
"Rencana Kak Bela berhasil! Selamat ya, Kak." Risa memberikan ucapan selamat kepada Bela untuk keberhasilan rencana mereka kemarin.
Oh ya, lebih tepatnya itu karena keberhasilan dari rencananya sendiri untuk menyingkirkan Sina. Lihat, hasil inilah yang dia inginkan! Bergerak tanpa campur tangan tapi mengarahkan dari balik layar. Nah, karena target besar sudah berhasil dia singkirkan maka rencana selanjutnya adalah menyingkirkan target lain.
Bela hanya tersenyum kecil, masih mengingat percakapannya dengan Dion di taman kemarin.
"Yah, keberhasilan ini juga karena kamu." Katanya agak lemah.
Bela sudah memastikannya kemarin jika Dion tidak menganggap Sina orang yang spesial, ya, awalnya jawaban yang dia inginkan terjawab sudah tapi...
"Dia hanya tamu di rumah ini jadi jangan terlalu dipikirkan. Lagipula dia juga bukan tipe yang aku sukai sehingga sulit dikatakan aku tertarik kepadanya... anggap saja ini yang aku pikirkan jika dia bukan Sina." Tawanya berhenti seiring dengan keterdiamannya yang membuat canggung.
"Namun dia bukan orang lain, tapi Sina.." Tersenyum tipis seraya menatap wajah kosong Bela.
"Maka ceritanya akan berbeda."
Ini hanya kata-kata singkat namun Bela tidak bisa melupakannya begitu saja. Mungkin.. mungkin sebenarnya Bela bukannya tidak mau tapi perasaan gelisah inilah yang tidak bisa melupakannya. Entah kenapa dia selalu merasa jika Dion mempunyai perasaan kepada Sina...tapi dia sepenuhnya tidak yakin karena selama ini Dion tidak pernah memberikan perhatian yang lembut kepada Sina.
"Tenang saja Kak, sejak kemarin Sina tidak berani lagi bertemu dengan Kak Dion. Sepertinya dia malu karena Kak Dion ternyata tidak punya perasaan apapun kepadanya... hahaha..dia kasihan banget, Kak." Risa menarik Bela dari lamunannya.
"Huh.. kasihan, gadis tidak tahu malu seperti Sina tidak perlu dikasihani. Dia pantas mendapatkannya karena yah.. kepercayaan dirinya terlalu tinggi sehingga lupa dengan kualitasnya sendiri." Cela Kira puas.
Dia bahagia saat tahu Sina patah hati karena dengan begitu tidak ada lagi yang akan menghambat hubungan cinta sahabatnya. Bela dan Dion bisa menjalin hubungan tanpa harus gelisah Sina mengganggu mereka lagi.
Bela tersenyum tipis, menyingkirkan kekhawatiran tidak mendasarnya untuk segera menyiapkan makanan untuk makan malam pertama mereka di sini.
Benar, lupakan dulu tentang Sina dan nikmati liburan menyenangkan ini bersama sahabat serta keluarga tunangan ku. Mereka lebih penting dari gadis asing yang tiba-tiba datang dan mencoba mendekati Dion, yah..dan dia gagal. Batin Bela menghibur dirinya sendiri.
"Sudah, jangan dibahas lagi. Lebih baik kita urus persiapan makan malam sekarang jangan sampai kita membuat mereka menunggu." Katanya seraya mengumpulkan makanan yang sudah jadi dan hanya perlu dipanaskan saja.
Risa dan Kira tidak mengatakan apa-apa lagi dan mulai mengikuti Bela untuk mempersiapkan makan malam. Mereka harus bersikap rajin dan ramah dapur di sini karena biar bagaimanapun ada orang yang mereka cintai. Sehingga untuk mengambil perhatian mereka harus terlihat patuh dan bersahabat dengan dapur.
__ADS_1
Di sela-sela menyiapkan makanan, tatapan Kira tidak sengaja jatuh pada Calista yang baru saja keluar dari tenda bersama Sina. Perasaan iri dan cemburu tiba-tiba meluap di dalam hatinya.
"Calista benar-benar beruntung mendapatkan tenda dengan view yang bagus, aku yakin sewanya pasti mahal." Katanya dengan kecemburuan yang jelas.
Bela dan Risa sontak mengalihkan perhatian mereka menuju ke arah pandangan Kira. Melihat tenda putih berdiri kokoh di depan danau yang indah, tempat itu sangat cocok untuk honeymoon. Jelas, mereka juga cemburu dengan keberuntungan Calista dan Sina.
