempat ini tidak terlalu buruk dan cukup menenangkan. Tapi setelah matahari terbenam Sina mulai merubah lagi pendapatnya karena tempat ini cukup menyeramkan.


Dikelilingi banyak pepohonan dan gelap membuat Sina tanpa sadar bergidik ngeri. Apalagi fakta paviliun dingin ini sering kosong semakin meningkatkan tekanan rasa takut Sina. Saking takutnya dia sudah beberapa kali menatap ke arah balkon kalau-kalau ada seseorang dengan baju putih berdiri-ah, mengambang di sana.


Dia sangat takut dengan hantu atau hal-hal yang berbau mistis!


"Pantas saja Dion tidak mengizinkan ku keluar ke rumah utama. Lihat saja jalan itu, sangat gelap dan dikelilingi banyak pohon. Ini sangat menakutkan." Sina bergidik ngeri melihat jalan gelap yang ada di depan paviliun dingin.


Tadi siang, dia memuji jalan itu karena dipenuhi pepohonan hijau yang rindang dan membuat suasana hati menjadi nyaman. Tapi di sekarang, dia tidak menarik kembali kata-kata pujiannya dan mempertanyakan apa yang dipikirkan keluarga Dion ketika membuat jalan ini.


"Lupakan, jangan terlalu memikirkan yang tidak-tidak!" Katanya seraya menarik gorden yang dia singkap tadi.


"Aku harus segera makan karena anakku di dalam pasti sudah lapar sekarang." Ucapnya mengingat kondisi spesialnya.


Dia lalu melarikan diri kembali ke kamarnya setelah mengunci pintu paviliun. Beruntung paviliun dingin ini kecil karena dengan begitu Sina setidaknya tidak terlalu takut sendirian.


🌺🌺🌺


"Dion, kemari sebentar. Ada yang Mama perlu bicarakan dengan kamu dan Bela." Nyonya Ranti menarik tangan Dion untuk menghentikan langkahnya.


Karena sekali Dion mengurung diri di dalam kamar maka dia tidak akan pernah keluar kecuali fajar sudah menampakkan dirinya.


"Mama mau ngomong apa sama Dion?" Tanya Dion tenang dengan patuh mendengarkan Nyonya Ranti.


"Ini mengenai keluarga kita, tapi lebih baik kita mengobrol di ruang keluarga saja karena Bik Mur dan yang lain akan membereskan meja makan." Kata Nyonya Ranti memerintahkan.


Dion tidak mengatakan apa-apa dan langsung ke ruang keluarga tanpa menunggu Bela maupun Nyonya Ranti menghentikan langkahnya lagi. Melihat kelakuan putranya, Nyonya Ranti hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Tersenyum tidak berdaya kepada Bela yang kini sedang bersemu merah. Dia terlihat begitu cantik saat sedang tersipu, pikir Nyonya Ranti manis.


"Ma, aku boleh ikut gak? Risa juga mau tahu urusan keluarga apa yang kalian bicarakan." Suara manis Risa mengalihkan perhatian perhatian Nyonya Ranti.


"Tentu saja sayang, kamu boleh ikut tanpa harus meminta izin Mama terlebih dahulu." Jawab Nyonya Ranti tidak mempermasalahkan.

__ADS_1


"Tante bener, dek. Kamu boleh ikut kok karena kamu juga bagian dari keluarga rumah ini." Angguk Bela juga setuju.


Dia mendekati Risa dan dengan gerakan alami memeluk lengannya, seolah-olah mereka sangat dekat dan sudah biasa melakukannya.


Risa tersenyum simpul, mengedipkan kedua matanya dengan polos tapi hatinya sudah berteriak mencemooh kelakuan sok dekat Bela yang begitu menjijikkan.


Baik, aku adalah anggota keluarga ini tapi bagaimana dengan kamu? Orang asing yang mengaku-ngaku menjadi calon Kakak ipar ku! Huh, teruslah bermimpi!. Batin Risa tidak bahagia.


"Baiklah, kita harus segera ke ruang keluarga sebelum Dion menjadi bosan."


