Dear Dion

Dear Dion
15. Kencan Unik


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Masuk." Sebuah suara dingin dari dalam ruangan tersebut membuat tubuh wanita itu langsung membeku.


Meneguk ludahnya kasar, dia kemudian dengan hati-hati mendorong pintu ruangan tersebut. Sambil membawa berbagai macam makanan ringan wanita gugup itu lalu melangkahkan kakinya dengan berani masuk ke dalam.


Ia melangkahkan kakinya menuju seorang laki-laki yang terlihat sibuk berkutat dengan dokumen yang ada ditangannya. Laki-laki itu tampak serius dengan dokumen yang ada ditangannya dan ia yakin laki-laki itu tidak akan sempat melirik minumannya.


Berpikir berani, ia bermaksud membantu laki-laki itu untuk meminum airnya namun sebelum ia bisa melangkah mendekati mejanya. Kepala yang tadi tertunduk serius itu kini terangkat menatap dingin ke arahnya. Sontak langkah wanita itu membeku dan tidak berani bergerak lebih dekat lagi kepadanya.


"Pelankan suara hak tinggi mu, apa kamu tidak bisa melihat Sina sedang tertidur?" Tegur Dion dingin pada sang asisten.


Wanita itu seketika melihat ke arah sofa dan menemukan jika gadis yang datang bersama atasannya kini sedang tertidur lelap di atas sofa. Wajah tidurnya yang polos dan damai terlihat sangat lelap, padahal posisi tidurnya tidak terlalu nyaman tapi mengapa gadis ini bisa dengan mudah tertidur di sana?


"Maafkan saya Tuan muda, saya tidak memperhatikan jika teman Anda sedang tertidur." Wanita itu dengan malu meminta maaf, tidak berani menatap mata dingin atasannya yang menakutkan.


"Letakkan makanannya dan kamu bisa pergi." Perintah Dion tidak ingin diganggu lagi.


Wanita itu segera menganggukkan kepalanya dengan cepat seraya meletakkan makanan ringan yang ada di tangannya ke atas meja dengan hati-hati agar tidak membangun tidur lelap Sina. Setelah itu dia segera keluar dari ruangan Dion seraya memegang jantungnya yang berdetak kencang.


"Tuan muda ternyata punya sisi yang lembut terhadap orang lain." Bisiknya merasa lega, jika Dion punya seseorang yang bisa menghandle sikap dinginnya maka para karyawan akan menjadi lebih baik lagi dan tentu saja lebih santai saat bekerja.


"Sina, mungkinkah dia adalah gadis yang sangat penting untuk Tuan muda?" Tanyanya menduga-duga.


...🌺🌺🌺...


Sina mengerjapkan kelopak matanya yang masih terasa berat dan lemas. Rasanya ia tidak ingin bangun dari acara tidurnya, akan tetapi setelah ia melihat lingkungan yang ada di sekitarnya kedua mata yang tadinya terasa berat langsung menjadi ringan.


Pikirannya langsung jernih dan baru menyadari jika saat ini ia sedang tertidur di atas sofa. Bukan hanya itu saja yang membuatnya tersadar , posisi tidurnya yang terbaring nyaman di atas sofa panjang membuat otaknya berpikir cepat. Apalagi ada sebuah jas abu-abu yang sedang menyelimuti badannya, menebarkan wangi Dion yang tidak bisa Sina lupakan wanginya.


"Dion.." Dia menggigit bibirnya senang, "Kenapa kamu romantis banget, sih?" Bisiknya tidak bisa menahan perasaan bahagia.

__ADS_1


"Sina, apa kamu sudah bangun?" Suara berat seseorang mengejutkan Sina.


Segera saja Sina memperbaiki rambut kacaunya seraya berdoa semoga tidak ada noda putih diwajahnya karena mengiler saat tidur dan semoga saja wajahnya baik-baik saja seperti sebelum tidur.


"Aku sudah bangun," Sina bangun dari duduknya sambil berpura-pura melihat sekitar.


"Jam berapa sekarang?" Sina agak terkejut ketika melihat langit sudah menjadi gelap.


"Sebentar lagi jam delapan malam." Jawab Dion singkat.


"Kita akan segera pulang, apakah kamu ingin cuci muka terlebih dahulu sebelum kita pulang?" Tanya Dion yang kini sudah ada di depan Sina entah sejak kapan.


Padahal saat membuka matanya Sina yakin melihat Dion masih berkutat di atas meja kerja.


"Aku..aku akan pergi mencuci muka terlebih dahulu." Sina sangat malu saat mendengar ini.


Ia tidak menyangka jika penampilan tidurnya akan sangat memalukan dan mengganggu penglihatan Dion. Maka, segera saja ia berlari ke arah pintu keluar berniat mencari toilet.


Tepat saat kakinya baru 3 langkah, tangan kanannya tiba-tiba pegang Dion dan dengan mudah menarik Sina untuk berhadapan langsung dengannya.


