
Sina tidak langsung menjawab namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan pikirannya. Rona merah di pipi Sina semakin jelas dan bahkan leher putihnya juga mulai memerah.
Dion terpana, menatap kosong Sina yang lagi-lagi menggoda iman dan pertahanannya.
"Sina...ini salahmu membuatku tergila-gila. Sekali ini saja..tolong maafkan aku."
Setelah mengatakan itu Dion menundukkan kepalanya, menangkup wajah Sina di bawah kekuasaannya dan mencium Sina tidak terburu-buru. Dion berusaha agar tidak menindih Sina karena sedang hamil dan tidak bermaksud lain selain ingin menciumnya saja.
Dia menggigit bibir ranum Sina beberapa kali sampai Sina membuka mulutnya tidak tahan. Diom lalu memasukkan daging licin tanpa tulang ke dalam mulut Sina. Menginvasi tempat hangat itu sesuka hati seraya menggoda daging licin milik Sina.
"Ugh.." Sina mendesah tertahan, merasakan sensasi geli dan aneh yang ada di dalam mulutnya.
"Di..on.." Sina mulai kehabisan nafas tapi enggan membiarkan Dion keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku.." Bisik Dion merasa bersalah setelah menghentikan ciuman mereka.
Dion hampir saja kehilangan kendali jika Sina tidak memanggil namanya. Dia sangat takut jika itu sampai terjadi karena kandungan Sina masih seusia jagung sehingga sangat berbahaya jika sampai berhubungan intim.
Dia menelusupkan kepalanya ke perpotongan leher Sina. Menghirup aroma tubuh Sina sesuka hati dan menghisap kulit lehernya sebagai tanda.
"Ugh..sakit.." Keluh Sina lemah.
"Maafkan aku..lain kali aku janji tidak akan mengulanginya-" Kata-katanya terhenti ketika melihat wajah tersenyum Sina yang amat sangat cantik.
"Sina?" Panggil Dion terpukau.
"Mau bobo Dion.." Rajuknya manja.
Dion tersenyum lega, menjatuhkan dirinya ke posisi semula dan mengambil inisiatif sendiri membawa Sina ke dalam pelukannya.
"Mimpi indah, sayang." Bisik Dion seraya mengecup puncak kepala Sina.
"Hem.." Jawab Sina mulai jatuh ke dalam mimpi.
Dion tertawa kecil, mengeratkan pelukannya kepada Sina yang sudah masuk ke dalam dunia mimpi.
"Dia sangat manja ketika sedang hamil." Gumam Dion merasa lucu.
Untuk mengantisipasi Sina bangun lagi seperti tadi, Dion memutuskan untuk tetap terjaga. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan sebentar lagi akan masuk waktu shubuh. Jadi tidak ada gunanya menyambung tidur karena matahari sebentar lagi akan terbit.
Dion lalu mengambil ponselnya yang kebetulan ada di atas laci. Ketika dia menyalakannya sudah ada banyak panggilan dari Nyonya Ranti, Tuan Edward, Risa, dan bahkan Kira. Mereka menelpon Dion dari pukul 8 malam saat dia pergi bersama Sina sampai hampir pukul 11 malam.
Setelah itu panggilan selanjutnya yang masuk lebih banyak adalah dari Bela. Dia sepertinya sangat gelisah sehingga terus mencoba menghubungi Dion sampai pukul 2 dini hari.
Selain mendapatkan panggilan, Dion juga mendapatkan banyak notifikasi pesan masuk dari Line dan WhatsApp. Orang yang mengirimnya pun sama dengan orang yang terus menelponnya.
Dion tidak senang melihat tumpukan pesan tersebut dan memutuskan untuk menghapus kedua aplikasi itu. Jika ada urusan kantor yang penting mereka tidak perlu menghubungi Dion langsung ke nomor pribadinya karena kantor sudah menyiapkan nomor khusus untuk urusan pekerjaan.
Dia lalu mencari kontak seseorang dan menelponnya.
Panggilan langsung terhubung namun orang yang dia telpon masih belum mengangkat telponnya. Sampai akhirnya dering telepon memasuki dering ke 4 orang yang ada di seberang sana akhirnya mengangkat.
"Hallo?" Suara serak seorang laki-laki memasuki pendengaran Dion.
"Aku ada pertanyaan buat kamu, Ridwan." Ucap Dion langsung ke intinya.
"Dion..ya Tuhan, ini tuh masih tengah malam! Pertanyaan apapun itu kamu bisa tanya besok aja jangan sekarang. Aku ngantuk banget serius." Ridwan diujung sana meraung marah karena tidurnya diganggu.
Seandainya bukan Dion yang menelpon Ridwan tidak akan segan mengeluarkan kata-kata kasarnya.
"Gak ada besok-besok, harus sekarang." Dion sama sekali tidak bersimpati kepada Ridwan karena dia juga tidak bisa tidur saat ini.
Sebagai teman mereka harus saling berbagi suka dan duka.
__ADS_1
"Dion serius, aku ngantuk banget sumpah! Besok aja ya nanyanya?" Ridwan mencoba negosiasi dengan Dion.
