Dear Dion

Dear Dion
45. Kacau


__ADS_3

"Minum air hangat dulu." Calista memberikan Sina segelas air hangat.


Melihat Sina tertekan seperti ini dia juga ikut merasa tertekan. Dia melihat orang yang tidak bersalah dijadikan sebuah umpan di rumah ini untuk memuaskan perasaan serakah Risa tanpa bisa melakukan apa-apa. Padahal dia sudah berencana untuk memberitahu Sina semua rencana busuk Risa, akan tetapi rencananya tidak berjalan sesuai ketika dia tahu bahwa Risa ternyata sudah mengetahui rahasia terbesarnya.


"Calista, jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Kamu sedang hamil jadi sebisa mungkin kamu harus bisa mengendalikan emosimu." Sina menerima gelas tersebut dan menyesapnya ringan.


Orang hamil sangat sensitif terhadap lingkungan yang ada disekitarnya sehingga tidak baik terus-terusan melibatkan Calista ke dalam masalahnya sendiri.


"Aku tahu..aku tahu, kamu tidak perlu mengingatkan ku." Ujar Calista cemberut.


"Eh, kamu mau ngapain?" Calista ikut bangun dari duduknya dan mengikuti Sina dari belakang.


"Jangan berlarian." Peringat Sina seraya melambatkan langkah kakinya keluar dari kamar.


Dia menatap pintu kamar Dion selama beberapa detik, menghela nafas tertekan dia kemudian melangkah ke tangga. Menuruni anak tangga satu demi satu, Sina lambat laun bisa melihat sosok Dion yang sedang duduk di ruang tamu sambil memangku sebuah laptop.


Sepertinya dia sedang bekerja, pikir Sina bersemangat. Lantas, dia mempercepat langkahnya ingin segera menemui Dion di sana akan tetapi saat kakinya menyentuh tangga terakhir dia akhirnya bisa melihat dengan jelas jika Dion tidak sendirian. Ada orang lain lagi di sampingnya yang juga beberapa kali membantu Dion melihat dokumen.


Melihat ini Sina sekali lagi merasa layu, lagi-lagi dia kalah start dengan Bela. Mengambil alih posisi yang seharusnya menjadi miliknya dengan satu langkah lebih cepat, Sina ingin marah rasanya.


"Kamu berjalan terlalu cepat! Apa yang kamu-ah.. ternyata mereka." Calista akhirnya bisa menyusul Sina dan ingin memarahinya sesekali.


Akan tetapi saat dia melihat apa yang Sina lihat dia akhirnya mengerti kenapa Sina tiba-tiba terlihat begitu hijau. Yah, maksudnya ekspresi Sina sering berubah-ubah. Kadang sedih dan sekarang marah, Calista tidak bisa menggambarkan suasana hatinya sekarang.


"Calista, apa kamu tahu pekerjaan Bela sekarang?" Tanya Sina dengan mata yang masih fokus menatap punggung ramping Bela.


"Dia sekarang magang di perusahaan Ayahnya sendiri dan aku dengar banyak karyawan yang ada di sana mengakui kinerja Bela di kantor sangat efisien walaupun dia anak pemilik perusahaan. Yah, bisa dikatakan Bela memang anak yang cerdas dan disukai banyak orang." Calista tidak menutupi kelebihan Bela.


Sejauh ini Bela terlalu menarik banyak perhatian sehingga sangat sulit menemukan kekurangannya, bahkan Calista sempat berpikir jika dia tidak punya kekurangan apapun.


Sina merenung beberapa detik, menganggukkan kepalanya dia lalu menarik tangan Calista untuk mengikutinya masuk ke dalam dapur.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Dia bingung ketika melihat Sina mengambil gelas dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang Calista ingat untuk membuat sebuah minuman.


"Aku ingin membuatkan Dion dan Bela minuman, duduklah dan perhatikan saja aku." Jawab Sina sambil menahan gejolak perutnya setelah mencium bau berminyak di dapur.

__ADS_1


Calista mengangkat bahunya acuh, menarik makanan yang ada di depannya dia kemudian melahapnya satu demi satu. Sina sibuk memasak jadi dia juga sibuk menghabiskan kue-kue yang masih belum disentuh siapapun. Dalam hatinya Calista berbisik, kue-kue ini begitu cantik dan manis tapi kenapa tidak ada orang yang mau memakannya? Sayang sekali.


...🌺🌺🌺...


"Dion, aku membuatkan mu minuman." Dia meletakkan gelas cantik tersebut di depan Dion.


"Aku juga membuatkan Bela minuman." Katanya seraya menempatkan gelas cantik yang berbeda dengan milik Dion di depan Bela.


Dia menunggu pujian atau respon dari Dion sehingga kedua matanya hanya berfokus pada wajah serius Dion yang sedang memperhatikan laptop yang ada di atas pangkuannya.


"Hati-hati, ada dokumen Sina!" Teriak Bela panik seraya menyingkirkan dokumen penting yang ada di atas meja.


Meskipun sudah bergerak cepat tapi dia masih saja terlambat menyelamatkan dokumen itu karena cairan kental minuman itu kini sudah menodai sudut dokumen.


