Dear Dion

Dear Dion
47. Cemburu


__ADS_3

"Aku pikir biarkan tugas ini dilakukan oleh Bela dan Kira saja yang sudah terbiasa dengan dapur. Kalian lebih baik keluar agar tidak mengganggu mereka di dapur." Ucap Dion tidak senang seraya menatap lurus Sina yang kini terlihat pucat.


Tidak, sepertinya Sina lebih pucat dari sebelumnya. Dion tadi sempat melihat wajah Sina saat masuk ke dalam dapur dan cukup yakin jika Sina sedang kurang sehat. Jika tahu dirinya kurang sehat maka seharusnya dia istirahat saja di dalam kamar dan bukannya ke sana kemari dengan Calista membuat seseorang mengkhawatirkannya.


Lihat, keadaannya pasti semakin memburuk.


"Kami tidak akan mengganggu mereka..tolong percayai kami." Sina takut juga malu melihat ekspresi dingin Dion.


Sepertinya Dion masih belum mau memaafkan dirinya karena sudah 2 kali mengacaukan pekerjaannya. Sina juga tahu kemampuannya memang tidak seberapa dibandingkan Bela tapi dia menolak menyerah karena hatinya sangat ingin memenangkan perhatian Dion. Dia ingin meluluhkan hati Dion lagi dan membuktikan jika dia lebih layak dibandingkan Bela.


"Benar Kak, kami tidak akan mengganggu mereka." Calista ikut memohon.


Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh provokasi yang Kira lakukan sekarang. Berdiri di sudut ruangan sambil mengejek mereka yang ditolak mentah-mentah oleh Dion. Dari sini saja seharusnya Sina dan Calista sadar jika masakan mereka sama sekali tidak diinginkan oleh Dion.


"Izinkan saja mereka, nanti aku yang akan mengawasi kinerja mereka. Jika kamu tidak mau memakan masakan mereka maka biar aku saja yang menghabiskan semuanya." Ridwan masuk ke dapur dengan wajah bekunya yang seperti biasa lengkap dengan kacamata cerdasnya yang menawan.


Heheh..dia akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menarik perhatian Calista lagi.


Dion melirik Ridwan yang kini sedang menatapnya dengan ekspresi datar, tapi dengan sekali pandang saja Dion tahu jika Ridwan saat ini sangat bahagia bisa memonopoli Calista di dapur.


Setelah melirik Ridwan, Dion lalu menurunkan pandangannya sedikit tapi masih bisa melihat kelingking Sina yang terbalut plester. Menimbang selama beberapa detik dia akhirnya memutuskan untuk mengizinkan mereka dengan syarat ikut diam di sini mengawasi kinerja Sina.


"Dion, biarkan saja mereka di sini. Toh, aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan mereka. Malah, aku senang jika mereka ikut memasak bersama kami." Bela membantu Sina dan Calista agar bisa memasak di sini.


Ekspresinya yang halus dan lembut sejenak bisa membuat hati orang-orang yang ada disekitarnya menjadi luluh.


Dion menghela nafas berat, agak enggan membiarkan Sina bekerja keras disaat sedang sakit begini. Tapi, karena dia sudah memutuskan untuk mengawasinya maka Dion menyetujuinya dengan berat.


"Baiklah, lakukan sesuka hati kalian asal jangan sampai mengganggu yang lain." Putus Dion enggan.


Bela dan Kira langsung saling pandang, diam-diam melemparkan pemahaman yang rumit diantara mereka berdua. Lihat, Dion langsung luluh hatinya begitu Bela yang memohon langsung kepada Dion. Ini membuktikan jika posisi Bela sangat penting di dalam hati Dion.


Setidaknya inilah yang Sina dan Calista pikirkan sekarang. Di depan mata mereka berdua Dion dengan mudahnya menerima permohonan Bela berbanding terbalik ketika mereka berdua yang meminta. Dampak ini terasa begitu menyakitkan untuk Sina, dia tidak bisa membantah betapa cemburunya dia sekarang.