"Mencari toilet?" Tanya Dion menduga.


Dion tersenyum kecil, "Tidak masalah," Jawab Dion tidak terganggu. Ia menarik Sina ke sebuah sisi ruangan yang agak tidak mencolok.


"Lagipula toiletnya di sini jadi kamu tidak perlu mencari toilet diluar." Mendorong sebuah dinding-lebih tepatnya pintu toilet yang terlihat sama persis dengan dinding.


"Masuklah." Ucap Dion mempersilakan setelah pintu itu benar-benar terbuka lebar.


Sina tertegun, cukup takjub dengan toilet modern yang ada di depannya sekarang. Di saat yang bersamaan Sina juga merutuki kebodohannya yang tidak bisa melihat keberadaan toilet ini, mempermalukan dirinya sendiri di depan Dion.


"Ka-kalau begitu aku akan masuk," Melangkah terburu-buru ke dalam toilet. Namun, saat akan menutup pintu toilet Sina teringat ia masih belum melepaskan jas Dion. Langsung saja ia melepaskannya dan setelah menepuk-nepuk ringan jas itu Sina lalu memberikannya kepada Dion.


"Maaf aku baru melepaskannya sekarang, kainnya juga agak kusut-"


"Pakai saja karena ini sudah malam dan suhu agak dingin, kamu juga tidak membawa baju tambahan dan hanya mengenakan gaun ini saja jadi lebih baik kamu memakainya." Potong Dion tidak terganggu.

__ADS_1


Dia mendorong jas tersebut ke depan Sina dengan pandangan tidak ingin dibantah. Cahaya dimatanya menunjukkan kepada Sina bahwa Dion serius saat mengatakan ini dan tidak menginginkan negosiasi.


"Baiklah, aku akan menggunakannya dan terimakasih untuk ketulusan mu." Ucap Sina berbisik sebelum benar-benar menutup pintu toilet.


Di dalam toilet, ia menyentuh dadanya yang kini sedang berdebar kencang. Merasakan sebuah aliran hangat yang mulai membanjiri wajahnya, seolah ada ribuan bunga mawar merah berjatuhan dari langit membanjiri hatinya.


"Bagaimana reaksinya setelah mendengar apa yang aku katakan tadi?" Bisiknya gugup dan gelisah tapi cukup senang dengan tindakannya.


...🌺🌺🌺...


Keluar dari perusahaan, Dion tidak langsung membawaku pulang karena kami sempat mampir ke sebuah restoran Perancis di hotel. Awalnya saat kami memasuki hotel aku pikir akan terjadi sesuatu yang luar biasa malam ini, secara liar aku membuat fantasi seperti di novel-novel jika hotel adalah saksi bisu akan panasnya cinta kami berdua.


Ya, itu hanya fantasi ku saja karena faktanya kami ke sini hanya makan malam dan setelah itu tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan melainkan langsung pulang ke rumah.


Selama makan malam tadi Dion tidak pernah bersuara dan hanya fokus pada makanannya. Tidak seperti meja-meja yang ada di sekitar kami yang sangat hidup dan membuat iri. Bayangkan saja bagaimana perasaan ku saat mendengar percakapan manis pasangan yang ada di belakang ku, Tanpa malu saling mengungkapkan cinta, bertukar kata-kata manis dan saling menyuapi.


Yah, mereka terlalu berani!


"Apa Dion suka makanan Perancis?" Tanyaku memecah keheningan kami di dalam mobil.


Dia tidak menatap ku saat berbicara, "Suka, tapi lebih suka makanan Indonesia tentu saja."


"Bagaimana dengan makanan rumah?" Tanyaku lagi.


"Makanan rumah tidak perlu dipertanyakan lagi karena semua orang pasti sangat suka. Rasa rumah yang sederhana punya keunikan tersendiri daripada makanan buatan luar rumah." Dion ternyata orang yang sederhana, tidak heran banyak sekali orang yang menyukainya.


Nah, sekarang ini adalah yang paling penting aku tanyakan!


"Aku..aku ingin memasakkan sesuatu untuk Dion besok, apakah Dion bersedia memakan masakan buatan ku?" Tanyaku gugup sekaligus malu.


"Tentu saja, kenapa tidak? Aku akan memakannya selama tidak beracun haha.." Dion bercanda ketika mengatakan ini.


Lihat saja wajah tampannya yang sedang menciptakan pesona yang lain, dia terlalu mendebarkan!


"Tenang saja, aku tidak akan memasukkan sianida ke dalamnya jadi kamu tidak perlu khawatir!" Ucap ku bercanda yang tentu saja direspon dengan gelak tawa yang menyenangkan.

__ADS_1


Hem, kencan kami memang tidak romantis tapi rasanya lebih manis dari madu asli.


Bersambung..


__ADS_2