Sina terkejut dan sontak membuang gelas itu ke lantai tanpa bisa dihentikan. Berdiri kaku, dia memperhatikan dokumen penting perusahaan yang kini kotor dan pecahan gelas yang ada di lantai. Ekspresi wajahnya berubah dari takut menjadi pahit, dan dari pahit menjadi sedih. Lagi-lagi dia mengacaukan pekerjaan Dion.


Dion mengangkat kepalanya, memperhatikan sudut dokumen yang kotor dan pecahan gelas yang ada di lantai dia tidak mengatakan apa-apa. Namun, ekspresi datarnya begitu menakutkan sehingga Sina tidak berani menatap wajahnya langsung.


Semuanya sudah begini dan Dion tidak bisa melanjutkan pekerjaannya lagi. Maka dari itu dia menutup laptopnya, merapikan dokumen perusahaan menjadi satu lalu dia beranjak dari tempat duduknya. Mata datarnya yang tidak tersentuh sekilas melirik pergelangan tangan kiri Sina yang sudah lebih baik dari semalam namun masih belum sembuh sepenuhnya.


"Bik Mur." Panggil Dion sebelum menaiki tangga.


Bik Mur dengan sigap mendatangi majikannya, "Ya, Tuan muda?"


"Ada minuman ku di ruang tamu dan baru saja dibuat jadi masih hangat, tolong ambilkan aku minuman itu dan segera bawa ke kamarku." Kata Dion memerintahkan.


Bik Mur menganggukkan kepalanya mengerti, "Baik Tuan muda, saya akan segera membawanya ke kamar Tuan."


Dion puas dan kemudian melanjutkan kembali langkahnya menaiki tangga. Bersenandung ringan karena suasana hatinya yang bagus dan santai, ekspresi datar yang ada diwajahnya tadi seolah hanya ilusi saja.


...🌺🌺🌺...


"Sina, dokumen itu sangat penting untuk kemajuan perusahaan Dion jadi seharusnya kamu tadi lebih berhati-hati saat membawa minuman." Bela menasihatinya dengan lembut, tidak keras ataupun lemah dan seharusnya cukup sopan.


Padahal tadi dia sangat senang bisa duduk dekat bersama Dion menghabiskan pikiran dan waktu bersama untuk membahas bidang yang mereka geluti.

__ADS_1


Sina malu tapi lebih banyak marah karena dia tidak senang melihat Bela terlalu dekat dengan Dion. Baginya Dion hanya bisa menjadi miliknya sehingga dia begitu mudah sensitif melihat mereka berdua'an. Dia marah tapi sekarang dia sama sekali tidak bisa mengatakan apa-apa karena dia membuat Dion bertambah marah lagi kepadanya. Padahal, niat aslinya ingin meluluhkan kembali hati Dion tapi siapa yang tahu jika dia akan bertindak ceroboh dan berakhir mengacaukan Dion lagi.


"Aku tidak bermaksud melakukannya dan itu sungguh tidak disengaja, kamu tidak perlu mengingatkan ku masalah ini lagi." Sina menundukkan dirinya dan mulai memungut pecahan beling yang ada di lantai.


Agak malu sebenarnya dia ditegur seperti ini oleh Bela.


Dia dengan hati-hati memungut pecahan beling tersebut dan memindahkannya di atas nampan. Dia tidak perduli lagi dengan Bela dan mencoba mengabaikan keberadaannya.


Bela menggelengkan kepalanya tidak berdaya melihat kelakuan keras kepala Sina. Dia tidak bermaksud apa-apa dan hanya ingin menasehatinya secara tulus. Tapi, bukannya berterima kasih Sina malah memberikannya bahu dingin, tentu saja dia menjadi kesal kebaikannya ditolak.


"Baiklah, terserah kamu saja." Katanya tidak ingin memperpanjang masalah.


Toh, Dion masih marah dan terlihat tidak perduli dengan Sina sehingga tidak ada gunanya terus berbicara dengan Sina.


"Non Bela, minuman ini biar Bibi saja yang membawanya." Bik Mur yang sedari tadi bersembunyi akhirnya bergegas keluar menyelamatkan minuman yang ada di atas meja itu dari jangkauan Bela.


Bela tidak keberatan dan malah bersyukur Bik Mur mau membantunya untuk membuang minuman aneh ini. Sekilas, dia bisa tahu jika Sina tidak pandai dalam urusan dapur.


"Terimakasih Bi, tolong buang minuman ini di tempat sampah karena Dion tidak bisa meminum minuman aneh ini." Katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Setelah mengatakan itu dia segera pergi dari ruang tamu dan kembali ke dalam kamarnya di lantai 1. Meninggalkan punggung kakuk Sina yang masih menunduk memungut pecahan beling.


"Non Sina tenang saja, minuman ini akan diminum oleh-"


"Tidak apa-apa Bi, buang saja minumannya ke tempat sampah." Potong Sina kosong.


Dia bangun dari duduknya seraya membawa pecahan beling itu keluar bersamanya tanpa menunggu respon lebih lanjut dari Bik Mur.


"Non Sina seharusnya dengar dulu apa yang ingin-darah?" Bik Mur terkejut melihat beberapa tetes kecil di lantai.


Tepatnya di tempat beling-beling itu terakhir dibersihkan.


"Non Sina terluka?"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2