Dear Dion

Dear Dion
21. Ciuman Pertama


__ADS_3

"Apa ini benar-benar mimpi?" Tanyanya mulai ragu lagi, "Mengapa semuanya terasa sangat nyata?"


"Jika ini mimpi maukah kamu tetap mencium ku?" Tanya Dion dengan suara bangun tidurnya.


Deg


Terdengar serak akan tetapi sangat seksi untuk Sina. Tapi apa-apaan tadi? Jadi, ini bukan mimpi?


Tersadar akan kebodohannya maka langsung saja Sina bergerak menjauhi Dion. Menjaga jarak sejauh mungkin agar Dion tidak marah dan tidak bisa melihat wajah memalukannya yang pasti terlihat sangat konyol saat ini.


"Kenapa kamu menjaga jarak dariku setelah tahu ini bukan mimpi?" Tanya Dion merasa terhibur dengan wajah merah terang Sina yang manis.


Tangan kuatnya yang berotot menarik Sina lebih dekat lagi dengannya dan tidak memberikan Sina untuk menjaga jarak darinya. Ia membalik Sina untuk berhadapan dengannya, menindih separuh tubuh Sina agar tidak kemana-mana.


Lalu, dengan wajah tampannya yang tidak terpengaruh sama sekali karena tidur menatap Sina yang ada dibawahnya dengan tatapan menyelidik. Pesona tampan yang seksi sekali lagi membuat Sina tertegun. Hatinya meleleh tidak kuat menahan pesona kuat Dion yang terlihat lebih berani dari biasanya.


Sina pikir Dion adalah tipe laki-laki serius dan ramah yang tidak bisa bertindak berani seperti ini. Namun faktanya Dion malah bisa bertindak berani seperti ini, membuat Sina tidak bisa tidak berpikir yang macam-macam tentang sosok Dion jika hilang kesabarannya.


Kehilangan sabar yang Sina maksud adalah titik tertinggi Dion tidak mampu menahan gejolak hatinya!


"Jangan melamun di saat yang tidak tepat," Suara berat Dion menarik Sina dari pikiran liarnya. "Kamu tidak diizinkan melamun saat aku berada di dekat mu." Lanjut Dion agak tidak senang melihat Sina melamun saat dia jelas-jelas sedang bersamanya.


Sina tersadar dan dengan gugup menggerakkan mulutnya-ah, suaranya tidak bisa keluar!


Di saat kritis seperti ini suaranya benar-benar mencari masalah, apa-apaan! Sina tidak punya keberanian lagi untuk melihat Dion.


Dion diam memperhatikan ekspresi panik Sina, mulut kecilnya yang hampir saja merebut ciuman kini hanya bisa mangap-mangap tidak jelas tanpa mengeluarkan suara.


Kenapa gadis ini sangat lucu? Dion bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Hem, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Dion lembut jauh lebih santai dari sebelumnya.


Dia masih di posisinya semula, mengamati ekspresi wajah Sina dari putih ke merah dan dari merah ke hijau. Lihat, kombinasi warna ini sangat menarik untuk ditonton.

__ADS_1


"Aku..aku sungguh tidak bermaksud untuk melecehkan mu. Aku pikir..kita masih di dalam mimpi jadi..jadi..aku hanya iseng melakukannya...tapi, tapi! Tapi aku sama sekali belum menyentuhnya..jadi, kamu seharusnya tidak marah'kan?" Sina akhirnya bisa bersuara!


Mengatakan semua kekhawatirannya dengan terbata-bata dan sulit tapi untungnya dia berhasil, ah! Sina takut jika Dion menganggapnya melakukan pelecehan karena sekalipun dia yakin Dion menyukainya tapi itu bukan berarti Sina bisa melakukan apapun sesuka hatinya kepada Dion!


"Hanya iseng?" Tanya Dion tidak percaya.


Sina dengan cepat menganggukkan kepalanya meyakinkan. "Aku sungguh hanya iseng saja, tidak bermaksud serius."


Dion tertawa kecil, merasa lucu melihat ketakutan Sina.


"Jadi, bagaimana jika aku menganggapnya serius?" Tanya Dion mengejutkan Sina.


"Ah?"


Dion tersenyum miring, "Di dalam mimpi saja kamu berani mencium ku , berbuat nakal secara diam-diam dan berpikir aku tidak akan tahu apa-apa. Jadi bagaimana dengan dunia nyata? Aku yakin kamu juga punya niat seperti itu kepada ku."