"Aku juga gak bisa tidur, jadi sebagai temen kamu harus bisa ngerasain apa yang aku rasain." Ucap Dion datar tidak perduli sama sekali.
"Temenan sama kamu mah kompaknya pas duka doang. Giliran bahagia aja aku ditinggal." Keluh Ridwan di seberang sana tidak puas.
"Wanita hamil moodnya suka berubah-ubah gak?" Tanya Dion tidak ingin membuang waktu.
"Dion..aku bukan dokter kandungan kalo kamu lupa." Ridwan mengingatkan dengan sabar setelah menghela nafas panjang.
"Udah jawab aja." Dion tidak mau tahu.
"Buka Mbah Google aja biar gak susah. Dah, ah selamat tidur."
Tud
Ridwan langsung mematikan sambungan secara sepihak tanpa menunggu respon dari Dion. Diam, dia memperhatikan ponsel yang ada ditangannya selama beberapa detik.
Dion kemudian mengetik sebuah pesan untuk Ridwan. Entah dibaca atau tidak, Dion tidak akan perduli karena yang terpenting reaksi Ridwan cepat akan lambat akan segera terlihat.
Benar saja, beberapa detik kemudian ponsel Dion terus bergetar menunjukkan adanya panggilan masuk dari Ridwan. Dion hanya tersenyum kecil tapi tidak mau mengangkatnya.
"Dion..." Panggil Sina mengigau.
Dion segera menaruh ponselnya di atas laci, mendekap Sina kembali dan menepuk ringan punggungnya.
"Aku di sini." Bisiknya menjawab.
Setelah itu Sina tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia kembali terlelap dengan damai dalam tidurnya yang hangat.
"Aku gak pernah berpikir suatu hari Tuhan akan mengabulkan doa malam-malam ku. Kamu akhirnya datang dalam kehidupan ku, memberikan ku alasan untuk tersenyum dan bahkan kamu kini sedang mengandung buah hati kita. Sina...kamu harus tahu betapa aku sangat mencintaimu. Sejak saat kamu mengorbankan hidup kamu untuk hidupku maka sejak itu pula kamu menjadi obsesi terbesar ku dalam hidup ini. Bagaimana mungkin aku membiarkan kamu pergi setelah semua yang kita lewati hari itu...aku tidak bisa Sina. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu." Bisik Dion mengungkapkan betapa tinggi obsesi kepada Sina.
Dia tidak hanya ingin memiliki Sina seorang namun juga ingin menjadi satu-satunya alasan Sina bisa tersenyum di dunia ini. Seperti dirimu sendiri yang menjadi Sina sebagai satu-satunya alasan untuk tersenyum.
...🌸🌸🌸...
Paginya Sina bangun dalam suasana hati yang baik. Dia menatap langit-langit kamar yang ada di atasnya dengan perasaan campur aduk.
"Apa yang aku impikan semalam?" Gumamnya bingung.
"Semalam aku bermimpi ciuman dengan Dion...kita melakukan ciuman yang panas dan..dan kami berpelukan semalaman saat tidur. Padahal ini hanya mimpi tapi kenapa rasanya sangat nyata?"
Potongan ingatan tentang semalam membuat pipi Sina merona merah. Dia yakin itu adalah mimpi namun entah kenapa rasanya begitu nyata. Seolah-olah apa yang dia alami di dalam mimpi sejatinya terjadi secara nyata semalam.
"Tidak mungkin..itu pasti hanya mimpiku saja." Sina melambaikan tangannya menyangkal seraya tertawa kecil.
Bagaimana mungkin Dion melalukan itu kepadanya-ah, sebenarnya hal yang harus Sina ingat adalah Dion tidak akan tidur di sini menemaninya.
"Sina..Sina apa yang sebenarnya kamu pikir-apa!" Ada sebuah dasi hitam terlipat asal-asalan di atas meja rias Sina.
Tidak hanya itu saja, di atas lacinya ada ponsel yang cukup tidak asing untuk Sina. Pastinya ponsel itu bukan miliknya jadi dia masih menduga-duga siapa pemilik ponsel tersebut.
"Tidak..jadi Dion semalam tinggal di sini? Lalu.. mimpi ku itu.." Sina segera turun dari ranjangnya dan berdiri gugup di depan cermin seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang.
Dia meraba-raba lehernya seraya memperhatikan secara hati-hati warna kulit lehernya. Sampai beberapa detik kemudian dia tiba-tiba berteriak nyaring melihat sebuah tanda merah mencolok di kulit perpotongan leher.
"Ya Tuhan!" Dia mundur beberapa langkah ke belakang.
Wajahnya mulai memerah tapi kedua tangannya bergetar panik merasakan euforia yang sedang bergejolak di dalam hatinya.
Dia senang tapi juga masih belum mempercayainya. Ingatan semalam meskipun tidak terlalu jelas tapi Sina masih bisa mengingat beberapa bagian seperti ciuman dan pelukan hangat yang berlangsung semalaman.