Ya, terus terang saja hatinya saat ini begitu cemburu melihat interaksi mereka selayaknya pasangan kekasih.


"Terimakasih...Dion, kami tidak akan membuang waktu lagi." Ucap Sina berterimakasih tanpa semangat.


Menundukkan kepalanya dia mulai mengiris bawang merah yang sudah dia kupas bersih tadi. Memilih tenggelam dalam pikirannya yang penuh akan pemikiran-pemikiran yang jauh.


Dia teringat dengan perkataan Risa saat di dapur dulu. Waktu itu Risa pernah mengatakan jika di rumah ini Sina hanya dianggap sebagai tamu saja dan tidak bisa lebih dari itu. Tebaklah, tentu saja Sina menolak perkataan Risa dengan keras kepala karena saat itu dia sangat percaya diri. Tapi..


Tapi sekarang tampaknya apa yang dikatakan Risa memang benar-


"Ya Tuhan, Bela! Tangan kamu berdarah!" Teriakan shock Kira menarik perhatian semua orang tidak terkecuali Sina.


Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah punggung ramping Bela yang sedang menghadap wastafel dapur. Menyalakan keran untuk membersihkan darah yang terus keluar dari jarinya.

__ADS_1


"Jari kamu berdarah." Dion berjalan cepat mendekati Bela, memegang tangan Bela yang berdarah dengan hati-hati di wastafel.


"Ini cuma luka kecil, jangan panik." Ucap Bela lembut, menenangkan kepanikan Dion.


Dion tidak mendengar, "Bawa obat P3K ke sini dan berikan kepada Kira agar penerapan obatnya bisa efisien." Perintah Dion dan langsung dilaksanakan cepat oleh Ridwan.


"Lain kali kamu harus berhati-hati saat memasak atau memegang pisau, jangan sampai kejadian ini terulang lagi." Ucap Dion lembut seraya sesekali meniup luka Bela.


Berharap tindakannya ini dapat mengurangi rasa perih yang ada dijari Bela. Tak ayal, tindakannya ini membuat hati Bela berdebar kencang merasakan perasaan hangat yang lembut. Mata persiknya yang menawan diam-diam melirik ekspresi termangu Sina ketika melihat tindakan lembut Dion kepadanya.


Hah, dengan begini sudah diputuskan jika Dion sudah resmi menjadi miliknya dan Sina seharusnya bisa menyadari ini.


"Baiklah, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi." Bisik Bela lembut, menatap puas pada tindakan manis Dion kepadanya.


Belum selesai luka Bela ditangani, tiba-tiba Calista berteriak histeris melihat tetesan darah yang jatuh mengalir dari talenan dan jatuh ke atas lantai tanpa disadari siapapun.


"Sina...kamu..jarimu berdarah!" Teriak Calista ketakutan.


Sina tertegun, menatap ke arah talenan yang sudah ternoda darah dari jari telunjuknya yang terluka. "Tanganku berdarah?" Bisik Sina bingung.


"Ikut denganku." Calista sontak meraih tangan kiri Sina dan ingin membawanya ke wastafel dapur.


Mereka terpaksa bergabung bersama Bela yang kini masih mengaliri tangan berdarahnya dibawah guyuran air keran. Saat Calista menarik tangannya menuju mereka, kaki Sina entah mengapa tidak bisa digerakkan. Dia terlihat linglung ketika melihat jari telunjuk ditangan kirinya terus mengeluarkan cairan merah kental dan sarat akan bau amis.


"Aku..kakiku-"


"Apa yang sedang kamu pikirkan!" Dion tidak bisa menahan kesabarannya lagi.


