Dear Dion

Dear Dion
43. Ini Karena Sina!


__ADS_3

Prankk


Risa melemparkan vas bunga kesayangannya ke lantai, mengobrak-abrik semua benda yang masuk ke dalam pandangannya dan dengan marah melemparkannya ke lantai dingin kamarnya. Bahkan ponsel yang baru saja dia beli beberapa waktu lalu tidak luput dari perhatiannya. Dia melemparkannya langsung tanpa ampun ke arah dinding kamarnya, berteriak marah pada dinding dingin yang ada di kamarnya.


Untungnya, semua kamar yang ada di rumah ini mempunyai kedap suara yang baik sehingga seberutal apapun Risa membuat keributan orang-orang di luar sana tidak akan pernah bisa mendengarnya.


Lelah dengan dinding yang terus dia lemparkan dengan sembarang benda, Risa lalu berjalan ke arah kamar mandi. Membuka beberapa lapis pakaiannya hingga meninggalkan satu lapis pakaian yang tipis dan seksi. Menampilkan lekuk-lekuk tubuhnya yang menggoda dan membuat mata semua gadis menatap iri. Tubuh ini terlalu menawan dan menggairahkan untuk anak laki-laki diluar sana.


Setelah selesai memisahkan pakaiannya, dia kemudian berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandinya. Memandangi semua bagian tubuhnya yang dipahat dengan sempurna dan menawan. Bahkan, bukan hanya tubuhnya saja yang sempurna namun wajahnya juga. Dia cantik, sangat cantik sehingga bisa melukai perasaan gadis manapun yang melihatnya. Namun meskipun dia cantik dan mempunyai tubuh yang menawan orang yang dia sukai masih saja belum mau melihat ke arahnya. Padahal dia memenuhi semua kriteria gadis yang diinginkan para lelaki tapi anehnya orang yang dia sukai tetap enggan melihatnya.


"Aku jelas lebih sempurna dari dia." Bisiknya menilai pantulan dirinya di dalam cermin.


"Aku cantik dan mempesona, mempunyai tubuh yang lebih bagus dan seksi dari gadis itu. Tapi kenapa.. kenapa Kak Dion lebih memilih gadis itu? Padahal dari semua aspek aku jauh lebih unggul dibandingkan dirinya! Tapi kenapa Kak Dion masih belum membalas perasaan ku!" Teriaknya marah.


Bertahun-tahun menunggu, dia bahkan dengan percaya diri menunggu kepulangan Dion dari luar negeri hanya untuk ingin melihat responnya. Setelah bertahun-tahun berpisah Risa ingin tahu bagaimana pendapat Dion setelah melihat perubahan besar yang dia ciptakan. Dia berharap besar tapi bodohnya Dion sama sekali tidak mengatakan apapun seolah-olah semua perjuangannya selama ini untuk merubah dirinya tidak berarti apa-apa di mata Dion.


Risa begitu kecewa tapi meyakinkan dirinya bahwa suatu hari nanti Dion akan datang kepadanya, mengakui betapa pastanya dia berdiri di samping Dion. Risa terus menghibur dirinya dengan kepercayaan diri ini sampai suatu hari Risa meminta izin kepada Tuan Edward untuk membantunya masuk ke dalam kamar Dion. Saat itu dia ingin memberikan Dion kejutan untuk menyambut kepulangan Dion ke rumah selama beberapa hari waktu liburnya di Indonesia.


Akan tetapi rencana itu langsung gagal begitu dia melihat banyak sekali foto seorang di dalam kamar Dion. Entah itu dari usia yang kecil sampai menjadi seorang gadis besar, semuanya di tata rapi di dalam kamar Dion. Seolah-olah gadis itu adalah belahan jiwa Dion yang tersembunyi.


Risa marah dan tidak bisa menahan rasa kekecewaannya terhadap pilihan Dion. Karena kejadian itu pula Risa membenci gadis asing itu dan mulai mencari tahu tentang siapa gadis ini hingga dia akhirnya berhasil menemukan identitas tentang gadis asing itu. Namanya Sina Zein, putri semata wayang dari sahabat kedua orang tuanya.