Nyonya Ranti puas dengan calon menantunya yang serba bisa dan bahkan bisa menjalin hubungan yang baik dengan putrinya, Risa. Kepuasan ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggu Nyonya Ranti apalagi jika Dion dan Bela sampai ke tahap yang lebih serius lagi. Rasanya pasti tidak terbayangkan.


"Mama mau ngomongin apa sama Dion?"


Setelah semua orang berkumpul Dion langsung ke inti pembicaraan. Dia tidak ingin membuang waktu lagi karena masih ada banyak yang perlu dia kerjakan sebagai orang yang sibuk.


"Begini, tadi sore Mama ditelpon oleh Mamanya Bela. Beliau bilang besok malam rumah mereka akan mengadakan acara makan-makan, tapi acara makan-makan di sini tidak sesederhana yang kalian pikirkan karena orang yang akan datang adalah para tokoh politik dan pebisnis yang ada di Indonesia. Nah, untuk itu beliau mengundang kita semua untuk menghadiri acaranya. Terutama untuk kamu Dion, sebagai pebisnis ini adalah momen menguntungkan untuk kamu bisa membangun koneksi dengan orang-orang besar. Koneksi ini sangat penting untuk karir bisnis kamu ke depannya agar tidak terlalu kesulitan menjalin kerjasama dengan orang-orang politik yang berbelit-belit. Ah..Mama Bela juga berpesan agar kamu bisa menemani Bela nanti malam karena kamu tahu sendiri'kan kakinya sedang sakit dan masih belum bisa berjalan dengan normal." Nyonya Ranti mengakhiri kata-katanya dengan tatapan menggoda.


Sore tadi orang tua Bela menelpon dan mengundang semua orang secara langsung agar datang ke acara mereka. Sebagai calon besan, tentu saja Nyonya Ranti sangat mendukung undangan tersebut dan malah secara terang-terangan menyatakan bahwa dia juga mendukung hubungan Dion dengan Bela. Karena dukungan ini pula, Mama Bela juga memberikan saran jika Dion dan Bela harus datang bersama untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


Risa langsung menghela nafas panjang di dalam hatinya, akal-akalan dangkal seperti ini dia tahu betul kemana tujuannya. Tentu saja untuk membuat Dion dan Bela bisa lebih dekat lagi, datang ke sebuah pesta besar bersama-sama akan menarik perhatian banyak orang. Lalu, setelah menarik perhatian banyak orang akan muncul berbagai macam spekulasi-spekulasi yang cukup menggelikan mengenai hubungan itu. Setelah semua, Dion tidak bisa melarikan diri lagi dari pendapat banyak orang dan mau tidak mau harus menjalin hubungan dengan Bela.


Hah.. sayangnya, Dion bukanlah orang yang sebodoh itu. Pikir Risa santai.


"Kita semua pergi ke sana, termasuk Sina?" Fokus Dion jatuh pada kata semua orang. Bila semua orang yang ada di rumah ini diundang maka bukankah Sina juga harus ikut?


Tapi, untuk kebutuhan rencananya dia berpura-pura tidak senang saat menanyakan ini sehingga Risa dan Bela tidak curiga sama sekali. Mereka berdua malah tampak puas melihat ekspresi tidak puas Dion tadi.


"Sebenarnya... sebenarnya aku berencana mengajak Sina juga ke acara itu untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi diantara Bibiku dengannya. Aku harap Sina tidak menolak ajakan ku... karena kami sangat tulus ingin segera menyelesaikan semuan kesalahpahaman itu." Suara Bela kian mengecil ketika sampai diakhir kalimatnya.


Ekspresinya yang lembut menunjukkan ada ketakutan yang masih terngiang jelas di dalam kepalanya. Membuat hati Nyonya Ranti terenyuh dan disaat yang sama semakin tidak menyukai Sina.


"Karena hati kalian sangat tulus..." Dion tersenyum simpul, "Bagaimana mungkin dia mengecewakan harapan tulus kalian semua."


"Kamu tenang saja, aku akan memastikan sendiri Sina ikut besok malam. Dia tidak mungkin menolak permintaan keluarga mu yang tulus." Lanjut Dion dengan sorot mata yang aneh.