"Bukankah aku sudah memperingatkan mu sebelumnya? Jangan masuk ke dapur jika kamu hanya menyusahkan semua orang. Dapur hanya bisa dimasuki oleh mereka yang sudah terbiasa di dalamnya dan bukan untuk dimasuki oleh orang yang tidak mengerti apa-apa tentang dapur. Lihat sekarang, karena kecerobohan mu sendiri tanganmu menjadi terluka dan membuat orang-orang harus bekerja dua kali. Bukannya membantu kamu malah semakin memperburuk keadaan, lain kali jika kamu bersikeras masuk ke dalam dapur maka aku tidak akan segan menghubungi kedua orang tuamu. Apa kamu mengerti?" Marah Dion seraya meniup luka Sina beberapa kali.


Inilah yang dia takutkan jika Sina memaksakan diri memasak di dalam dapur. Ya, dia memang mengakui jika tindakan lembutnya tadi kepada Bela bermaksud untuk membuat Sina terbakar cemburu. Ketika cemburu ingatan 15 tahun yang lalu pasti bisa terpancing, namun sayangnya harapan Dion tidak sesuai dengan kenyataan karena bukannya mengingat masa lalu Sina justru melukai dirinya sendiri.


Ini benar-benar membuat Dion sangat marah.


Kedua mata Sina memerah bahkan sudah mulai berair bersiap akan menangis, jujur, dia sangat ketakutan saat melihat kemarahan Dion. Kata-kata tajam Dion seolah menampar kepercayaan dirinya selama ini. Apalagi ketika dia membandingkan perlakuan lembut Dion kepada Bela dan perlakuan tajam Dion kepada dirinya, sudah barang tentu orang-orang akan setuju jika Dion mempunyai perasaan yang lembut kepada Bela.


Rasanya begitu sakit, dadanya terasa menyesakkan.


"Aku.. minta maaf.." Dengan susah payah Sina menahan suara bergetarnya.


"Ini kotak P3K...eh, Sina juga terluka?" Kaget Ridwan saat melihat darah di jari telunjuk Sina.


Dion segera melepaskan tangan Sina dan mengambil kotak P3K itu dari Ridwan. Tanpa mengatakan apa-apa kepada Ridwan, dia lalu membukanya dan melirik singkat wajah pucat Sina yang terlihat menyedihkan.


"Calista, urus luka Sina dan jangan biarkan dia masuk ke dalam dapur lagi." Perintah Dion masih marah.


Memberikan Calista beberapa obat untuk diberikan kepada Sina, setelah itu dia membawa Bela dan Kira untuk ikut bersamanya keluar. Memberikan Sina hukuman dengan sengaja mengacuhkannya selama beberapa waktu.

__ADS_1


"Yang lain ikut aku keluar, serahkan urusan dapur kepada Bik Mur." Katanya sambil melapis jari Bela dengan tissue dan menariknya ikut keluar bersamanya.


Dion juga tidak membiarkan Ridwan di dapur dan memutuskan untuk menariknya ikut keluar. Mengabaikan ekspresi marahnya yang masih saja datar tanpa perubahan.


"Sina, kemarilah." Calista menarik tangan Sina dan mendudukkannya di kursi terakhir yang Dion duduki sebelumnya.


Mengambil kapas dan membasahinya dengan alkohol, Calista mulai mengusapnya selembut mungkin dijari telunjuk Sina. Mengabaikan sepenuhnya keberadaan Kira yang masih di sini dan belum beranjak mengikuti Bela keluar.


Senang dengan kemalangan yang Sina dapatkan, dia lalu berjalan mendekati mereka berdua. Menundukkan kepalanya untuk melihat luka menggigil yang kini sedang ditangani Calista.


"Oho...rencana mu gagal yah? Bukannya menarik perhatian Dion tapi kamu malah mendapatkan kata-kata tajamnya. Cek..cek..lain kali, kamu harus lebih tahu diri lagi jika ingin bersaing dengan Bela. Lihat diri kamu di cermin, apakah wajah kamu yang biasa-biasa ini pantas bersaing dengan wajah semenawan Bela?" Ejeknya mengamati ekspresi sedih Sina namun masih terlihat tetap keras kepala.