"Calista mungkin sudah membeli sewa tenda itu dari sebelumnya." Ucap Bela menekan suasana hatinya yang mulai gelisah lagi.
Daripada memikirkan tenda itu dari Dion, dia lebih senang jika tenda itu sudah dibayar sebelumnya oleh Calista. Tapi.. bukankah Nyonya Ranti baru tadi malam mengungkapkan rencananya untuk pergi liburan?
"Yah, siapa yang tidak tahu betapa sombong gadis itu." Cibir Kira sangat benci.
"Yah..dia sangat sombong." Cela Risa sependapat dengan Kira.
"Berhenti memperhatikan mereka, lebih baik kita segera menyelesaikan pekerjaan ini agar bisa beristirahat sebelum makan malam." Ucap Bela mulai fokus kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Mungkin... Tante Ranti atau Om Edward yang menyewa tenda itu untuk mereka. Batin Bela menyimpulkan.
...🌺🌺🌺...
Begitu keluar dari tenda khusus dapur dia langsung berlari ke arah tenda Dion yang memang bersebelahan dengan tenda milik Sina dan Calista.
Dion baru saja selesai mengatur barang-barangnya di dalam.
"Ya, aku akan segera ke sana." Jawab Dion tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
Saat ini dia sedang membaca artikel resmi yang Ridwan kirimkan tadi tentang penyakit asam lambung kronis. Setiap paragraf yang dia baca alisnya yang tajam mengerut tidak puas.
Bela tidak langsung pergi tapi diam-diam berdiri di samping Dion berniat memperpanjang obrolan mereka.
"Apa yang sedang kamu baca?" Tanya Bela membuka topik lagi.
__ADS_1
Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat jika ponsel Dion sedang menampilkan sebuah artikel dari internet.
"Sebuah artikel kesehatan tentang penyakit asam lambung." Jawab Dion singkat.
Bela tertegun, menganggukkan kepalanya tidak puas dari sudut matanya dia melirik tenda Sina yang masih tertutup rapat, sepertinya masih belum keluar.
"Ah ya, penyakit asam lambung Sina sepertinya sangat kronis sampai-sampai dia tidak bisa memakan masakan ku." Ada implikasi tertentu dari ucapannya.
Dion tidak terpengaruh, "Ini berbahaya dan dia harus segera melakukan pemeriksaan di rumah sakit."
Bela tersedak, cukup malu karena Dion tidak menerima umpannya. Tapi dia tidak putus asa, "Usianya masih sangat muda tapi penyakit asam lambungnya sudah masuk tahap kronis. Aku pikir...ini sedikit aneh."
Maksudnya mungkin saja Sina berbohong untuk menarik perhatian semua orang.
Diingatkan tentang usia muda Sina, dia merasa suram dan tidak rela pada saat yang bersamaan karena Dion pun juga tidak mau menerima kenyataan jika Sina selama ini mengalami sakit keras. Karena hatinya kembali memburuk, Dion tidak mengatakan apa-apa dan hanya fokus memandangi ponselnya.
"Aku sudah sangat lapar, sudah tidak sabar lagi-ah, kita salah jalan!" Suara nyaring Calista menghentikan fokus Dion.
Dia mengangkat kepalanya untuk melihat Calista dan Sina langsung memutar arah setelah memberikan anggukan sopan. Dion agak terkejut dengan ketika melihat mereka melarikan diri, terutama Sina. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak menyapa Dion seperti sebelumnya. Dion tidak puas dan berpikir jika ada sesuatu yang salah dengan Sina.
Apa aku sudah sangat keterlaluan sehingga Sina tidak mau mendekatiku lagi?. Batin Dion panik.
Jika seperti ini maka Sina akan menjauhinya dan semua rencananya akan sia-sia.
"Sina mungkin tidak menyukaiku." Ucap Bela terdengar sendu.
Dion meliriknya, memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya. "Itu hanya perasaan mu saja." Katanya singkat sebelum pergi ke arah tenda dapur yang kini mulai dipadati anggota keluarga.
Bela tertegun melihat kepergian Dion, tersenyum miris dia mengepalkan kedua tangannya merasa marah dan sedih. Semenjak keberadaan Sina di rumah itu sikap Dion kepadanya menjadi panas dingin. Di depan Sina dia menjadi perhatian tapi dibelakang dia terkadang memberikan bahu dingin.
Tertawa kecil, tangan kanannya bergerak menghapus cairan bening yang ada di sudut matanya.
__ADS_1
"Sina.. bermain-main dengan ku? Beraninya kamu!"
Bersambung...