Bela entah kenapa merasa ada sesuatu yang aneh dari cara Dion menatapnya. Dia juga menyadari jika sikap Dion jauh lebih acuh dari sebelumnya. Apa ini hanya perasaannya saja?


"Dion.. terimakasih. Juga.. terimakasih untuk hari ini... terimakasih karena kamu sudah memberikan ku keadilan."


Dion menundukkan kepalanya berpura-pura menyesap air minum yang baru saja Bik Mur sajikan, dan berkata, "Tidak perlu berterimakasih.. karena aku juga senang bisa membantumu." Lalu diakhiri dengan senyuman dingin.


Nyonya Ranti pikir putranya juga menyukai Bela jadi dia akhirnya bisa menjadi tenang karena masa depan putranya sudah terjamin. Sebagai orang tua dia sangat menantikan hubungan mereka bergerak maju sampai ke tahap yang paling serius.


Bela tidak bisa menahan rona wajah pada kedua pipinya yang kini bersinar terang. Wajahnya yang cantik semakin terlihat cantik karena dihiasi oleh warna merah muda yang manis juga menggoda.


"Uh..Kak Dion sangat perhatian." Ucap Risa sarat akan kecemburuan.

__ADS_1


Dadanya seolah terbakar melihat senyuman malu-malu Bela di depannya. Kedua tangannya yang bersembunyi dibalik kain kini mengepal kuat ingin menjambak rambut panjang milik Bela yang menyilaukan. Dia benci, semakin membencinya.


Berapa lama lagi senyum dibibir mu bisa bertahan? Hahaha... lawan mu sekarang adalah aku karena Sina sudah tidak berguna lagi di sini. Seperti kamu menjatuhkan Sina, aku akan memperlakukan mu dengan sikap yang sama. Menjatuhkan kamu dan membuat Kak Dion menatap jijik dirimu ini...Bela, kamu akan segera merasakannya karena Kak Dion hanya bisa menjadi milikku!. Batin Risa terbakar cemburu.


"Aku akan menganggap ini sebagai pujian." Balas Dion tersenyum, palsu.


Sontak saja senyuman ini membuat Risa menjadi tersipu malu, dadanya berdebar kencang berteriak ingin segera dilepaskan. Ini yang pertama..ini pertama kalinya Dion tersenyum kepadanya setelah hari itu. Hari dimana Dion tahu perasaannya dan mulai bersikap dingin.


Tapi lihat sekarang.. Dion baru saja tersenyum kepadanya!


Aku memang punya peluang!


...🌺🌺🌺...


Sina P.O.V


Cklak


Apa..apa tadi itu suara pintu?


Tidak mungkin! Aku masih ingat dengan jelas tadi sudah mengunci pintu paviliun jadi seharusnya tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam paviliun dingin!


Lalu apa itu tadi?


"Hantu?" Mustahil, jaman sekarang sudah tidak ada lagi hantu.


Aku..aku harus memastikannya sendiri. Gunakan apapun sebagai perlindungan-ah, aku akan menggunakan bantal guling sebagai alat pelindung ku.


Tap


Tap


Tap


Itu suara kaki!


Mengapa suara itu terdengar semakin dekat saja? Ini..apa tujuannya ingin masuk ke dalam kamarku?


Aku akan menyerangnya terlebih dahulu!


Dengan sisa-sisa keberanian ku yang sudah terkikis banyak, aku memberanikan diri berlari ke lantai satu dengan bantal guling sebagai pelindung ku. Mahluk itu harus tahu kalau mulai dari sekarang paviliun dingin adalah rumahnya dan bukan rumah untuk hantu!


"Siapapun kamu! Manusia atau bukan, aku tidak akan perduli karena memasuki rumah orang itu tidak boleh! Kamu tidak boleh sembarangan masuk-"


"Sina, tenanglah..ini aku." Sebuah kekuatan kuat menarikku.


Menjebak ku dalam pelukan hangat dengan wangi yang sudah tidak asing lagi bagiku. Mungkinkah..

__ADS_1


"Dion?"


Bersambung...


__ADS_2