Setelah mengetahui identitas Sina, Risa kemudian mulai menyusun rencananya dengan apik. Dia pikir rencana ini sudah sempurna dan pasti akan berhasil, tapi siapa yang menduga jika Calista bisa melihatnya dan dengan terang-terangan mencoba menentangnya. Yang paling parah lagi, Dion juga bisa melihat rencana ini dan dengan terang-terangan memutuskan hubungan persaudaraan mereka berdua.


Rasanya begitu mengecewakan, Risa semakin membenci Sina!


"Menjijikkan, aku kalah dari gadis biasa-biasa seperti dia! Aku kalah dari gadis yang tidak punya kelebihan apapun!. Bahkan dari segi pendidikan aku lebih unggul dari dia yang tidak melanjutkan kuliah dan seharusnya ini sudah cukup untukku bisa berdiri di sisinya. Tapi kenapa... kenapa aku masih belum bisa membuat Kak Dion melihatku?" Dia punya semuanya, tapi kenapa Dion masih belum mau melihatnya?


Merosot jatuh ke lantai, dia diam-diam memandangi pantulan wajah sayunya yang ada di dalam cermin. Terlihat menyedihkan dan kacau, sangat berlawanan dengan citra anggun yang biasanya dia tampilkan.


Tiba-tiba, dia merasa lucu dengan situasi ini dan tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul lantai. Seolah-olah ini sangat lucu dan tidak tertahankan sehingga dia tidak bisa menahan tawa lepasnya.


"Sina.. hahahaha..apa kamu pikir aku akan diam saja melihat mu merebut Kak Dion dariku? Apa kamu pikir aku akan menyerahkan Kak Dion kepadamu? Jangan bermimpi!" Teriaknya pada pantulan dirinya yang ada di dalam cermin.


Dia ingat jika dirinya punya dukungan dari Nyonya Ranti dan Tuan Edward sehingga dia tidak perlu lagi takut dengan ancaman Dion.


"Aku tidak akan membiarkan mu dan tetap melanjutkan rencana yang sudah lama ku susun untuk menghancurkan mu sampai tidak bersisa. Yah, meskipun Kak Dion mengancam akan mengusirku tapi aku masih punya Papa dan Mama yang akan melindungi ku jadi aku tidak perlu takut untuk melanjutkan rencana ini lagi." Menunjuk benci pantulan dirinya yang ada di dalam cermin.


Sebuah senyuman miring terbentuk di wajah cantiknya,"Bersiaplah untuk segera menyambut hari kehancuran mu, Sina sialan!"


...🌺🌺🌺...


Calista masuk ke dalam dapur sambil membawa sebuah piring di tangannya. Memasukkan beberapa kue manis ke atas piring dengan berbagai macam rasa yang menggiurkan. Dia juga tidak tanggung-tanggung mengambil kue-kue ini karena semuanya terlihat menarik perhatian. Oh well, ini bukan untuk dirinya tapi untuk Sina jadi jangan salah paham.


Meskipun sedang hamil tapi Calista juga manusia yang mempunyai batasan untuk makan dan bisa merasakan kenyang.


Dia sengaja memilih kue dibandingkan dengan makanan pokok karena Sina bilang dia tidak tahan dengan bau minyak makanan tersebut. Katanya, asam lambungnya sudah tidak bisa dia kendalikan lagi sehingga dia sangat kesusahan untuk sekedar makan sesuap nasi saja. Sebagai orang yang dekat dengannya, jujur Calista merasa perihatin karena Sina terlalu banyak mendapatkan tekanan akhir-akhir ini sehingga nafsu makannya menjadi berkurang.


Ini tidak baik, Sina harus segera menenangkan hatinya agar asam lambungnya tidak kambuh dan agar nafsu makan Sina tidak menurun lagi.

__ADS_1


"Calista."


Deg


Gerakan tangan Calista membeku, sejenak dia ingin segera melarikan diri dan bersembunyi, akan tetapi setelah memikirkannya lagi dia seharusnya tidak perlu melarikan diri ataupun bersembunyi dari laki-laki ini.


"Apa Kak Ridwan butuh sesuatu?" Tanya Calista setelah memperbaiki ekspresinya sesantai mungkin.


Tersenyum kepada Ridwan dengan ringan seakan-akan ini adalah pertemuan pertama untuk Calista.


Ridwan berjalan mendekati Calista, ingin memegang tangannya tapi dia takut Calista akan melarikan diri lagi seperti sebelumnya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Ucap Ridwan selembut mungkin, kedua matanya kini bersinar lembut memusatkan semua perhatiannya pada gadis yang ada di depannya kini.