"Sina apa yang telah kamu lakukan kepada Dion! Kenapa kamu memaksanya melakukan itu denganmu!" Panik Sina tidak bisa tidak menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dion tidak mungkin melakukannya tanpa mendapatkan paksaan dari Sina sendiri.
"Sina, apa kamu baik-baik saja?" Suara panik Dion memasuki pendengaran Sina.
Badan Sina terasa kaku, menoleh ke arah Dion sambil tersenyum canggung sebagai sapaan. Dia benar-benar merasa bersalah telah menjebak Dion di sini bersamanya semalaman.
"Aku..aku.. baik-baik saja." Sina sangat malu menatap langsung wajah Dion.
Dia tidak bisa menghadapi korban dari keserakahannya semalam.
"Syukurlah kamu baik-baik saja." Dion ingin menyentuh Sina tapi orang yang ingin dia sentuh segera menjaga jarak darinya.
Dion tertegun dan merasa kecewa melihat sikap Sina yang sudah kembali normal. Dia tidak pernah menduga jika Sina akan langsung memberikannya bahu dingin setelah malam manis yang mereka lalui semalam.
"Aku..aku sungguh tidak bermaksud menjebak mu di sini semalam." Ucap Sina membuat Dion bingung.
Menjebaknya?
"Aku juga tidak tahu kenapa aku tiba-tiba menyerang mu semalam. Men-mencium dan memeluk mu sepanjang malam, aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Dion..tolong jangan marah kepada ku." Sambung Sina gugup dan tampak gelisah.
Dia tidak tahu jika kata-katanya ini membuat Dion tercengang. Dion tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis saat ini karena dia pikir orang yang akan marah justru Sina.
"Aku tidak marah-ya, aku sangat marah! Aku bahkan tidak bisa tersenyum saking marahnya!" Dion tiba-tiba punya ide.
Dia ingin memanfaatkan momentum ini untuk menjebak Sina ke dalam perangkapnya.
"Ma-marah..aku minta maaf Dion, aku sangat menyesali apa yang terjadi semalam." Sina sangat takut Dion marah kepadanya.
Padahal semalam mereka pergi keluar jalan-jalan. Makan sate bersama, menikmati indahnya malam, dan saling bergandengan tangan saat menyusuri jalan bersama.
Semua kenangan manis itu tidak akan pernah Sina lupakan sampai kapanpun. Sina tidak mau semua yang terjadi semalam berakhir begitu saja hanya karena kesalahannya sendiri.
Setidaknya untuk saat ini, biarkan dia dan anaknya menikmati kasih sayang Dion sebelum keluar dari rumah ini.
"Aku tidak membutuhkan maaf, jika maaf dapat menyelesaikan masalah maka untuk apa hukum menciptakan penjara?" Dion mulai memainkan peran 'korban' yang tersakiti.
Membuat Sina semakin ketakutan ketika mendengar penjara disebutkan.
"Lalu..lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan ku?" Tanya Sina gugup.
Dion mengalihkan pandangannya dari Sina, menyembunyikan wajahnya yang kini sedang tersenyum simpul.
"Aku mau kamu bertanggungjawab." Jawab Dion setelah berpura-pura berpikir lama.
"Bertanggungjawab?" Tanya Sina masih belum jelas kemana arah pembicaraan Dion.
"Ya, kamu mengambil kesempatan untuk mengambil ciuman pertama ku. Kamu tahu..jenis ciuman intens yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Kemudian kamu juga tidak mau aku pergi dari paviliun dingin dan terus merengek memaksaku tidur di sini. Bukan jenis tidur biasa yang kamu inginkan. Tidur yang kamu mau adalah tidur manja dengan memelukku semalaman. Padahal kamu tahu waktu sangat penting untukku. Setiap waktu yang terlewati semuanya menghasilkan uang. Namun karena kamu memonopoli ku semalaman pekerjaan ku menjadi tidak terurus dan perusahaan merugi beberapa juta dollar hanya karena kamu tidak ingin aku pergi. Nah Sina, pikirkan betapa banyak kerugian yang aku dapatkan untuk hanya untuk memenuhi keinginan mu." Ulas Dion menjabarkan dampak yang dia terima setelah dimonopoli Sina semalaman.
Jelas saja semua itu hanya karangannya saja dan sepenuhnya tidak benar. Malah dia akan sangat senang bila Sina mengambil inisiatif memonopoli nya semalaman.
Jangankan semalaman, seumur hidup saja Dion bersedia asalkan orang itu adalah Sina.
"Ju-jutaan dollar?" Kini fokusnya beralih pada uang.
Uang yang diberikan Kakek dan Neneknya saja tidak sampai sebanyak itu. Jadi, Sina tidak akan mungkin bisa menggantinya.
Aku sangat bodoh. Kenapa aku bisa melakukan perbuatan itu kepada Dion? Lihat, tidak hanya melukai harga diri Dion tapi aku juga membuat perusahaannya menelan kerugian. Betapa aku tidak berguna!. Batin Sina memarahi dirinya sendiri.
"Apa kamu pikir aku berbohong?" Tanya Dion dengan kedua mata menyipit.
Bersambung..
Untuk jawaban kuis kemarin ada di sini okay😎
__ADS_1