Gadis ini, sudah tahu kalah tapi masih saja keras kepala. Kata-kata apa yang lebih pantas untuknya selain 'menyedihkan'?. Batin Kira tidak habis pikir.


"Kak Kira, tolong jangan membuat keributan lagi. Jika Kakak tidak mau menghargai Sina sebagai sesama tamu maka setidaknya hargailah aku yang masih terdaftar menjadi anggota keluarga ini, tolong jangan membuat masalah lagi, okay?" Tegur Calista terdengar sinis.


Secara halus mengingatkan Kira pada posisinya di rumah ini.


Kira mengangkat bahunya acuh, berdiri lurus dia lalu berjalan keluar dari dapur tanpa mengatakan apa-apa kepada mereka berdua. Meskipun dia tidak senang dengan kesombongan Calista tapi dia memilih melepaskan untuk saat ini karena hatinya sedang dalam suasana hati yang baik setelah melihat kemalangan Sina.


"Jangan pikirkan apa yang dia katakan-"


"Calista," Sina memotongnya cepat.


Mengangkat wajah pucatnya, bibir tipisnya kemudian membentuk sebuah senyuman tipis ah-lebih tepatnya miris.


"Aku ingin istirahat di kamar, tubuhku benar-benar terasa tidak nyaman." Lanjutnya meminta.


Calista terdiam, beberapa detik kemudian dia menganggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah, kita akan kembali ke kamar." Katanya menyetujui.


Bersambung...


...**SEBENARNYA SATU BAB NOVEL INI SINGKAT BANGET DAN SAYA KURANG NYAMAN DENGAN ATURAN NOVELTOON. JIKA SAYA KEMBALI MENGGUNAKAN CARA PENULISAN SAYA DENGAN SATU BAB LEBIH DARI 400P KATA, MUNGKIN BABNYA TIDAK AKAN SEPANJANG INI DAN PENDERITAAN SINA GAK AKAN SESAKIT INI PERIODE NYA....


SO YAH, SAYA JUGA BIMBANG MAU LANJUT NULIS APA ENGGAK BERHUBUNG DAYA GAK SREG SAMA ATURAN NOVELTOON DAN PEMBACA JUGA HANYA BEBERAPA ORANG.


KETIKA SAYA AKAN MENULIS BAB BARU NOVEL INI TIBA-TIBA SAYA KEPIKIRAN UNTUK MENULIS NOVEL BARU DENGAN GAYA PENULISAN SENDIRI BIAR NYAMAN SAMPAI AKHIRNYA SAYA HILANG BEBERAPA HARI INI.


OH YA ITU BUKAN KARENA SAYA LIBUR TAPI ITU KARENA SAYA PINDAH KE NOVEL YANG CUKUP SENSITIF GENRENYA.


OKAU, **SEGINI AJA CURHATAN AUTHOR LABIL HEHEHE.


**OH YA SATU LAGI, KENAPA SIH NOVELTOON GAK NGIZININ KITA BUAT NGAPUS KARYA?


PADAHAL KAN ITU BERGUNA BANGET BUAT PENULIS BIAR KARYA YANG DIHAPUS BISA DIDAUR ULANG LAGI DENGAN BUNGKUS YANG BERBEDA DAN RASA YANG BERBEDA.


KADANG KESEL SAMA NOVELTOON YANG GAK MIKIRIN BEBAN PENULIS DAN HANYA BERFOKUS PADA KEUNTUNGAN PENULIS.

__ADS_1


GIMANA COBA KALAU PENULISNYA LAGI SEKARAT DAN MAU MENGHAPUS NOVEL YANG MENGUNDANG DOSA JARIAH, MASA IYA DOSANYA NGALIR TERUS SAMPAI KE KUBUR?


KESEL BANGET YA ALLAH**.


__ADS_2