"Seberapa lama itu akan menghabiskan waktu?" Tanya Calista terdengar seperti seorang pebisnis.


Ridwan tidak mengerti, "Apa kita harus memikirkan masalah ini juga?"


Calista menganggukkan kepalanya mengiyakan, "Ini harus, karena jika itu lama maka aku tidak bisa melakukannya karena saat ini sedang menungguku di dalam kamar. Dia sedang sakit dan harus segera makan sebelum meminum obatnya."


Ridwan memikirkan jalan keluar, "Kalau begitu aku akan menunggumu menyelesaikan semuanya. Setelah selesai kita bisa membicarakannya dengan tenang dan tanpa terburu-buru." Ucap Ridwan sabar.


"Aku tidak bisa, setelah Sina tidur aku juga akan tidur bersamanya." Calista menolak.


"Calista, jujur saja apa kamu sengaja menolak ku? Kamu..masih ingin bersembunyi dari ku'kan?" Tanya Ridwan terang-terangan.


Pasalnya, setiap kali dia berinisiatif mencarinya, Calista selalu menggunakan berbagai macam alasan untuk melarikan diri. Ridwan jelas tidak mengerti kenapa Calista seperti ini karena sebelumnya Calista selalu mencarinya lebih dulu. Mengajaknya makan malam dan sering membawakannya sesuatu ke rumah sakit


Calista menatap Ridwan dengan tatapan polosnya, "Apa yang Kak Ridwan bicarakan? Aku tidak mengerti apa yang sedang Kakak bicarakan." Tanyanya bingung.


Diam, mata almond Ridwan diam-diam mengamati ekspresi polos Calista dari balik kacamatanya.


"Kamu benar-benar ingin bersembunyi dari-"


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tiba-tiba suara Kira mengalihkan fokus mereka berdua.


Melihat kedatangan Kira, Calista dengan sadar diri menarik kakinya menjauh untuk menjaga jarak dari Ridwan. Dia tersenyum manis untuk menunjukkan suasana hatinya yang baik-baik saja kepada Kira.


"Kami tidak membicarakan sesuatu yang penting, Kak Kira." Jawab Calista tidak memberikan Ridwan kesempatan untuk mengeluarkan suara.


"Oh.." Respon Kira arogan.


Berjalan mendekati mereka berdua dan dengan santai berdiri di sisi Ridwan. Menyandarkan kepalanya di atas pundak Ridwan sebagai tanda kepemilikan, mata lentiknya yang dirias cantik menatap Calista dengan tatapan provokasi.


Calista tidak terpancing dengan provokasi Kira, malah Calista melirik Ridwan sekilas ingin melihat bagaimana reaksinya dengan kedatangan Kira diantara mereka.


Ya..memang seperti itu. Dia tersenyum miris menahan kekecewaan hatinya saat ini, mengeratkan kedua tangannya pada piring yang ada di atas tangannya.


Dia lupa jika mereka sepasang kekasih jadi wajar saja Ridwan memberikan Kira sebuah tatapan yang lembut. Tatapan yang juga Calista harapkan beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


"Kalau begitu aku harus segera kembali ke kamar takutnya Sina tidur lagi sebelum sempat meminum obatnya. Kalian bersenang-senanglah di sini." Calista tidak tahan dengan tekanan ini jadi dia memutuskan untuk kembali ke kamar Sina.


Kira langsung merespon cepat, "Ya, kamu pergi-"


"Aku bisa ikut dengan mu ke atas untuk melihat bagaimana keadaan Sina. Kamu bilang dia sakit'kan?" Tanpa menunggu respon Kira selesai, Ridwan langsung memotongnya untuk mencari peluang lebih dekat lagi dengannya.


Calista agak terkejut, sempat tertarik ingin menggunakan jasa Ridwan sebagai seorang dokter. Namun, saat dia melihat ekspresi mengancam Kira yang penuh akan kebencian, Calista lalu memutuskan untuk menolak saja.


Dia harus menguatkan hatinya untuk menjauhi Ridwan jika tidak ingin terus-terusan merasakan sakit karena terlalu banyak berharap. Ya, sejak dia melihat Ridwan dan Kira berciuman di sebuah club malam, maka sejak itu pula Calista menyadari jika dia tidak akan pernah bisa memasuki hati Ridwan.