Sina segera membantah, "Aku tidak! Aku sama sekali tidak punya niat seperti itu kepada mu."


Dion tidak percaya sama sekali dengan pembelaan yang Sina katakan.


"Cek.. cek.. Sina, aku tidak pernah menyangka kalau kamu punya pemikiran seperti itu tentangku." Goda Dion masih ingin bermain-main.


Sina mengeratkan genggaman tangannya kuat, begitu malu dengan dirinya sendiri yang sangat menjengkelkan. Sekarang apa?


Dion sudah punya kesan yang buruk tentang dirinya, ah!


Sina sangat kesal dan tidak bisa menerima ini, dia tidak rela dikeluarkan dari rumah ini!


"Aku sungguh tidak seperti itu... percayalah kepada ku." Mohon Sina dengan mata yang sudah merah ingin menangis.


Dia terlalu imut, pikir Dion tidak tahan.


"Aku tidak akan percaya, percuma saja memohon kepada ku karena itu tidak akan membuat ku mempercayai mu." Tolak Dion langsung.

__ADS_1


"Namun jika kamu mau menerima hukuman dariku maka tentu saja aku akan mempercayai mu, setidaknya untuk masalah ini. Apakah kamu mau menerima hukuman?" Tawar Dion terdengar enggan.


Seolah-olah memberikan Sina permohonan maaf adalah sesuatu yang sangat berat ia lakukan.


Sina tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Aku akan menerima hukumannya, katakan saja apa yang perlu aku lakukan?" Tanya Sina antusias.


Dion tersenyum puas melihat kepatuhan Sina yang sangat mudah dikendalikan.


"Hukuman yang kamu dapatkan adalah mulai dari besok kamu harus membersihkan kamarku selama satu minggu penuh jika kerja kamu bagus, namun jika kerja kamu buruk maka satu bulan adalah periode hukuman yang tepat untuk kamu." Jawab Dion setelah memikirkan keuntungannya.


Kamar Dion?


Hukuman apa-apaan ini? Jelas-jelas ini bukanlah hukuman untuk Sina melainkan sebuah hadiah langka yang hanya bisa ia fantasikan lewat lamunan-lamunan liarnya beberapa hari ini.


Tentu saja Sina tidak akan ragu menerimanya! Hooh, jangankan sebulan, seumur hidup saja Sina mau melakukannya karena hei, itu adalah ruangan privasi laki-laki yang kamu cintai jadi wajar saja dia senang dengan hadiah-oh, hukuman ini.


"Aku..aku akan bekerja dengan serius!" Ucap Sina senang, menahan gejolak kebahagiaannya yang ingin segera dilepaskan.


Dion lagi-lagi sangat puas dengan respon kelinci kecilnya, "Dan untuk hukuman yang terakhir, silakan tutup kedua mata kamu. Tidak diizinkan membukanya sebelum aku selesai." Instruksi Dion serius.


Sina tidak ragu menutup kedua matanya apalagi ekspresi Dion saat mengatakan ini sangat serius.


Dion tersenyum senang melihat kepatuhan Sina, menundukkan kepalanya mempersempit jarak diantara mereka berdua. Dion lalu mengecup bibir merah Sina secara singkat dan cepat, meninggalkan sensasi terbakar dan aneh untuk Sina.


Cup


"Ini adalah hadiah penyemangat dariku untuk mu karena mulai besok kamu akan bekerja membersihkan kamarku, Sina, selamat malam." Katanya sebelum pergi keluar dari kamar Sina, meninggalkan Sina yang masih terpejam tidak bergerak. Bisa dipastikan jika saat ini Sina pasti sangat terkejut, saking terkejutnya ia tidak bisa merasakan tangan dan kakinya.


Beberapa detik terdiam tanpa gerakan, kedua mata Sina yang terpejam mulai bergetar menatap langit-langit kamarnya yang ia pikir hari ini entah mengapa warnanya jauh lebih manis dari sebelumnya.


Lalu, tangan kanannya yang sedari tadi mengepal kuat menyentuh bibirnya, menyentuh bagian bibir yang disentuh Dion. Oh, lebih tepatnya bagian bibir yang dicium singkat oleh Dion. Bibir mereka tadi sempat saling menyentuh walaupun singkat tapi Sina tidak bisa melupakan sensasi aneh yang ditimbulkannya.


"Dion...mencium ku?" Tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2