Dia tidak akan pernah bisa memiliki Ridwan sehingga jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri adalah dengan berlari menjauh dan bersembunyi dari radar Ridwan.


"Kak Ridwan tidak perlu melakukannya karena Sina hanya asam lambung biasa saja jadi tidak perlu melakukan pemeriksaan yang berlebihan." Calista menolak.


Mengambil piring buah-buahan yang sudah dipotong bersih, Calista lalu mengucapkan selamat malam kepada pasangan kekasih itu sebelum pergi meninggalkan dapur.


Kira tersenyum penuh kemenangan ketika melihat punggung Calista menghilang dari pandangannya. Dia tidak perlu susah-susah menyingkirkan parasit pengganggu itu sejak dia dibantu oleh Risa untuk menyingkirkannya.


"Sekarang hanya kita berdua saja yang ada di sini jadi bagaimana jika kita-"


"Aku mengantuk dan cukup lelah hari ini. Jika kamu butuh teman mengobrol maka cari saja Risa atau Bela, aku lihat akhir-akhir ini kamu begitu dekat dengan Risa dan bahkan sempat beberapa kali berbicara dengan Bela lewat telepon." Ridwan menolak untuk menemaninya.


Saat ini suasana hatinya sedang buruk setelah terus-terusan ditolak tanpa ampun oleh Calista. Gadis cantik dan riang yang biasanya merecoki harinya kini memilih untuk menjaga jarak darinya.


Calista terkejut, dia tidak tahu jika selama ini Ridwan mengamati aktivitasnya.


"Itu karena kami semua perempuan jadi tidak ada salahnya saling menghubungi."


Ridwan tidak perduli, "Ya, bertemanlah mereka itu jauh lebih baik daripada terus mengikuti ku. Apa kamu tidak takut jika laki-laki yang menyukaimu menjadi salah paham melihat kamu terus saja mengikuti ku?" Sejak kecil hingga seusia ini Kira terus saja mengikutinya.


Awalnya itu baik-baik saja karena sebagai seorang sahabat Ridwan tidak terlalu mempermasalahkannya. Namun, saat melihat penolakan Calista terus-terusan kepadanya Ridwan curiga jika Calista salah paham melihat hubungannya dengan Kira.


"Tidak masalah, lagipula kamu juga tampan jadi aku tidak apa-apa terjebak seumur hidup bersama mu." Ucap Kira bercanda tapi secara tidak langsung mengungkapkan pikirannya kepada Ridwan.


Ridwan tidak senang mendengarnya karena di dalam hatinya Kira hanya sebatas sahabat untuknya dan dia bahkan tidak pernah memikirkannya sampai sejauh ini. Rasanya itu terlalu menjijikkan karena dia tidak mungkin bersama dengan orang yang sudah dia anggap sebagai keluarga.


"Tidak masalah untuk kamu tapi itu sangat bermasalah untukku. Di masa depan, belajarlah untuk tidak menempeli ku lagi seperti ini. Aku laki-laki dewasa dan punya keinginan untuk menjalin hubungan yang romantis dengan gadis lain, kamu seharusnya mengerti ini dan tidak menganggapnya main-main." Ujar Ridwan tidak senang.


Kata-kata keluhan ini bagaikan jarum tajam yang menusuk langsung ke ulu hati Kira tanpa ampun. Menusuknya dengan kejam dan meninggalkan rasa sakit yang menyesakkan di dadanya. Ini secara tidak langsung menjadi vonis jika Ridwan tidak pernah memandangnya lebih dari seorang sahabat.


Ini sangat menyakitkan, pikir Kira.


"Aku mengerti." Katanya lemah.


"Baguslah jika kamu mengerti, kalau begitu aku ke kamar dulu untuk beristirahat. Selamat malam." Ucapnya seraya berjalan pergi meninggalkan Kira yang masih belum bisa menata kembali suasana hatinya.


"Namun, tidak ada yang tahu dengan masa depan. Bisa jadi suatu hari nanti kamu akan membalas perasaan, untuk hari itu aku akan melakukan apapun asal kamu bisa menjadi milikku." Bisiknya berambisi.


Tidak ada yang bisa memiliki Ridwan selain Kira, dan peraturan ini akan selalu berlaku selama dia tetap berada di sisi Ridwan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2